
“Chloe? Kenapa tiba-tiba ngomong begitu? Kau mabuk ya?” Black Aura yang berniat mengusap puncak kepala Chloe langsung ditangkis pelan oleh Chloe yang benar-benar serius dengan perkataannya barusan. Gadis itu mengangguk mantap, berusaha membuktikan pada Black Aura atau pacarnya itu kalau dirinya siap menghadapi apapun asalkan Black Aura aman.
Kalau Black Aura bisa melindunginya, kenapa dirinya tidak?
Well, begitulah yang terlintas di kepala Chloe. Gadis itu selalu mengatakan sesuatu tanpa dipikir terlebih dahulu. Memang sudah kebiasaannya sejak kecil.
“Aku nggak mabuk kok. Aku waras. Aku ngomong begini karena aku ingin kita berdua dan juga yang lainnya hidup bahagia sama-sama. Kau sudah sering melindungiku, Aura. Sekarang, giliranku! Demi duniamu, dirimu, dan kita, aku akan mengerahkan semua tenagaku hanya untuk keinginan kita!” tegasnya dengan suara lantang. Bahkan burung pun sampai berterbangan saking berisiknya suara Chloe itu.
“Jadi, karena mimpi Carmine itu kau jadi begini?” tanya Black Aura di lain sisi juga mengambil kesimpulan dari pernyataan Chloe akan mimpi yang dialaminya beberapa menit yang lalu.
Chloe tertegun. Cepat-cepat, dia menggeleng dan menyangkalnya. “Bukan. Aku ngomong begini karena dari tadi, aku kepikiran. Aku diam gara-gara aku takut kau merasa nggak bebas sama aku. Karena ada aku, kau jadi nggak bisa jadi diri sendiri. Aku diam karena aku berusaha menyusun rencana agar kita bisa semakin lebih dekat. Aku ingin kita berdua menjadi pasangan yang sesungguhnya. Itu saja kok!” ungkap Chloe malu-malu.
Tak Cuma Chloe yang merasa malu, tak punya muka setelah mengungkapkan isi hatinya, Black Aura sendiri juga merasakan panas dadanya. Lalu merambat ke bagian wajahnya. Entah mimpi atau halu, Black Aura berusaha meyakinkan dirinya kalau semua yang diucapkan Chloe adalah nyata.
“Be-begitu ya? Aku… Sebenarnya juga berpikir seperti itu. Aku Cuma takut kau merasa nggak nyaman denganku. Hahaha… Kenapa aku jadi sepengecut ini ya? Heran.”
Black Aura terkekeh malu sambil mengusap kepala bagian belakangnya. Hanya takut canggung saja suasana mereka.
“Eh? Jadi, kita punya kekhawatiran yang sama ya? Haha, nggak nyangka,” Chloe bangkit seraya meraih tangan Black Aura untuk ikut bangun bersamanya. “Lho? Aoi dan Jacqueline mana?”
“Kau tahu? Aku berusaha melindungimu, lalu Megawave yang kukira pingsan itu rupanya bangun dan ending-nya begini,” simpul Black Aura. Perlahan-lahan, Black Aura merasa dirinya lebih baik dari sebelumnya. Baginya, kehadiran Chloe itu tak jauh beda dengan obat penenang. Namun, obat penenang yang Black Aura miliki ini tidak memiliki efek samping apapun yang bisa menimbulkan penyakit lain seperti halusinasi contohnya.
Chloe tertawa kecil merespon omongan Black Aura. “Jadi gitu? Hm, kalau kau mau bebas, silahkan aja sih. Yah, asalkan kalau dirimu itu merasa terancam.”
Black Aura mengangguk pelan. Akhirnya, kedua remaja itu berjalan kembali ke kota tempat Aoi dan Jacqueline terbaring di sana. Semoga saja, pasangan itu baik-baik saja. Mengingat keduanya tidak terlihat menarik di mata Megawave dan kelompoknya.
~
Di atas bukit, Black Aura dan Chloe memandang pemandangan di bawahnya yang hanya menampilkan kota kecil yang hancur. Setelah mengaktifkan kemampuan matanya, Black Aura menemukan Aoi dan Jacqueline masih terbaring disana. Sementara, Megawave dan kelompoknya masih berjaga. Mereka terlihat sedang berdiskusi. Kali ini juga, anggota mereka bertambah satu yang muncul. Chariot. Dia adalah Aura yang menguasai elemen api juga bertangan empat.
Black Aura memejamkan kedua matanya kemudian menoleh ke arah Chloe singkat sebelum akhirnya berpaling ke kota di bawah sana. “Menurutmu, satu lawan empat, siapa yang bakal menang?” tanya Black Aura pada Chloe yang sempat melamun.
__ADS_1
Chloe tersentak. Sambil tertawa, dia membalas omongan Black Aura. “Pasti Black Aura dong yang menang! Kau kan ganas!”
“Hahaha… Ada-ada aja kau ini.”
Puas berbincang, keduanya kembali menatap serius ke kelompok Megawave. Terlihat jelas, Jean berjalan setelah berdiskusi dengan kelompoknya mengarah ke Aoi dan Jacqueline. Saat itulah, adrenalin Chloe terpacu untuk menghajar gadis berambut hijau itu. Di sampingnya, Black Aura segera menjentikkan jarinya demi memindahkan buah pisang temuannya menjadi Jean. Jadi taktik yang akan mereka gunakan adalah, melawan Aura-aura dari kelompok Megawave secara sembunyi-sembunyi.
