
"Barusan ada suara 'BOOM', ya?"
Midnight menoleh ke belakang merespon pertanyaan yang Aoi ajukan padanya. Dia memandang keramaian, gedung-gedung, dan Aoi, bermaksud mencari suara yang Aoi bilang tadi.
"Nggak tuh." Sahutnya tidak menemukan apapun.
Aoi tercenung dan kembali meresapi suara yang baru saja didengarnya.
“Masa kau tidak mendengarnya, Midnight?” tanya Aoi sekedar memastikan.
“Entah. Memangnya dari mana asal bunyi itu?”
“Astaga, kenapa malah bertanya balik? Tentu saja ada di belakang!” tunjuk Aoi.
Mata Midnight mengikuti arah yang ditunjukkan jari telunjuknya. Dia hanya melihat gedung-gedung yang berdiri kokoh. Tidak ada keanehan di sana.
Lantas, Midnight pun meminta penjelasan dimana letak suara yang mengganggu pria jepang itu dengan menyebut kalimat “Apa?”
“Heh? Pasti suara itu berasal dari gedung lain. Kalau nggak percaya, ikut aku! Aku yakin sekali teman-temanku ada di sana. Mereka itu memang tak bisa lepas dari masalah…!”
Ketika Aoi hendak berlari meninggalkannya, cepat-cepat Midnight menahan lengan remaja itu. Otomatis, langkahnya terhenti dan membuat Aoi hampir terpleset ke belakang. Untung saja, Aoi bisa menstabilkan keseimbangan berdirinya.
“Ada apa? Kenapa kau menghentikanku?” Aoi bertanya heran.
Midnight menatapnya serius seperti ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada Aoi. Oleh karena itu, Aoi memutuskan untuk diam dan mendengarkan wanita itu berbicara.
“Akan lebih baik jika mereka yang ke sini. Kalau kau ke sana sendirian, kau akan dengan mudah ditangkap dan dijadikan sandera oleh mereka.” Katanya.
Aoi menghela nafas berat. Akhirnya, dia menyerah. Sepertinya, mengikuti perkataan Midnight saat ini adalah pilihan yang tepat ketimbang memutuskan sendiri. Dan lagi, Midnight pastinya sudah berpengalaman banyak dalam menghadapi Aura-aura tersebut.
“Baiklah… Jadi kita akan kemana?”
“Ke rumahku. Aku punya banyak senjata dan juga… Ada banyak hal yang harus kau ketahui soal Legend Aura.” Ucap Midnight disertai tatapan sedingin malam yang secara otomatis membuat pundak pria jepang itu bergidik ngeri.
“Baik, baik… Terserah apa katamu saja.” Balas Aoi menunduk ketakutan.
Usai merespon perkataan Midnight, sesaat suasana di antara mereka menjadi sangat hening. Aoi merasa canggung berjalan di belakang wanita itu. Sampai-sampai, ia membatin tentang penampilan dan sifat Midnight.
Aneh… Waktu itu aku cuma mau menemaninya pulang. Bukan sampai mengikutinya. Ah, sudahlah Ao. Hidupmu memang tak bisa lepas dari kaum hawa.
Aoi menatap bagian belakang wanita itu. Rambutnya pendek ditambah dengan warna indigo malam. Lantas, Aoi jadi bertanya-tanya. Apa penampilannya mengikuti nama samarannya?
Benar juga. Kenapa dia menggunakan nama samaran?
“Midnight… Boleh aku bertanya sesuatu?” Aoi membuka mulutnya setelah membulatkan tekad untuk memberanikan diri mengisi ruang kosong di antara mereka dengan pertanyaan yang diajukannya.
“Apa?” Midnight membalas dingin.
Aoi tertegun kemudian menarik nafas, “Hmm… Maaf kalau aku tidak sopan, kau tahu bukan kalau anak remaja sepertiku memiliki rasa penasaran yang…”
“Ck! Banyak kali bacotmu, tinggal bertanya aja susah kali!” bentak Midnight membuat Aoi langsung membeku. Saking kesalnya, Midnight sampai menendang manusia salju yang berdiri sempurna di depan pagar rumah orang.
“I-iya. Maaf. Jadi, apa ‘Mindight’ itu memang nama samaranmu?”
“Ya.”
Astaga, dinginnya…
“Begitu ya... Lalu, kenapa kau menggunakan nama samaran? Memang ada apa dengan nama aslimu?”
