Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 12


__ADS_3

Suara sirine polisi masih menggema di depan rumah Aoi. Beberapa dari anggotanya keluar dari mobil dan berhamburan memeriksa ruangan Aoi yang sangat berantakan itu.


Ada juga yang memasang garis polisi di depan teras, di ruang tamu dan di tempat dimana genangan darah tersebut terlihat.


Beruntunglah, Chloe Dan Black Aura lekas meninggalkan tempat tersebut sebelum para polisi menghampiri mereka. Pada pukul 9 tepat, mereka berjalan mengendap-endap hingga sampai menuju ke kediaman Chloe.


"Jadi, ini rumahmu? Kelihatannya nyaman..." Ujar Black Aura. Ia sampai berkacak pinggang mengamati bentuk penampilan rumah Chloe.


"Sudah-sudah... Cuma rumah biasa aja kok. Gak ada yang istimewa di dalamnya." Chloe yang tersipu malu itu langsung menarik lengan Black Aura.


Sesampai mereka di depan pintu masuk, Chloe memeriksa ranselnya. Niatnya sih, mau mencari kunci rumah yang letaknya acak di dalam tasnya.


"Apa yang kau cari?"


"Kunci.Pertama-tama, kita mandi dulu ya. Kedua, ketemuan di dapur. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Terutama soal buku ini." Jelas Chloe seraya menunjukkan buku tebal kesukaannya.


"Dari mana kau dapat buku itu? Pantas saja kau tau namaku."


Chloe tersenyum. "Aku menemukannya di bawah kolong meja perpustakaan. Awalnya aku kira, buku ini cuma buku biasa saja. Rupanya..." pandangan Chloe perlahan-lahan mengarah ke remaja yang berdiri di depannya.


"Aku bisa bertemu denganmu sekarang." Lanjut Chloe memamerkan senyuman manisnya pada Black Aura.


"Begitu ya? Ngomong-ngomong, apa kau masih merasa kehilangan? Aku merasakan kesedihanmu."


Chloe terkejut ringan. "Kau bisa merasakan kesedihan orang lain? Bagaimana bisa?"


"Mungkin karena kau dan aku kini sudah berbagi ikatan. Makanya, apapun yang kau rasakan, aku bisa merasakannya." Jelas Black Aura. "Kalau kau baca buku itu, kau pasti sudah lama tau." Tambahnya.


Chloe menyegir lebar. "Benar juga ya!"


Karena terlalu lama di luar rumah, Chloe akhirnya berhasil membuka pintu rumahnya dan masuk bersama Black Aura. Salah satu kaki mereka menapak langsung di atas lantai rumah Chloe yang dingin tak bernyawa itu.


Seperti biasanya, suasana rumah gadis ini selalu tampil hening. Seolah tak ada kehidupan di dalamnya.


"Hahaha... Rumahku ini memang sepi. Tapi, untunglah gak ada setan yang sering gangguin aku tiap malam." Gadis itu mulai bergurau sembari menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal itu.


"Gak papa... Hanya saja, aku sedikit sedih dengan kondisi rumah ini. Tersisa satu jantung yang bisa menghidupkan satu ruangan saja." Balas Black Aura yang masih sibuk mengedarkan pandangannya ke berbagai arah.


Chloe menelengkan kepalanya dengan apa yang baru saja di ucapkan Black Aura.


"Jantung?"


"Bukan apa-apa... Mandilah."


"Astaga... Yang punya rumah siapa yang nyuruh siapa?"


Meskipun dialah pemilik rumah tersebut, tetap saja gadis itu melaksanakan apa yang dikatakan Black Aura barusan. Dia sadar kalau bau badannya semakin menyiksa hidungnya setiap menit ia bernafas.


"Tunggu disini ya! Jangan keluar! Kau boleh pergi ke manapun yang kau mau." Ujar Chloe. Ia lekas menuju kamarnya. Meninggalkan Black Aura seorang diri di ruang dapurnya.


Sambil menunggu Chloe, Black Aura menyempatkan dirinya berkeliling mengamati setiap sudut rumah Chloe. Ia merasakan sensasi yang berbeda di setiap ruangan yang ia datangi.