Di tempat yang sangat jauh dari jangkauan Megawave, Black Aura rasa dirinya bisa mengakhiri pertarungan tersebut dengan taktik yang dia buat bersama Chloe.
“Satu-satunya kelemahan absolute Aura adalah manusia kan? Kau yakin dengan rencana kita?”
“Yakin. Tapi, kau jangan sampai membunuhnya. Kita disini untuk melumpuhkan mereka lalu menjauh. Oh, ya, kau bisa menggendong Jacqueline?”
Chloe berpikir sejenak. Mempertimbangkan ototnya dengan berat badan Jacqueline yang kata Aoi itu berat. “Bisa kayaknya. Kau bisa kan, menggendong Aoi?”
“Bisa.”
“Bagus! Sekarang, tinggal jalanin misi aja!” Chloe mengangkat kepalan tangannya di hadapan Black Aura bermaksud ingin adu kepal dengan Aura itu.
“Tanganmu dingin,” lirih Chloe.
“Punyamu hangat.”
Karena tidak ada lagi yang ingin mereka bicarakan, Chloe dan Black Aura pun menjalani misi mereka. Pertama, Chloe mengambil beberapa buah pisang yang sudah ia kumpulkan selama perjalanan. Lalu, salah satu pisangnya diberikan ke Black Aura yang hendak menukarkannya menjadi Jean. Pas sekali gadis itu keberadaannya jauh dari kelompoknya.
Sebelum itu, Chloe merasa heran. Kenapa harus pisang? Padahal, di perjalanan sebelumnya, dia menemukan banyak sekali jenis buah di dalam hutan. Akan tetapi, kenapa Black Aura memilih pisang?
“Kita mulai.”
Black Aura menjentikkan jarinya. Pisang yang berada di hadapannya itu bertukar menjadi Jean yang hendak menarik sesuatu. Mungkin sebelumnya, gadis itu berniat menarik tangan Aoi.
Menyadari dirinya berada di tempat lain, Jean reflex menjauh dari Black Aura sebelum pedang yang Chloe layangkan itu melukai punggungnya.
__ADS_1
“Kau…!” Jean mendarat di atas rerumputan dengan kasar disusul dengan tebasan yang ia layangkan ke arah Chloe.
Black Aura melesat di depan Chloe dan menangkis tebasan Jean tersebut. Hutan yang sebelumnya diam tidak ada pergerakan, perlahan-lahan memperlihatkan beberapa daunnya yang bergoyang-goyang karena sapuan lembut dari angin.
Rupanya, angin-angin itu berasal dari kemampuan Jean. Tampaknya, gadis itu ingin membuat tornado besar yang akan ia gunakan untuk membawa pergi Chloe. Well, Black Aura tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aura itu mengeluarkan sabitnya yang akan ia gunakan untuk menebas pusaran angin di sekitarnya.
“Chloe! Tusuk aku!” seru Black Aura.
Chloe mengangguk mantap meskipun dalam hatinya dia ragu untuk melakukannya. Tak ingin membuang waktu lama, Chloe melangkah maju dan menusuk punggung Black Aura dengan pedang.
“Ambil ini!” seru Chloe bersama dengan Black Aura yang menjentikkan jarinya untuk kedua kalinya untuk memindahkan luka serta rasa sakitnya ke tubuh Jean.
“Tunggu. Kau berteriak bukan untukku kan?” tanya Black Aura yang merasa seruan itu dituju untuk dirinya.
“Ya, bukanlah!” sewot Chloe.
Sementara Jean ambruk dengan darah hijau bercampur merah yang menetes deras di samping sepatunya. Jean sempat batuk berdarah karena rasa sakit di sekitar pinggangnya merambat ke tenggorokannya.
“Kalian mau membunuhku ya?!” bentak Jean kesakitan.
“Eh, bu-bukan! Justru kau yang mau membunuhku tadi!” balas Chloe tak mau kalah. Diiringi dengan langkah kaki terburu-buru demi melumpuhkan Jean menggunakan tisu yang sudah ia beri obat tidur. Tidak tahu berapa dosis yang ia tuangkan ke tisu itu, Chloe melakukannya semata-mata untuk melancarkan rencana yang sudah dia rancang bersama Black Aura.
Chloe melompat menabrak Jean. Dengan susah payah, gadis itu menempelkan tisu itu ke penciuman Jean hingga pada akhirnya, dia sukses membuat Jean tak sadarkan diri satu jam ke depan.
“Selesai!” ujar Chloe puas sambil mengacungkan jempol di hadapan Black Aura.
Black Aura terkekeh geli melihat aksi Chloe yang ogah-ogahan melawan Jean yang meronta-ronta tak ingin pingsan di tangan Chloe. Beruntunglah, misi pertama mereka terselesaikan dengan baik. Sekarang, tersisa tiga orang yaitu Aoi, Megawave, dan Chariot yang baru saja datang. Karena yang tersisa bergender laki-laki, maka mau tak mau mereka harus mengerahkan semua tenaga mereka untuk membuat ketiga laki-laki itu berada di posisi Jean.
Kalau rencana mereka tidak semulus Jean tadi, maka pertarungan sengit yang sudah menjadi makanan Black Aura sehari-hari itu tak mungkin lagi terelakkan. Intinya, demi keselamatan Aoi dan Jacqueline ang tertidur di sana.
~
__ADS_1