Langkah Midnight terhenti saat Aoi bertanya soal nama aslinya.
“Nama asliku sudah tak berlaku lagi untukku. Lagi pula, aku lebih cocok dipanggil Midnight."
“Ooh... Midnight, apa keluargamu tahu kalau kau terlibat dengan hal-hal berbau fantasi?”
Aoi berjalan mendekati Midnight. Entah kenapa, dia jadi tertarik ingin mengetahui Midnight lebih jauh lagi.
“Tidak.” Midnight melanjutkan langkahnya kembali.
“Mereka tidak mencarimu?”
“Entahlah."
Aoi tertergun mendengar perkataan Midnight. “Kenapa begitu?”
Menyadari pertanyaan Aoi yang terkesan mengarah pada masa lalunya, Midnight menghela nafas berat lalu tersenyuman pahit.
Meskipun sakit, tapi tidak ada salahnya membagi sedikit masa lalunya pada orang lain. Setidaknya, dia bisa merasakan ketenangan walau hanya sebentar saja.
“Hidupku yang dulu penuh dengan penderitaan. Karena itu, aku memilih melarikan diri. Aku tidak peduli apa mereka mencariku atau tidak” Beber Midnight datar.
__ADS_1
“Saat itu, aku muak sekali dengan hidupku. Kalau tahu akan jadi begitu, aku memilih untuk bunuh diri. mendiang suamiku dan Carmine, merekalah orang yang membuatku bisa berpikir positif. Sayangnya, mereka sudah pergi lebih dulu."
Suara Midnight bergetar seperti mau menangis. Aoi menundukkan kepalanya tanpa bisa merespon apapun. Dia merutuk dirinya karena sudah bertanya tentang masa lalu Midnight dan membuatnya sedih.
Aoi menatap Midnight lekat-lekat. “Kau hebat ya! Memang, aku bukan bagian dari masa lalumu. Akan tetapi, aku bisa merasakan seberapa besar kekuatan yang kau kerahkan saat menghadapi kenyataan seperti itu. Jujur saja, aku ini lemah walau genderku adalah laki-laki.” Ucap Aoi sedikit merendahkan dirinya.
“Hmm… Kalau kau butuh apapun, kau bisa mengandalkanku.” Lanjutnya bersungguh-sungguh.
Midnight tersenyum simpul menanggapinya. “Terima kasih… Kuharap, kau dan teman-temanmu selalu aman.”
“Iya!"
“Ngomong-ngomong, rumahku sudah mau dekat, kau mau makan apa? Biar kubuatkan kau sesuatu.”
“Eh?” Aoi membelalak sekaligus tersipu malu.
“Gi-gimana ya? Kurasa, makan kentang goreng saja nggak papa, kok.” Ujar Aoi mengelus-elus pipi kanannya yang memerah karena malu itu.
“Makan kentang aja nggak bikin kenyang, lho. Aku masih punya beberapa daging tuna, sih. Kalau dipanggang pasti kenyang, kan?”
“Wah, kelihatannya enak!" seru Aoi antusias.
Selain itu juga, dia merasa nyaman berbicara dengan Midnight. Wanita ini rupanya memiliki sisi manis juga. Tak hanya manis, dia juga hangat. Rasanya seperti menikmati pesona langit malam penuh bintang sambil bergandengan tangan dengan kekasih yang sangat kita cintai.
...🍁...
Keributan di tengah kota semakin memanas. Salah satu warga disana berteriak menemukan keanehan.
"Bukannya tadi ada orang yang tersangkut di sana ya?" serunya tidak percaya. "Sekarang, kenapa malah jadi pot?!"
"Coba kita tanya sama pegawai kantor yang ada di dalam gedung!" usul seorang pria berjaket hitam dengan kacamata kotaknya.
"Benar juga!" Seorang wanita menambahkan.
Chloe yang melihat kekacauan itu hanya bisa menghela nafas berat. Bingung mau ditenangkan dengan apa kekacauan ini?
"Hah... Padahal sudah memilih tempat yang jauh tapi masih saja terdengar suara ribut mereka. Hadeh..." Chloe mengeluh sambil memijat kepalanya.
Sementara itu, Black Aura hanya berdiri menyandar dan masih memapah Devil Mask yang masih tak sadarkan diri. Sembari menebak-nebak orang yang menghajar Devil Mask ini.
