Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 34


__ADS_3

Chloe membuka kedua matanya perlahan. Ia menemukan langit-langit ruangan yang sangat asing di penglihatannya. Ranjang tidur yang tengah menahan beban tubuhnya terasa jauh lebih nyaman kali ini. Ruangan itu dingin dan tertata rapi.


Dibalik kaca jendela yang berembun, Chloe samar-samar melihat beberapa kepingan salju berjatuhan. Kecepatan jatuhnya lumayan cepat. Mereka seperti terbawa oleh arus angin.


"A-aduh...!" Chloe mengeluh sakit dibagian punggungnya. Rasa sakit itu membuatn-ya takut. Takut jika dirinya mengalami kelumpuhan sepuluh menit ke depan.


Selain mencoba menahan rasa sakit, Chloe juga memperhatikan sekelilingnya yang hening. Ruangan kamar dengan dinding bercat biru langit, dua rak buku yang menempel di dinding berisikan puluhan buku novel, dan beberapa barang tambahan sebagai pelengkap hidupnya suasana kamar tersebut.


"Ah, untung nggak hilang." Celetuk Chloe ketika menemukan buku Megavile kesukaannya. Ia segera mengambil buku tersebut lalu meletakkannya di samping dirinya.


Kriett...


Seseorang baru saja membuka pintu lalu mendorongnya. Membiarkan gadis itu melihat sosoknya yang sedang membawa nampan berisikan sepiring kentang goreng dan mangkok kecil berisikan saos keju.


"Aoi...?" Chloe terbelalak tak percaya begitu melihat sosok pria jepang yang sempat membuatnya tergila-gila akan rasa kesepiannya.


"Makanlah... Aku minta maaf ya, kalau nggak kabarin."


"Nggak." Jawab Chloe jutek.


"Lah? Huft... Baiklah..." Aoi mengambil kursi kemudian, meletakkannya di samping ranjang tidur Chloe. Tak lupa, ia meletakkan nampan berisikan kentang goreng di atas meja.


"Aku salah. Aku nggak kabarin awal-awal soal kejadian ini. Awalnya, aku nggak ingin kamu terlibat. Tapi, ternyata... Kau sudah terlibat." Ungkapnya dengan menundukkan kepalanya.


Chloe memutar kedua bola matanya malas. "Siapa sih, yang nggak panik kalau tahu sahabatnya dalam masalah. Otomatis, aku mencarilah!" tegas Chloe.


"Waktu itu, aku mau bilang kalau dunia kita ini ada beberapa spesies aneh yang bermunculan. Aku hanya takut rasa penasaranmu malah membahayakan dirimu."


"Puft...! Kau tidak lihat penampilanku yang babak belur begini?"


"Nah itu..."


"Sudahlah... Daripada membahas soal ini, aku ada beberapa pertanyaan yany seharusnya kau jawab."


Aoi menelengkan kepalanya sedikit, "Apa itu?"


"Pertanyaan seputar Aura dan sejak kapan kau mulai terlibat dengan hal seperti? Bahkan tanpa sepengetahuanku!"


"Eh? Jangan marah dulu, mbak! Baiklah... Singkatnya, setelah aku pulang dari kerja sambilan, aku berjalan menghampiri toko roti. Sebelum sampai, aku menemukan seorang wanita yang berperilaku aneh. Ah, waktu itu... Aku nggak terlalu memperdulikannya karena lapar. Tapi lama-kelamaan, tingkahnya semakin membuatku penasaran. Aku menghampirinya dan..."


Aoi menggantungkan penjelasannya dan melepaskan jaketnya. Ia memperlihatkan luka tebasan di pundak kanannya. Sepertinya, luka itu dalam.


Chloe meringis seolah merasakan kepedihan yang Aoi rasakan ketika terkena tebasan itu.


"Yah... Aku nggak menyangka kalau wanita itu dirasuki makhluk aneh. Sampai seseorang menghampiriku dan menolongku. Dia mengambil rasa sakitku. Dia juga membunuh wanita itu di depanku."


Chloe tidak merespon dan terpaku lurus pada cerita Aoi. Ia bisa membayangkan dengan jelas darah wanita itu yang menyembur kemana-mana. Tidak bisa dibayangkan juga, raut wajah Aoi ketika menyaksikan pemandangan tersebut.


