
Kaca di bagian laboratrium pecah usai dihantam oleh ekor kalajengking raksasa. Di dalamnya sangat berisik. Black Aura dengan pedangnya berulang kali menebas kalajengking itu sampai nafasnya terengah-engah. Tangan kanannya terkulai lemas menandakan tenaga terkuras banyak.
Black Aura menoleh pada lengan kirinya yang sempat tergores sedikit. Ada yang aneh dengan darahnya belakangan ini. Awalnya berwarna hitam namun lama-kelamaan, berujung menjadi merah kehitaman. Ia menyipitkan matanya. Racun kalajengking itu hanya menyebar sedikit tapi mampu membuat lengan kirinya membeku.
Merasa dunianya sangat sunyi dan tentram, kalajengking itu melanjutkan serangan lainnya. Ia mengibas-ngibaskan ekornya tanpa arah. Membuat seisi laboratrium itu berantakan. Beberapa tropi juga patah-patah karena jatuh.
Cepat-cepat, Black Aura menghindari serangan tersebut. Ada yang aneh dengan serangan ekornya. Kalajengking itu seperti marah akan sesuatu atau terganggu akan sesuatu.
“Huft…” Black Aura menebas cangkangnya tanpa pikir panjang. Terus terang, pertarungannya kali ini terasa berbeda dari sebelumnya. Saat pertama kalinya, ia bertarung dengan pikiran yang kosong. Pikirannya mengatakan untuk terus membunuh Legend Aura dan bosnya sesuai yang Midnight katakan sebelumnya. Namun, ketika ia bertemu dengan Chloe rasanya seperti ada yang menemaninya.
Seperti ada yang mengajaknya berbicara. Maka dari itulah, tanpa kehadiran Chloe malam ini, suasana di sekitarnya terasa membosankan. Saking membosankannya, ia tanpa sadar larut dalam lamunannya dan membiarkan ekor kalajengking itu menembus dirinya.
Kedua matanya terbelalak. Pada akhirnya, semuanya terlihat sangat buram saat ia sadar bahwa dirinya seperti dihempas ke suatu tempat.
PRANG!!
Dugaannya benar. Kalajengking itu baru saja melemparnya hingga menghantam lemari kaca berisikan peralatan meneliti. Rasa sakit dan darahnya mengalir di atas keramik putih yang dingin. Black Aura membuka matanya
sedikit. Ia menemukan seekor kalajengking itu bergerak pelan menghampirinya.
Black Aura perlahan-lahan bangun. Tulang dan persendiannya terasa kaku. Ia tidak menyangka bahwa lawannya bakal sekuat ini. Seperti sebelumnya, ia menggunakan kemampuan memindahkan rasa sakitnya pada lawannya.
Mungkin karena daya tahan tubuh kalajengking yang kuat, rasa sakitnya tidak sampai membuatnya melemah justru semakin marah.
“Dia terlalu kuat… Aku bisa merasakan aura di dalamnya tapi dia juga bukan…”
Saat Black Aura hendak menyelesaikan pemikirannya, ia kembali terbelalak mendapati lengan kirinya yang melayang tepat di depan matanya. Perasaannya menjadi tak karuan. Manik violet yang biasanya tampil datar kini memperlihatkan raut penuh rasa kaget. Sejak kapan? Kapan lengannya terpotong?
Black Aura menyipitkan matanya kesal. Kali ini, ia mengubah pedangnya menjadi sabit dan memainkan sabit tersebut sampai tiga kaki kalajengking itu ikut melayang bersama dengan darahnya. Selain itu ia juga mengaktifkan kekuatan mata penghancurnya dengan memasang target di bagian metasomanya.
Tiba-tiba, ia merasa ada suatu dorongan yang membuatnya langsung memuntahkan sebagian darahnya. Disusul dengan kedua kakinya yang melemas seketika, Black Aura tersungkur ke bawah. Lukanya dibagian pinggangnya
ikut memperparah dirinya. Dan lagi, di dalam laboratrium ini, ia tidak mendengar suara langkah kaki seseorang
yang melintasi area tersebut.
Black Aura melirik jarum pendek yang menunjuk pada angka sebelas. Entah jamnya memang rusak dari awal atau memang angka itulah yang menjelaskan waktu dan suasana di sekitarnya semakin mencekam. Mau tak mau, ia
berdiri dibantu oleh sabitnya diiringi dengan metasoma milik kalajengking yang hendak menusuknya untuk ke
sekian kalinya.
