
Buak!
Captain terlempar usai dipukul keras menggunakan palu Black Aura reverse. Di saat bersamaan, Megawave terdesak oleh laser-laser yang mengarah padanya. Semua laser itu Black Aura Reverse perintahkan untuk membunuh Megawave. Sementara, hujan pedang itu ia perintahkan untuk membunuh Black Aura.
“Sial! Aku lupa cara melawan Black Aura satu ini!” gerutu Captain. Kemudian, melayangkan tatapan tajam ke Black Aura yang asli.
“Apa?” tanya Black Aura dingin. Melawan tiruanku ya? Meski begitu, nggak akan mengubah kemungkinan kalau aku juga melawan diriku saat ini. Kuakui, aku ini kuat. Aku juga…
Manik violet Black Aura memandang dari ujung kaki Black Aura Reverse itu hingga puncak kepalanya. Senyuman itu masih terukir di wajahnya. Dilihat dari jauh sekalipun, lawannya adalah dirinya sendiri. Pertarungan ini seolah memberi pelajaran bagi Black Aura tentang apa yang dirasakan para Aura saat bertarung melawan dirinya.
Rumor mengenai dirinya yang kejam sudah tersebar luas. Beredar dari mulut Aura ini dan itu. Semuanya tidak ada bedanya. Selalu saja membahas keburukannya. Yah, memang benar. Apa yang ia lakukan selama ini adalah buruk. Walaupun dia bertanya pada Chloe, gadis itu pasti akan menjawab ‘buruk’ tapi, memilih untuk memaafkan Black Aura karena alasan cinta.
Saat memandang telapak tangannya yang ternodai oleh darah Aura-aura, Black Aura langsung sadar bahwa, dirinya itu memang asli kuat. Tak perlu jauh-jauh ke mata penghancur, bahkan dengan menjentikkan jari saja, dia sudah bisa melukai Aura lain. Lantas, sebenarnya darimana asal kekuatan berbahaya ini?
Jika diingat lagi, Carmine-lah yang menciptakannya. Dia terlahir dari dendam Carmine yang kuat. Dendam yang gadis itu tujukan pada keluarganya sendiri dan juga orang-orang yang berusaha melukai Midnight.
Balas dendam. Balas dendam itu bisa dibalas dengan apapun. Lebih kejamnya lagi jika menggunakan ilmu hitam. Seperti contohnya kemampuan Black Aura yaitu memindahkan rasa sakitnya ke tubuh Aura lain.
Semua kekuatan yang Black Aura miliki berkaitan erat dengan dendam. Semua rasa sakit yang Carmine alami dari awal hingga akhir hayatnya bertumpuk di dalam diri Black Aura yang kemudian berubah menjadi kekuatannya.
__ADS_1
Begitu ya? Pantas saja, ibu selalu melarang Carmine balas dendam. Batin Black Aura.
Enam tahun yang lalu, tepatnya saat Carmine masih menduduki bangku SMA kelas 11. Black Aura ingat sekali pembicaraan mereka berdua di sore hari. Dia mendengar semuanya.
“Waktu itu…”
“Carmine, bisa tidak hentikan balas dendam ini? Aku tahu, kau kesal dengan perlakuan keluarga besarmu terhadap keluargamu. Tapi, dendam itu nggak ada baiknya sama sekali. Malah yang buruk pula yang akan kau dapatkan,” tutur Midnight yang saat itu sedang bersantai di kantornya. Midnight memilih jam lima sore karena kantor guru saat itu sudah sepi dari guru-guru. Semuanya pulang ke rumah mereka masing-masing.
Carmine memandang Midnight dengan tatapan tak senang. Seakan dirinya tidak setuju dengan perkataan Midnight.
“Huh! Bodo amat! Yang penting, mereka semua mati ditanganku! Aku ingin mereka menyadari kesalahan mereka! Asal kau tahu, aku lima belas tahun menderita karena mereka! Mereka memakan uang orang tuaku! Aku jijik dengan muka melas mereka! Aku ingin sekali muka mereka kuinjak atau kucakar atau kutusuk pakai pedang Black Aura! Aku ingin mereka mati! Aku ingin...!” kata-kata Carmine terjeda saat Midnight memasang tampang serius di wajahnya.
Carmine berdecak sebal. Meskipun begitu, Midnight tetap melanjutkan omongannya karena baginya, hanya itu satu-satunya yang bisa mengubah pikiran negatif Carmine.
“Carmine, hidup itu hanya sekali. Jadi, nikmatilah selagi kau masih hidup. Kau juga nggak sendirian seperti dulu lagi. Aku ada disini. Aku akan melindungi dan menjauhkanmu dari keluarga itu. Kalau kau punya keinginan, katakan saja padaku. Aku akan berusaha mengabulkan semuanya,” ucap Midnight diakhiri dengan senyuman hangatnya. “Carmine. Kau masih ingat kematian Meg dua tahun yang lalu? Kau ingat ‘kan’ kalau Yuuki telah mencuri ramuan Meg yang waktu itu akan kau gunakan untuk menciptakan Silentwave? Aku memang nggak tahu bagaimana kondisi ramuan itu. Bisa saja, sudah dipakai Yuuki untuk mengincarku,” tambah Midnight. Kali ini, pandangannya mengarah ke jendela. Suasana sore saat itu tenang sekali. Sekolah perlahan-lahan sepi dari ributnya hentakan kaki murid-murid.