"Kau... Takut nggak?"


Aoi menggeleng pelan. "Bukan berarti psikopat ya... Jujur, bukannya takut, aku justru terpukau dengan matanya."


"Matanya? Hmm... Siapa Aura yang menyelamatkanmu itu?"


"Black Aura."


"Eh?"


Aoi tersenyum usai mendapatkan reaksi terkejutkan Chloe. "Dia tidak menyerangku. Tapi, Mengusirku. Mungkin maksudnya, aku harus pulang lebih awal. Yah, dia Aura yang baik sampai suatu hari kau menemukan buku itu dan menunjukkannya padaku."


Sebuah senyuman akhirnya terukir di wajah Chloe. Senang saja mendengar Aoi lebih awal bertemu Black Aura dan... Mungkin itulah alasan kenapa Aoi mengatakan dirinya beruntung bersama Black Aura.


"Dia juga menyelamatkanku dan anak kecil bernama Emily. Aku senang saja, kami bisa berteman. Seperti mimpiku ini telah terkabulkan. Lalu, bagaimana kau bisa bertemu dengan Devil Mask?"


"Aku menyelamatkannya dari kejaran sebuah kelompok. Entahlah, aku nggak begitu peduli dengan kelompok itu. Sejak membaca bukumu dan tahu bahwa Aura itu bernama Devil Mask, aku segera menolongnya.


"Dari dia, aku mendapatkan banyak informasi. Aku mengetahui siapa mereka dan apa yang mereka butuhkan. Yah, Devil Mask sejak kusuruh dia memakan takoyaki dia jadi banyak berbicara." Jelas Aoi yang kemudian tertawa kecil.


"Bukankah dia mengenakan topeng?"


"Dia nggak menunjukkan wajahnya. Bagaimana denganmu? Apa Black Aura seberisik Devil Mask?"


"Ah, dia diam banget. Dia dingin dengan orang yang tidak ia sukai. Tapi, dia baik. Aku jadi merasa, buku yang kubaca ini isinya tidak sesuai dengan kenyataannya." Balas Chloe seraya menggoyang-goyangkan buku tersebut.


"Kau baru menyadarinya?"


"Eh?" Chloe mendongakkan kepalanya cepat.


Aoi menyengir lebar lalu menjawab raut penasaran tersebut. "Aku juga sama. Aku baru menyadarinya dua hari yang lalu..."


"Begitu ya...? Sepertinya, selain keanehan mereka... Ada banyak rahasia yang mereka simpan. Aku jadi penasaran. Mereka ini apa? Aku penasaran dengan ibu mereka. Apa benar? Ibu mereka adalah manusia?" beber Chloe begitu ia ingat akan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepalanya.


Suasana mereka menghening untuk sementara. Hingga Aoi pada akhirnya, membuka suaranya. Akan tetapi, dengan topik yang berbeda.

__ADS_1


"Kita lanjutkan besok ya! Ngomong-ngomong, habiskan kentangnya! Akan kuceritakan sisanya besok pagi, oke?" sekaligus mengusulkan.


Chloe mengangguk patuh. Ah, sebelum pria jepang itu meninggalkannya, Chloe menghentikan langkahnya dengan sebuah pertanyaan menjelang tidur.


"Aoi."


Aoi menoleh pelan.


"Tetap disini ya! Bilang pada Jacqueline juga! Kalian jangan pergi tanpa izinku!" Chloe menjerit namun masih dalam batasnya. Setidaknya, ia mengetahui etika di malam hari untuk tidak berteriak seperti orang gila.


Mendengar ungkapan tesebut, Aoi dengan ringan memperlihatkan senyumannya.


"Baiklah... Kau juga ya! Jangan main cabut keluar jendela. Di luar sana lagi badai."


"Iya! Selamat malam."


"Selamat malam."


~


Usai menutup pintu kamar Aoi menghela nafas lega. Ia senang meskipun terbesit rasa bersalah karena tidak memberitahu Chloe mengenai Aura sebelumnya. Rasanya, ada sesuatu yang membuatnya berpikir untuk mengakhiri semua ini.


