
"Ah, Kak Minji. Selamat datang." Sapa Rara ramah ketika mendapatkan suara bel di pintu rumahnya dan menemukan Minji yang membawa kotak pizza berukuran besar.
"Wah, lomba makan lagi nih?" tebak Rara yang sudah lama mengetahui kebiasaan Minji setiap kali ia membawa pulang sekotak pizza.
Minji menyengir lebar. "Kali ini, nggak ada lomba dulu, dek. Kita nikmati saja musim dingin ini dengan beberapa potong pizza. Kan, lumayan buat nemenin nugas." Ujarnya bersemangat.
Minji pun masuk ke dalam ruang tamu yang luas dan nyaman ketika Rara menggeser dirinya ke samping, memberikan kakaknya ruang untuk masuk.
"Aku buat coklat panas tadi. Kau mau?"
Minji menggeleng. "Nggak papa dek. Lagian, bentar lagi juga mau makan malam. Sekalian aja, barengan sama kamu."
"Oh, okelah kalau gitu!"
Minji hanya tersenyum simpul menyaksikan Rara yang selalu antusias menanggapinya. Baginya, hanya Rara satu-satunya orang yang bisa mengembalikan mood-nya menjadi lebih baik. Meskipun untuk mendapatkannya tidak membutuhkan banyak perjuangan karena kesukaan mereka yang sama.
Mungkin, karena memiliki kesukaan yang sama, mereja berdua menjadi lebih dekat dan tinggal berdua di dalam satu rumah yang sudah di sediakan ayah Minji apabila ia memilih untuk kuliah di luar negri.
Betapa senangnya kala itu ketika tahu bahwa Rara akan menjadi teman satu kampusnya lagi. Kesempatan emas bagi Minji.
"Kak Minji? Jangan bengong terus." Ucap Rara sambil mengalihkan perhatian gadis itu.
"Nggak bengong. Cuma, lagi banyak pikiran aja. Oh, ya! Mau ajak Silvia sama Hyorin? Ah, Tania juga!"
"Boleh! Boleh! Reuni sambil cerita-cerita masa SMP sepertinya seru." Balas Rara yang semakin senang. Tapi, kesenangan tersebut tak bertahan lama ketika ia menyadari ada yang kurang dari nama-nama yang disebut Minji.
Chloe...
Rara mengerutkan wajahnya bingung. Setiap kali hendak mengadakan acara makan bersama dengan teman SMP, Minji selalu melupakan Chloe. Rara merasa sedih dengan Chloe yang selalu ingin sekali bisa memiliki waktu bersamanya.
Ia teringat akan pertemuannya di cafe beberapa hari yang lalu. Gadis itu mengungkapkan semua yang ia rasakan semasa di SMP. Jujur saja, Rara tidak tega melihat gadis itu memasang raut sedih begitu ia tahu bahwa dirinya sudah tidak lagi dianggap di kelompoknya.
Kak Minji. Kenapa dia selalu saja lupa dengan satu orang? Memangnya, ada apa dengan Kak Minji dan Chloe? Aku tahu, hubungan mereka di SMP nggak semulus seperti Minji dengan yang lainnya. Apa karena aku? Minji senang berada di dekatku. Chloe juga begitu. Tapi, kenapa seolah yang mereka lakukan ini terkesan seperti kompetisi di mana mereka berjuang keras demi mendapatkan diriku?
Chloe. Akan kuusahakan, sore ini kita ketemuan! Meski sebentar, tapi HARUS!
Batin Rara penuh keyakinan. Siang ini, lebih tepatnya sebelum acara makan-makan itu diadakan, Rara akan menyusun banyak rencana demi pertemuannya dengan Chloe sore nanti.
Rara ingin memperlakukan semua sahabatnya secara adil. Termasuk Chloe sekalipun. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat merindukan kenangan dirinya bersama Chloe. Mereka selalu berbagi kegilaan dan cerita penuh humor jika kedua gadis itu saling bertemu. Apa saja selalu menjadi bahan tertawaan mereka. Bahkan hal kecil seperti semut pun mereka tertawakan.
Dari semua sahabatnya, hanya Chloe yang paling ia anggap berharga. Meskipun jarang bertemu, Rara paham betul dengan masalah yang Chloe alami kala itu. Meskipun Chloe berulang kali berbohong padanya, Rara tetap memakluminya.