"Aku punya firasat aneh." Ujar Black Aura tiba-tiba.
"Firasat aneh? Mengenai apa?" tanya Chloe kemudian menghampiri Black Aura dan ikut bersandar di sampingnya.
"Wah... Bahaya juga ya!"
"Yah, begitulah."
Ding dong!
Sesudah Black Aura menyelesaikan kalimatnya, ponsel Chloe yang sekarat itu berdering. Segera mungkin ia keluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Jacqueline." Sebut Chloe.
"Angkat aja." Balas Black Aura.
Chloe mengangguk singkat dan langsung mengangkat panggilan tersebut. Saat diangkat, ia mendengar suara keramaian di seberang sana beserta derap langkah kaki Jacqueline.
"Jacqueline,"
"Oh! Chloe! Kau dimana? Aku sudah di area yang kau maksud. Ta-tapi, dimana Devil Mask? Apa Black Aura membawanya?" tanya Jacqueline tanpa basa-basi.
"Dia masih belum sadar disini. Untuk posisiku, aku berada di sebelah toko bunga. Kau hanya perlu berjalan, belok ke kiri sampai mentok, dan kau menemukan ruang sepit antara toko bunga dengan toko donat." Jelas Chloe.
"Oh, baiklah kalau begitu. Jangan kemana-mana dan tetaplah di tempat yang sudah kau tentukan ya!"
"Iya! Iya! Kau juga! Bersikap santailah. Karena kau berada di keramaian, bisa saja ada Legend Aura yang menyamar di sana."
"Aku tahu itu."
Kedua gadis itu saling mengomel membahas keselamatan mereka masing-masing. Sedangkan, Black Aura hanya mendengarkan saja sambil memejamkan kedua matanya. Dia menguap sebentar karena bosan mendengar ocehan kedua gadis itu.
"Kau mencurigai pacar Minji? Siapa tadi namanya? Yohan?"
Saat Jacqueline membahas Yohan, kedua mata Black Aura langsung membelalak kaget.
"Iya. Dia juga mengatakan hal aneh pada Black Aura."
"Waduh! Bisa jadi ada Aura lain di dalam tubuhnya. Mungkin saja, Dark Fire masuk ke dalam tubuhnya lalu memaksa Yohan buat gabung sama Legend Aura."
Karena Chloe mengaktifkan speakernya, Black Aura bisa mendengar jelas suara Jacqueline meskipun nafas gadis itu sedang tidak stabil.
__ADS_1
"Kau salah." Ucap Black Aura melirik datar ke ponsel Chloe seakan dirinya juga ikut berbicara dengan Jacqueline.
"Heh?"
"Yohan itu manusia." Tutur Black Aura.
Chloe hanya mengangguk pelan seakan dia memahami perkataan Black Aura.
Di saat yang tepat, Jacqueline dan Yumizuka akhirnya menemukan tempat persembunyian sahabatnya
"Wah! CHLOE!!" teriak gadis itu kegirangan.
"Jacqueline!!!" Balas Chloe sama girangnya.
Begitu sampai, gadis berambut ungu itu auto dibuat panik oleh kondisi Devil Maks.
"Waduh, Devil Mask! Kenapa bisa separah ini?"
"Jangan khawatir, dia masih hidup." Ucap Chloe berusaha menenangkan sahabatnya yang panik.
"Huwaaa! Apa-apaan aku ini! Yumizuka juga! Bisa-bisanya pandangan kami teralihkan oleh jam tangan mewah yang dipakai wanita berambut pirang itu!" Jacqueline mengacak-ngacak rambutnya kesal.
Black Aura menepuk jidatnya heran. "Bisa-bisanya dia berbohong."
Berbeda dengan Black Aura, Chloe justru memakluminya. "Bukan salahmu, kok. Devil Mask pasti akan sembuh." Hiburnya sambil tertawa geli.
Jacqueline menghela nafas singkat. Kemudian dia menggenggam cakar Devil Mask seraya memejamkan kedua matanya serius
"Tips dariku untukmu, Chloe. Kalau Black Aura terluka, obat terbaiknya adalah kasih sayang."
"Eh?" Chloe dan Black Aura menatap heran bersamaan.
"Sudah kuduga kalian nggak tahu. Kalau begitu, perhatikan baik-baik!" seru Jacqueline mantap.
...🍁...
