Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 71 (Sebuah Rencana)


__ADS_3

Dengan kondisi saat ini, Black Aura, Devil Mask, dan Yumi hanya bisa menyiapkan sejumlah keberanian yang telah tersedia dalam diri mereka demi menghadapi para Legend Aura yang telah Yuuki hidupkan kembali. Terus terang, Yuuki ini memang pria yang merepotkan.


“Haaa… Aku yakin sekali, kalau aku bakal melewati waktu makan siang.” Ujar Yumi disertai senyuman pahit. Secara pribadi, dia tidak begitu yakin apakah dia dan kedua Aura di sampingnya itu mampu melawan para Legend Aura?


"Chloe, kau kenal mereka semua?" tanya Rara gugup.


"Iya. Aku pernah bertemu mereka dan..." Bola matanya mengarahkan ke Aurora yang tersenyum menyeringai padanya.


Jujur saja, Chloe masih tidak bisa melupakan Legend Aura bernama Aurora itu. Namanya sangat melekat di benaknya. Aura yang seenaknya menumpang di dalam alam bawah sadarnya dan mengotori tangannya dengan darah Black Aura.


Chloe menghela nafas berat. Padahal, dia sudah senang mengetahui dirinya bisa membunuh Aurora. Sialnya, Yuuki malah menghidupkannya kembali.


Ketika Chloe terjebak dalam pikirannya, Jacqueline diam-diam menghitung Aura yang akan menjadi lawan Megaville nanti.


“Ada Dark Shadow, Dark Flower, Dark Fire… Sisanya, aku nggak tau.” Dia melirik Chloe seolah, ingin sahabatnya melanjutkan perkataannya. Karena Jacqueline tidak tahu sisanya.


“Huft... Yui, Aurora, dan Dark Sport.” Lanjut Chloe malas.


Sementara, Rara hanya terdiam sambil menampung ketakutannya. Untuk pertama kalinya, gadis itu melihat Legend Aura. Kemarin, dia hanya bisa membayangkan bagaimana penampilan Aura-aura itu lewat cerita Jacqueline dan Chloe. Tapi sekarang, imajinasinya tidak dibutuhkan lagi.


"Takut..." Rara mundur satu langkah ke belakang sambil mencari tempat persembunyian di belakang Chloe dan Jacqueline.


Menyadari bahwa sahabatnya ketakutan, Chloe segera menyiapkan posisi waspadanya. Berdiri tegap di depan Rara, tak lupa, memperlihatkan senyumannya agar gadis itu merasa sedikit tenang.


"Jangan khawatir, kita akan baik-baik saja." Ucap Chloe lirih.


"Uhm... Yah, semoga saja." Balas Rara usai menghela nafas singkat.


"Maaf menyela sebentar, sebenarnya, aku agak ragu dengan jumlah mereka. Kalian berdua ada rencana, nggak? Soalnya, aku nggak gitu yakin dengan tenaga Devil Mask dan Aura lainnya. Legend Auranya terlalu banyak." sela Jacqueline disertai tatapan ragunya.


Sama seperti Jacqueline, Chloe berterus terang saja bahwa dirinya juga merasa tidak yakin.


“Kalau begini caranya, kita bisa kalah mutlak.” Ucap Yumi pada Black Aura dan Devil Mask.


Black Aura menghela nafas berat setelah menggaruk kepala bagian belakangnya. Setelah itu, sebuah ide cemerlang muncul di benaknya. Dan tanpa basa-basi, dia langsung mengutarakannya pada Yumi dan Devil Mask. Mengingat keadaan mereka yang genting dan masih abu-abu mengenai kapan para Legend Aura itu akan menyerang.


“Kalau kubantai kayak dulu bagaimana?” tanya Black Aura melirik singkat ke Devil Mask.


“Jangan, kita bukan di Carnater.” Jawab Devil Mask serius.


“Lagi pula, kita bertarung dan ditonton oleh teman-teman manusia kita. Aku nggak mau kalau kekuatan jahat kita ini, bisa membuat mereka trauma.” Yumi menambahkan.


“Hmmm, kurasa nggak apa-apa kalau Jacqueline dan lainnya mau membantu.” Pikir Devil Mask.


Spontan, Black Aura melirik cepat ke arah Devil Mask yang baru saja mengutarakan idenya. Cepat-cepat, dia langsung menyangkal ide tersebut karena tidak setuju.


