
Jacqueline dan Aoi baru saja meninggalkan komplek rumah Chloe. Setelah berbelok dan bergabung dengan ribuan kendaraan beroda dua dan empat, Jacqueline menghela nafas resah.
"Chloe ini sebenarnya kemana sih? Black Aura juga nggak bisa dihubungin. Aku jadi khawatir tau nggak," katanya dengan pandangannya yang mengarah ke jendela.
Aoi tidak merespon. Dia tahu bahwa Jacqueline saat ini sedang tidak butuh dikomentari.
"Devil Mask... Aku sebenarnya pengen sama dia, Ao. Tapi, aku merasa kalau aku ini cuma akan mengganggu aktivitasnya aja. Jujur, aku kangen sama masa-masa itu."
Kali ini, dia malah curhat. Aoi diam dan memdengarkan apapun yang pacarnya katakan. Saat menyetir, Aoi menepi sejenak. Dia keluar dari mobil lalu masuk ke dalam minimarket. Entah apa yang dia beli disana.
Sementara itu, Jacqueline ditinggalnya di dalam mobil seorang diri. Iris birunya berganti pandang menjadi foto dirinya bersama Devil Mask dengan penampilan yang acak-acakan.
Foto itu diambil sebulan sebelum dirinya bertemu dengan Chloe dan Black Aura. Waktu itu, dia dan Devil Mask baru saja menyelamatkan anak-anak yang diculik di dermaga sekaligus membunuh salah satu anggota Legend Aura.
Bukannya mudah melawan Aura itu. Tapi, pertarungannya bersama Devil Mask waktu itu mengajarkannya banyak hal. Menjadi berani dan lebih terbuka dengan dunia.
Jacqueline tersenyum tipis. Devil Mask yang sekarang selalu sibuk memikirkan misinya. Dia jarang menyempatkan diri untuk quality time dengan Jacqueline.
"Andai kau seperti Black Aura yang nggak gitu sibuk, kita pasti bisa bermain lebih lama," gumamnya dengan air mata yang mengalir dalam diam dari pelupuk mata kirinya.
Jacqueline mengerti bahwa Devil Mask saat ini benar-benar diandalkan oleh Midnight. Akan tetapi, Jacqueline ingin sekali kembali terlibat hanya untuk menghabiskan waktunya dengan Devil Mask. sayangnya, sejak pertarungan panjang di Carnater, Midnight melarang mereka untuk tidak ikut campur dengan urusannya lagi.
"Masalah nyawa ya? Andai aku punya regenerasi kayak Ghoul..."
~
"Wah, Aoi! Udah lama nggak ketemu! Gimana kabarmu sama teman-teman?" tanya si penjaga kasir, Rayli.
"Baik kok. Rayli sendiri?"
"Baik kok. Btw, aku dengar kau udah pacaran sama Jacqueline."
Aoi terkekeh. Tau dari mana nih, tante.
"Iya. Udah sebulan lebih sih," jelas Aoi kemudian menerima beberapa belanjaannya dari Rayli.
"Ya udah deh... Makasih ya!"
~
Setelah keluar dari minimarket, Aoi menghampiri mobilnya.
"Line, bukan pintunya!" seru Aoi mengejutkan Jacqueline yang sedang menangis saat itu.
"Iya! Bentar!" balas Jacqueline dari dalam. Untunglah air matanya cepat-cepat ia bersihkan. Jika tidak, Aoi bisa curiga.
"Cepat kali belanjanya!" celetuk Jacqueline.
"Ya, habisnya... Yang kau mau cuma ini kan? Kau bilang mau cari Chloe juga. Oh, ya! Devil Mask beneran gak mau ikut?" tanya Aoi. Untunglah, pria itu tidak menyadari sesuatu yang aneh dari wajah Jacqueline.
"Kau ngapain pakai make-up segala? Kan kita cuma keliling," heran Aoi.
"Memangnya kau nggak mau punya pacar cantik?" cibirnya berhenti membedaki wajahnya.
Aoi tidak merespon dan hanya bisa diam sambil menyalakan kembali mesin mobilnya. Sesungguhnya dia tahu bahwa pacarnya ini mengkhawatirkan Chloe. Selain Chloe, ini adalah hari kesekiannya Jacqueline bertemu dengan Devil Mask.
__ADS_1
Meskipun sudah berpacaran lebih dari sebulan, Aoi kerap kali mendapati Jacqueline menangis dalam diam di tempat yang jauh dari jangkauannya.