__ADS_1


Menurutnya, kamar memiliki sensasi yang beragam. Antara sejuk, hangat, dan bisa saja dingin. Untuk dapur, ruangan itu akan selalu hangat selama ada hidangan yang tersaji di atas meja makan tersebut.


Black Aura mengarahkan pandangannya ke kulkas. Kulkas hitam itu tampak familiar di matanya. Seolah dirinya pernah memiliki kulkas tersebut. Ia pun mendatanginya dan meraba permukaan kulkas yang dingin itu.


"Kulkas ini... Ah, Midnight juga punya yang seperti ini." Ia bergumam sembari melanjutkan perjalanannya menyusuri tiap-tiap ruangan yang ada di dalam rumah Chloe.


Samar-samar, ia mendengar suara air yang mengalir lembut dari dalam kamar mandi. Suaranya terdengar tak jauh dari posisi dirinya berdiri. Mungkin saking sunyinya keadaan saat itu, cipratan air pun bisa dengan jelas terdengar di telinganya.


"Gadis ini... Sepertinya dia bukan orang yang terbiasa membuka dirinya." Batin Black Aura sambil memandang bingkai foto Chloe bersama Aoi. Sejauh ini, yang ia lihat adalah bingkai foto atau hasil jepretan Chloe dan Aoi. Tampak jelas bahwa mereka menjalin ikatan yang baik.


"Dia punya teman yang baik."


"Black Aura mau makan apa nanti?" tanya Chloe yang baru saja muncul di ambang pintu ruang tengah sambil mengeringkan beberapa helai rambutnya dengan hair dryer.


"Entahlah. Aku gak terlalu yakin bisa mengkonsumsi makanan kalian."


"Bisalah. Penampilanmu itu 11/12 kami. Aku yakin kalau kau bakal suka sama makanan bumi." Chloe berusaha meyakinkan Black Aura yang sedikit ragu meskipun raut wajahnya selalu tampil datar.


"Terserah padamu aja."


Chloe tersenyum lebar. "Baik! Kalau begitu, akan kubuatkan kentang goreng ya! Kau tau? Makanan ini memilik banyak warna di dalamnya. Dari kentangnya yang lembut, kehangatan yang ia berikan pada kita dan rasa gurih ini sangat ampuh menghilangkan rasa sedihku." Jelasnya bersemangat.


Black Aura yang merupakan orang asing itu hanya bisa diam. Ia memilih untuk duduk manis dan mendengarkan apa yang sedang Chloe ceritakan padanya.


Sejujurnya, Black Aura juga merasakan beberapa perbedaan antara dunianya dengan dunia nyata ini. Dunia Chloe justru yang paling berisik sejujurnya.


"Setelah digoreng, biasanya aku kasih micin lah ya, atau bumbu berbagai rasa biar rasa kentangnya beragam."


Mengingat topik yang sedang ia bicarakan terpaksa berhenti untuk sesaat karena ujaran Black Aura yang membuatnya harus menghentikkan kegiatan menggoreng kentangnya.


"Kau benar. Seharusnya aku mau mendengar sedikir informasi tentang duniamu."


"Bukan. Maaf kalau aku memotong ucapanmu."


"Gak masalah. Lanjut aja. Tadi, kan kau Udah dapat sedikit info tentang makanan di duniaku ini. Sekarang, giliranku yang harus mendengarkan ceritamu."


Chloe duduk tepat di depan Black Aura dengan memancarkan senyumannya agar Black Aura tidak merasakan aura aneh dari dalam dirinya. Sambil juga menunggu kentang gorengnya yang tengah di goreng saat ini.


"Oh, ya! ngomong-ngomong, untuk semalam... Terima kasih ya. Aku jadi selamat karenamu." Ucap Chloe lembut seraya memasukkan sehelai rambutnya di belakang telinganya.


"Gak perlu berterima kasih. Aku kesini cuma harus menjalankan misiku aja."


"Benar juga ya! Btw, misimu tentang apa? Selain membunuh Legend Aura dan mencari manusia yang hilang? Aku penasaran dari kemarin."


"Kau kepo sekali." Balas Black Aura.