“Cukup.” kata Black Aura datar seraya membelak metasoma kalajengking itu dan membuat benda itu berakhir di lapangan upacara sekolah itu.
Usai berhasil melukai kalajengking itu, Black Aura berlari kencang lalu melompat dan menusuk kepala kalajengking tersebut dengan ujung sabitnya yang tajam. Tak hanya ditusuk, beberapa bagian tubuhnya yang lain ikut hancur karena pengaruh kekuatan mata Black Aura. Demi kemenangan dan teman-temannya, Black Aura tidak akan pernah ragu membunuh siapapun.
Ia membanting-banting hewan itu di atas meja, lemari, dinding, dan jendela. Tindakannya tersebut memang memicu kerusakan parah di ruang laboratrium dan menimbulkan suara berisik yang menggema. Akan tetapi, memang seperti itulah caranya mengalahkan hewan dari kelas Arachinida.
PRANG!!!
Hewan itu kini ditemukan di depan tiang bendera tempat Devil Mask terlempar disana. Tiang yang bengkok cukup menarik perhatiannya untuk kesana. Black Aura melompat dari lantai dua. Lalu, menghampiri tiang tersebut. Ia menduga pasti milik Devil Mask atau Dark Shadow. Yah, kedua Aura itu memang memiliki daya tahan yang tinggi. Perbedaannya hanya pada tingkat regenerasi mereka.
Selain itu juga, tampaknya pertarungan dia melawan kalajengking sudah usai. Tinggal menghabisi Dark Shadow dan menyelamatkan Ibu Gunez.
“Anu… Kak?” seseorang memanggilnya sambil menarik kain jaketnya.
Black Aura tertegun dan menoleh ke sumber suara. Rupanya, Gunez.
__ADS_1
“Ya?” Black Aura berdiri setengah jongkok menyamai tinggi anak kecil itu. Ia juga menunggu gadis kecil itu mengatakan sesuatu.
“Aku mendengar suara di sana.” Katanya sambil menunjuk tempat yang disebut Gedung Olahraga. Tempat dimana Devil Mask memulai pertarungannya dengan Dark Shadow.
Black Aura menoleh ke gedung tersebut. Terus terang, sedari tadi ia merasakan ada yang aneh dengan Gedung Olahraga tersebut. Ia kembali memandang Gunez kemudian menggandeng tangan kecilnya.
“Tanganmu dingin.” Ucap Black Aura.
“Iya... Aku mencemaskan mama. Mama pasti berjuang keras di dalam sana. Kak… Jangan biarkan mama pergi.”
“Jangan cemas. Mama nggak akan pergi dengan mudah.”
“Kakak yakin?”
Demi menjawab pertanyaan Gunez, Black Aura mengangguk.
“Tapi, kakak berdarah… Seperti boneka yang tangannya ilang. Kayak bonekaku.”
“Bentar lagi sembuh. Ayo.” Black Aura menunduk dan menyuruh Gunez untuk duduk di pundak kanannya selagi tangan kanannya masih berfungsi disana.
Tanpa pikir panjang, mereka segera meninggalkan lapangan tersebut dan beralih pada Jacqueline, setelah itu Devil Mask. Terus terang, melihat Gunez yang saat ini mencemaskan ibunya, Black Aura jadi ikut memikirkan Chloe yang sama seperti Gunez bersama dengan orang lain.
Saat ini aku… Benar-benar kesepian…
~
Dibalik dinding sekolah yang membosankan, terdengar beberapa suara gaduh seperti benda tajam yang saling beradu tidak menginginkan kekalahan. Siapa lagi kalau bukan Devil Mask yang hingga menit ini masih belum selesai urusannya dengan Dark Shadow. Selain fisiknya terserang, pikiran dan perasaannya ikut terserang. Ia bimbang seratus persen ketika menghajar sosok wanita yang disebut sebagai 'ibu'.
Devil Mask mengangkat tangannya lalu menebas leher wanita itu. Selama darah yang ia lihat berwarna biru maka, ia tidak perlu khawatir.
Akan tetapi, perkataannya tersebut justru diabaikan dengan baik oleh Devil Mask. Dalam pertarungan mereka, tak peduli sekeras apapun dan sehancur apapun tempat tersebut, hal yang harus diutamakan olehnya adalah nyawa Ibu Gunez. Walau hingga saat ini, ia masih memikirkan cara agar wanita itu bisa terlepas dari Dark Shadow.
