Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 131 {Season 2: Misi Mencari Bahan Ritual dan Ethan}


__ADS_3

Hari ketiga di Carnater. Semua remaja berkumpul di luar hutan. Berdiri dengan barisan yang sudah Midnight atur layaknya latihan baris berbaris di pramuka. Midnight berjalan ke kiri lalu ke kanan samil mengoceh beberapa hal penting terkait misi mereka hari ini. Sarapan mereka juga sudah habis dilahap dan energy mereka juga mencukupi untuk petualang panjang yang menunggu mereka di depan sana.


Jacqueline yang sudah diperingatkan untuk tidak merias diri mendapatkan cubitan kecil dari Aoi. Bukan apa-apa, hanya sekedar bercanda saja. Karena percuma. Make-up itu pasti akan luntur pada akhirnya. Apalagi saat Jacqueline dan teman-temannya terjebak dalam situasi mendesak seperti pertarungan. Make-up luntur, sosok jelek Jacqueline yang tak terduga itu muncul.


“Oke, semuanya udah siap kan? Kalau kalian memang niat mau bantu aku, apapun resikonya harus diterima dan jangan cengeng di tengah jalan ya!” tegas Midnight. Chloe tertohok diam-diam. “Lalu, untuk bahan ritual yang terakhir biar Silentwave aja yang cari. Sisanya mencari Ethan. Pria itu kemungkinan tersesat bukan di hutan ini melainkan di daerah kota. Aku nggak tahu, aku Cuma nebak aja.”


Di sela pidato yang berusaha Midnight singkat itu, Chloe berbisik ke Black Aura yang sedang fokus mendengarkan.


“Aura… Kalau ada pertarungan lagi, ajak aku yah! Sesekali kita kolaborasi gitu.”


“Oh, oke…”


Aoi dan Jacqueline yang sedari tadi mendengarkan Midnight dengan rasa hormat mendadak teralihkan oleh ponsel mereka yang berdering secara bersamaan. Mereka berdua mengernyit heran. Kira-kira, siapa yang menelpon mereka di saat penting seperti ini?


Saat dilihat siapa yang menelpon ternyata hanya alarm pagi yang berbunyi. Aoi dan Jacqueline memutar malas bola mata mereka seraya mematikan alarm tak berguna tersebut.


Kegiatan berpidato Midnight terpaksa ia hentikan lantaran suara dering ponsel yang mengganggu itu. Seperti biasanya, selalu Aoi dan Jacqueline yang mengalami sejumlah hal sepele yang yah… Bisa dikatakan menguji kesabaran Midnight. Selalu saja mereka. Sedangkan Chloe, gadis itu akan terasa sangat menjengkelkan jika dia menangis seperti bayi. Melihat tingkah Chloe yang seperti itu bawaannya ingin menjitak gadis itu dengan sendok sayur.


“Ada masalah apa? Kenapa kalian berdua selalu aja mengganggu kegiatanku?” tanya Midnight geram. Tangan kanannya terkepal sangat keras. Silentwave yang menyadari kepalan tersebut hanya bisa diam mendengarkan. Tidak berniat membela pasangan yang menjengkelkan itu selain diam di tempat bersama Black Aura yang diam-diam mendengarkan lagu lewat ponsel.


Silentwave menyenggol siku Black Aura dengan sikunya. Aura itu terbangun dari lamunannya mendengarkan lagu. Cepat-cepat, dia menurunkan earphone-nya dan menyembunyikannya di saku celana.

__ADS_1


“Apa?”


“Kau nggak mendengarkan, mama?”


“Dengar. Aku udah baca isi pikirannya,” balas Black Aura santai.


“Dasar.”


“Sorry, Midnight. Alarm kami bunyi. Silahkan lanjut pidatonya,” ucap Aoi santai. Karena dia mengatakan yang sebenarnya dan tidak berbohong jadi, tidak ada yang perlu ditakutkannya.


Midnight menghela nafas berat. Ternyata, mengatur orang lain itu tidaklah mudah meskipun nyatanya dirinya lebih tua delapan tahun dari mereka. Apa mereka meremehkan usiaku yang masih dua puluhan ya?


Tidak hanya Aoi dan Jacqueline, masih ada Okka dan Kenzo yang sibuk menonton hasil pertarungan mereka melawan para Aura di Carnater. Kedua remaja itu cekikian tak jelas. Midnight semakin lelah melihat remaja-remaja itu dan memutuskan untuk diam sampai mereka semua menyadari keanehan di sekitar mereka.


