
"Cukup sampai disini nostalgianya. Kita nggak punya banyak waktu buat ngobrol!" potong Black Aura yang sudah tak sabar berdiri sambil memandang Aoi yang tersedot oleh kecantikan wajah gadis dihadapannya.
Chloe yang baru sadar akan situasi saat ini langsung setuju dengan perkataan Black Aura kemudian, mengajak Aoi untuk ikut serta.
"Aoi, ayo! Kita sama-sama cari solusinya!" ajak Chloe, tak lupa menggandeng tangan Aoi. gadis itu tidak sadar kalau ada yang menatap gandengan itu dengan tatapan tak suka.
"Bekerja sama? Kalau dengannya aku ogah!" Aoi membuang mukanya ke arah lain membuat Black Aura ingin sekali melempar wajah tersebut dengan gelas.
Chloe menelengkan kepalanya agak kecewa. "Kenapa gitu? Kan belum tentu Black Aura pelakunya."
"Tapi tetap aja..." Aoi bersikeras dengan omongannya.
Chloe menghela nafas berat menanggapi tingkah Aoi yang mulai memancing emosinya. Ya, sakarape wae!
"Aoi, kalau kita kerja sama, aku yakin kita bisa selesaikan masalah ini dengan cepat dan mendapatkan kebenaran dibalik semua ini. Bodoh amat sama musuh disampingmu yang penting *******-nya DULU!" ceramah Chloe sambil berusaha memperjelas kalimatnya ditambah dengan penekanan di akhir kalimat. Emosi lama-lama!
"Huft... Baiklah..." Aoi menyerah pada akhirnya.
Karena dunia itu sepi dan tidak ada suara berisik yang mengusik pendengaran mereka, baik Aoi maupun Black Aura bisa merasakan energi negative dalam diri Chloe perlahan-lahan memudar menjadi positif.
Gadis itu menggenggam tangan kanan dan kiri kedua Aura itu. Kemudian memeluknya.
"Yuk! Bisa yuk!"
Aoi dan Black Aura diam untuk sesaat. Berusaha mempertimbangkan omongan Chloe yang lumayan sulit mereka praktikan lantaran rasa tidak suka dan benci dalam diri mereka.
"Oke! Aku akan bekerja sama tapi tidak dengannya! Aku cuma mau kerja sama denganmu, manusia." Balas Aoi menunjuk ke arah Black Aura yang tak perlu ditanyakan lagi seberapa dinginnya tatapan yang ia perlihatkan terang-terangan di depan Aoi dan Chloe.
"Okelah! Kalau itu maumu. Yang penting jangan ada pengkhiatan diantara kita ya! Sakit lho kalau dikhianati," ujar Chloe penuh sandiwara.
Black Aura menghela nafas berat. Chloe ini terlalu banyak berbicara. Ditambah lagi dengan Chloe yang pembawaannya terlalu positif membuat Black Aura mengkhawatirkan hal-hal negatif yang kemungkinan besar akan menimpanya sepuluh menit ke depan. Salah satunya adalah "memanfaatkan kebaikan orang lain".
Chloe baru pertama kalinya bertemu dengan Aoi Shizukana.Dan anehnya, Chloe langsung menyambut ramah keberadaan Aoi dalam lingkarannya yang terdiri dari dirinya dan Black Aura. Dilihat dari usianya memang dia kelihatan seperti gadis dewasa dan orang-orang pasti mengira kalau Chloe ini mahasiswa atau gadis yang sudah menginjak usia dua puluh tahun ke atas. Bahkan, laki-laki yang lebih tua sekalipun bisa saja menaruh suka kemudian mengajaknya berkencan mengingat mereka ini yang sebaya.
Selama kedua kakinya melangkah, Black Aura menggigit ujung bibirnya. Aura itu takut jika ada kejadian buruk menimpa Chloe bahkan jika kejadian itu sampai melibatkan mental gados itu.
Dia masih polos. Tidak! Dia terlalu baik. Aku harus mengubah jalan pikirannya sebelum Aoi melakukan tindakan yang aneh-aneh! Batinnya.
"Chloe..." Panggil Black Aura lirih.
"Ya?"
Saat Chloe menoleh, wajah mereka berdua berpapasan. Black Aura tertegun mengetahui bahwa wajah Chloe itu ternyata memiliki keimutan tersendiri.
Astaga, imut...
Wajah Aura itu mendadak merah. Akan tetapi, Black Aura berusaha sebisa mungkin menyembunyikan raut tersebut.
"Kau sebaiknya jangan terlalu baik padanya." Bisik Black Aura selagi pandangan Aoi mengarah ke tempat lain.
"Wah! Jamur di sana kelihatannya bisa dimakan!" celetuk Aoi dipandangan Black Aura.
