Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 33


__ADS_3

Malam tiba. Satu persatu kepingan salju berjatuhan menghiasi teras rumah seorang gadis yang kala itu mengadakan pesta.


Terlihat jelas suasana penuh kegembiraan dan kehangatan memenuhi ruang tengah rumah itu. Terdapat lima orang gadis remaja yang tengah meramaikan pesta tersebut. Mereka bersulang bersama dan tak jarang, saling mencolek saus atau krim ke pipi kawannya.


Sylvia berhenti tertawa usai menerima colekan krim dari Hyori.


"Makan nih!" seru Hyori bersemangat. Gadis itu masih setia menjahili sahabat-sahabatnya.


"Astaga! Emang si kutu loncat (Hyori) ini ya!" geram Sylvia tak mau kalah.


"Wee! Ini pizza-nya buat aku aja ya! Nggak ada yang makan sih!" Ujar Tania.


Minji yang menyaksikan suasana hangat itu, ikut tersenyum. Dia juga mempersilahkan Tania menghabiskan pizza buatannya.


Alih-alih menikmati pesta dan bermain riang, Rara justru terdiam di pojok ruangan. Rautnya yang kosong dan tak bersemangat itu langsung disadari oleh Minji.


"Ra... Ada apa?" tanya Minji lembut. Ia juga menggenggam halus tangan adiknya.


Sebenarnya, Rara sudah memiliki jawaban untuk pertanyaan yang diutarakan Minji. Hanya saja, Rara takut jika jawabannya itu hanya akan menghancurkan suasana malam mereka. Makanya, Rara memilih berbohong untuk ke sekian kalinya.


"Ah, aku nggak enak badan aja. Tadi kebanyakan minum jadi masuk angin." Tuturnya berbohong.


"Begitu ya?"


Tak hanya Minji, satu persatu gadis yang lain bermunculan. Mereka menghampiri Rara dengan raut khawatir. Yah, aneh saja kalau pesta tengah berjalan meriah namun salah satu pesertanya justru tidak menikmati kemeriahan tersebut.


Sylvia mengambil posisi duduk di samping Rara lalu, memegang pundaknya.


"Ra, kalau ada sesuatu yang membuatmu nggak nyaman, katakan aja! Kami semua ada disini kok. Kita kan udah sahabatan lama. Mana tahu kalau kamu sharing, kami bisa bantu." Ucap Sylvia layaknya seorang ibu kepada anak-anak mereka.


Rara tersenyum simpul dan kembali murung. Ia merasa harus mengatakan apa yang ia rasakan. Rasanya, kurang saja jika tidak ada Chloe di sampingnya. Semua sifat aslinya akan terungkap dengan jelas apabila Chloe ada di sampingnya. Hanya saja, ia tidak ingin perasaannya menghancurkan jalan pesta itu.


"Aku cuma... nggak enak badan. Tenang aja... Kalian bermainlah! Nanti aku nyusul."


"Benar ya! Jangan bohong lu!" semprot Hyori bermaksud bercanda.


"Bohong sekali, Suho-mu kuambil. Nggak mau tau aku pokoknya!" ancam Tania disusul dengan tawa singkat nan recehnya.


Rara tidak merespon dan hanya tersenyum. Setelah semuanya kembali sibuk bersenang-senang, Rara mengeluarkan ponselnya. Ia berniat untuk berbicara sebentar dengan Chloe.


"Heh...?"


Matanya terbelalak. Ia tidak menemukan kontak Chloe sama sekali di dalam aplikasi chat-nya. Bagaimana bisa? Padahal, baru sore tadi dirinya berbicara singkat dengan sahabatnya dan malamnya malah kehilangan kontaknya. Siapa yang menghapusnya? Sedari tadi, ponselnya juga bersamanya.


Siapa yang mencuri ponselku? Kak Minji?


Ia menuduh Minji untuk sementara. Yah, ia rasa masuk akal saja. Minji tidak menyukai Chloe dan bisa saja, dia yang mengambil ponselnya. Lalu, mengetahui apa yang baru saja ia bicarakan dengan Chloe.


"Kenapa, Ra?" Minji menghampiri Rara seraya bertanya.