“Kalian! Bisa tidak dengarkan Midnight? Jangan ngobrol sendiri dong!” bisik Chloe pada teman-temannya yang sibuk dengan dunianya. Chloe merasa paham akan suasana hati Midnight saat ini. Pagi-pagi sudah dibuat kesal. Belum lagi dengan siang yang mereka tidak tahu akan ada rintangan apalagi yang menghalangi mereka. Sementara, solusi ada di depan mata.


Semuanya tertegun dan langsung menyadari kesalahan yang mereka perbuat. Dengan segera, mereka meminta maaf pada Midnight yang diam itu. “Maaf. Kami nggak maksud…”


Midnight tanpa pikir panjang memotong ucapan Aoi yang mewakili kelompoknya itu. “Memang nyatanya nggak maksud. Tapi, kalian udah terlambat. Ah, sudahlah! Pokoknya, kalau kalian emang niat bantuin aku, hari ini juga harus selesai. Aku nggak mau tahu pokoknya kita harus mengadakan ritualnya sebelum aura-aura yang hilang kewarasannya menghampiri kira.”


Mereka semua meneguk saliva mereka susah payah. Tidak ada satupun yang berani menjawab selain mendengarkan omongan Midnight lagi.

__ADS_1


Beginilah jadinya jika satu orang tidak dihargai keberadaannya karena ditinggal mengobrol. Manusia dan Aura itu tak jauh beda. Sama-sama memiliki perasaan dan pastinya akan merasa sakit jika terabaikan. Beruntunglah, Midnight tidak semudah itu menaruh dendam pada anak-anak yang menyebalkan dihadapannya. Seandainya tidak, bisa saja Midnight tega membiarkan remaja-remaja itu bernasib sama dengan Lucas, abangnya Chloe.


“Kita nggak punya banyak waktu. Yang ikut aku, dua youtuber itu dan Silentwave. Sisanya sama Aura. Awas main-main!” ancam Midnight dengan tatapan tajam, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kelompok Black Aura yang menyisakan Chloe, Aoi, dan Jacqueline.


“Berarti, misi kita adalah mencari Ethan,” ujar Aoi tanpa menghiraukan tatapan menusuk Midnight tadi.


“Btw, Ethan itu siapa coba? Kenal aja nggak. Tau mukanya aja nggak. Kau kenal dia Chloe?” tanya Jacqueline mengalihkan pandangannya pada sahabatnya yang sedang asyik berbincang entah apa dengan Black Aura.


“Uhm, nggak. Aura tahu?” Chloe balik bertanya.


Black Aura hanya menggeleng. Meski aslinya, dia mengetahui siapa itu Ethan. “Daripada penasaran, mending kita cari langsung orangnya. Aku bisa membedakan mana manusia mana Aura kok,” kata Black Aura diakhiri dengan senyuman.


“Dan juga, aku punya satu permintaan untuk kalian bertiga.”


Ketiga remaja itu segera menghentikan langkah mereka. Perhatian mereka terpaku pada Black Aura yang kini memasang raut serius. Belakangan ini, Chloe sering menyadari sesuatu yang berbeda dari Black Aura. Aura itu terlihat sedang mempertimbangkan banyak hal. Chloe tidak tahu detailnya. Yang jelas, hal itu membuat pacarnya tidak bebas dalam melakukan sesuatu. Salah satunya yang ia sukai seperti bertarung dengan brutal melawan musuhnya.


Chloe menghela nafas berat. Tampaknya, memang benar kalau Black Aura sedang banyak pikiran belakangan ini. Black Aura yang ia kenal sekarang tidak sebebas dirinya yang dulu. Meskipun tanpa senyuman, Aura itu sanggup membuat dirinya tersenyum dan tertawa degngan mudah.


Chloe kangen dengan masa-masa dimana dirinya mengetes emosi Black Aura dan membawa Aura itu berjalan-jalan keliling kotanya. Lalu, makan berdua di café sambil membicarakan hal random yang hanya dipahami mereka berdua.


Black Aura yang bebas itulah yang ingin Chloe lihat.

__ADS_1


Kenapa aku jadi sedih begini?


~


__ADS_2