"Tentu saja! Karena, di tempat kami jarang lho muncul kejadian yang aneh-aneh."


Black Aura menghela nafas berat. "Kalau kau sudah membaca buku itu harusnya kau sudah tau apa saja misiku."


"Benar juga. Tapi, aku ini mudah pelupa orangnya. Jadi, sorry banget ya!" Chloe terkekeh pelan.

__ADS_1


"Apa yang lucu?" Black Aura bertanya begitu sadar dengan tingkah laku gadis itu yang terlihat semakin aneh. Terus terang, untuk berbicara dengan manusia saja ia masih kaku. Menurutnya pribadi, tingkah laku manusia sejak ia mendatangi dunia nyata ini sangat beragam.


"Gak ada... Aku heran saja dengan ekspresi-mu. Kau selalu tampil datar. Memangnya kau gak bisa menangis ya? Kau gak bisa ketawa ya?"


Menanggapi ocehan Chloe yang baginya tidak akan ada akhirnya, Black Aura mau tak mau memasang raut malasnya. Agar gadis itu menyadari betapa lelahnya menjawab pertanyaannya satu persatu.


"Kau kelelahan keknya. Ah, sebentar ya!" Chloe beranjak dari kursinya dan kembali sibuk dengan urusan kentang gorengnya.


Karena ia tak begitu paham dengan aktivitas manusia, Black Aura hanya bisa duduk manis sembari menunggu sarapan mereka tersaji hangat di atas mereka.


Tak perlu buang waktu lama, sepasang gelas susu hangat dan piring berisi kentang tersebut siap tersaji. Tinggal dilahap saja tamat sudah riwayat kentang tersebut.


"Makanlah!"


Chloe menyodorkan garpu dan saus kepada Black Aura dan diterima dengan baik oleh orangnya.


"Untuk soal sahabatmu, kemungkinan hari ini aku akan langsung pergi." Tutur Black Aura hendak menyantap kentang goreng tersebut.


"Aku ikut!"


Kentangnya jatuh usai mendengar ucapan Chloe.


"Apapun laranganmu, aku tetap akan pergi. Dan lagi, aku ingin membalas kebaikanmu semalam. Kau sudah menyelamatkanku dan sekarang kau berniat membantuku dengan diriku yang gak bisa melakukan apapun untukmu." Ungkap Chloe terus terang.


"Gak papa kalau harus membolos kuliah ketimbang menjalani hari-hariku yang membosankan tanpa seorang sahabat. Selama bersamamu, aku akan menulis novel yang kurancang sampai selesai. Begitu selesai, Aoi akan melihatnya. Pokoknya, aku ingin membantumu. Aku akan menjadi Tour guide-mu selama kau di dunia ini."


Kedua bola matanya membulat sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Chloe.


Gadis itu terang-terangan menawarkan dirinya sebagai tour guide-nya. Kalimat gadis itu seketika langsung menempel di kepalanya.


"Tapi, resikonya besar. Terutama untuk keselamatan nyawamu." Ucap Black Aura serius. Ia tidak yakin apakah dirinya bisa melindungi gadis itu atau tidak?


Chloe menggeleng cepat. "Gak! Pokoknya, aku ikut! Aoi... Dia sahabatku! Satu-satunya orang yang baik padaku. Dia ada disaat aku susah. Oleh karena itu, aku gak akan membiarkan dirinya kesusahan menghadapi masalanya!"


Black Aura terdiam. Ia berpikir sejenaknya sembari mencari keputusan.


"Baiklah... Kau boleh ikut. Menulislah apapun yang kau dapat dari pengalamanmu. Mau kau takut apa tidak, aku akan terus melindungimu sampai misi dan masalah ini selesai. Jadi, mohon kerja samanya."


Senyuman gadis itu muncul di permukaan disusul dengan anggukan mantapnya.


"Aku ikut?"


"Yep."


"Yeyy! Jadi kapan kita akan pergi?"


Black Aura menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Ia membenarkan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Chloe.


"Pertama, cari tempat penginapan kita. Kau adalah tour guide-ku. Jadi, carilah tempat yang untuk kita menginap sehari!" jelasnya.


"Baik!"

__ADS_1


~


__ADS_2