Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 193 {Season 2: Mimpi?}


__ADS_3

Megawave bengong memandang beberapa gambar Carmine yang dipajang Midnight di dinding kamarnya.


Dari luar, bel pintu rumah Midnight berdering. Dalam diam, Megawave bangkit dari kursinya. Lalu, menghampiri pintu ruang tamu tersebut untuk melihat siapa tamu yang datang.


“Okka?” Megawave sedikit terkejut mendapati Okka yang berdiri di hadapannya dengan penampilannya yang terlihat menarik di mata visor Megawave.


“Hai… Uhm, Midnight ada?” tanyanya.


“Dia pergi.”


“Eh? Kemana?”


“Dia nggak bilang. Mungkin ngajar. Memangnya, kau ada perlu apa kesini?” tanya Megawave yang penasaran dengan tote bag yang Okka bawa. Aura itu penasaran dengan isinya.


Okka terkekeh kecil. “Aku bawa kue sus. Kau suka kue sus nggak?”


“Kue sus?”


“Oh, nggak tahu ya? Ya udah… Kalau gitu, tolong taruh ini di meja makannya, ya! Aku mau cari Midnight dulu.” Tutur Okka memberikan tote bag tersebut pada Megawave.


“Okka… Perasaanku nggak enak entah kenapa…” Ucap Megawave tiba-tiba.


Okka yang tadinya hendak berbalik terpaksa menghentikan langkahnya. “Nggak enak, kenapa?”


“Entahlah… Aku merasa… Ada yang hilang.” Megawave menoleh ke arah kertas yang mana terdapat beberapa coretan Carmine.


Dia ingat perbincangan singkatnya dengan Midnight setengah jam yang lalu. Mereka membahas pelaku yang memiliki kemampuan mengendalikan orang lain dari jarak jauh. Megawave dan Midnight menduga bahwa pelakunya adalah Huke.


Selain membahas Huke, Megawave juga mencemaskan Midnight yang bertindak terlalu cepat yaitu ingin membunuh Huke hari ini juga.


“Okka… Kau sibuk hari ini?”


“Nggak tuh, kenapa memangnya?”


Mendengar jawaban Okka yang santai itu, barulah Megawave bisa menghela nafas lega. Karena, dengan bantuan Okka, dia bisa berlari menyusul Midnight yang sepertinya berencana untuk membunuh Huke.


“Kalau begitu… Okka, bisa bantu aku jaga rumah ini? Aku mau nyusul Midnight,” ucap Megawave.


“Memangnya, Midnight kemana?”


“Kayaknya dia mengajar. Tapi, ponselnya tertinggal. Nggak papa kan, kau tinggal disini sendirian? Kalau takut, kau hubungi saja Kenzo,” jelasnya kemudian memasukkan kembali ponsel Midnight ke dalam saku celananya.

__ADS_1


Okka tersenyum usai mendengarkan penjelasan dari Megawave. “Boleh kok. Sebentar ya, aku mau minta izin sama Kenzo dulu…” Okka pun mengeluarkan ponselnya.


Di sela menunggu Okka selesai berbincang, Megawave berjalan ke teras rumah Midnight untuk menghirup udara segar. Teras Midnight ramai tapi tidak membuat mata siapapun yang melihatnya risih. Karena, keramaian itu berasal dari bunga veronica di beberapa pot yang telah Midnight susun sesuai tempatnya.


Kenapa perasaanku nggak enak begini? Pikirnya.


~


“Argh!”


Black Aura terjatuh untuk kelima kali setelah mendapatkan pukulan keras dari meteor-meteor yang berjatuhan. Sungguh, semua serangan ini sudah kelewatan batas.


Tak hanya hujan bintang, meteor, tapi juga hujan salju yang akhirnya berubah menjadi pisau kecil, kemudian menggores tubuhnya. Apa tidak semakin kerepotan Black Aura menangani semua serangan yang meluncur bersamaan ke arahnya.


Black Aura menjentikan jarinya untuk memindahkan semua lukanya pada Huke. Tapi sayang, ternyata luka tersebut bisa dengan cepat sembuh karena kemampuan medis Chloe—pacar Megawave.


Oh, iya ya… Dia belum kubunuh…


Black Aura mundur cepat ketika Grimoire menancapkan duri panjangnya ke tanah hingga menyebabkan ledakan duri raksasa. Salah satu ujung durinya berhasil menggores sepatu Black Aura.


“Nyaris…” ujar Grimoire datar.


Setelah serangan Grimoire, Midnight muncul dengan melempar boomerangnya bersamaan dengan tangan kanannya yang menciptakan tombak es.


