Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 46


__ADS_3

Menjelang malam, pepohonan yang berdiri kokoh, sendirian terselimuti ribuan butiran salju yang manis. Waktunya angin menjalani aktivitasnya menyejukkan lingkungan di sekitarnya. Salah satunya, rumah tua yang sudah lama ditelantarkan oleh pemiliknya. Suasana menyedihkan disetiap ruangan itu menggambarkan kerinduannya terhadap momen yang pernah dibagi keluarga itu padanya. Namun kini, semua itu hanya bisa dirasakan melalui ingatan yang tak sempurna.


Tetesan darah biru bercampur merah mengalir dipinggiran dinding. Berjalan menuju dapur yang gelap.


Di sana, seorang wanita dengan menggenggam keris baru saja melakukan aksi pembunuhan.


Jangan salah paham dulu. Ia belum menemukan targetnya. Oleh karena itu, ia membunuh anak buah dari targetnya tersebut.


Tatapan dingin dibalik kacamata bulatnya menjelaskan dirinya baru saja menghabisi nyawa sesosok Aura. Ya. Aura itu terbalik lemah dan tak lama lagi akan menghilang.


Meskipun ia membunuh Aura itu, bisa-bisanya air matanya mengalir. Tidak. Dia tidak menangisi Aura itu. Melainkan, masa lalu yang membuatnya larut dalam kehilangan. Mengingat dirinya yang telah kehilangan banyak hal. Lebih tepatnya, hanya ada dua hal yang benar-benar menghancurkan hatinya yang manis itu. 


Tangan kanannya mencengkram kain kemejanya yang tersiram darah biru. Ia tahu betul dimana letak rasa sakit itu berasal.


Wanita menengadahkan kepalanya ke langit malam yang sangat ia puja kelamnya. Malam yang sudah lama ia klaim sebagai waktu terbaiknya untuk beristirahat dan merasakan banyak momen manis di dalamnya. Tentunya, bersama dengan orang-orang yang sangat ia sayangi. Saat itu.


Wanita itu bergumam. Dia ingin mengungkapkan isi hatinya pada malam. 


"Setiap kali memandang langit, aku selalu saja terbayang wajahmu. Kau manis, pintar, dan… Kau itu sebenarnya gadis yang baik. Tapi, sulit sekali ya, melawan ketidakadilan. Berulang kali kau menangis. Merasa kehilangan. Yang kau inginkan cuma hidup dengan normal bukan?" 


Wanita itu menancapkan tongkatnya pada pundak Aura yang tak lama lagi akan menghilang. Setelah menghilang dari matanya, dia berbalik melangkah menuju pintu kamar.


"Aah! Sejak kau pergi, aku jadi kesepian tahu! Musim salju begini enaknya minum coklat panas. Lalu, baca komik, nonton film horror. Yah sayangnya, semua itu cuma mimpi kita belaka.


"Padahal, kita ini seharusnya jadi orang baik. Tapi, berperan menjadi orang baik malah menjadi malapetaka bagi kita, gini amat hidup." 


Wanita itu membenarkan letak kacamatanya. Sebelum keluar dari rumah, ia memandang suasana kamar yang sunyi dan suram. Kata 'sunyi' belakangan ini banyak tertulis di benaknya. Sulit baginya untuk menghindar dari kata-kata itu. Seolah dirinya sudah terikat dengan kata itu.


"Musim salju, ya? Malam? Kurasa, malam ini bukan malam yang menyenangkan untukku. Sudahlah… Nggak ada waktu lagi buat bersedih. Toh, semuanya udah terjadi dan mau bagaimana lagi, kan?" wanita itu membungkam mulutnya. Ujung bibirnya bergetar. Ia mencengkram kain kemeja putihnya yang basah karena darah.


"Bagaimanapun juga, aku ini perempuan. Perasaanku pasti bilang kalau ditinggal sehari saja udah sedih. Apalagi ditinggal untuk selamanya! Hiks…! Egonya! Perasaanku jadi rapuh dibuatnya!" Wanita itu mengusap air matanya. Untunglah, bukan lensa kacamatanya yang diusapnya.


“Kenapa?” tanya wanita itu dingin.


“Hmmm… Di luar dingin. Apa kau tersesat?” orang yang memanggilnya itu menghampiri wanita yang sembab matanya. “Kau menangis?”


“Iya.”


“Bagaimana kalau ke tempat kami aja? Kebetulan aku membeli kentang goreng dan mendapatkan bonus. Mugkin, sedihmu bisa reda.” Ajaknya ramah.


