
“Iya, iya… Besok aku ke rumahmu lagi. Jangan khawatir. Aku pasti membawakanmu mochi yang kau suka. Astaga... Iya! Aku janji. Jangan marah begitu, dong.”
Di dalam ruangan kamar yang gelap dan hanya berbekal sinar dari luar, seorang pria tengah menelpon seorang gadis yang menyandang status sebagai pacarnya. Tak lama kemudian, pria itu mengakhiri pembicaraan mereka lewat ponsel.
“Besok keluar lagi?” tanya Dark Flower kemudian.
Pria itu melirik Dark Flower lalu melempar ponselnya di atas ranjang tidurnya. “Hah! Mau bagaimana lagi? Namanya juga pacaran. Tapi yah, aku cukup bahagia dengan pacarku . Walau agak cerewet.” Jawab pria itu. “Tolong ambilkan sisir! Siapapun!” pintanya seperti terburu-buru.
Dark Flower memutar bola matanya malas dan beranjak dari kursinya. Kemudian menghampiri lemari kecil, membuka salah satu lacinya, dan mengambil sisir.
“Tangkap!”
“Nice catch! Kamsahaeyo, Dark Flower!” ucapnya menyengir lebar.
“Hii… Terserah.” Dark Flower memandang jijik dengan senyuman itu dan berlalu meninggalkan ruangan.
“Oi, Aurora mati lo. Kau nggak sedih, Yo-han?” Ujar Dark Fire setelah itu meneguk secangkir kopi hitam yang menurut ketiga saudaranya adalah minuman paling pahit. Ralat, Dark Fire dan Dark Sport sudah mati. Jadi, hanya tersisa satu. Dark Flower.
“Hmm… Biasa aja sih… Tapi, kita rugi besar jadinya. Huft… Pengen mandi habis ini.” Pria yang baru saja disapa Yo-han oleh Dark Fire itu mengubah gaya rambutnya menjadi Ivy League Style.
“Padahal, kelompok kita lebih banyak dari mereka. Ah, sudahlah! Kira-kira berapa hari lagi?” lanjut Dark Fire yang kini perhatiannya teralih pada Yo-han yang kini terlihat seperti orang lain. Dia duduk sengkil di jendela yang terbuka lebar. Kepalanya menghadap gedung perkantoran yang bersebelahan dengan apartemennya.
Raut wajah yang sebelumnya terlihat santai dan kekanak-kanakkan berubah drastis menjadi sedingin es.
Pria itu memandang kota yang terselimuti salju. “Kota ini memang indah bagiku. Tapi, ini bukan kampung halamanku. Aneh ya? Karena cinta, aku sampai mengorbankan segalanya hanya demi satu cewek. Aku penasaran, kenapa Midnight bisa-bisanya memiliki hubungan dengan Carmine? Kukira, dia hanya pelayan café biasanya dengan kehidupan yang biasa saja.” Pria itu bersuara setelah memalingkan wajahnya dari pemandangan kota. Dia menatap Dark Fire—Aura yang sangat setia padanya. Tapi, dia tidak sadar telah mengabaikan perkataan Dark Fire sebelumnya.
“Sebenarnya, apa yang kau incar dari Midnight?” tanya Dark Fire yang sebenarnya tidak terlalu tertarik membahasnya. Pertanyaan itu hanya terlintas saja di benaknya.
Pria itu meletakkan tangannya di bawah dagunya. “Kau tahu? Cinta itu buta. Aku akan berusaha sekuat mungkin agar Midnight mau menerimaku. Namun, ada satu hal yang kubingungkan. Saat pandangan mata kami bertemu, Midnight seakan sudah lama mengenaliku. Tapi kapan? Aku merasa agak takut jika dia adalah salah satu
perempuan yang pernah mengenalku semasa sekolah.” Tutur pria itu ragu. Kalau sudah membicarakan Midnight—orang yang sangat ia cintai meskipun Midnight tidak mencintainya, orang itu bisa betah dalam jangka waktu sejam hingga dua jam.
“Mungkin, dia marah karena aku membunuh suaminya, ya? Aku memang jahat sih, tapi… Berkat suaminya juga, aku bisa mendapatkan kalian. Carmine sejak awal sangat membenciku. Aku heran, kenapa dia segitunya benci dengan keluargaku sampai-sampai ingin membantai semuanya. Dasar anak kecil.” Pria itu seakan menertawakan masa lalunya.
