Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 44


__ADS_3

Untuk kedua kalinya, Chloe membuka kedua matanya. Sekarang, ia bingung. Berada dimana dirinya saat ini? Tidak ada cahaya matahari di langit. Hanya awan-awan kumulus yang memenuhi langit. Tempat itu begitu suram dan tidak ada satupun suara di sana.


Melirik ke sekitarnya, hanya ada padang bunga tanpa nama yang tumbuh mengikuti arah angin. Chloe mulai berjalan mana tahu menemukan sebuah petunjuk. Benar saja! Ketika berjalan, kaki kanannya secara tidak sengaja menginjak sesuatu hingga menimbulkan suara seperti benda retak.


Ia tersentak dan langsung memeriksa benda apakah itu?


"Bingkai foto?" tanyanya heran. Ia mengambil bingkai foto yang berisi secarik foto keluarga di dalamnya. Berdasarkan penglihatan Chloe, hanya ada empat anggota keluarga yang tengah tersenyum. Pakaian mereka sangat sederhana. Keluarga itu berada di pasir pantai. Buktinya adalah latar tempatnya memperlihatkan pohon kelapa yang berdiri kokoh di belakang mereka.


"Ah?"


Chloe spontan membuang foto itu jauh-jauh saat cairan darah merah mengalir dari retakan tersebut. Foto itu kini terjatuh di ranjang tidur usang.


Dirinya semakin penasaran dengan apa yang ia alami ini.


"Apa ini mimpi?" gumamnya. Akhirnya, ia pun menghampiri ranjang tersebut berharap menemukan sebuah petunjuk baru.


Betapa terkejutnya Chloe menemukan seorang gadis dengan hoodie hitam tertidur di atas ranjang usang itu. Gadis itu berambut pirang, sama seperti dirinya. Hanya saja, poninya yang panjang menutupi sebagian wajahnya.


"Siapa ini?" tanyanya sedikit berbisik.


Tampaknya, gadis yang tertidur itu menyadari keberadaannya. Lantas, gadis itu terbangun. Ia langsung memperlihatkan wajahnya yang pucat.


"Oh, Chloe." Katanya.


"Ka-kau?! Carmine?"


Gadis itu tersenyum saat Chloe menyebut namanya.


"Kau memanggilku kesini?" tanya Chloe lagi sekedar memastikan. Ia yakin bahwa yang dia alami ini hanyalah mimpi. Dan dengan adanya Carmine disini bisa saja membawa sebuah pesan penting untuknya.


Carmine berdiri. Kemudian, mendekati Chloe sambil menatap lurus padanya. Setelah itu, ia mengambil salah satu tangan Chloe dan memberikannya pisau dapur.


"Apa ini? Apa maksudmu?"


"Kau sering tersakiti?" tanyanya lirih. Carmine masih menggenggam erat tangan Chloe itu.


"Memangnya kenapa kalau aku sering tersakiti?"


"Kau tahu? Black Aura-ku dalam bahaya. Aku nggak tahu itu takdir atau kebetulan, tapi musuhnya kali ini adalah manusia. Dan itulah kelemahan terbesarnya. Kalau kau temannya, tolong ya!" Carmine semakin aneh gerak-geriknya. Ia menarik tangan Chloe hingga wajah gadis itu berpaspasan dengan wajahnya.


"Black Aura-ku, dia benci melihatmu tersakiti, kan? Dia melakukan banyak hal karena tidak ingin melihatmu tersakit, KAN?! Kau beruntung kau bisa menumbuhkan sedikit demi sedikit perasaan dalam dirinya, Chloe!" nada bicaranya semakin tinggi di akhir.


Chloe jadi ketakutan. Ia ingin menjauh namun, genggaman Carmine terlalu kuat hingga dirinya sulit menjauh.


"Berteman dengan Aura itu nggak mudah, lho. Kau tahu sendirikan kalau mereka ini sadis dalam bertarung?! Kalau kau ingin membantunya, kau harus merelakan banyak hal. Terutama belas kasihmu. Kau memilih Black Aura yang sebenarnya sangat mempengaruhi sifatmu.


"Kau tahu, Chloe?! Akar dari permasalahan ini bukanlah aku. Aku hanya menginginkan keluarga kembali CUMA... Entah takdir atau memang direncanakan seseorang, mereka semua lenyap di tangan seorang pria dari keluarga ayahku.