Ketika sedang melamun, di ujung matanya ia bisa melihat sekilas kaki seseorang yang berdiri tepat di sampingnya. Bukan Devil Mask dan bukan Yumizuka.


Aoi memalingkan wajahnya lalu tersenyum.


"Kita ketemu lagi, Black Aura. Bagaimana kondisimu? Apa sudah pulih?" tanya Aoi tanpa menghilangkan ciri lembutnya.


"Chloe di dalam?" Black Aura langsung menuju intinya dan mengabaikan pertanyaan Aoi.


"Benar yang dikatakan, Chloe..." Ia bergumam heran. "Dia di dalam. Yah, biarkan dia tidur dulu. Kau mau apa memangnya?"


"Berbicara denganya."


"Besok aja ya! Ini sudah larut malam. Dia juga perempuan. Ngomong-ngomong, jangan terlalu kaku dengan kami. Kan, ada Devil Mask dan Yumizuka disini. Nggak mungkin kau nggak kenal mereka." Tutur Aoi.


Black Aura menunduk pelan. Penampilannya tidak seperti sebelumnya yang kotor karena darah hitamnya. Beberapa menit yang lalu, ia dipulihkan oleh Yumizuka dan begitu pulih, langsung meninggalkannya.


"Bukan mereka yang ingin kubahas." Black Aura membalas. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pintu kamar tempat Chloe tidur nyenyak saat ini.


"Oke... Kau boleh masuk. Kalau dia masih bangun, bicaralah tapi kalau dia sudah tidur..."


"Aku mau melihatnya." Black Aura memotong sekaligus meneruskan ucapan Aoi.


Aoi terdiam sambil memasang raut herannya. "Yah, terserahlah... Oh, ya! Jangan keluar dulu ya, malam ini! Kau boleh tidur di kamar manapun."


Merasa sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, Black Aura kembali melangkah. Ia menggenggam gagang pintu lalu, masuk ke dalam kamar.


"Dia nggak ada berubahnya..." Gumam Aoi.


Raut datarnya yang dulu pernah ia lihat sebelumnya sama sekali tidak berubah.


Cipratan darah merah namun agak berglitter itu melayang tepat di depan mata Aoi. Ketika cipratan itu terbelah, tampillah wajah Black Aura yang dingin sekaligus menusuk itu. Kedua mata itu mengarah tajam padanya. Hal itu membuatnya tak bisa tidur tiga hari.


"Aku nggak ngerti. Kenapa dia menatapku begitu?"


Meskipun tatapan tajam itu perlahan memudar beberapa menit yang lalu, tetap saja, hatinya merasa takut.


"Aoi..."


Aoi menoleh ke belakang. "Kau belum tidur?"


"Aku mau melihat Chloe."


"Jangan sekarang, Jacqueline."


"Kenapa lagi, sih?!" gerutu Jacqueline kesal.


"Ada Black Aura."


"Ngapain takut? Ini kan rumah kita sendiri juga!"


"Dia nggak mau diganggu."


"Ah, ya sudahlah! Ayo, tidur!" Jacqueline berlalu pergi dengan wajah memerah padam. Ia juga menghentak-hentakkan kedua kakinya menuju kamarnya.


Sementara itu, Aoi hanya bisa menghela nafas berat. Hanya karena tatapan itu, dia jadi tidak nyaman bergerak.


"Padahal, aku yang bilang sendiri."


~


Dunia di dalam kamar itu terasa dingin dan tenang. Hanya hembusan nafas yang beraturan yang bisa ia dengar dengan jelas.

__ADS_1


Seorang gadis yang tengah tertidur pulas dengan tangan kanannya yang masih setia menggenggam buku kesukaannya. Black Aura menghampiri Chloe yang terlelap itu. Kemudian, membelai halus rambutnya.


"Padahal dingin, dia masih bisa menjaga kehangatannya." Ujar Black Aura ketika menerima suhu hangat dari temannya tersebut.


Tak lama, ia melirik sejenak pada buku yang digenggam Chloe. Sebenarnya ia masih tidak yakin. Ia merasa, Midnight tidak pernah menulis apapun. Kecuali menyusun taktik penyerangan untuk mengalahkan Legend Aura.


"Ini sudah jelas tulisan manusia." Lanjutnya.