Menangisi foto dirinya dengan Devil Mask. Ya memang, Aura itu satu-satunya orang yang berharga dalam hidup Jacqueline.
Aura bertopeng itu cocok dengan Jacqueline. Mereka bahkan sudah berhadapan dengan beberapa Aura dan menyelamatkan anak-anak yang sedang mengadakan kamping musim panas di hutan.
"Kau nggak perlu sungkan main sama Devil Mask. Aku bolehin kok," ujar Aoi langsung mendapatkan reaksi terkejut dari Jacqueline.
"Ntar kau cemburu..."
Aoi terkekeh, "Nggak kok... Asalkan nggak keseringan. Kalau keseringan ntar aku curiga," ucap Aoi disertai senyuman.
~
Masih di komplek Chloe...
Beberapa pohon pinus tumbang menghantam aspal. Beruntunglah, tidak ada yang terluka lamtaram komplek rumah Chloe itu memang terkenal sepi sekali.
Devil Mask bangun perlahan setelah dirinya menabrak salah satu rumah kosong. Dia benar-benar tak menyangka akan diberi kejutan yang berlebihan seperti ini.
Musuh lama. Tidak. Lebih tepatnya musuh dari mendiang suami Midnight. Dia selama ini menyembunyikan sosoknya di suatu tempat dan membiarkan luka lamanya sembuh.
Devil Mask belum pernah berhadapan dengan Ghost Wave sebelumnya. Dia hanya sekilas mendengar namanya dari Midnight dan itupun hanya beberapa kali terucap oleh Midnight.
Dosen itu tak pernah menjelaskan detail bagaimana cara dia dan mendiang suaminya menghadapi Ghost Wave kala itu.
Sekarang, terpaksa dengan keberanian yang ia punya, Devil Mask berusaha mengalahkab Ghost Wave. Kemampuan Aura itu masih belum dia ketahui. Akan tetapi, dilihat dari senjata yang ia gunakan yaitu sabit, sepertinya Ghost Wave ini type petarung jarak dekat.
Aku nggak mungkin minta bantuan Yumi. Dia perempuan. Tapi, kalau aku minta bantuan Black Aura sekarang, siapa yang akan mencari Chloe dan mama? batin Devil Mask.
Cepat-cepat, Devil Mask menghindari senjata tersebut kemudian membalas serangan Ghost Wave dengan kemampuannya.
Mencakar udara. Kemampuannya yang satu ini lebih tepatnya Meninggalkan puluhan jejak cakaran transparan di udara dan membiarkan Ghost Wave maju menyerangnya.
Devil Mask menyeringai dibalik topengnya. Dia yakin kalau serangannya kali ini bisa setidaknya melukai Ghost Wave. Seandainya tidak, serangannya itu bisa mengalihkan perhatian Ghost Wave.
Benar saja. Saat Ghost Wave maju dengan kecepatan tinggi, puluhan cakaran yang Devil Mask tinggalkan di udara itu berhasil melukai Ghost Wave. Bagaikan menaruh perangkap transparan untuk menangkap harimau.
Wajahnya yang semulanya datar, kini memperlihatkan ekspresi terkejut. Dari keempat matanya.
"Oh, jadi ini kemampuanmu ya? Prediksiku nggak salah..." ucap Ghost Wave.
"Oh, kau bisa ngomong ternyata? Kukira nggak bisa," ejek Devil Mask. Di tengah situasi yang tak jelas ini, yang bisa Devil Mask prioritaskan saat ini adalah cara agar dirinya bisa kabur dari pertarungan ini. Dia butuh rencana dan juga bantuan dari Black Aura.
Dia saat ini belum berani mengambil langkah untuk melanjutkan pertarungannya melawan Ghost Wave karena...
"Terlalu lama melamun itu nggak baik lho..."
Devil Mask tersentak kaget mendapati tangan Ghost Wave yang menembus dadanya. Devil Mask terdiam.
"Karena, kalau melamun, kau nggak bakal tahu apa yang sedang orang lain lakukan saat ini," lanjut Ghost Wave kemudian mendorong tangannya ke atas hingga membelah pundah Devil Mask.
"Matilah..."
Tak tanggung-tanggung, Ghost Wave juga mengeluarkan canonnya dan menembak Devil Mask dengan lasernya.