"Kalau kau bisa membedakan mana yang jahat, mana yang baik, aku minta... BUNUH ORANG ITU! Dia akan melakukan banyak hal demi ambisinya. Dia bahkan nggak ragu-ragu mengumpulkan banyak Legend Aura di Carnater. Aku melihatnya sendiri, lho!" beber Carmine lalu terkekeh geli.


Chloe hanya terdiam dalam takut. Ia tidak begitu mengerti dengan masalah Carmine.


"Andai aku masih hidup, kau nggak perlu repot-repot mencari sahabatmu yang hilang. Kau nggak perlu repot-repot mau dibunuh Aura dan ikut bersama Black Aura. Ck, padahal cuma masalah keluarga, pria itu terlalu kuat ambisinya dan merasa dirinya nggak bersalah.


"Jadi, kau mau nggak? Bantuin aku dan Black Aura membunuh manusia itu? Kalau pria itu yang jadi lawan Black Aura, kemungkinan besar kau nggak bisa lagi ketemu Black Aura. Dan..." Carmine menunduk.


Wajah gadis itu yang sebelumnya penuh amarah, kini menjadi berlinang air mata. Seolah ada hal lain yang ia takutkan.


"Kakakku bisa saja dalam bahaya. Keluargaku bisa hancur untuk kedua kalinya. Hiks... Black Aura... Devil Mask... Yumizuka... Silentwave... Mereka semua adalah keluargaku satu-satunya saat ini. Aku nggak nyangka kalau meninggalnya diriku akan membawa bahaya pada mereka." Lanjutnya. Genggaman tangannya melemah seiring kesedihan yang mengambil alih perasaannya.


"Sakit lho, Chloe. Aku dan keluargaku sudah tiga belas tahun lebih menderita. Lalu, mereka semua meninggalkanku karena penyakit dan kecelakaan. Semua itu bukan karena takdir. Semua itu karena kejahatan keluarga besarku. Semuanya berawal dari nenek dan kakek.


"Kalau kau berpikir aku jahat karena menyuruhmu membunuh mereka, nggak papa. Asal kau tahu! Rasa sakit dan DENDAM itu sangat berpengaruh dengan mental dan psikologis kita. Psikologis seorang anak yang berusia enam tahun itu sudah terserang.


"Kalau bukan karena Midnight, mungkin Black Aura dan Aura lainnya nggak bakal tercipta. Aku bersyukur bisa memiliki keluarga seperti mereka. Kau senang, kan, bisa bertemu Aura seperti mereka? Kau senang, kan, kau bisa menemukan fantasi yang aneh dalam hidupmu?"


Chloe mengangguk pelan di setiap pertanyaan yang Carmine ajukan padanya. Selain itu juga, ia berusaha menelaah perlahan-lahan maksud dari perkataan Carmine sebelumnya.


"Baguslah. Aku senang kalau kau menganggap mereka bukan musuh melainkan teman. Aku perempuan. Aku melakukan apapun pasti ujung-ujungnya menggunakan perasaan. Kalau perasaanku ini disakiti, maka... Orang-orang pasti akan kusakiti balik. Entah fisik, psikologis dan perasaannya. Karena kau disini, aku memintamu untuk membantu Black Aura membunuh Yuuki." Ungkapnya panjang lebar.

__ADS_1


"Yu-yuuki?"


"Dia musuhku. Aslinya pamanku dan dia mengincar Midnight sekarang. Memang saat ini ia menggunakan nama Yo-han dan memanfaatkan Minji yang sebentar lagi akan membunuhmu."


Chloe terbelalak, " Oi! Kau nggak bercanda, kan?"


"Untuk apa aku bercanda? Toh, aku tahu semua akar dari permasalahan ini. Tapi, aku disini bukan untuk menceritakan awal terjadinya masalah ini. Aku hanya ingin kau membuang sejenak belas kasihmu pada Yuuki dan bantulah Black Aura." Carmine tersenyum sebelum akhirnya, melanjutkan kembali perkataannya disertai pelukan untuk Chloe.


"Aku akan menghampirimu dalam mimpi. Karena aku sudah pergi, aku ingin kau melindungi Black Aura dan lainnya. Dia sangat berharga bagiku. Dia itu keluargaku. Jadi, tolong ya!"


Pelukan Carmine hilang seketika. Gadis itu berubah menjadi ribuan kelopak bunga yang tertiup angin. Begitu dia menghilang, kehangatan yang Chloe rasakan ikut menghilang.