Chloe, dia sudah menjadi saudarinya dari awal bertemu hingga sekarang ini. Tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi niatnya. Apapun ancamannya, Chloe harus tetap mendapatkan keadilan juga dalam bermain dengannya.
"Oke! Jam delapan malam kita mulai acaranya." Celetuk Minji usai menerima telepon dari salah satu sahabatnya. "Ada apa dengan wajahmu?" tanya Minji yang menemukan keanehan di wajah Rara.
"Nggak papa kok. Aku cuma ngerasa... Pizzanya kurang buat kita berlima. Kau tahu sendiri kan, kalau Hyori itu yang paling banyak makannya?" tutur Rara yang berusaha menstabilkan nada bicaranya agar terkesan normal dan seolah tidak ada yang ia sembunyikan.
"Begitu ya? Oke! Nanti kakak pesan lagi aja. Kita bikin minuman aja dulu!"
"Baik..."
~
Tak pernah terlintas sedikitpun di benakku kalau aku akan menemukan dunia yang sangat jauh lebih berwarna dari duniaku. Dunia yang sangat berisik dan ramai akan manusia-manusia dengan beragam aktivitas mereka. Dunia yang selalu dikuasai oleh kesibukan.
Aku tak pernah melihat kekerasan disana. Mungkin ada namun tersembunyi di balik dinding bangunan yang mereka tinggali. Mereka memperlihatkan keindahan mereka dari segi apapun. Ekspresi yang beragam di setiap pemiliknya, pekerjaan mereka dan ikatan yang mereka jalin.
Tak jarang, aku melihat mereka hidup saling berdampingan baik hanya berdua maupun berkelompok. Aku bingung. Aku merasa tersesat di dunia ini. Keluargaku. Mereka semua terpecah dan diriku berakhir tersesat tanpa arah yang jelas.
Tersesat di dunia mereka dengan masalah yang kupendam. Aku tak pernah berhenti melirik gedung-gedung yang menjulang tinggi. Saat malam hari, mereka menampilkan berjuta pantulan warna yang indah dan menerangi jalan raya.
Aku merasakan keindahan tersebut. Tapi, aku tidak bisa merasakan apapun di dalam diriku. Kosong.
Sampai suatu hari, entah bagaimana aku bisa dipertemukan dengan seorang gadis di dalam hutan. Dia dalam bahaya dan hendak dilukai oleh musuhku. Aku tidak tahu kenapa saat itu... Aku memilih untuk melindunginya dan membiarkan diriku terluka?
Sebenarnya, apa yang membuat berpikir untuk melindunginya? Aku bahkan menyelamatkan anak kecil yang tersesat dan mengalami hal yang sama dengan gadis itu. Kenapa? Bagaimana bisa?
Di duniaku, aku dikenal sebagai aura yang kejam. Aku menghabisi siapapun yang menghalangi jalanku tanpa berbelas kasih. Aku bahkan tidak menangis ketika melihat mereka tewas di tanganku.
__ADS_1
Tapi, kenapa di dunia ini aku justru memilih untuk terluka demi orang yang tidak kukenal? Apa ini faktor perang yang melibatkan dunia ini tanpa sengaja? Apa karena warga di dunia ini tidak bersalah? Bagaimana kalau ada salah satu dari mereka yang akan mengkhianatiku dari belakang dan bersama dengan musuhku, mereka menusukku dari belakang?
Heran. Dari semua manusia di dunia ini, hanya gadis inilah yang bisa membuatku tertarik untuk mempelajari apapun di dunianya. Sifatnya yang kekanak-kanakan dan cengeng ini, membuatku berpikir untuk melupakan diriku yang dulu.
Meskipun sulit menanggung beban yang telah ditumpahkan musuh padaku dan juga membantu gadis ini mencari sahabatnya yang hilang tetap saja, ada sesuatu yang membuatku semakin penasaran dengan gadis ini.
Dia yang saat itu telah mengenaliku melalui buku yang ia jumpa di perpustakaan cukup mengejutkan diriku. Informasi buat kalian, pertama kalinya aku memasang raut terkejut. Ya, gadis itulah penyebabnya.