Black Aura menggigit ujung bibirnya. Bingung harus merespon teriakan Midnight dengan apa. Jika dia kabur, sama dengan dia membiarkan Chloe, Midnight, Devil Mask, dan Yumi mati di tangan Huke.


“Ekh!” saat membuka matanya perlahan, Black Aura terkejut bukan main mendapat boomerang yang di pinggang kanannya. Benar juga… Midnight itu manusia.


Mendadak, langkahnya jadi sempoyongan karena rasa sakit yang ia rasakan itu. Bukan hitam melainkan merah yang menggenang di samping sepatunya.


“Aura! Kau sebaiknya lari saja! Jangan pikir kami!” dari kanan, Black Aura mendengar suara teriakan Chloe yang tampak ketakutan.


Black Aura menoleh ke sumber suara. Wajah Aura itu semakin memucat seiring lukanya yang ia terima semakin parah.


“Dia benar, Aura! Kau hilangkan aja penghalangmu dan kabur!” timpal Devil Mask yang sedang berusaha melepaskan benang merah yang melilit tangan kanannya tapi nihil hasilnya. Terpaksa, Devil Mask bergerak atas kemampuan Huke dan mencakar Black Aura.


Untunglah, Black Aura menangkis cakaran Devil Mask dengan sabitnya.


Lima belas pilar, laser, dan hujan pedang yang sebelumnya mewarnai dimensi Huke menghilang lantaran Black Aura yang tidak ingin Chloe dan yang lainnya terluka. Jadi, Black Aura mau tak mau mengandalkan fisiknya untuk menghajar sepuluh orang tersebut. Dia berharap sekali bisa menghajar Huke yang tengah diobati Chloe—pacar Megawave disana.


“Dibelakangmu~”

__ADS_1


Black Aura tersentak dan menoleh ke belakang. BUK!


Ternyata Dark Sport yang baru saja meninju wajah Black Aura sampai Aura itu terpental dan menabrak pohon duri milik Grimoire.


Di  atas sana Chloe meluncur ke arah Black Aura dengan pedang yang ia genggam.


Black Aura yang tampak kelelahan lagi-lagi harus memaksakan kedua kakinya untuk bergerak menghindari tusukan yang hendak Chloe layangkan padanya.


“Black Aura! Pergi dari sini!” teriak Chloe berlinang air mata. Sungguh, Chloe tidak ingin kejadian di kapal pesiar itu terulang kembali.


Kejadian ini hampir mirip dengan Aurora. DImana Aura itu mengendalikannya saat dirinya sedang tak sadarkan diri. Sedangkan Huke kali ini mengendalikannya secara sadar.


“Pergi Aura!”


CRATTTTT!


Black Aura terjatuh usai mendapatkan tebasan pedang dari Chloe. Tak tanggung-tanggung, Huke juga menggerakkan


“Santai aja Chloe… Kejadian yang kau alami sekarang ini bukan nyata melainkan mimpi,” tutur Huke disertai senyuman seringainya.


Sebetulnya Chloe ingin mempercayai omongan Huke. Akan tetapi, pikirannya dengan cepat mengalihkannya pada perkataan Black Aura beberapa menit yang lalu bahwa keindahan yang Huke buat itu semuanya adalah tipuan.


Setiap kali Chloe membayangkan kata mimpi, yang terlintas di benaknya adalah keindahan dengan batasan waktu yang sempit. Setiap kali Chloe bersenang-senang di alam mimpinya, selalu saja ada yang mengganggu kesenangan tersebut hingga membuat semuanya pecah setelah suara dari dunia luar membangunkannya.


“Lima belas menit, Black Aura lihat ke atas!!” seru Yumi. Suara bergetar hebat saking tak maunya dirinya mengetahui kemampuannya itu dimanfaatkan untuk membunuh orang yang ia sayangi.


Sayang sekali, kemampuan Yumi sudah lebih dulu menguasai Black Aura hingga akhirnya, seluruh pandangan Black Aura seluruhnya mengarah ke atas.


Saat mendongakkan kepalanya keatas, Black Aura menangkap tarian Aurora yang indah dan menawan. Menari dalam heningnya angin malam tanpa mengenal lelah mempersembahkan keindahannya pada mereka yang saat ini sedang sibuk-sibuknya bertarung.


“Indah… Sekali…” gumam Black Aura tanpa dia sadari, semua serangan mengarah padanya dan…


.


.


.


.


“Aura!!!”

__ADS_1


~


__ADS_2