Aku nggak tahu harus bagaimana? Kalau aku membunuh...


Tap!


Seseorang menepuk pundah Chloe. "Bunuh... Daripada keberadaannya malah merugikan orang lain." Bisiknya.


~


DEG!


Chloe terbangun begitu saja. Ia merasakan dirinya tengah digendong seseorang yang sedang berlari. Dilihat dari dagunya yang bersentuhan dengan pundak seseorang. Awalnya ia mengira orang itu adalah Black Aura.


"Black Au... Eh? Kau siapa?!" tanyanya spontan.


"Oh, kau sudah bangun? Disini berbahaya. Jadi, aku membawamu pergi." Tutur pria tersebut.


"Kau siapa, heh?!"


"Ooh... Perkenalkan aku Park Yo-han. Aku dengar, kau itu temannya Minji."


"Hentikan! Berhenti berlari atau...!" Chloe tertegun menemukan saku jaketnya yang terdapat pisau di dalamnya. Sejak kapan?


"Jangan banyak bergerak dulu. Kau pingsan tadi. Lukamu juga udah kuobati. Kau aman sekarang." Tambahnya yang berbalik dan memperlihat sebagian wajahnya yang tersenyum.


"Berhenti dulu!" jerit Chloe meronta-ronta ingin turun.


"Kau kenapa?" tanya Yo-han heran.


Setelah turun, Chloe kemudian mengarahkan ujung pisau tersebut tepat di depan wajah Yo-han.


"Kau! Dimana Black Aura?! Kau membunuhnya, ya?!"


"Maaf? Maksudmu...?"


"Nggak usah bohong! Aku tahu kau bukan Yo-han! Aku tahu! Kau pasti membunuh Black Aura bukan?"


"Black Aura? Apa itu? Temanmu?" Yo-han menelengkan kepalanya bingung. "Ano... Pacarku hilang disini. Kukira cuma dia seorang yang hilang, rupanya masih ada orang lain di dalam kapal ini. Makanya, aku berusaha nyari yang lain." Ungkapnya.


"Aku nggak ngerti dengan maksudmu sebelumnya. Black Aura itu temanmu atau hewan peliharaanmu? Aku kesini karena Minji menghubungiku. Dia tersesat bersama adiknya. Makanya, aku kesini. Beritahu aku seperti apa bentuk Black Aura! Apa dia itu sejenis kucing?"


Chloe melongo. Tiba-tiba jadi nggak jelas seperti ini. Chloe sendiri juga heran. Apa dirinya yang terlalu terbawa suasana? Seingatnya, terakhir kali ia pingsan dan seharusnya ia bersama Rara sebelumnya.


"Rara dimana?"


"Adiknya Minji? Dia ada di luar bersama Minji. Minji bilang, disini ada monster aneh makanya kau dan Rara terpisah. Rara mengalami luka yang cukup serius di bagian pundaknya. Tampaknya monster itu menggigit pundaknya." Jelas Yo-han kemudian meletakkan tangannya di bawah dagunya. Ia memikirkan sesuatu.


"Jangan khawatir, bukan hanya aku aja yang disini. Aku dan kru penyelamat yang lainnya sedang mencari korban yang lain. Mana tahu ada orang lain selain dirimu yang terjebak di dalam sini. Ayo, Chloe! Kau ikut aku. Kalau mau, bisa jelaskan padaku bagaimana rupa Black Aura?"


"Eh? Hmmm... Nggak jadi." Balas Chloe yang masih dibuat bingung dengan situasinya saat ini.


Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya?


~


"Ah, Chloe! Syukurlah, kau selamat!" seru Rara yang langsung memeluk Chloe.


Chloe menatap luka di pundak Rara. Lukanya asli.

__ADS_1


"Ra, lukamu..."


"Eh? Jangan khawatir, tim medis sudah mengobatiku."


"Begitu ya?" setelah selesai dengan Rara, tiba-tiba penglihatannya tertuju langsung pada Minji yang menatapnya datar.


"Kukira cuma aku aja yang terjebak di kapal. Rupanya kau juga." Katanya datar.


Chloe tidak merespon selain memasang raut tidak senang. Kenapa harus dia lagi?


Tanpa membuang waktu lama, salah satu pria yang sepertinya merupakan anggota penyelamat itu menginstruksi mereka untuk mengikuti perintahnya. Pria itu menggandeng tangan Rara, Minji, dan Chloe untuk melompat dari kapal ke kapal tim SAR tersebut.