__ADS_1
Aura bertopeng itu menembus rumah kosong yang lain dan berakhir terinjak oleh atap serta langit-langit rumah yang rusak tersebut.
Tak cuma sampai disitu serangan Ghost Wave, Aura itu mengeluarkan lingkaran sihir dari tangan kanannya untuk memanggil arwah-arwah penunggu komplek rumah Chloe.
Sekitar lima belas arwah berbaris dengan membawa senjata mereka masing-masing. Tanpa pikir panjang, mereka semua maju kemudian menyerang Devil Mask habis-habisan menggunakan pedang yang telah Ghost Wave sediakan untuk mereka.
"Gampang..." gumam Ghost Wave. Akan tetapi, baru saja dirinya berbalik, dirinya dikejutkan oleh Devil Mask yang mencakar wajahnya dari arah kiri.
"Gampang kau bilang?" tanya Devil Mask tak terima.
Tak mau kalah dari Ghost Wave, Devil Mask mengeluarkan ratusan jejak cakarannya ke udara kemudian mendorong seluruh jejak cakaran itu sampai menggores tubuh Ghost Wave. Bahkan ada beberala jejak cakarannya berhasil membelah tangan dan kaki Ghost Wave.
"Cih!" Ghost Wave meringis kesakitan lantaran goresan Devil Mask memiliki tingkat rasa sakit setara dengan rasa sakit ketika dijahit dalam keadaan sadar.
Jadi kemampuan mereka dominan rasa sakit ya? batinnya.
Tanpa ia sadari, sepatu Devil Mask melayang ke kepala bagian kanannya. Kemudian wajahnya yang ditendang menggunakan ujung sepatu Devil Mask.
Setelah serangkaian serangan fisik yang Devil Mask berikan, kali ini Devil Mask memanfaatkan cakarannya sebagai serangan penutup.
Tak peduli dengan luka parah yang dia terima dari Ghost Wave sebelumnya, yang penting, serangan balasannya harus tiga kali lebih parah dari serangan musuh. Yang penting, Jacqueline dan teman-temannya yang lain tidak harus bersusah payah melawan Ghost Wave.
Kuncinya jangan terlalu meremehkan kemampuan lawan. Itu saja.
Devil Mask menusuk leher Ghost Wave yang diselimuti oleh asap hitam. Entah apa spesies Aura ini. Entah hantu atau apapun... Yang jelas, Ghost Wave pasti bisa mati.
"Mati...!" seru Devil Mask menyobek leher Aura itu.
Jejak cakaran yang masih tersisa di udara ditariknya dan dibiarkannya tubuh Ghost Wave menerima semua cakaran tersebut.
Devil Mask mundur dengan nafasnya yang tak beraturan. Lelah rasanya. Bertarung sendirian itu melelahkan. Tapi untunglah, Ghost Wave dihadapanya sudah terkapar di jalan raya dengan genangan darah berwarna biru dongker membasahi punggungnya.
"Udah mati kah?" gumam Devil Mask terengah-engah.
"Kayaknya sih, udah!"
Tiba-tiba, terdengar seruan lantang dari atas hingga Devil Mask refleks menoleh ke atas. Ternyata masih belum!
Di atas sana, Ghost Wave berdiri dengan tangan kanannya yang terangkat ke atas. Kelima jarinya terbuka lebar sembari mengeluarkan ribuan pedang.
Anehnya, pedang milik Ghost Wave seolah terbagi menjadi dua macam. Ada yang nyata dan ada pula yang transparan. Devil Mask yakin, justru yang transparan itulah yang berbahaya.
"Bye..." ucap Ghost kemudian melayangkan tangannya ke arah Devil Mask. Saat itulah, ribuan pedang tersebut meluncur ke arah Devil Mask.
Baru akan Devil Mask menghindar, Devil Mask dibuat bingung oleh ribuan pedang yang menghilang entah kemana.
"Hah? Kemana perginya?"
Entah sejak kapan juga, Ghost Wave tiba-tiba berada di belakang Devil Mask--menarik kerah jaket Aura itu dan menusuk Devil Mask dari belakang.
Tidak menggunakan pedang tapi tangan kosong.
"Sekarang, tinggal Black Aura yang harus kubunuh!" Ghost Wave menarik tangannya kemudian mundur. Membiarkan ribuan pedangnya yang menghilang itu, muncul kembali dan membunuh Devil Mask.
~
__ADS_1