“Jangan. Musuh kita terlalu kuat buat mereka.”


"Hmmm..." Devil Mask kembali berpikir.


“Ya, sudahlah. Kita hadapi saja mereka, apapun caranya.” Kata Yumi menyerah.


Waktu mereka sangat tidak tepat untuk berdiskusi. Oleh karena itu, Devil Mask langsung membagikan tugas. Untuk Yumi, dia ditugaskan untuk melindungi para gadis itu serta mengalihkan perhatian para Legend Aura ke arah lain. Untuk Black Aura, Aura itu akan ikut bertarung dengannya.


“Dua lawan tujuh?” Aurora tersenyum meremehkan. “Berbeda dari yang dulu. Dulunya ramai.”


“Berisik! Kalau pun kalian hidup lagi, nggak akan mengubah kenyataan kalau kalian itu jahat. Sekarang, lihat awan yang ada di atas kalian!” seru Yumi dengan suara lantang.


Otomatis, seluruh pandangan mereka tertuju ke atas langit yang memperlihatkan gumpalan awan yang tebal itu.


Begitu pandangan Legend Aura teralihkan penuh ke langit, Black Aura dan Devil Mask melangkah bersamaan dengan senjata yang mereka genggam. Dengan kemampuan mata penghancurnya, Black Aura menyerang Legend Aura itu. Cara itu sangat efektif baginya yang tidak ingin bertarung jarak dekat.


Selain itu, tidak ada yang berubah dari Legend Aura yang telah dihidupkan kembali itu. Tubuh mereka lunak saat terkena serangan mata penghancur Black Aura.


Mumpung waktu yang diberikan Yumi masih tersisa sembilan menit, Devil Mask memanfaatkan dengan baik sisa waktu itu dengan menebas mereka semua dengan cakarannya. Saat giliran Yuuki tiba, tidak disangkanya, Huke menghalanginya. Aura itu menggenggam kuat lengan kanan Devil Mask dan keluarlah duri-duri raksasa dari lengan Aura bertopeng itu.


“Du-duri?” Devil Mask terkejut bukan main.


Black Aura tertegun melihat duri berwarna hitam itu. Mereka terlihat familiar di matanya. duri-duri itu, ia tahu siapa pemiliknya. Pemiliknya adalah salah satu Aura di Carnater yang bukan dari kelompok Legend Aura. Dia Aura dengan penampilan seperti hybrid. Rambutnya tajam seperti duri landak atau bulu babi. Cuma, Black Aura lebih mendeskripsikan rambut Aura itu dengan bulu babi.

__ADS_1


“Itu, kan… Punya Grimoire.” Celetuk Yumi takut.


Untung saja, hanya Huke yang berhasil mengalihkan perhatiaannya ke arah yang lain. Sisanya, melongo ke langit tanpa bersuara sedikitpun. Termasuk Yuuki sekalipun.


“Apa?! Cih! Aku tak bisa terus diam begini!” gerutu Jacqueline. Tanpa pikir panjang, gadis itu berlari kencang menyusul Devil Mask yang tak lama lagi akan diserang oleh Huke dengan duri esnya. Dia sama sekali tidak memperdulikan teriakan Yumi yang memintanya untuk berhenti.


"Sebenarnya, apa kemampuan Aura itu? Kenapa Black Aura sampai terkejut gitu?" gumam Jacqueline di saat berlari.


Tidak lama kemudian, Chloe memutuskan untuk ikut mengangkat kakinya sekaligus, membiarkan dirinya terlibat.


"Chloe! Mau kemana?!" teriak Rara.


"Astaga...! Jangan teriak!" sahut Yumi risih. Dia tidak ingin teriakan Rara mengganggu konsentrasi para Legend Aura itu. Tapi sayangnya, sudah terlambat. Teriakan Rara tadi sukses mengalihkan perhatian para Legend Aura.


"Sudah kuduga, mereka memang memiliki pengaruh besar terhadap Aura." Ujar Aurora, kemudian tersenyum.


"Wah, untung saja, ingatanmu tidak hilang." Sahut Yuuki sambil terkekeh.


"Cih, ingatanku tidak selemah daya tahan tubuhku."


"Jadi, kapan kita akan melawan?" tanya Dark Fire kemudian.


"Mohon bersabar, aku juga sedang mempertimbangkan kapan kita akan mengakhiri minggu ini. Terus terang, aku lelah. Makanya, kaliTunggu saja aba-aba dariku." Jawab Yuuki.