“Kau orang jepang?” dari cara bicaranya yang sopan, wanita itu menduga cepat bahwa orang itu adalah orang jepang. Bicara bahasa inggrisnya juga bisa dikatakan fasih Cuma masih ada logat jepangnya. Seperti, ‘what about’ menjadi ‘waa abaato’. 


“Ah, iya! Aku kuliah disini. Namaku Aoi.”


Aoi? Sepertinya aku pernah mendengar namanya.


“Hmm… Nona kelihatan seperti orang jepang.”


“Benarkah?”


Aoi mengangguk pelan. Dia dan wanita itu mulai berjalan melintasi jalan raya yang lumayan ramai. Arah mereka mau ke pusat ramainya kota.


“Selain kentang, aku mau membeli hamburger. Kau mau sesuatu, nona?” tawar Aoi.


Wanita itu berpikir sambil melirik ke berbagai toko yang berjejer disana. “Kau tahu kebab?”


“Oh! Tentu saja!” seru Aoi lalu berkacak pinjang. Dia menyengir lebar seakan merasa dirinya sudah cukup tahu banyak tentang makanan di Chicago.  


Mendadak, wanita itu terkekeh dan membuat Aoi bingung. Kelihatannya, dia bukan pria yang macam-macam. Didikan orangtuanya juga kelihatan keras untuknya. 


“Kenapa kau tertawa?”


“Bahasamu entah kenapa… Terasa kaku, menurutku. Yah, berbicara bahasa inggris memang nggak mudah, sih. Dan lagi… Kau benar. Aku orang jepang. Kenapa nggak berbicara bahasa sendiri saja?” tutur wanita itu. 


“Yah, kalau begitu, ngomong pakai bahasa jepang saja. Aku jadi malu rasanya.”


“Hahaha… Iya… Iya… Aku ini suka mengetes orang. Kurasa, kau pria yang baik dan cukup perhatian pada perempuan di sekitarmu. Meskipun kau punya rasa sakit yang ingin kau luapkan, kau memilih untuk menyimpannya. Aoi-kun justru lebih bahagia jika melihat orang lain tersenyum. Itulah obat Aoi-kun di kala sedih.”

__ADS_1


Aoi terbelalak, “Kau tahu darimana? Hampir semua yang kau katakan itu benar.”


“Aku hanya menebak lho. Aku juga bukan psikolog. Aku hanya guru matematika di SMA. Ah, aku lupa. Kau belum tahu namaku ya?”


“Belum.” Aoi menggeleng singkat.


Wanita itu menghela nafas. Kemudian, menatap langit malam yang mempesona. Kedua matanya selalu dibuat berbinar oleh keindahan yang diberikan oleh kegelapan tersebut. 


“Namaku berhubungan dengan malam. Dalam bahasa jepang, malam berarti ‘yoru’.”


“Yoru? Tapi, bukankah nama itu untuk laki-laki?”


“Nenekku memberiku nama tanpa memandang gender. Dia berpikir bahwa, nama ‘yoru’ itu terlihat indah untukku yang lahir tepat di bawah bintang jatuh. Di saat yang tepat itu, tidak ada satupun yang memohon. Oh, ya! ‘yoru’ yang kumaksud itu yang kanji. Bukan hiragana. Kalau hiragana, maknanya lain.”


“Jadi, namamu ‘Yoru’?” Aoi langsung mengambil kesimpulan.


“Iyap! Tapi, aku lebih senang jika kau memanggilku dengan versi bahasa inggrisnya. Coba kau singkat kalimat, ‘dead of night’! Dalam bahasa jepang artinya, ‘Yonaka’.” Ucap wanita itu. Ia memperlihatkan senyumannya sambil memandang lurus pada Aoi. Pria itu memikirkan jawabannya.


“Kau orang jepang, kan?” 


Tak lama kemudian, Aoi langsung menepuk tangannya kecil usai mendapatkan jawaban di kepalanya. “Dari kata ‘Yonaka’! Namamu Midnight, kan?” serunya.


Wanita itu akhirnya tersenyum lebar. Lalu, bertepuk tangan atas keberhasilan Aoi dalam menebak namanya. “Yap! Namaku Midnight. Salam kenal!” 


“Iya! Salam ke… Tunggu dulu…?” Aoi membeku seketika. “Barusan… Namamu Midnight?” Ia bertanya sekali lagi sekedar memastikan. Apakah telinganya bermasalah atau dirinya yang sedang nge-halu?