CRAATTT!!!
Kelima cakaran Devil Mask kini sukses menebas dada lawannya sampai efeknya itu berdampak pada dinding dan pilar gedung olahraga tersebut. Dark Shadow muntah darah usai mendapatkan serangan tersebut.
“Cih!” Dark Shadow akhirnya memanfaatkan bayangan di bawah Devil Mask. Ia mengeluarkan beberapa tiang besi dari bayangan tersebut lalu menahan pergerakan Devil Mask.
Devil Mask tersentak dan reflex menghindari serangan tersebut. Terlalu banyak bayangan di tempat ini. Bisa saja, dia menciptakan ribuan senjata hanya dengan memanfaatkan bayangan di sekitarnya.
“Hahahaha!” Dark Shadow dengan gelak tawanya masih belum selesai menyerang. Peluangnya untuk menyerang begitu besar. Sehingga, membuatnya berpikir bahwa kemenangan akan jatuh di telapak tangannya.
“Menyenangkan sekali! Wah! Aku jadi teringat sesuatu jadinya!”
Devil Mask berdecak sebal seraya menghindari setiap besi yang tiba-tiba muncul di area yang terkena bayangan. Dalam hati ia menduga bahwa Aura ini pasti akan membual tak jelas.
“Aku harus membawanya keluar.” Gumam Devil Mask. Ia pun memutuskan untuk menebas atap gedung itu hingga runtuh. Satu persatu, cahaya malam dan rembulan mewarnai mereka. Besi-besi itu pun menghilang satu persatu.
Dark Shadow menyeringai melihat puing-puing atap yang runtuh. Langit malam yang membentang luas itu membuatnya larut dalam kekaguman.
“Aaahh… Aku suka idemu, Devil Mask. Kau tahu? Aku pernah membaca salah satu novel milik Ibu ini yang bercerita tentang rasa sakit seorang ibu yang ditinggal oleh suaminya. Buku itu membuatku dendam sekaligus ingin membunuh suaminya. Memilih istri yang lebih cantik dan kaya tapi, sifatnya terlihat seperti bukan istri pada umumnya. Keduanya memiliki hidup yang berbeda-beda. Sampai-sampai aku…”
“MUAK DENGAN OCEHANMU!!!” potong Devil Mask geram dengan meninju keras wajah Dark Shadow. Inilah saat terbaik Devil Mask untuk mengalahkan Dark Shadow.
Beberapa kalimat bergaya tulisan kuno itu mewarnai lengan kanannya dan ia tanpa pikir panjang menusuk Ibu Gunez dengan kelima cakarannya.
“Au Revoire (Selamat Tinggal).” Ucap Devil Mask sambil melepas cakarannya dari tubuh Ibu Gunez. Tulisan mantra yang sebelumnya mewarnai tangannya kini mengalir di sekitar tubuh wanita tersebut dan bercahaya.
__ADS_1
Muncullah fenomena yang sangat Devil Mask nantikan yaitu, berpisahnya Aura dari tubuh manusia. Sungguh pemandangan yang sangat indah baginya.
“Aarrggg!!! Kurang ajar kau!” bentak Dark Shadow yang sosoknya langsung terpisah dari tubuh wanita yang menyandang status sebagai ibu kandung Gunez. Tubuhnya melayang di udara tepat di atas Ibu Gunez. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan dirinya tidak bisa menyerang. Kedua matanya menangkap Devil Mask yang terkena bayangan Ibu Gunez.
Ia menyeringai. Dari bayangan itu, ia berteleportasi dan posisinya kini berhadapan langsung dengan Devil Mask.
Devil Mask terkejut bukan main. Tidak disangkanya Aura itu menemukan jalan lain untuk melawannya. “Kau…?”
“Hahahahaha!!!” Dark Shadow meluncurkan serangannya dengan mengubah tangan kanannya menjadi tombak lalu ia tusuk Devil Mask dengan tombaknya. Untunglah, Devil Mask spontan menahan serangannya.
“Cih!!! Kenapa kau tahan?!”
BUAK!!