Di sisi lain, Huke sibuk melawan Black Aura. Devil Mask yang tadi melawannya, terpaksa mundur sebentar. Mengingat luka yang Huke berikan padanya sangat parah. Duri tadi telah membuat tangan kanannya mati rasa.


Trang!


Pedang Black Aura bergesekan sengit dengan duri Huke.


Huke mempercepat gerakan menebasnya. Tapi, Black Aura dengan mudahnya menangkis duri-duri itu. Black Aura hafal kemampuan duri yang terlihat tak bernyawa itu. Baginya, duri Grimoire itu seperti akar yang terus bercabang jika disentuh atau menyentuh sesuatu.


Ketika sedang menangkis, Huke dengan cepat mengubah duri itu menjadi es dan menusuk pundak Black Aura dengan benda itu. Sama seperti duri Grimoire tadi, duri es mengeluarkan cabangnya yang lain sehingga, memperparah luka Black Aura.


Dingin dan perih. Itulah yang Black Aura rasakan. Akan tetapi, rasa sakit yang diterimanya belum seberapa. Karena, Black Aura tahu kalau masih ada serangan lain dari duri es itu yang lebih berbahaya dari duri Grimoire tadi.


Namanya juga duri es. Otomatis, area di mana duri itu menusuk akan membeku. Bagian inilah yang patut diwaspadai Black Aura. Jika ada serangan lain yang sanggup memecahkan bagian tubuhnya yang membeku maka, saat itulah, bagian itu akan pecah bersamaan dengan es yang dipecahkan itu. Benar-benar kemampuan yang merepotkan.


"Black Aura! Di belakangmu!" seru Devil Mask menyadarkan Black Aura akan kepalan tangan ogre milik Dark Sport yang tak lama lagi akan mengenainya.


Black Aura menoleh pelan. Sayang, serangan Legend Aura itu terlalu cepat dan sulit untuk dihindari. Alhasil, Black Aura terpental jauh dan menghantam pembatas jembatan. Es yang membekukan area pundak sampai tulang belikat kanannya pecah.


"Ugh...!" Black Aura meringis menahan sakit. Aura itu terpaksa kehilangan tangan kanannya.


Devil Mask menggerutu kesal. Dia tidak bisa membantu Black Aura karena harus mengurusi Yui dan Dark Shadow. Lalu, Dark Flower? Aura berkekuatan bunga itu berlari ke arah Yumi dan hendak menghajar Yumi dan Rara.


"Black Aura!" panggil Chloe, berlari menghampiri Black Aura. "Kau nggak papa?"


Black Aura mencoba tersenyum seraya menjawab, "Ya, aku baik-baik aja."


"Haah... Kau memang dekat sekali ya, denhan luka. Heran aku." Chloe memandang heran sambil menggelengkan kepalanya.


Selain itu juga, aku merasa ada yang janggal. Tapi, apa ya?


"Black Aura, tolong pinjamkan aku senjatamu! Aku ingin membantumu!" pinta Chloe tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Nggak, kau sama Yumi saja. Legend Aura itu biar aku yang mengurusnya."


"Hmm, tapi, aku nggak gitu yakin dengan lukamu. Ah, sepertinya aku ada ide."


"Ide?"


"Ya. Sini-sini." Chloe menunduk pelan. Sedangkan Black Aura, dia menggeserkan tubuhnya agar lebih dekat dengan gadis itu dan mendengarkan semua rencananya.


"Bagaimana?" tanya Chloe sesudahnya.


"Hmmm, kau yakin bisa berhasil dengan cara itu?"


"Ya. Soalnya, aku merasa ada yang aneh. Tadi, aku juga sudah berdiskusi dengan Jacqueline dan Rara. Sisanya, kalian ikut alur saja." Jelas Chloe setelah itu menyengir lebar.

__ADS_1


"Begitu ya?"


Tidak hanya Chloe, ternyata, Jacqueline juga menjelaskan rencana yang sama pada Devil Mask yang tengah berusaha menstabilkan posisi berdirinya usai menabrak gerbong yang diangkut sebuah truk.


"Eh? Kau yakin?" respon Devil Mask setelah mendengarkan rencana Jacqueline.


"Yup!" kata Jacqueline.