“Benar, kok. Namaku Midnight.”


“Kau… Ibunya Yumizuka, Devil Mask, dan Aura, kan?” 


Midnight tertegun. “Kau kenal mereka?” tanya Midnight datar. 


“I-iya… Kau ibunya, kan? Syukurlah, aku senang kau selamat.” 


Saat Aoi merasa lega, Midnight tiba-tiba mencengkram kain jaketnya dan menarik pria itu padanya. Diperlakukan seperti itu secara tiba-tiba, membuat Aoi terkejut dan pastinya panik. 


"Ba-baik!" Aoi otomatis menuruti apa yang dikatakan Midnight. Dirinya juga baru mengenali wanita ini dan tidak tahu banyak tentangnya.


"Astaga… Santai aja kali. Sebelum itu, tolong bantu aku cari toko brownies!" tambahnya sekali lagi. Nada bicaranya masih terdengar lembut walau senyumannya masih terlihat sangat dingin.


~


Chloe masih mematung mendengar pernyataan Black Aura yang sangat tak biasa itu. Yang menjadi pertanyaannya, sejak kapan Aura itu bisa berbicara seperti itu? Apa jangan-jangan, Jacqueline yang mengajarinya? Atau Aoi? 


Nggak! Mana mungkin mereka. Kurasa, Black Aura bukan tipe yang mudah dekat dengan orang baru. Dia nggak seramah Devil Mask dan Yumizuka yang auto dekat denganku. 


Chloe terus membantin. Kedua tangan mereka sudah dipisahkan karena, Chloe duluanlah yang memisahkan tangannya dengan Black Aura. 


"Black Aura… Aku bingung. Kenapa kau berbicara seperti itu? Padahal kita 'kan' cuma sebatas teman. Entahlah… Kadang di dalam sini…" Chloe meletakkan tangannya di dadanya. "Aku merasa sebagai teman itu belum cukup bagiku."


Black Aura kembali menatap datar usai mendengar ujaran Chloe. "Pikiranmu rumit, ya?"


"Iya… Karena, aku udah berpengalaman banyak soal hubungan. Seperti aku dan Aoi. Kami lawan jenis tapi, bisa menjadi sahabat yang dekat dan saling mengandalkan. Setidaknya begitu. Malah sebenarnya, aku bingung dengan hubungan kita. Aku nggak tahu mau menyebutmu teman, sahabat, atau pacar? Atau lebih dari itu?" ungkap Chloe. 


Black Aura memejamkan kedua matanya, lalu berpikir. "Aku nggak bisa menjelaskannya dengan tepat. Hubungan kita benar-benar aneh, ya! Tapi, coba kau pikirkan saat kita berpisah sehari saja!"


"Hmmm… Ah, iya! Waktu itu, kita sempat berpisah sekali. Dan perasaanku waktu itu…" Chloe menggantungkan kalimatnya. Ia mencoba mengingat perasaannya saat itu.


Saat itu, aku benar-benar tak terbiasa cuma hanya bersama Aoi dan Yumizuka. Saat Black Aura memilih untuk menemani Devil Mask dan Jacqueline, aku merasa… Kangen? Bukan! Lebih tepatnya, belum terbiasa.


Ngomong-ngomong, mereka sedang berjalan menyusuri tiap lorong kapal. Mereka berniat keluar ke bagian atap kapal. 


"Belum terbiasa, ya?" celetuk Black Aura.


"Ah! Kau membaca pikiranku lagi?!"


"Hmm? Iya?"

__ADS_1


Chloe membuang nafasnya kesal. Akan tetapi, sekesal apapun perasaannya, gadis itu sulit berbohong bahwa dirinya memiliki ketertarikan pada Black Aura. Bukan obsesi lagi, melainkan ia ingin hubungan mereka berjalan sangat mulus. Seperti halnya dia dan Aoi.


"Aku nggak tahu mau nganggap dirimu apa? Sejauh ini, aku sangat menikmati waktu kebersamaan kita. Memang kita nggak pernah sekalipun liburan, tetap saja... Aku menikmati waktu itu. Oleh karena itu, jangan bantah aku yang mau ikut ya!" tutur Aoi memasang raut memelasnya.


"Apa-apaan wajahmu itu? Menjijikkan!" balas Black Aura datar.


"Apa?! Ini sudah kedua kalinya kau menganggap wajahku menjijikkan! Awas kalau aku sampai mendengar yang ketiga kalinya!" ancam Chloe.