"Tadi, kakak ada nyentuh HP-ku?"


"Ada. Sebelum pesta."


"Untuk apa?!"


"Mau kirim foto dari galerimu, dek."


Rara mulai curiga. "Kakak ada buka whatsapp-ku, nggak?"


"Ada. Bentar aja." Minji menjawab singkat dengan raut tidak menyenangkan.


Lantas, Rara terkejut minta ampun. Jadi, dia melihat apa yang baru saja kubicarakan dengan Chloe?


Tanpa pikir panjang, Rara langsung membanting keras kedua telapak tangannya pada permukaan meja.


"KAU INI APA-APAAN, HA?! KENAPA KAU MAIN MENGAMBIL HP-KU TANPA IZIN? MENTANG-MENTANG KITA UDAH BERSAUDARA BUKAN BERARTI KAU BISA SEENAKNYA NGAMBIL BARANG-BARANGKU TANPA SEIZINKU!! KETERLALUAN JUGA KAU LAMA-LAMA!!" bentak Rara yang sudah terlanjur emosi.


Minji menelengkan kepalanya. "Kenapa kau jadi semarah ini? Memangnya, apa yang sudah kulakukan pada ponselmu? Aku hanya mengirim foto langsung dari galeri ke whatsapp. Aku cuma membuka kontakku aja. Kenapa kau jadi begini? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"


Pertanyaan Minji sukses membuatnya mematung. Kedua bola mata Rara bergetar antara menahan emosi dengan ketakutan.


Apa dia berusaha mempermainkan pikiranku? Yang benar saja?


Di lain pihak juga, Sylvia dan ketiga sahabatnya sempat terkejut mendengar gertakan meja yang keras dari ruang tengah. Karena penasaran, mereka pun menghampiri kekacauan tersebut.

__ADS_1


"Kenapa ini?" tanya Hyori heran.


"Entah. Rara tiba-tiba marah." Ujar Minji cuek.


"Gimana nggak marah kalau kakak minjam HP-ku tanpa seizin dariku?!"


"Huft... Iya, iya... Aku salah. Tapi, kau seperti ada yang kau sembunyikan dariku. Apa itu?" Minji bertanya hingga membuat pikiran Rara kacau balau.


"Jangan pikirkan! Lain kali, izin ya!" cibir Rara.


Minji memutar kedua bola matanya malas. Menanggapi perilaku Rara yang mendadak berubah dalam sekajap mata.


"Apa yang hilang dari HP-mu? Katakan! Mana tau aku bisa memperbaikinya." Ucap Minji menyarankan. Ia mengulurkan telapak tangannya pada Rara.


Rara terdiam seribu kata. Ia merutuki dirinya namun, ia tidak ingin menganggap dirinya sebagai pihak bersalah. Mau tak mau, ia berkata jujur.


"Ada salah satu nomor temanku yang hilang. Kakak bukan yang menghapusnya, kan?"


"Nggak kok. Kalaupun kehapus, kamu masih nyimpan nomornya nggak di Telepon? Kalau nomornya masih ada di telepon dan disertai namanya, kau bisa search aja di whatsapp- nya." Jelas Minji. Nada suaranya selalu stabil jika ia berbicara dengan Rara.


"Oh, begitu ya? Haha... Sorry, aku lagi banyak pikiran tadi. Huft..."


"Nggak papa." Minji berdiri dan kembali menyatu dengan suasana pesta yang sempat terhenti karena iklan barusan.


Untunglah...


~


Dark Fire terengah-engah usai menghajar Black Aura. Kini, Aura itu tidak menunjukkan pergerakan apapun. Terlihat jelas, tatapan kosong seperti orang yang sudah tak bernyawa lagi. Dan di saat itulah, senyumannya Dark Fire mekar.


"Ah, kurasa tak perlu perang pun, aku sudah bisa membunuh kalian." Ucapnya seraya meninggalkan Black Aura yang terkapar tak berdaya.


Di daerah yang sunyi dan sepi, hanya ada angin yang menemaninya. Seluruh pandangannya seakan tersedot ke langit malam yang gelap.