Devil Mask terlihat meragukannya. Yah, meskipun begitu, mereka belum mencobanya. Oleh karena itulah, baik Devil Mask dan Black Aura, mereka sepakat untuk mengikuti rencana itu demi mengecohkan Legend Aura dan tentu saja, Yuuki.


“Kalian semua awas!!!”


“Heh?”


Semuanya spontan menoleh ke tempat suara teriakan itu muncul. Ternyata Rara! Tapi, ada


yang aneh. Meskipun bersalju, hawa di sekitar terasa sangat panas. Chloe dan Black Aura menoleh ke atas dan menemukan sejumlah bola api, duri-duri tanaman yang melayang, air yang membeku menjadi bola es, dan lima belas pasak panjang yang diciptakan dari bayangan.


"Kyaaaaa!" Rara berteriak lagi, menyadari kedua kakinya yang ditahan oleh tangan hitam yang muncul dari bayangannya sendiri. Tidak Cuma Rara, semuanya juga begitu. Kaki dan tangan mereka ditahan oleh tangan hitam yang berasal dari bayangan mereka sendiri. Ya, itulah kemampuan Dark Shadow yang memanipulasi bayangan. Dimana ada bayangan, di saat itulah Dark Shadow mulai bergerak.


Yuuki menyeringai. Betapa senangnya dia melihat ketiga Megaville dan teman manusia


mereka terjebak dalam keputusasaan. Wajah panik mereka adalah hiburan bagi


Yuuki.


“Tunggu apalagi? Serang semuanya!”


“Semuanya?" sela Huke.


"Ya."


Yuuki menjawab dengan menyunggingkan senyuman manisnya pada Aura itu. Seperti yang ia katakan, dia tidak akan ragu menghabisi siapapun yang menghalangi jalannya.


“Serang mereka!” tegas Yuuki yang disusul dengan serangan para Legend Aura yang


mengarah langsung pada lawan mereka yang berada di bawah.


Seluruh kekuatan Legend Aura itu digabung menjadi satu hingga menjadi bola yang


berisikan kekuatan elemen milik mereka semua.


“Gede sekali...” Gumam Jacqueline tersenyum ketakutan.


“Gimana cara kita kabur?” lanjut Chloe yang pundaknya bergetar hebat. Lagi-lagi, dia


dikalahkan oleh rasa takut.


“Huwwaaaa! Yumi!!" pekik Rara sambil memeluk Yumi yang panik menerima pelukan dari Rara.


"Ih! Jangan terlalu erat dong!" gerutu Yumi kesal.


“Aargh!”


Jacqueline dan Chloe menoleh bersamaan menanggapi suara seperti erangan rasa sakit di


dekat mereka. Benar saja, suara itu berasal dari teman Aura mereka, Devil Mask dan Black Aura. Dari tanah, muncullah duri-duri Grimoire yang menusuk mereka agar mereka tidak bisa bergerak. Kalau menanyakan siapa pelakunya? Dia ada di dalam lingkaran Legend Aura.


Aura dengan wajah yang manis seperti seorang gadis. Dia adalah Huke Metafora.


Setelah diselidiki dan diamati, akhirnya, Chloe menemukan jawabannya. Dia sudah mengerti


tentang kemampuan Legend Aura bernama Huke itu. Aura itu, bisa menyalin kekuatan para Aura yang dulunya pernah bertarung dengannya. Benar-benar di luar dugaan. Pantas saja, Huke mati ditangan Black Aura yang dibantu oleh Silentwave.


Kekuatan besar itu semakin mendekati mereka. Begitu Chloe mengedarkan pandangannya ke berbagai sudut jembatan yang luas itu, mustahil bagi mereka untuk lari. Karena, kaki mereka ditahan oleh kekuatan Dark Shadow.


Chloe menyeringai. Bersamaan dengan Jacqueline dan Rara. Entah apa yang mereka rencanakan itu. Sampai-sampai, mereka dengan santainya mengukir senyuman jahat. Berbanding terbalik dengan Megaville yang terlihat khawatir. Berhasil atau tidaknya rencana itu, ditentukan oleh mereka sendiri.


"Tinggal tiga meter lagi, teman-teman!" seru Jacqueline.

__ADS_1


"Tunggu, apa?! Tiga meter?!" Yumi terkejut bukan main. Tiga meter bukan angka yang sedikit bagi Yumi. Namun, kenapa para gadis itu justru menganggap remeh angka itu? Sebenarnya, apa maksud rencana mereka?


~


__ADS_2