Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 146 {Season 2: Manusia dan Carnater}


__ADS_3

“Heh? Jadi, Black Aura mengamuk dan berubah menjadi monster? Wah, sayang kali kita nggak lihat! Pasti Chloe udah lihat,” Aoi memandang Jacqueline dengan raut tak terima. Merasa diperlakukan tidak adil oleh Black Aura. Tapi untungnya, Aoi tidak begitu serius menanggapinya. Hanya sekedar basa-basi saja.


Omong-omong, Aoi dan Jacqueline sudah bangun dari pingsannya. Mereka bukan terbangun begitu saja melainkan dibangunkan oleh Megawave. Rupanya, dugaan Black Aura mengenai Megawave salah. Aura bertopeng visor itu ternyata tidak memiliki niatan jahat pada Aoi dan Jacqueline justru menawarkan mereka untuk mengikutinya mencari Chloe dan Black Aura. Megawave juga meminta maaf pada Aoi karena telah membuat sahabatnya tersesat di tempat lain.


Well, Jacqueline yang mendengar ungkapan itu tentu saja tidak terima. Gadis itu dengan tegas menginginkan Chloe kembali bagaimanapun caranya. Karena Jacqueline sungguh mengkhawatirkan Chloe. Apalagi sifatnya yang terkadang ceroboh sampai-sampai merugikan orang lain. Bahkan, kalau sial itu memang membenci kehadiran Chloe, bisa-bisa, kesialan Chloe menjadi dua kali lipat.


“Pokoknya, balikin sahabatku, TITIK GAK PAKAI KOMA!” bentaknya.


Megawave dalam posisi membungkuk penuh hormat itu berulang kali meminta maaf dan berkata “Ya”, “Baiklah”, dan “Sekali lagi aku minta maaf”. Inilah jadinya jika ada orang yang berani bermain-main dengan Jacqueline. Sehebat apapun orang tersebut, tak perlu satu menit sudah dibuat bertekuk lutut dihadapan Jacqueline.


Aoi yang merupakan kekasihnya saja ketakutan. Memilih untuk menjadi pria yang baik dan pastinya bisa membahagiakan Jacqueline dan anak-anaknya. Kebahagiaan itulah yang menjadi prioritas Aoi.


Aoi mendengus sambil mengelus-elus punggung Jacqueline yang mendadak kekar karena menahan amarah. “Sudahlah, yang penting kan, dia di pihak kita. Megawave membawa Chloe dan Black Aura ke tempat lain mungkin ada rencana bagus dibaliknya. Sayang…” kemudian, Aoi menarik Jaqcueline pelan dalam dekapannya. Sebisa mungkin, kenyamanan yang dia berikan cukup untuk meredakan amarah Jacqueline yang sebuas gorilla saat lapar.


Syukurlah, Jacqueline cepat luluhnya. Gadis itu mabuk dalam pelukan kekasihnya dan terlanjur nyaman dengan posisi romantisnya saat itu.


“Maaf ya, pacarku memang galak. Habisnya, Chloe udah dia anggap adik sendiri, Meg,” tutur Aoi lembut.


Megawave manggut-manggut mengerti. Topeng visornya memperlihatkan emoticon tersenyum manis. “Begitu ya? Manusia seperti kalian lucu-lucu ya! Beda dengan kami yang selalu menganggap semua candaan itu serius. Omong-omong, kalian terluka nggak?”

__ADS_1


“Nggak kok. Cuma basah aja. Juga, sebenarnya kami ada misi mencari teman kami yang namanya Ethan,” ungkap Aoi sopan.


“Ethan? Oh, jadi, orang itu teman kalian?”


Aoi mengangguk pelan. Sambil tersenyum, ia membeberkan banyak hal seputar Ethan dan juga misi mereka. “Iya, Meg. Kami butuh dia sekarang. Karena ritualnya bentar lagi bakal kami jalani. Memang sih, butuhnya tiga manusia. Tapi, kami nggak tahu siapa aja yang bakal terlibat dalam ritual itu. Midnight udah ngomong sama kami kalau dia nggak mau jalanin ritualnya karena suatu hal.”


Nada bicara yang terdengar stabil, artikulasi yang jelas, dan cara bicara yang terkesan sopan itu membuat Megawave merasa adem mendengarnya. Rupanya, tidak semua manusia itu kasar. Ada juga sebagian dari mereka yang memiliki sifat yang baik dan ramah.


“Ritual untuk menghidupkan dunia ini ya? Aku penasaran, kenapa selalu manusia yang melakukannya? Kenapa selalu pendatang seperti kalian yang menjadi penyelamat kami?” tanya Megawave datar.


Pertanyaan itu sukses membuat Aoi bungkam. Jacqueline yang berada di dekapannya juga ikut terdiam. Pertanyaan yang sangat langka bagi mereka. Sebab sejak awal, Aoi dan Jacqueline tak pernah mengalami kejadian penuh akan fantasi seperti ini. Mereka baru mendapatkannya beberapa bulan yang lalu kemudian dilanjutkan sekarang.