“Huft… Tubuhku lelah setelah kejadian kapal tadi, aku sedikit tenang karena Aurora berada di dalam alam bawah sadar Chloe. Aku bisa menebak, dimana ada Chloe disitu ada Aura.”
“Bagaimanapun juga penyamaranmu benar-benar hebat, Yuuki. Aku kagum.” Puji Dark Fire lirih.
“Sayangnya, Aurora mati tanpa memberi informasi apapun pada kita. Huft… Dia terlalu percaya diri.” Keluh seorang wanita yang baru saja membuka pintu ruangan dan masuk membawakan nampan berisikan sepiring biscuit coklat. Wah, kelihatan sekali bahwa wanita itu menguping sebelum membuka pintu.
“Seperti judul seri kelima Pirates of the Carribean dengan penamaan serinya Dead man tell no tales. Orang yang udah mati mana bisa bercerita. Kalau sudah terbunuh ya, sudah. Mau nggak mau, kita harus mencari informasi yang lain lagi. Dark Shadow juga. Dia mati dibunuh Devil Mask tanpa bisa memberi informasi apapun. Huft… Legend Aura itu memang hampir semuanya kuat. Kekurangan mereka terletak di sifat teledor mereka.” Jelas pria yang baru saja namanya disebut. Yuuki.
“Jelas sekali menggambarkan sifatmu, honey.” Perlahan-lahan, penampilannya semakin terlihat jelas. Terlebih saat cahaya lampu dari luar jendela menerangi wajahnya.
Bentuk wajah yang tirus dengan iris biru secerah laut. Tubuh yang ramping, sexy itu ditutupi oleh oversized sweater-nya, dan rambut pirang terurai panjang menutupi sebagian pinggangnya.
“Jadi, kapan kau punya waktu berkencan denganku? Aku sudah menunggumu dua hari yang lalu.” tanyanya dengan nada yang terkesan menggoda. Dark Fire nyaris salah tingkah.
Yuuki berpikir sejenak. “Pagi besok, diriku ada keperluan. Aku usahakan mencari waktu yang pas agar kita berdua bisa berbincang hangat di restoran yang selama ini kau pinta.” Sahutnya.
“Begitu ya… Kehidupan kita unik ya! Berbaur dengan fantasi yang kau buat.”
“Semua ini berawal dari sepupuku. Kalau aku nggak pintar, mungkin saat itu juga aku sudah mati dan nggak bisa bertemu denganmu lagi di saat yang menenangkan seperti ini. Yah, aku akan sangat menyesal tidak bisa berkenalan dan berkencan denganmu, Emma.”
“Fufufu… Aku senang kau merasa seperti itu. Aku merasa sedikit berperan disini.” Emma menutup mulutnya tersipu malu.
Yuuki tersenyum simpul. Lalu kembali mengubah gaya rambutnya yang sebelumnya Ivy League Style menjadi messy hair.
“Aku mau mandi dulu. Bajuku bau laut dan aku muak menciumnya! Kalian sebaiknya tidur. Besok, akan ada banyak hal baru yang bakal kita temukan. Dan… Yah! Kuharap, bisa bertemu dengan Chloe dan yang lainnya. ” Saat penampilannya berubah, Yuuki menjadi pribadi yang berbeda dan pergi meninggalkan orang-orang di ruanganya tersebut.
Sebelum sepenuhnya pergi, dia berhenti sejenak dan berkata, “jal jayo (selamat malam)!”
__ADS_1
~
Black Aura membuka kedua matanya saat indra pendengarannya merespon suara isak tangis seorang gadis yang tak jauh darinya. Kedua mata yang pucat memperlihatkan dengan jelas seberapa besar kelelahan menguasainya saat ini. Meski demikian, manic violet itu masih sanggup bergerak dan melirik gadis yang tengah memeluknya erat. Hangat rasanya.
“Chloe…?” Black Aura memanggil Chloe meski tenggorokannya terasa perih.
Seolah keajaiban datang padanya, kedua matanya membulat sempurna. Dia langsung merenggangkan pelukannya namun Black Aura menolaknya dengan mencengkram lengan atas Chloe. Chloe mengernyit heran dan penuh tanda tanya.
“Jangan dilepas.” Pintanya.