Chloe seratus persen tidak percaya bahwa, dirinya akan menerima serangan menyakitkan ini dari Dark Fire.


Chloe bertanya-tanya pada dirinya. Kenapa dia hanya diam saja disini dan tidak melakukan apa-apa? Dia tahu serangan tadi cukup membuatnya tumbang. Tapi, dia ingin menolong Black Aura.


Jadi, itulah kenapa fantasi yang kusukai itu sulit sekali diterima di dunia nyata?


"Ugh... Sakit." Keluhnya. Padahal, bukan itu yang ingin ia ucapkan sekarang. Mengingat Black Aura jauh lebih parah ketimbang dirinya yang hanya menerima tendangan brutal dari Dark Fire.


Rasa sakit ini menghalanginya. Pikirannya kosong. Tidak ada satupun yang terlintas


disana. Kedua bola matanya masih terpaku lurus pada langit malam yang bertebaran bintang. Diiringi dengan suhu disekitarnya yang membuat tubuhnya menggigil kedinginan.


“Aku nggak bisa bergerak.” Ia bergumam. Air matanya mengalir tanpa sepengetahuannya.


Aku harus apa?


DUARR!!!


Tiba-tiba, sebuah tembakan muncul dan mengejutkan Chloe yang nyaris saja


hilang kesadarannya. Ia refleks terbangun sekaligus mencari tahu sumber ledakan


itu.


Lihatlah apa yang ia temukan? Dark Fire lagi-lagi terdesak.


Chloe mengerutkan keningnya. "Apa-apaan ini? Apa yang terjadi?"


Dari belakang, muncullah cahaya hijau toska. Chloe tersentak. Ia memutar tubuhnya perlahan menghadap cahaya itu.


Sebuah portal raksasa. Kedua matanya membulat sempurna. Menemukan sosok yang sangat ia kenali. Sosok yang selama ini sangat ia rindukan. Seorang remaja yang selalu ia sembut namanya. Bahkan, di menit sebelumnya, ia juga sudah menyebut namanya.


“A-Aoi?” gumam Chloe terharu. Rupanya, Aoi! Disusul oleh Jacqueline. “Jacqueline!”


seru Chloe lega.


Entah kenapa, air matanya mengalir begitu saja. Bahagia melihat kehadiran mereka yang selama ini selalu ia nantikan.


“Chloe!” Aoi yang disusul oleh Jacqueline berlari menghampiri Chloe.


“Astaga! Lihatlah wajahmu! Parah sekali!” Aoi segera membantu Chloe berdiri.

__ADS_1


“Dimana Black Aura?” tanya Jacqueline serius tapi diselingi dengan senyuman manisnya.


“Ka-kau tahu?”.


“Nanti akan kami jelaskan,” timpal Aoi disertai senyuman hangatnya.


Chloe terenyuh. Senyuman itu... Adalah senyuman yang sangat ingin ia lihat. Saking terharunya, Chloe memeluk Aoi cepat. Ia bersyukur bisa melihat Aoi dalam kondisi baik-baik saja.


"Ao! Kau kemana saja? Kenapa kau menghilang? Aku... Aku kangen...! Aku kesepian!" Air matanya pecah.


Aoi membalas pelukan Chloe. "Maaf ya! Aku memang nggak mau melihatmu terlibat..."


"Setidaknya, kau jangan menghilang begitu saja. Hiks... Kau nggak tahu seberepa tersiksa aku tanpamu." Balas Chloe yang masih menangis tersedu-sedu.


Aoi terkekeh pelan. "Sudah... Jangan menangis lagi. Aku disini kok. Ayo, kita harus pergi dari sini!"


"Eh? Black Aura? Morgan?"


"Mereka biar Jacqueline dan yang lainnya yang urus. Kau harus beristirahat, Chloe. Lukamu parah."


Chloe mengangguk pelan. Gadis itu lagi-lagi digendong ala-ala tuan putri oleh Aoi untuk pertama kalinya. Sekilas, kedua matanya memandang sosok Black Aura yang masih terkapar disana. Ia khawatir.


"Aoi! Berjanjilah padaku! Tolong jangan tinggalkan Black Aura sendirian!"