“Aku yakin, waktu kita nggak akan cukup buat menceritakan puluhan insiden yang ada di dunia ini. Karena itulah, aku sarankan kalian selesaikan konflik ini. Semua kekacauan ini bukan Megavile yang buat. Tapi, Legend Aura. Dan yang melawan Legend Aura adalah Megaville. Kalian bahkan ikut terlibat sebagai teman dari Megaville. Jujur saja, aku senang kalau kalian bisa mengubah pemikiran Megaville yang datar. Mereka itu, sudah terlalu dalam jatuh dalam jurang. Mereka begitu tertarik dengan dendam dan kebencian. Mereka sangat mencintai rasa sakit.


“Tapi, justru karena itulah yang menjadi kekuatan mereka hingga mereka sulit sekali dikalahkan. Salah satunya Black Aura. Dia yang paling sulit. Bahkan bisa dibilang, imperishable. Dia sama sekali nggak bisa dimusnahkan,” Megawave menjeda sejenak pembicaraannya. “Sebenarnya, ini rahasia. Tapi, aku baru sadar kalau aku dan kelompokku bersaudara dengan Silentwave. Aneh kan?”


“Eh? Benarkah? Tahu darimana?” tanya Jacqueline antusias. Seenaknya mendorong pacarnya hingga terjatuh dan meninggalkannya. Pandangan Aoi kabur beberapa saat namun, masih bisa dikontrol.


“Astaga, Jacqueline! Jangan dorong-dorong gitu dong!” kesal Aoi seraya bangkit dari posisi duduknya. Sayang, Jacqueline tidak menggubris omongannya dan malah tertarik dengan Megawave yang hendak menceritakan sedikit kisahnya mengapa Aura itu bisa dianggap bersaudara dengan Silentwave.

__ADS_1


“Afra. Mungkin usianya sekarang lebih tua dua tahun dari kalian, tapi dia itu bersaudara dengan Midnight. Lalu, aku dan kelompokku adalah bagian dari perasaan positifnya,” jelas Megawave yang langsung disambut oleh seruan tak percaya dari kedua mahasiswa di depannya.


“A-apa? Tunggu, aku jadi makin nggak ngerti nih. Jadi, kalian semua ini tercipta dari perasaan manusia? Atau bagaimana?” Jacqueline menaikkan sebelah alisnya.


“Nah, itulah pertanyaan kami. Kenapa manusia seperti mereka bisa menciptakan makhluk dengan kekuatan terbesar seperti kami? Kenapa harus manusia? Sebenarnya, Carnater ini milik siapa? Apa sejak awal, dunia ini milik manusia? Kukira, kalian tahu apapun tentang dunia ini. Kukira, dunia ini ada karena teknologi yang kalian buat. Kukira kalian punya sihir yang bisa menciptakan kami. Tapi, saat bertemu kalian, rupanya kalian semua nggak ada hubungannya dengan Carnater.


“Aku bertanya-tanya, kenapa Afra yang hanya pelajar SMA itu bisa pergi ke dunia ini tanpa mesin waktu ataupun dimensi? Di dunia kalian ada kan yang namanya penyihir?”


Kali ini, segala pertanyaan rumit Megawave terhenti di salah satu pertanyaan mengenai keberadaan penyihir. Benar-benar di luar dugaan. Pertanyaan Megawave itu layaknya ledakan dari kembang api yang siapapun melihat atau mendengarnya berdecak kagum atau bisa saja dibuat terkejut.


“Ada tiga remaja sebelum kalian pernah datang ke dunia ini. Aku pun awalnya nggak kenal dengan Afra. Tapi gadis itu, dia mengenalku. Bahkan dia tahu masa laluku dan makanan kesukaanku. Karena itulah, terkadang aku suka waspada dengan spesies kalian. Kalian itu sungguh di luar dugaan. Kalian… Di pihak yang benar kan? Kalau kalian memang ingin membantu kami mengembalikan dunia ini, maka sejarah Carnater akan selalu berakhir dengan masa depan yang indah hasil dari usaha manusia.”


“Begitu ya?” Aoi terdiam. Di dalam buku manga, novel, dan film yang pernah ia tonton, selalu saja manusia yang menjadi pahlawan di suatu wilayah. Akhir baik dan buruk itu selalu manusia yang membuatnya. Lantas, kenapa harus manusia? Bahkan, di dalam anime sekalipun, manusia lah yang memiliki kemampuan untuk mengubah dunia. Manusia yang selalu diremehkan, dianggap makhluk rendahan, kerap kali berubah menjadi sosok yang tak terduga.


“Jangan khawatir, kami di pihak yang baik kok. Kami kesini selain mempertemukan sahabat kami dengan pacarnya juga mau membantu Midnight menyelesaikan masalahnya,” jelas Aoi diakhiri dengan kedipan matanya.


“Tapi, kau juga harus janji sama kami. Jangan khianati kami, jangan serang kami dari belakang, dan jangan buat peraturan seenaknya dengan kami!” timpal Jacqueline disertai raut dingin. Sebenarnya, dalam hatinya gadis itu merasa gelisah dan sedikit ketakutan karena ada banyak sekali Aura baru yang belakangan ini berada di sekitar mereka. Banyak kejadian tak terduga menghampiri mereka bahkan sampai membuat mereka tersesat, terpisah dari rombongan, dan terpaksa harus menggunakan otak mereka untuk berpikir. Demi keselamatan mereka dan lancarnya misi ini.


Untunglah, Megawave mau mengerti dan menuruti omongan Jacqueline. Tidak ada perdebatan sengit, tidak ada pertarungan sengit, dan mereka tinggal melanjutkan misi saja.

__ADS_1


~


__ADS_2