Devil Mask terpental kencang ke bawah usai mendapatkan pukulan yang menghantam wajahnya langsung. Topengnya retak. Tak hanya pukulan, Dark Shadow berteleportasi ke sampingnya, menendangnya, dan memukul Devil Mask dengan tongkat besi yang ia ciptakan dari bayangan.
Serangannya itu berhasil membuat kerusakan dan luka parah untuk Devil Mask. “Ugh… Sakit…!” keluhnya. Ia berusaha bangun di tengah puing-puing gedung olahraga yang tadinya menimpa dirinya.
“Astaga…! Ibu Gunez!” Devil Mask mendongak ke atas dan menemukan tubuh wanita itu masih melayang di udara. Ia tanpa pikir panjang, melompat ke atas. Akan tetapi, karena lukanya yang parah ditambah dengan kondisi kaki kirinya yang masih robek itu menghalangi dirinya untuk bergerak. Devil Mask terjatuh dan terbaring tak berdaya.
Percuma… Lukaku terlalu parah. Batinnya mendapati darahnya yang mengalir di atas lapangan hijau yang berdebu.
Untuk sementara, Devil Mask merenung. Ia teringat kejadian siang tadi dimana Jacqueline main kabur dari rumah. Ia ingat kalau gadis itu sudah lelah terus –menerus disalahkan dan harus mengalah. Jacqueline selalu
berusaha untuk menang. Sayangnya, orangtuanya tidak memahaminya dan memaksannya untuk mengalah juga menerima kekalahan.
Jacqueline… Kalau dia melihatku kalah disini… Kalau aku nggak bisa memberikannya contoh untuk menang… Kalau perkataan tidak bisa membuat kita menang, lalu? Lalu, apa yang kau lakukan?
Devil Mask dengan rasa sakitnya itu masih terdiam di tempat yang sama. Belum ada keputusan bulat untuk kembali berdiri dan membalas serangan Dark Shadow.Terlihat jelas, cahaya rembulan yang lembut itu tertutupi oleh awan. Bayangan yang tercipta di daratan itu semakin menyebar. Devil Mask melirik cakarnya yang terlihat sekarat. Darah biru yang mengecap disana perlahan memudar.
“KYAAAAA!”
Sebuah teriakan yang berasal dari langit itu memecahkan lamunannya. Devil Mask mau tak mau mengambil posisi duduk dan mendongakkan kembali pandangannya ke atas langit. Di balik topengnya, matanya terbelalak oleh Dark Shadow yang memeluk Ibu Gunez. Memang mustahil baginya untuk kembali masuk ke dalam tubuh wanita yang tengah meronta-ronta.
“CUKUP! JANGAN BUAT KAMI SUSAH LAGI!!!” Bentak Ibu Gunez kesal.
“Oh, ayolah! Aku masih ingin mendengarkan kisahmu lebih lanjut…” Pinta Dark Shadow memelas.
Sosok remaja berambut hitam dengan topi fedora hitam, kemeja gelap yang ujungnya bercampur dengan bayangan hitam, dan tangan yang dibaluti sarungan tangan hitam. Dark Shadow memeluk wanita itu dengan tulus. Seolah dia
sangat mencintai wanita itu.
“Astaga… Yang benar saja!” gerutu Devil Mask yang berusaha berdiri.
“Oh, ada kau rupanya, Devil Mask?!” tanya Dark Shadow bergurau begitu menyadari pergerakan Devil Mask di bawah sana.
Devil Mask tidak merespon selain mencari cara agar bisa menghajar Aura itu dengan sekali serangan. Ia sadar bahwa dirinya saat ini sedang mengalami luka serius. Tapi, melihat seorang ibu yang merinta-ronta diiringi dengan air mata itu… Entah kenapa membuat dirinya seakan memiliki hati. Dan hatinya itu seperti diremas oleh air mata itu.
Seperti ada panah yang tertancap di benaknya, Devil Mask akhirnya menemukan cara untuk mengalahkan Aura itu.
“Ah! Kenapa aku baru ingat sekarang?” pikirnya sambil terkekeh kecil. Remeja itu mengambil langkah cepat. Ia berteleportasi dan kini posisinya berada tepat di depan musuhnya yang sedang memeluk itu.
“Wah, masih hidup?” celetuk Dark Shadow yang perkataannya masih diabaikan oleh Devil Mask.
Kalau berbicara tak bisa menyelesaikan masalah maka… Kekerasan adalah jalannya. Batin Devil Mask mantap.
~
__ADS_1