Balik ke Chloe yang mana indra pendengarannya merespon suara dingin Black Aura. Tanda tanya memenuhi benaknya dan dengan polosnya dia menanyakn sebabnya.
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Pokoknya jangan terlalu baik!" ulang Black Aura serius.
Baginya, Chloe ini butuh diperlakukan tegas meskipun dirinya menaruh rasa suka yang dalam. Jangan sampai, sifat positif Chloe berujung pada naif. Orang-orang seperti itulah paling rentan yang namanya dimanfaatkan.
Black Aura takut jika kebaikan Chloe justru berdampak tidak bagus pada gadis itu hingga menyebabkan mentalnya down. Black Aura paham betul bagaimana perasaan seseorang yang sudah mengorbankan segalanya dikhiati dan ditinggal begitu saja. Sakit...
"Kita coba aja dulu. Mana tahu kan, Aoi ini bisa berubah. Kita nggak akan tahu selagi nggak mencobanya. Dan juga, tidak bagus terus menerus mengandalkan kekerasan." Sangkal Chloe lembut. Dia melirik sebentar ke jam tangannya. Sarapan pagi ya? Sedangkan dirinya belum mengisi perutnya sejak malam.
"Kau lapar?"
Chloe terbelalak usai mendengar bisikan beraura dingin dari Black Aura. Astaga, mau sampai kapan jantungnya harus berdisko terus? Semoga saja, ke depannya nggak disita oleh takdir yah!
Wajah Chloe mendadak cemberut. "Sebenarnya sih, salah Aoi sama Jacqueline. Mereka main mengajakku tapi nggak tahu kalau aku ini belum makan."
"Kau nggak jujur sama mereka?"
"Gimana yah? Mau bilang jujur juga, aku tetap kalah sama semangat mereka. Tapi, nggak apa-apa juga karena pada akhirnya, kita bisa bertemu, kan?" Chloe menyengir lebar. Membuktikan bahwa dirinya tidak lagi menyesal akan perbuatan kedua sahabatnya.
Black Aura melongo sebelum akhirnya mengangguk sambil terus berjalan.
"Kalau boleh jujur, aku suka dengan sifatmu, Chloe." Gumam Black Aura. Sayangnya, Chloe tidak mendengarkan gumaman tersebut karena dia mengajak ngobrol Aoi yang sedari tadi diam.
Sudah melewati beberapa menit berjalan saja, hasil pencarian mereka mengenai manusia yang tersesat itu masih nol. Masing-masing dari mereka terjebak dalam keheningan yang nyaris tak ada bedanya dengan waktu.
Diam-diam, Aoi melirik ke arah Chloe. Mata gadis itu terpaku pada buku tua yang sudah rapuh kertasnya. Jamur bertebaran di permukaan kertas buku itu. Tapi untungnya, jamur tersebut tidak sampai meracuni jari jemari Chloe yang lembut. Mahluk yang merugikan buku tersebut justru malah menjadi kesukaan Chloe lantaran keberadaan jamur di kertas buku temuannya yang tekesan tua dan indah. Tampak jelas seperti buku sejarah dari zaman kerajaan, abad-19.
Chloe ini... Apa benar dia pacar Aura? Masa iya? Aura sekejam dia yang bahkan nggak ngerti cinta itu bisa berteman sama cewek kayak Chloe?
Aoi berpikir keras berusaha mencari topik pembicaraan yang pas. Aura itu penasaran dan ingin merasakan lagi bagaimana rasanya berbicara dengan manusia seperti Chloe. Kelihatannya tak jauh beda dengan gadis berambut merah yang sempat menjadi pacarnya dulu.
"Oh, ini buku tentang dunia kalian. Tapi, Midnight bilang, isinya nggak semuanya asli. Rata-rata karangan. Makanya, aku kesini sekalian melakukan pengamatan," jelas Chloe dengan artikulasi dan intonasi yang ramah lingkungan. Black Aura yang mendengarnya saja auto tenang hatinya.
"Boleh kulihat?" izin Aoi.
"Memangnya kau paham bahasa manusia?"
"Paham. Dulu, aku juga punya teman manusia. Eh, kami udah pacaran deh." Aoi tampaknya berusaha me-recall ingatan lamanya. Samar-samar seperti tv yang layarnya dipenuhi oleh noise. Tapi masih nampak sedikit bentuk siaran yang ditayangkannya. Seperti itulah pikiran Aoi saat ini.
Chloe membulatkan kedua matanya. Dia berdecak kagum dengan iris mata yang berbinar itu. "Ma-manusia??? Pacaran??!"