"Iya... Iya... Devil Mask yang akan membawanya. Nggak kusangka, kau bakal dipertemukan dengannya."


"Ah, iya..."


~


Urusan Dark Fire hingga saat ini masih belum kelar. Setelah mengalahkan Black Aura, kini ia harus berhadapan lagi dengan anggota Megavile yang lain. Akhirnya, ia dipertemukan lagi dengan musuh lamanya. Devil Mask.


"Wah bantuan tiba." Ujar Dark Fire yang sangat senang dengan kehadiran Devil Mask.


Devil Mask tidak merespon. Ia memandang ke Black Aura yang terlihat sangat berantakan tampangnya.


Remaja bertopeng itu mengarahkan pelan jari telunjuknya pada Black Aura seraya bertanya, "Ulahmu?"


"Bisa dibilang 'iya'. Tapi, bukan cuma aku aja."


"Ooh..." Belum apa-apa, Devil Mask segera melancarkan cakarannya yang melukai langsung pundak Dark Fire.


Merasa tertantang, Dark Fire membalasnya dengan tembakan beruntun yang ia arahkan langsung pada Devil Mask. Untunglah, semua peluru tersebut tidak sampai melukai Devil Mask bahkan melintasi permukaan hoodie-nya sekalipun.


"Yumizuka!" panggil Devil Mask.


Seorang gadis berkacamata bulat melompat keluar dari dalan portal dan mendarat selamat di atas atap mobil.


"Sepuluh menit ke depan... Wah, ada burung tuh!" serunya diiringi dengan jarinya yang menunjuk pada salah satu pohon. Disana, terdapat seekor merpati betina yang sedang tertidur pulas.


Otomatis, seluruh pandangan Dark Fire tertuju penuh pada merpati tersebut. Tanpa ia sadari, Devil Mask melayangkan cakarannya ke punggung Dark Fire hingga menghasilkan luka dalam yang menyakitkan.


Dark Fire melonjak dan menghindari Devil Mask. Seperti baru saja terbangun usai jatuh dari lantai es yang tipis.


"Apa-apaan tadi?" Dark Fire menatap sinis kedua Megavile tersebut. Ia mulai meningkatkan kewaspadaannya pada gadis berkacamata itu.


"Yah... Bagaimana ya? Kau pasti akan menganggapku pengecut jika aku melarikan diri dari pertarungan kita." Tebak Devil Mask yakin.


"Ha? Kau mau kabur? Nggak biasanya?" cibir Dark Fire kemudian menyeringai sombong. "Silahkan saja..." lanjutnya yang langsung melayangkan tinjuannya tepat di depan Devil Mask.


Sebelum serangan tersebut mengenai Devil Mask sepenuhnya, Yumizuka berteriak.


"Kyaaaa!!! Ada yang ngintip di gedung sana!!!"


Dark Fire refleks menghentikkan langkahnya kemudian, menatap instan sosok yang ditunjuk Yumizuka.


Tidak ada siapapun disana. Ia pun kembali fokus pada lawannya dan tidak menemukan seorangpun di depannya. Bahkan Black Aura yang sebelumnya terbaring di sampingnya sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak.


"Begitu ya..." Dark Fire bergumam diakhiri dengan senyuman kecutnya. Pertarungan mereka kali ini ia anggap menyenangkan. Yah, dia merasa sangat menikmati adu senjata dan saat-saat saling menyakiti satu sama lain.


Hebatnya, ia menemukan satu hal baru dari pertarungan sengitnya melawan Black Aura dan kedua temannya. Satu hal yang ia klaim bisa menguntungkan Legend Aura jika dirinya bisa membolak-balikkan pikiran manusia hingga mereka mau mempercayai Legend Aura.


Akan tetapi, dampak negatifnya bisa menjurus pada kepunahan spesies mereka jika mereka tidak berhati-hati dalam berhubungan dengan manusia.


Dark Fire menghela nafas. Ia menunduk dan menatap telapak tangannya yang tergores pedang Black Aura. Saat itu juga, ia dihajar oleh Chloe dengan pedang Aura itu.

__ADS_1


"Merah...?"


~


__ADS_2