"Memangnya kau mau ngapain kalau hal itu sampai terjadi?" tanya Black Aura seakan meremehkan ancaman dari gadis berambut pendek pirang itu.


Alis kanan Chloe naik sebelah. Ia memajukan selangkah sepatunya agar wajahnya bisa memandang dekat manik violet yang menyala itu. Chloe menelengkan kepalanya, berkacak pinggang, dan menatap lurus pada Aura di depannya.


"Oi! Kau sadar dengan kata-katamu? Kau pikir, aku yang manusia ini lemah dari Aura seperti kalian? Huh! Jangan sombong!"


"Hm? Harusnya, aku yang bilang begitu. Dasar arogan."


Black Aura tersenyum hangat. Apapun yang dikatakan gadis itu, ia anggap sebagai angin lalu saja. Toh, gadis itu memang nyatanya cuma bercanda.


Dilihat dari keberaniannya juga, Chloe memang memiliki potensi dalam menghajar Legend Aura jika gadis itu sudah melewati batas gilanya.


Tapi bagaimanapun juga, Black Aura tidak akan pernah membiarkan gadis itu kehilangan masa indah remajanya. Sebagai Aura yang baru memiliki sedikit perasaan, Black Aura bisa dikatakan senang melihat Chloe tersenyum. Seolah mimpinya telah terwujud.


"Aku bercanda kok!" seru Chloe kemudian. "Kurasa... Di kapal ini sudah nggak ada siapa-siapa selain kita. Ayo, pulang! Perutku juga udah lapar." Tambahnya sambil mengelus-elus perutnya. Gadis itu merasa kasihan pada perutnya.


"Makan kentang lagi?" tanya Black Aura usai menghela nafas lega.


Chloe menyengir penuh semangat. Pertanda setuju. Disusul dengan kepalan tangannya.


"Nggak perlu dibilang pun aku udah tahu!" begitu serunya.


Baguslah... Rasanya, perasaanku lega setiap kali kau bersemangat. Batin Black Aura kembali mengukir senyumnya.


Di balik jendela kapal, terlukis langit indigo malam berbaur dengan putih halus sinar rembulan. Pemandangan yang menenangkan. Berisik dan penuh warna. Tapi, tidak buruk juga.


Selang beberapa menit berada dalam zona ketenangan, Chloe akhirnya turun tangan melembutkan dinding itu. Ia menarik kain lengan Black Aura. Kali ini, wajahnya terlihat sedang mencemaskan sesuatu.


Lantas, Black Aura langsung bertanya. Mana tahu, dirinya bisa membuat gadis itu setenang dirinya.


"Black Aura... Kalau bersamaku, kau nyamankan?" ia bertanya tanpa melepas pandangannya dari sepasang sepatunya.


Black Aura merengut bingung. Untungnya, rasa bingung itu bisa ia luruskan dengan jawabannya.


"Hm? Ada apa? Kenapa jadi sedih begitu?" Black Aura menunduk menyamakan agar wajah mereka saling berpapasan.


"Chloe?"


BUAK! 


Belum selesai melanjutkan kalimatnya, Black Aura tiba-tiba mendapat serangan keras dari kepalan seseorang. Damage-nya nggak parah kali. Cuma memar.


Black Aura terdorong cukup kuat dan nyaris terpleset karena lantai kapal yang licin. 


"Astaga… Chloe! Apa-apaan tadi?" tanya Black Aura yang masih syok dengan serangan Chloe. 


Gadis itu tidak merespon kecuali, berjalan maju dengan tangan yang terkepal kuat. Aura membunuh dari gadis itu serasa menusuk dirinya. 


Black Aura heran. Ia berpikir, apa dirinya baru saja membuat kesalahan? Tapi... Apa?! Atau karena malam adalah waktu di mana seorang perempuan berada di fase sensitif dengan apapun? 


"Kau kenapa, Chloe?"


Tetap saja, gadis itu tidak menggubris omongannya. Setelah ujung sepatunya berdiri tepat di depan Black Aura, Chloe kembali melanjutkan serangannya. Ia meninju wajah Aura di depannya tanpa alasan.


BUAK!


Tak hanya meninju, Chloe juga menyandungkan kedua kaki Black Aura hingga terjatuh menghantam lantai. Lalu, disusul dengan tendangan keras yang mengarah pada perutnya. Sampai Aura itu tak sadarkan diri untuk sementara waktu.


~

__ADS_1


__ADS_2