Itu artinya, aku dan Black Aura bisa... Batin Chloe seakan terjebak di kata "bisa" itu. Imajinasinya mendadak liar membayangkan betapa romantis masa depan andaikata Black Aura dan dirinya telah menjalin ikatan sebagai pacar.
Bergandengan tangan, jalan-jalan bersama, dan mungkin Chloe bisa melakukan sesuatu yang lebih romantis seperti di film atau novel kebanyakan.
Wajah gadis itu seketika memerah tomat. Dadanya tak kuat menahan kebahagiaan yang diciptakan imajinasinya sendiri.
"A! Aku lupa!" seru Aoi tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Black Aura dingin.
"Itu... Aku pulang dulu! Aku lupa kalau Jean memintaku mencari herbal! Sampai jumpa Chloe!" teriak Aoi, berbalik dan menjauh dari sepasang remaja yang memandangnya dengan ekspresi bingung.
"Cerobohnya kumat." Ujar Black Aura.
Chloe tidak menanggapi omongan Black Aura melainkan memikirkan hal lain.
__ADS_1
Kesempatan! Tidak ada siapapun di sekitar mereka selain angin yang melintas tanpa memperdulikan aktivitas makhluk hidup di sekitarnya.
Chloe menoleh cepat ke arah Black Aura. Dia mengeratkan kepalannya. Berniat mengungkapkan isi hatinya yang sudah tak kuasa menahan cinta yang meledak-ledak di dalamnya.
"Black Aura! Kau dengar bukan yang Aoi bilang?" tanyannya dengan nada tinggi sekaligus sukses mengukir ekspresi terkejut di wajah Black Aura.
Aaaaa! Wajahnya ganteng banget pas terkejut! pekik Chloe dalam hati.
"Apa katamu?"
Astaga, aku baru ingat kalau dia bisa baca pikiranku!
Chloe menyengir kuda sebagai respon. Dia malu setengah hidup. "Hehe..."
Black Aura terpaku dengan wajah yang perlahan-lahan ikut memerah. Dia bilang apa? Aku... Ganteng?
"Kau bercanda kan?"
"Nggak! Untuk apa aku bercanda?!" sangkal Chloe dengan percaya dirinya. Bahkan berusaha menghilangkan rasa malunya.
"Kau dengarkan?! Kau dan aku! Kita kan saling menyukai! Kita... Kita pasti bisa..."
"Maksudmu, kita bisa pacaran?" potong Black Aura yang sudah tahu kelanjutan dari kalimat Chloe. Aura itu tersenyum. Hal seperti itulah yang ingin ia ucapkan namun sulit mengungkapkannya secara spontan. Malu, takut salah tingkah, yah begitulah yang menghantui pikiran Black Aura sebelumnya.
Chloe mematung namun, mulutnya membentuk lengkungan kebahagiaan yang tak bisa dihitung berapa banyak.
Air matanya refleks mengalir. Deras membasahi permukaan tanah di samping sepatunya.
Gadis itu kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahagia. Itulah yang bisa Chloe simpulkan. Dia tidak menyangka, kalimat yang sudah umum dalam novel romantis itu bakal sesulit ini diucapkan langsung pada seseorang yang sangat ia sukai.
Chloe menangis.
Black Aura mendengar jelas suara isak kecil itu. Dia menghela nafas sambil melangkah menghampiri gadia itu kemudian memeluknya.
"Maaf ya, sudah membuatmu menunggu lama." Ucap Black Aura lirih.
"Hiks... Aku... Aku senang! Aku senang banget, Aura!" balas Chloe tak peduli mau nyambung atau jawabannya dengan kalimat Black Aura sebelumnya. Yang jelas, dirinya sangat bahagia sampai repot-repot menanggung tangisan yang kian memecah.
"Kita pacaran kan?" Chloe akhirnya memperlihatkan wajahnya yang kacau karena air mata. Senyumannya lebar karena bahagia itu telah memenuhi ruangan di dalam hatinya yang semula kosong.
Black Aura tersenyum. Lalu, menggenggam tangan kanan Chloe penuh perhatian sembari mengeluarkan bunga veronica yang sudah pulih kembali keindahannya.
"Aura?" panggil Chloe lagi.
"Jawabanku ada di bunga ini..." Black Aura menyodorkan bunga veronica yang indah itu dan diterima Chloe dengan denyut jantung abnormal.
Bunga itu berubah menjadi jepit rambut ketika berada digenggaman Chloe.
Chloe terkejut. Senyuman lebar terkulas di wajahnya usai menerima jepit veronica itu.
"Sini, kupakaikan." Black Aura mengambil jepit itu. Kemudian, dipasangkannya di rambut Chloe. Kini, wajah cantiknya terlihat sempurna dengan jepit itu.
"Jawabannya... Ya."
~
__ADS_1