"Aku nggak ngerti."


Ketika Black Aura fokus dengan pikirannya, Chloe terbangun dan tersenyum mendapati sosok Black Aura yang berdiri di sampingnya.


"Kau menemaniku?" tanyanya lirih. Ia juga menyertai pertanyaannya dengan senyuman tipisnya.


"Hmmm." Black Aura mengangguk pelan. "Kau sudah baikan?"


"Pelan-pelan... Pasti baikan. Kau sendiri?"


"Aku lebih cepat darimu." Balas Black Aura. Setelah itu, ia menunduk untuk memandang gadis itu lebih dekat. "Maaf ya...?"


Chloe tertegun mendengar ucapan maaf tersebut. Untuk pertama kalinya, kata "maaf" itu keluar dari mulutnya. Yah, bagaimanapun juga, ia memilih untuk menghargainya. Pasti Black Aura berpikir sangat keras hanya untuk mengucapkan kalimat sederhana itu.


"Aku senang, kau pelan-pelan bisa berbaur dengan duniaku. Hmmm... Lain kali, cobalah untuk tersenyum ya!" Ucap Chloe senang.


"Tersenyum?"


"Iya! Seperti ini..." Chloe memperlihatkan senyuman termanisnya. "Gampang lo."


"Sulit."


"Kau hanya belum terbiasa. Lagi pula..." Chloe meraba halus pipi Black Aura yang dingin dan melanjutkan omongannya, "Kau pantas untuk tersenyum. Orang-orang disekitarmu pasti akan sangat bahagia melihatmu tersenyum."


"Termasuk kau?"


"Hmmm... Aku sangat menantikan senyumanmu itu."


Black Aura tidak merespon. Ia mengalihkan pandangannya pada jarum pendek mengarah pada angka dua belas.


"Tidurlah."


"Kau mau pergi? Kemana?"


"Entahlah..."


"Bisa temani aku disini sampai besok pagi?" pinta Chloe yang langsung menggenggam erat tangan Black Aura. Raut wajahnya berubah cemas. Seperti gadis kecil yang ketakutan akan kegelapan.


Mendengar permintaan Chloe, membuat Black Aura berpikir keras. Untunglah, tidak menghabiskan setengah jam untuk berpikir dan menjawab permintaan tersebut.


"Hmm... Baiklah..." Black Aura kembali menunduk.


"Duduklah di sini." Chloe menepuk-nepuk permukaan kasur yang lembut itu. "Aku nggak tahu ini ide bagus atau tidak? Tapi, aku nggak mau sendirian."


"Kenapa kau nggak menyuruh Aoi?"


"Dia pasti kelelahan."


"Ooh..."


Chloe mendengus geli tiba-tiba. Sebenarnya, tidak apa-apa jika dirinya sendirian di dalam kamar. Tapi, melihat kehadiran Black Aura, rasanya lebih menyenangkan saja.


"Kau suka tidur?"


"Aku nggak pernah tidur."


Chloe terkekeh, "Hidupmu melelahkan sekali. Kemarilah..." Chloe bangkit sejenak lalu memberi ruang untuk Black Aura.


"Kau gila?" celetuk Black Aura datar.


"Aku hanya memberimu sedikit ruang agar dudukmu lebih nyaman." Omel Chloe yang masih mempertahankan nada suaranya agar tidak mengganggu Aoi dan yang lainnya.


"Chloe..." Panggil Black Aura yang langsung membuat gadis itu terdiam. Tampaknya, Aura itu serius. Bukan tampaknya lagi. Memang semua yang ia bicarakan itu serius.


"Ya?"


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Perasaan?" Jantungnya berdetak kencang dan tak beraturan. Malam yang dingin ini Chloe justru dibuat memanas.


Ditambah lagi, Black Aura memandangnya lekat-lekat. Sinar rembulan yang tipis itu cukup mengenai wajah Black Aura dan membuat kedua bola matanya bersinar indah. Violet-nya seperti warna kristal.


"Ya... Apa kau sudah senang sekarang?"


"Senang...?"

__ADS_1


"Kau sudah bertemu dengan Aoi dan... Bagaimana perasaanmu? Apa kau senang?"


~


__ADS_2