Chloe yang mendengarnya langsung terenyuh. Hati dan jantungnya. Keduanya seperti diremas. Mulutnya bergetar seolah ingin menangis lagi. Mengetahui kenyataan yang melukai Black Aura, Chloe seperti terbebani oleh rasa bersalah.
“Maaf ya… Aku selalu merepotkanmu. Aku benar-benar seenak perutku sendiri. Aku memang menyukaimu sejak awal. Memang saat itu karena obsesi. Namun, lama-kelamaan, perasaan ini berkembang menjadi yang sesungguhnya. Tapi, aku nggak menyangka kalau perasaanku ini hanya akan menyakitimu.” Ungkap Chloe bercucuran air mata. Sejujurnya, Chloe tidak ingin terus-terusan melihat Aura ini terluka hanya karena melindunginya. Memang berpisah adalah cara agar Aura itu tidak merasa berat saat bertarung. Akan tetapi, hatinya seperti disayat jika perpisahan itu sampai terjadi.
Belum ada tanggapan apapun dari Black Aura. Lantas, Chloe menaikkan sebelah alisnya. Tapi ya, sudahlah… Biarkan dirinya seperti ini dulu untuk sesaat. Baik Aura, manusia, hewan, semuanya membutuhkan istirahat.
Ding! Dong!
Nada dering Chloe yang menyerupai suara bel pintu rumahnya berbunyi. Dia menemukan kotak pesan dari Jacqueline. Tanpa pikir panjang, dia segera membukanya tentu setelah mengisi password yang ia buat untuk menjaga keamanan ponselnya.
Ada pesan singkat tertera dilayar. Chloe membacanya.
Jacqueline: Bosan:/
Chloe terkekeh pelan. Dia pun membalas.
Chloe: Sorry… Hari ini benar-benar hari yang melelahkan.
Jacqueline: Kemana aja kalian? Lama kali sumpah! Aoi juga!
Chloe: Saat aku pulang, aku harap kau kaget.
Chloe: Lihat saja. Aku ingin kau kaget, pokoknya!
Jacqueline: Wow! Jangan marah dulu, dong! Bercanda doang~
Chloe: I want you to know that I read what you’re saying. It’s just that I don’t really care.
Jacqueline: Chloe… Jangan gitu, dong. Please… Don’t be mad at me~
Chloe menutup langsung percakapan mereka dan mengalihkan perhatiannya pada Black Aura. “Bertahanlah… Kumohon, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku masih ingin melanjutkan semua ini… Bersamamu.” Bisik Chloe. Hatinya merasa terbebani setelah kejadian beberapa jam yang lalu. Dia merutuk dirinya yang melamun saat itu. Intinya, banyak hal yang membuatnya sulit berpikir jernih seperti Chloe yang biasanya.
Emosinya juga mendadak naik saat membalas chat Jacqueline. Chloe yang tenang pasti akan membalasnya dengan emot tertawa, ayam, makanan, apapun yang menurutnya lucu.
“Disini sepi ya…” Ujar Black Aura selang beberapa menit kemudian.
“Benar juga. Kesannya kayak horror. Btw, Ayo pu… LAWWAAPPA ITU?!”
Chloe yang hendak berdiri dan berniat memapah tubuh Black Aura malah dikejutkan oleh gajah laut nyasar yang muncul setelah merusak salah satu pintu yang berasal dari dek di bawahnya.
Black Aura ikut tersentak namun pergerakannya tidak seluas sebelumnya. Ia pun terpaksa membiarkan Chloe memapah dirinya.
“I-itu.. Monster yang memakan jariku tadi… Pagi…” Ucap Black Aura susah payah.
Chloe terdiam sesaat. “Monster…” Dia menoleh heran. Tak lama kemudian mendengus geli dan meledak sudah gelak tawanya. Black Aura hanya bisa memandang heran dengan gadis itu.
“Apa-apaan… Kau ini?”
“BUAHAHAHAHA! HAHAHAHA! OOH… Jadi, dia pelakunya? Buahahahaha! Astaga, sakit perut.”
“Hei…!" Black Aura menendang kaki Chloe agar gadis itu tidak meremehkan situasi mereka saat ini.
__ADS_1
“Ah, maaf.”