Dari awal bertemu sampai perjalanan saat ini, aku masih setia menemani gadis itu sampai ia menemukan sahabatnya. Aku tidak akan ragu untuk apapun jika itu hanya untuk melindungi mereka dan juga semua orang yang ada di dunia mereka.
Bahkan... Sampai menunggu gadis ini menyelesaikan masalah di dalam dirinya.
~
Di tengah dunia yang dikuasai oleh kesibukan, sebuah tiupan angin sepoi menghampiri dunia tersebut dan menyapu hawa panas di dalamnya. Sama halnya dengan gadis yang saat ini sedang mengatur nafasnya sembari menikmati sejuknya tiupan angin di musim salju. Beberapa helai rambutnya menari-nari halus mengikuti arah angin.
Bersama dengan temannya, mereka berdua bersantai sejenak di atas atap gedung hotel yang tidak mereka perkirakan berapa tingkatan lantainya.
"Sudah baikan?"
Black Aura menyuarakan pertanyaannya setelah beberapa menit membiarkan Chloe memerangi rona merah di pipinya. Selain menunggu Chloe, dia juga menyibukkan dirinya dengan menikmati pemandangan kota yang sampai siang ini masih banyak orang melintas.
Chloe menghela nafas keras. "Huft... Iya." lalu menyengir dengan keringat yang bercucuran deras.
“Apa-apaan dengan wajahmu tadi? Kenapa semerah itu?” komen Black Aura yang tak pernah lepas dari raut datarnya.
Chloe terperanjat akan komentar tersebut dan mulai mengoceh yang aneh-aneh. “I-itu nggak
seperti yang kau pikirkan! Wajahku memerah karena aku kelelahan! Tadi pagi aku marah. Lalu siangnya, aku menangis! Semua itu menguras tenagaku, tahu!”
“Tapi, kenapa kau sampai menepis tanganku? Memangnya apa salahku?”
Chloe membeku. Astaga, orang ini. Banyak sekali yang ingin ia ketahui.
“Maaf. Aku reflex.”
“Oh.”
Ding! Dong!
“Bunyi apa itu? Musuh?” seru Black Aura yang spontan mengeluarkan pedangnya.
“Wow! Chill… Chill… Hanya suara ponselku.” Seru Chloe. Ia menyentuh sisi pedang Black Aura yang panas dan reflex menarik kembali tangannya.
“A-aduh! Pedangmu panas sekali!”
keluhnya sambil meniup-niup tangannya yang melepuh. Black Aura menghampiri Chloe kemudian. Ia memeriksa tangan gadis itu.
“Coba lihat.” Pintanya.
“E-eh? Oke?” Chloe memberikannya tangannya yang bergetar itu.
“Selesai.”
“Kok cepat? Kau habis ngapain?”
“Memindahkan rasa sakitmu.”
“Memindahkan rasa sakit?” Chloe mengulangi kalimat itu. Ia masih tidak mengerti. Secepat
itukah remaja itu menyembuhkan sebuah luka? Apa itu salah satu kemampuannya? Kalau ‘iya’,
keren sekali!
Black Aura mengangguk pelan. “Rasa sakit di tanganmu sekarang ada padaku.” Black Aura
memperlihatkan tangan kanannya yang meskipun dibaluti oleh manset hitamnya. “Aku juga bisa memindahkan rasa sakitku pada orang lain.” Jelasnya. Lalu, menurunkan kembali tangannya.
“Kau nggak kesakitan?”
__ADS_1
“Nggak. Sejak awal, aku nggak bisa ngerasain sakit. Bahkan, jika terkena tebasan sekalipun.
Aku menamainya Shift Ache.”
“Shift… Ache?”
Kalau dalam bahasa inggris. "Shift' memiliki banyak arti. Salah satunya memindahkan. 'Ache' sinonim dari 'Pain' yang artinya rasa sakit. Berarti jika di gabungkan artinya…
“Memindahkan rasa sakit.” Pangkas Black Aura yang sebenarnya ikut membaca isi pikiran Chloe.
“Dasar!” Chloe berdecak sebal.
Selesai membahas kemampuan Black Aura, Chloe mengalihkan padangannya pada notifikasi di ponselnya. Ia sangat terkejut menemukan sebuah kotak pesan yang baru saja dikirimkan oleh seseorang.
