Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 203 {Season 3: Mimpi Fantasi Si Pengurung Diri dan Pria Dibalik Jendela}


__ADS_3

Kamar itu begitu sunyi. Hanya ada beberapa tumpukan buku tebal dan lima belas sobekan kertas yang ditempel di dinding kamarnya.


Rambutnya acak-acakan setelah dua hari tidak membersihkan dirinya. Yah, bangun tidur langsung membuka buku catatannya dan menulis beberapa hal luar biasa yang dia rasakan dari mimpinya.


Gadis itu membenarkan letak kacamatanya sembari menggambar beberapa remaja yang ia temui di mimpinya. Aneh tapi luar biasa. Menakjubkan tapi menegangkan. Begitulah yang dirasakan gadis itu selama mengembara di mimpi.


“Devil Mask, Black Aura, Yumi, Captain, Live Party… Mereka anggota Midnight. Dark Fire, Dark Sport, Dark Flower, Huke, Aurora…”


Mimpi yang dia alami seminggu yang lalu terasa sangat aneh dan langka baginya.


“Mereka ini sebenarnya apa? Kenapa mereka sering masuk ke mimpiku?” gumamnya penuh tanda tanya. Jika dia ajukan pertanyaan ini pada keluarga  dan teman-temannya—tidak akan ada satupun dari mereka yang bisa menjawab pertanyaannya.


Yira namanya. Dia hanya murid SMA biasa yang saat ini tengah menjalani masa liburan panjangnya—sebulan usai dirinya melakukan pelanggaran dengan sengaja agar dirinya bisa bersantai-santai di apartemennya.


Orang Tuanya tinggal di luar Amerika. Sebenarnya, Yira sendiri yang memilih tinggal di Amerika lantaran ingin hidup mandiri seperti beberapa karakter anime dan drama yang ia tonton setiap malam.


Namun, untuk beberapa minggu ini, Yira merasa ada yang janggal dengan imajinasinya. Padahal, yang selalu dia imajinasikan setiap malam menjelang tidur biasanya oppa-oppa korea ataupun karakter anime tampan. Akan tetapi, begitu kesadarannya diambil alih oleh kegelapan, saat itu juga, dirinya terjun ke dunia fantasi yang mana dunia itu tak pernah sekalipun ia jumpa di buku novel, komik, film, ataupun majalah. Bahkan, di kamus bahasa inggris pun tidak ada.


Bukan kemauannya ingin terjun ke medan pertempuran para Aura. Entah bagaimana bisa dirinya sampai terlibat dan selalu mengalami kepanikan di dalam mimpinya. Setiap kali terjebak di dalam mimpi fantasinya, yang Yira lakukan bukannya mencari tahu ataupun menikmati mimpi tersebut, melainkan mencari tempat persembunyian.


Bukannya ladang bunga ataupun pasir putih pantai, melainkan api yang berkobar serta beberapa gedung-gedung yang hancur dengan pondasi yang rapuh. Suara ledakan, tembakan laser, gesekan pedang selalu memenuhi telinga Yira.


Kali ini, setelah membulatkan tekadnya, Yira ingin meneliti sekaligus mencari tahu, apakah makhluk fantasi yang ia temui di dalam mimpinya memang benar ada keberadaannya atau justru hanya mimpi bulanannya saja. Walaupun mungkin, Yira ingin mencoba mengendalikan mimpinya. Dia ingin menciptakan kekuatan yang tidak mungkin dia miliki di dunia nyata.


Untuk mimpi selanjutnya, rencana itu akan dia coba.


“Ini rahasiaku… Baik keluarga ataupun sahabat, aku nggak bakal bocorin mimpi ini ke siapa-siapa.”

__ADS_1


Puas menulis, Yira beralih ke kegiatan lainnya yaitu mengumpulkan beberapa barang yang sekiranya penting untuknya selama berkeliling mencari sosok wanita dengan kacamata bulat dan gadis berambut pirang yang di mimpinya sangat dekat Aura bernama Black Aura.


Mungkin besok petualangannya akan dimulai.


“Kalau pun mereka memang benar ada, aku akan bergabung dengan mereka. Tapi, bukannya berbahaya kalau ada makhluk seperti itu di dunia ini? Bisa-bisa, dunia ini tanpa ada sadar sedang dalam ancaman besar,” pikirnya. Yira kemudian melirik ke luar jendela apartemennya. Hanya langit malam yang gelap dan membosankan. Desiran angin saja tak cukup menghilangkan suntuk yang dirasakan Yira malam itu.


Malam ya?


Yira tersenyum kecut. Yah, sebentar lagi dia akan merebahkan diri di atas kasur. Begitu matanya terpejam, mimpi itu pasti akan menghampirinya tak peduli jam berapa saat itu.


Yira mengambil buku diary-nya dan pena. Mana tahu jika di dalam mimpi kedua benda itu bisa terbawa.


“Kamera.”


Yira buru-buru membuka laci meja belajarnya dan mengambil ponselnya. Ya, dengan gawai itu dia harap dia bisa merekam momen epic para Aura yang terlibat dalam pertarungan sengit. Juga manusia dengan kemampuan bertarung yang tak kalah kerennya dengan Aura.