Tanpa pikir panjang, Chloe segera kabur menjauh dari gajah laut itu. Meskipun kepalanya masih tak lepas membayangkan betapa monster-nya gajah laut itu di mata Black Aura. Memang dilihat dari ukuran, gajah laut memang besar. Tidak salah juga jika Black Aura menganggapnya monster.
“Kabur kemana ini?” tanya Chloe panik pada akhirnya. Tidak disangkanya, gajah laut itu mengejar mereka. “Aku baru pertama kalinya melihat gajah laut. Aku juga nggak tahu makanan kesukaan mereka apa!” pekik Chloe selama berjalan cepat.
“Aku lebih bodoh darimu.” Celetuk Black Aura.
“Tapi, bukannya gajah laut itu makan ikan dan gurita ya? Kok bisa-bisanya dia makan jarimu? Iseng kali.” Chloe terkekeh geli. Gadis itu bahkan nggak ragu menyikut pinggang Black Aura membuat Aura itu mengaduh.
"Sakit." Katanya.
Chloe menelengkan kepalanya. "Heh? Wah... Pantas saja kau kalah melawan Aura sepertinya."
"Cih! Setidaknya berterima kasih karena ada yang memikirkan keberadaanmu!" cibir Black Aura yang pada akhirnya terkekeh geli melihat raut bingung dan imut Chloe.
"Gajahnya mendekat." Cepat-cepat, Chloe menyingkirkan suasana canggung itu.
Saat berusaha menjauh, Chloe sempat memperhatikan karakteristik gajah laut. Ukurannya melebihi manusia. Ditambah lagi, lemaknya yang bergoyang-goyang dan cara hewan itu bergerak. Pundak gadis itu merinding ketakutan.
“Jijik! Hidungnya goyang-goyang! Ekornya kayak jelly!” sekian analisis dari Chloe sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kau kenapa?” tanya Black Aura.
“Aku jijik melihat gajah laut.” Katanya.
Black Aura menelengkan kepalanya heran lalu melirik ke belakang memperhatikan cara bergerak hewan itu. “Imut.” Dalam hatinya.
“Oh, ya, Chloe.” Black Aura menjauhkan lengannya dari pundak Chloe.
“Lho? Kenapa di lepas?”
“Lukaku sudah pulih. Ayo, pulang!” seru Black Aura mantap kemudian langsung membopong gadis itu seperti saat pertama kali bertemu dengannya.
Chloe yang masih syok diperlakukan layaknya princess akhirnya kembali seimbang. Dia memandang Black Aura dengan ragu.
“Beneran, nih?"
Black Aura tersenyum menanggapi perkataan Chloe. “Iya."
Saat pandangan mereka bertemu, saat itulah dunia di sekitar mereka seperti gerak lambat bersamaan dengan gajah laut di belakang mereka. Sejenak, kedua remaja itu saling bertatapan dalam.
Mau seburuk apapun kejadian yang menimpa mereka hari itu, pasti akan ada momen manis sebagai hiburan kecil untuk mereka berdua. Seolah mereka pantas untuk menikmati momen manis tersebut meski sebentar.
“Aku senang kau kembali, Chloe.” ucap Black Aura lembut.
Chloe tersenyum membalas ucapan Black Aura. Setelah kejadian sebelumnya, Black Aura setidaknya berubah.
"Aku juga senang bisa bertemu dengan lagi."
Akhirnya, sepasang remaja itu larut dalam dunianya sendiri. Seakan saat ini, ruang dan waktu berpihak pada mereka. Sampai-sampai tidak menyadari kehadiran orang lain yang saat itu tengah melindungi mereka dari gangguan gajah laut yang menjijikkan namun imut bagi Black Aura.
“Oi, oi, oi, oi, oi, OI! Mau sampai kapan kalian bertatapan terus? Nggak lihat situasi, ya?”
Seruan lantang dan santai itu sukses membuat Black Aura dan Chloe menoleh. Chloe tersentak canggung mendengar suara orang yang tidak begitu ia kenali tapi ia tahu siapa orang tersebut.
Seorang remaja bertopeng baru saja memijak ringan sepasang sepatunya di depan gajah laut yang penuh lemak dan hitam warnanya. Siapa lagi kalau bukan Devil Mask. Aura satu-satunya yang mengenakan topeng kini terpaku datar ke arah sepasang remaja yang menurutnya hampir melakukan hal tidak senonoh.
“Sialan kau.” Umpat Black Aura.
~
__ADS_1