Pesan itu dikirim di waktu yang tidak tepat. Akan tetapi, sulit bagi Chloe untuk berkata ‘tidak’ kepada si pengirimnya. Karena sejatinya, Chloe juga ingin bertemu dengannya meskipun tahu bahwa keadaannya saat ini tidak memungkinkan.
“Sebentar ya…” Chloe meminta waktu untuk membalas pesan tersebut pada Black Aura.
Remaja itu hanya mengangguk dan kembali menikmati keindahan suasana kota di bawah
pengawasan langit musim dingin.
Chloe pun membuka pesan tersebut getar-getar.
- My bestie~
Hi Chloe! Lagi apa? Ano… Sore ini kamu ada waktu nggak? Kangen banget nih sama kamu:'(
- Chloe
Hai! Aku lagi di luar rumah nih hehe… Aku nggak tau bisa apa nggak. Tapi, akan kuusahakan ;)
- My bestie~
Wah! Beneran?! Thanks a lots! Seperti biasa, di café yang sering kita datangi ya!
“Eh?"
Chloe tertegun. Dirinya tidak seperti dirinya yang pada saat itu dengan percaya diri membalas pesan Rara. Kali ini, ia memiliki sepotong keraguan di dalam benaknya. Keraguan tersebut merujuk pada Black Aura dan Aoi. Kedua remaja itu sama-sama membutuhkan keberadaannya.
Tapi, kenapa sulit sekali hanya untuk mengatakan kalimat paling sederhana? Hanya mengatakan 'tidak', mulut dan lidahnya bahkan tangannya yang tak perlu berbicara itu sulit mengetik kalimat tersebut.
"Black Aura. Apa yang harus kulakukan?" Chloe meminta bantuan Black Aura seraya memperlihatkan layar ponselnya pada Black Aura.
Black Aura menundukkan kepalanya menyamai tinggi Chloe. Sekilas, ia menemukan rentetan percakapan kedua gadis itu.
"Kau ingin mendatanginya? Bagaimana dengan Aoi...?" Black Aura menelengkan kepalanya heran.
"Kau tahu sendiri kan? Perjalan kita sudah sejauh ini. Kalau nggak segera dibereskan masalah ini..."
"Aku tahu... Tapi, itulah yang menjadi pertanyaanku. Aku dan Rara sangat dekat. Tapi, waktu bermain kami kenapa terkesan sempit? Apa dunia ini tidak setuju mempertemukan kami dan membiarkan kami bersenang-senang? Kau benar. Duniaku ini benar-benar berisik. Aku bahkan yang sudah sembilan belas tahun tinggal disini merasa kesal."
Chloe menyela cepat omongan Black Aura dengan raut sedih. Dalam menjalin ikatan dengan orang lain, selalu saja ada rintangan yang harus mereka hadapi. Tak jarang, Chloe juga dibuat bimbang akan pilihan yang ia dapatkan dari dunianya.
Seperti sekarang ini. Fokus mencari Aoi atau bersenang-senang dengan Rara meski sebentar? Pilihan tersulit yang pernah ia dapatkan. Ditambah lagi, kedua remaja itu merupakan orang yang paling berharga baginya.
Black Aura terdiam sejenak. Ia merasakan kebimbangan di dalam hati Chloe. Tak hanya satu, Black Aura juga menemukan kesedihan dan rasa tidak terima akan kenyataan.
Sejak awal, semua masalah ini asalnya dari perang mereka. Entah kenapa fakta itu membuatnya merasa bersalah membiarkan temannya tersiksa akan kesedihannya. Tidak ada pilihan lain selain membiarkannya bersenang-senang untuk sementara dengan Rara.
Black Aura mendesah lelah lalu memalingkan wajahnya ke arah yang lain. "Pergilah. Mungkin, hanya gadis itu yang bisa menyembuhkan lukamu." Ucapnya.
"Eh?"
Senyuman bangga terukir cepat di wajah Chloe. Gadis itu lantas langsung memeluk Black Aura saking senangnya.
"Te-terima kasih, Black Aura! Jangan khawatir, kami nggak akan lama. Pasti! Tapi, kau jangan tinggalin aku sendirian ya!"
"Ya."
__ADS_1
~