Seorang gadis berambut pirang panjang berdiri sambil menyilang kedua lenganya, mengamati kepanikan yang mengambil alih pikiran warga di kota. Dia melepas kacamata hitamnya dan memperlihatkan iris biru lautnya ada keadaan kotanya saat ini. Dia menghela nafas kemudian menyimpan kacamata hitamya ke dalam tas.
Wanita itu mendongakkan kepalanya. Dia menyadari ada yang aneh dengan gedung itu.
“Bukannya di atas sana ada Devil Mask, ya? Lalu, kemana perginya Aura itu? Nggak mungkin ada orang yang melompat ke atas dan menyelamatkannya. Seandainya itu terjadi, pasti akan ada orang yang menunjuk spontan kea rah si penyelamat itu.” Pikirnya.
Memperhatikan keadaan kota hanya akan membuat suntuknya bertambah. Wanita itu kemudian melihat arah jam tangannya. Saat melihat jam, wanita itu juga bisa melihat namanya yang tertera di lengan hoodie hitamnya. Tulisan yang terdiri dari empat huruf dan sangat mudah dibaca. Emma namanya.
“Kurasa, perasaan Yuuki terhadap Midnight masih berlaku sampai sekarang. Padahal, dia sudah punya cewek korea itu. Tapi kelihatannya, dia nggak merasa senang dengan pacarnya. Hmmm…” Emma bergumam dengan kedua bola matanya yang sibuk melirik ke mana-mana.
“Bagaimana denganku? Hubunganku dengannya memang sebatas apa? Pacar? Teman? Atau lebih buruknya, sekedar kenalan?”
Emma menutup mulutnya dan tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya. Meskipun ada angin yang baru saja melintasi dirinya, angin itu tetap mengabaikan pertanyaannya seakan, sejak awal dia memang tidak memahami pertanyaan atau angin tersebut tidak ingin terlibat dengan urusannya.
Emma menghela nafas berat. “Tampaknya, kau dan aku akan terlibat juga dalam perkelahian. Yah, mau bagaimana lagi? Kakak adek sama saja.”
Saat itulah, dia menerima panggilan dari seseorang yang baru saja ia sebut namanya. Segera ia angkat panggilan tersebut sebelum gendang telinga pecah karena nada dering yang lama-lama ikut berbaur dengan keramaian.
“Ya? Oh, kau rupanya. Jadi, bagaimana rencanamu selanjutnya?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Tidak ada rencana hari ini. Jadi, mau jam berapa kita berkencan nanti?”
Emma tertegun tak lama kemudian tersenyum. “Kau nggak berbohong,kan?”
“Untuk apa aku berbohong kalau untuk membuatmu bahagia?”
“Fufu… Dasar. Bisa-bisanya merayu di saat yang tidak tepat. Kalau begitu, malam saja. Aku menunggu di tempat yang biasanya, ya!”
“Roger, honey!”
Sebelum panggilan mereka terputus, Emma dengan cepat mengajukan pertanyaanya sekali lagi. “Yuuki… Apa kau mencintaiku?”
Sesaat, keheningan mengisi jeda di antara mereka. Karena ada dua kemungkinan yang terjadi pada pria ditelponnya. Pertama, dia sedang mempertimbangkan jawaban ya dan tidak atas pertanyaan yang Emma ajukan. Kedua, salah tingkah dan tersipu malu.
Tak ingin membuat Emma menunggu terlalu lama, pria yang dipanggil Yuuki itu akhirnya menjawab.
“Ya. Sampai kegelapan membutakan mata kita, cintaku akan terus menari untukmu. Ini akan menjadi malam yang menyenangkan untuk kita berdua.” Ucap Pria itu langsung membuat Emma terenyuh dan tersipu.
Siapa sangka kalau wanita itulah yang langsung menutup panggilan mereka saking tidak kuatnya menahan rona merah di wajahnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung merampas helm-nya, menaiki dan menyalakan mesin motornya. Kemudian, berlalu meninggalkan kotanya.
Di pihak lain…
Yuuki memandang langit pukul sepuluh yang tak begitu menyilaukan dan tak begitu lemah melindungi mereka dari dinginnya salju musim dingin. Tangan kanannya masih menggenggam ponselnya yang masih menyala.
Yuuki menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.
__ADS_1
“Ini akan menjadi malam yang menyenangkan untuk kita berdua, benar begitu? Midnight.”
...🍁...