“Karena itulah, aku akan membunuh keluargaku! Kalau Yuuki masih hidup, hidupmu nggak bakal tenang, kak! Mau kakak bersembunyi di Jepang atau ujung dunia sekalipun, dia tetap bisa menemukanmu! Cintanya terhadap terlalu kuat, sampai-sampai aku mau muntah setiap kali mendengar namanya!” bentak Carmine disertai kepalan tangannya yang menghantam meja kerja Midnight.
Tanpa Carmine sadari, air matanya mengalir karena amarahnya. Cepat-cepat, ia menyekanya agar tidak terlihat lemah di depan Midnight. Sesungguhnya, Carmine ingin sekali mengakhiri hidupnya. Ia sulit sekali mendapat ketenangan lantaran dirinya bisa merasa kehadiran keluarga besarnya yang merupakan penyebab perginya orang tua dan adiknya.
__ADS_1
Sejak bertemu Midnight, Carmine mendapatkan banyak hal yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan sekalipun. Terpikirkan saja tidak. Carmine memang suka fantasi. Akan tetapi, dia meragukan keberadaan dunia itu.
Dengan kehadiran Midnight dan Meg, Carmine dengan cepat berubah pikiran dan sadar bahwa fantasi, dunia paralel, dan dimensi lain itu ada. Dengan kekuatan yang Meg berikan dan juga kepercayaan dar Midnight, Carmine menjadikan perasaan negatifnya menjadi sekumpulan makhluk fantasi yang tak terkalahkan. Intinya, rasa sakit adalah kekuatan mereka.
“Hah… Carmine, mau dia mengincarku atau nggak, masa bodohlah. Nggak semua perempuan itu lemah. Salah satu buktinya adalah kita berdua. Baik kau ataupun aku, kita sudah melewati masa-masa yang sulit. Bahkan saking sulitnya kita sampai mendapatkan solusi yang… Yah, hanya manusia terpilih saja yang mendapatkannya. Karena itulah, aku ingin kau memanfaatkan fantasi ini dengan sebaik-baiknya. Kau dan aku, meski nggak sedarah, aku ingin menjadi kakakmu sampai akhir hayatku nanti. Sebagai kakak, aku akan berusaha menjadi teladan yang baik sampai kau benar-benar melupakan dendam itu.
“Carmine, sejujurnya, aku tidak ingin ditinggalkan olehmu. Memang, semua rencana yang kau susun besar kemungkinan bisa membunuh keluarga besarmu. Akan tetapi, jika rencana kita sampai ketahuan, tamat sudah. Bukan hanya aku saja yang diincar, nyawamu juga.” Jelas Midnight. Suara wanita berkacamata itu bergetar. Sebuah bayangan mengerikan tergambar jelas dibenaknya. Sebuah bayangan yang menggambar sosok Carmine yang bersimbah darah. Memang tidak diketahui penyebabnya mengapa Carmine di kepala Midnight terlihat seperti sudah mendekati kematian.
“Carmine, kumohon… Jangan pernah tinggalkan aku. Kau tahu bukan, kalau aku sendirian. Keluargaku satu-satunya Cuma kau. Keluargaku yang asli membuangku. Aku bersyukur bisa memilikimu apalagi jika kau bisa melupakan dendam dan bersenang-senang dengan Auramu.”
Carmine masih tidak merespon. Dia bimbang. Perkataan Midnight memang benar. Tapi disisi lain, Carmine tidak bisa menelantarkan keinginannya begitu saja. Rasanya, membiarkan orang-orang jahat itu hidup hanya akan menyesakkan dada Carmine. Kalau bukan membunuh, palingan disiksa di dalam mimpi.
Kursi Midnight berbunyi saat Midnight bangkit dari kursinya untuk menghampiri Carmine. Untuk beberapa saat, mereka berdua saling bertatapan satu sama lain sebelum akhirnya Midnight angkat bicara.
“Carmine, dendammu itu kuat. Aku yang bukan Aura saja bisa merasakan seberapa kental dan dalamnya kebencianmu itu. Aku bisa merasakan betapa sakitnya kau melewati masa-masa itu. Kau selalu menahan diri hanya demi meraih kebahagiaan. Carmine, kumohon… Hentikan semua ini. Dendam nggak akan menyelesaikan apapun. Perasaanmu akan diserang oleh kekhawatiran, kegelisahan.Kalau kau pergi, siapa yang akan menemaniku? SIapa yang akan kuajak makan bersama?” tanya Midnight.
Karena terlalu fokus mendengar perkataan Midnight, Carmine baru sadar akan posisinya saat ini yang lemas karena dipeluk oleh Midnight. Wanita berkacamata itu meletakkan dagunya di pundak Carmine sambil memejamkan kedua matanya.
“Carmine, sampai kapanpun, kau adalah adikku. Aku ingin, kita berdua bisa melewati masa-masa ini dengan hati yang gembira. Aku ingin, kita menikmati semua konflik dan pelanginya dunia ini.”
__ADS_1
~