“Midnight… Chloe… Aoi… Jacqueline… Kalau kalian memang ada di dunia nyata, bersiapah! Akan kudatangi kalian satu persatu!” ucapnya penuh percaya diri.


~


“Oh, santai aja, Chloe. Aku sebenarnya sudah memprediksi dari awal kalau Black Aura bakal jadi manusia. Yah, kamunya nggak usah terlalu bagaimana-bagaimana. It is what it is,” jelas Midnight yang saat ini masih menelpon Chloe. Sambil menyetir mobilnya, Midnight melewati beberapa rumah di komplek Chloe. Padahal sudah diperingatkan untuk tidak berkunjung ke rumah gadis itu, Midnight tetap keras kepala tancap gas mobilnya mencari rumah Chloe.


Meskipun yang akan dia bahas nanti mungkin tidak begitu penting bagi Black Aura, tetap saja, ikatan Black Aura yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri dan Chloe mahasiswanya, tak bisa dia abaikan begitu saja.


“Huft… Kukira kau bakalan marah. Memprediksi dari awal? Kenapa kau nggak bilang padaku kalau hal ini akan terjadi?”


“Karena aku nggak mau mengganggu waktu kalian. Aku selaku ibu Aura ya, tentu aja senang. Walaupun bukan manusia, aku sudah lebih dari sepuluh tahun bersama Black Aura. Melihat Aura berubah aja aku udah senang, bangga. Aku senang begitu tahu,  Aura punya teman yang bisa dia andalkan,” ungkap Midnight sambil mengunyah wafer coklat. Dalam hati dia memuji kenikmatan yang diberikan wafer yang dia beli. Enak…

__ADS_1


Di depannya, lampu merah menyala. Beberapa pejalan kaki dengan asal yang beragam melewati zebra cross dengan pandangan yang mengarah ke berbagai arah. Tidak ada yang menarik dari para pejalan kaki itu, namun… Midnight merasa seakan pandangannya tertarik untuk melihat para pejalan kaki tersebut.


“Chloe, di rumahmu udah aman kah? Orang misterius itu masih di luar rumahmu, nggak?”


“Masih. Gimana dong? Aku nggak berani suruh Aura keluar. Dia manusia. Aku takut dia langsung…”


Meskipun samar, Midnight bisa mendengar suara Black Aura memotong omongan Chloe. Aura itu bilang, “Heh, mulut!”


Lantas, mendengar itu saja sudah membuat Midnight tertawa kecil. Dibalik kacamata bulatnya, Midnight memperhatikan sekelompok remaja yang mengobrol disertai tawa ringan di mulut mereka. Ponsel, gantungan kunci, tas ransel, benar-benar ciri khas mereka.


Seketika, Midnight teringat akan masa lalunya yang tidak seindah kelompok remaja di hadapannya. Sedih memang setiap kali membayangkan betapa kelamnya masa itu.


“Chloe… Jangan matikan teleponnya. Sekarang juga, aku ke rumahmu,” tegas Midnight. Begitu merah berubah menjadi hijau, saat itulah Midnight menginjak gas mobilnya dan melaju sedikit cepat menuju rumah Chloe.


“Ta-tapi… Dia bawa kapak lho, Midnight!”


“Chill, aku lebih kuat dari orang itu,” ucap Midnight santai. Dia meletakkan ponselnya di kursi penumpang sampingnya. Tak lupa, dia menyalakan speaker agar suara Chloe terdengar sampai ke telinganya.


Di pihak Chloe, Chloe melirik kearah Black Aura disertai raut khawatir lantaran dosennya tetap bersikeras berkunjung ke rumahnya tanpa memperdulikan sosok pria berbadan besar dengan kapak di tangan kanannya. Seandainya Midnight sudah sampai di depan rumahnya… Apa akan ada perkelahian sengit antara Midnight dengan pria misterius itu?


Kalau dipikir-pikir lagi, Midnight memang mahir memainkan pedang serta beberapa senjata tajam lainnya. Dia bahkan bisa melawan Legend Aura. Kalau melawan manusia, sudah pasti dia unggul.


“Black Aura, nggak papa nih, Midnight datang ke sini? Aku takut kalau Midnight bakal kenapa-kenapa,” Chloe mondar-mandir kesana-kemari saking cemasnya memikirkan dosennya yang keras kepala. Memang fakta bahwa Midnight itu kuat. Akan tetapi, realita itu tak selamanya berpihak pada mereka. Terkadang, bisa saja realita memberi kejutan tak terduga yang berujung sakit hati.


Black Aura menghela nafas berat. Dia tidak tahu harus merespon apa selain hanya mendengarkan omongan pacarnya yang merasa khawatir.


“Ibu memang seperti itu. Kalau dia bilang kuat, ya, dia kuat. Tindakan ibu dengan omongannya selalu searah,” jelas Black Aura.

__ADS_1


Chloe menelengkan kepalanya. Kemudian, menyilangkan kedua lengannya dan berpikir. “Kalau kupikir benar sih. Yah, mau gimana lagi? Midnight sebentar lagi bakalan sampai kok. Kita yang di dalam siap-siap aja andaikata orang itu menyerang Midnight,” tutur Chloe serius.


~


__ADS_2