Jujur saja, Chloe masih meragukan pernyataan Yo-han meskipun suaranya terdengar sangat meyakinkan.


Apa-apaan ini? Kenapa aku jadi tersesat begini?


"Ah! Maaf! Kelihatannya ponselku hilang di kapal." Seru Chloe tiba-tiba.


"Eh? Benarkah? Kalau begitu, biar kami sa..."


"Nggak. Saya saja, pak! Selain itu, masih ada yang mau saya periksa dari kapal itu." Potong Chloe tegas.


"Okelah. Kami menunggumu disini. Hey, temani dia!" Bapak itu menyuruh patner-nya yang lain untuk menemani Chloe.


"Terima kasih, mohon bantuannya ya!" ucap Chloe lembut pada pria berpakaian jingga tersebut.


"Iya. Ayo, usahakan kita harus pergi sebelum petang." Balasnya ramah.


"Baik!"


Chloe dan pria itu segera naik ke kapal persiar misterius itu. Sebenarnya ponselnya tidak hilang. Chloe hanya berniat ingin mencari Black Aura karena, dia merasakan auranya Black Aura sebelum dirinya tidak sadarkan diri.


"Tunggu disini ya, pak." Pinta Chloe kemudian meninggalkan pria itu di ambang pintu masuk kapal.


"Bukan ruang ini." Ujarnya sambil berlari. Ia melesat di tangga lalu naik. Ia tidak peduli dengan tangganya yang licin selagi ingatannya masih jelas membayangkan ruangan dimana dirinya bangun bersama Rara.


"Aku harus fokus. Black Aura pasti ada di sekitar sini."


Chloe melirik pada luka di pinggangnya. Yang dikatakan Yo-han memang benar. Lukanya sudah sembuh. Tapi, apa benar rasa sakitnya main menghilang begitu saja?


Luka di pinggangku... Pasti sembuh karena Black Aura. Bukan Yo-han. Manusia nggak mungkin bisa menghilangkan semua rasa sakitnya. Pasti Black Aura! Batinnya yakin.


Terlalu lama larut dalam pikirannya, Chloe secara tidak sengaja tersandung oleh benda.


"Aduh!"


Sial sekali! Wajahnya menghantam genangan air yang sudah keruh warnanya. Menjijikan!


"Benda apa tadi?" Chloe beranjak berdiri dan terbelalak menemukan sabit Black Aura. "Itu...! Sabit Black Aura! Yo-han dan yang lainnya mana mungkin bawa sabit kesini! Bahkan malaikat maut sekalipun. Black Aura!" teriak Chloe memanggil nama Aura itu.


Ia tidak peduli dengan suaranya yang bergema di setiap lorong kapal.


"Black Aura! Kau dimana?! Oi! Kau dimana?" Chloe mulai cemas. Ia pun berlari dan tetap meneriaki nama Aura itu.


"Oi! Jawab aku, Black Aura! Kau dimana?! Aku Chloe! Jangan hilang gitu aja, dong! Black Aura! Aku tahu luka ini kau yang menyembuhkannya!" teriaknya.


Tak hanya menelusuri lorong, Chloe juga membuka beberapa pintu yang sekiranya masih bisa dibuka. Setiap pintu ia dobrak demi mencari Aura itu.


"Karena aku sudah pergi, aku ingin kau melindungi Black Aura dan lainnya. Dia sangat berharga bagiku. Dia itu keluargaku. Jadi, tolong ya!"


Perkataan Carmine itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.


"Aku yakin, Carmine itu baik. Jangan khawatir, aku akan melindungi keluargamu." Ucap Chloe yakin.


Saat ia berlari, ia hanya mendengar suara tapak kakinya. Makanya, ia berpikir di lorong kapal ini hanya dirinya seorang yang berlarian di dalamnya. Namun, pikirannya salah besar.


Chloe tidak menyadari bahwa ada orang lain selain dirinya melintasi lorong kapal tersebut. Sampai dirinya merasa lelah berlari, dia pun berhenti. Di belakangnya, muncul seseorang yang berjalan ke arahnya lalu meletakkan dagunya di pundak Chloe.


Chloe terkejut. Tetapi tersenyum pada akhirnya begitu mengetahui siapa orang tersebut.

__ADS_1


"Akhirnya, aku menemukanmu, Chloe."


~


__ADS_2