
Rara melongo heran mendapati dua koper yang Minji letakkan di depan pintu kamar tidurnya.
“Minji?” dia memanggil nama kakaknya ragu-ragu.
“Hm?” Minji merespon tanpa memperlihatkan wajahnya.
Sedikit cerita mengenai beberapa jam yang lalu.
Sejak insiden yang terjadi pagi menuju siang sebelumnya, Hyori bercerita padanya lewat chat bahwa gadis itu menemukan Minji tengah menangis di kursi taman seorang diri. Saat ditanya penyebab kenapa Minji menangis, Minji malah mendorong Hyori sampai terpleset ke tanah. Kemudian, gadis itu berlalu membawa tangisan yang tidak diketahui alasannya itu.
Di café, Minji bergegas membereskan barang-barang seperti tas dan beberapa alat kosmetik lainnya. Setelah itu meninggalkan café.
Rara yang saat itu sedang berada di rumah Minji tengah memandang buku album SMP-nya. Tak lama kemudian, ia dikejutkan oleh suara pintu yang dibanting dari lantai bawah, lebih tepatnya ruang tamu karena saat itu Rara berada di lantai dua, di dalam kamar.
Cepat-cepat, Rara menghampiri suara hentakan kaki seseorang di tangga. Benar saja, pelakunya adalah Minji yang berjalan dengan menghentak-hentakkan kedua kakinya. Bukan hal baru lagi bagi Rara yang sudah terbiasa dengan hentakan keras tersebut. Rara menganggap, setiap kali Minji marah, gadis itu akan berjalan sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya. Namun kali ini, berbeda dari yang biasanya.
Wajah gadis itu menghadap ke tanah. Akan tetapi, tangan kanannya terlihat mengepal keras. Saat Minji melewatinya tanpa menyapa, Rara sekilas menangkap suara nafasnya yang terisak pelan. Lantas, Rara langsung menahan lengan gadis itu dan bertanya, "Kau kenapa?”
Akan tetapi, Minji masih terdiam. Dia tidak memberikan tanggapan apapun kecuali menghempaskan genggaman Rara dan membiarkan adiknya mematung memandang dirinya yang langsung mengunci pintu kamarnya.
Kembali ke detik sekarang dimana Rara masih terpaku dengan dua koper yang sudah Minji siapkan untuknya. Rara memandang heran pada kedua benda tersebut.
“Ini… Koperku. Apa yang kau lakukan pada koperku?” tanya Rara meminta penjelasan yang akurat pada Minji.
Minji yang sedari tadi membungkuk menyembunyian wajahnya akhirnya memperlihatkan wajahnya yang pucat serta kedua matanya yang sedikit membengkak karena menangis.
Rara tercengang mendapati penampilan kakaknya yang berantakan. Tidak biasanya Minji seperti ini. Apa yang baru saja terjadi padanya?
“Heh? Ada apa dengan wajahmu?!” seru Rara.
Minji masih saja tidak merespon. Dia hanya menyunggingkan senyum tipisnya lalu berdiri. Minji melangkah sedikit mendekati Rara yang terlihat mencemaskannya.
“Maaf, ya! Sebenarnya, aku nggak bermaksud mengusirmu. Tapi, aku sedang ada kerpeluan sekarang dan kau tidak boleh ikut campur untuk saat ini.” Katanya lembut. “Pergilah ke rumah Chloe dan menginaplah. Aku tahu, dia juga ingin bersama denganmu juga.”
“Tunggu dulu! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku untuk pergi, sedangkan di luar sedang badai salju? Di malam seperti ini juga, Chloe pasti sudah terlelap.” protes Rara.
“Situasinya begitu mendesak. Khususnya di dalam keluargaku. Maka dari itu, aku ingin kau pergi, Ra. Jangan khawatir, aku sudah memesan taksi siang tadi.”
“Mendesak? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Coba jelaskan, mana tahu aku bisa membantumu.”
“Nggak bisa. Ini masalah keluarga, kau tidak boleh ikut campur.”
“Oalah… Maksudmu, abangmu bakal menginap disini untuk beberapa hari?”
Minji mengangguk pelan, “Abangku dan pacarnya. Tak hanya mereka, ayahku akan menginap disini jadi… Aku tidak ingin kau mendengar percakapan antara ayahku dengan abangku. Karena aku tahu, kau ini type orang yang suka menguping.”
“Ah, nggak juga kok. Pas kebetulan saja aku begitu.” Rara tersipu malu sambil mengelus-elus pipi kanannya.
Minji menghela nafas lega lalu, memeluk gadis itu. “Jam delapan pagi, datanglah ke rumahku. Karena, ada yang ingin kusampaikan padamu.” Bisik Minji berlinang air mata.
“Eh? Besok? Kenapa nggak sekarang saja?”
“Itu karena… Taksinya sudah menunggumu dan aku nggak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu.” Minji melepaskan pelukannya kemudian menatap Rara.
Entah kenapa, Rara merasa ada yang aneh dari Minji. Akan tetapi, dia tidak bisa mengungkapkan keanehan tersebut. Kakaknya ini memang orang yang tertutup dan tidak seberangan mengutarakan isi hatinya pada orang lain. Sebagai seorang adik sekaligus sahabatnya, Rara hanya bisa mengiyakan kecuali kalau Minji mengizinkannya untuk
mendengarkan semua keluh kesahnya.
“Minji… Jangan bilang… Ini perpisahan?” tanya Rara ragu.
__ADS_1
“Nggak kok. Kita berpisah hanya sebentar saja. Aku harus mengurus pernikahan abangku yang akan dirayakan dua bulan lagi. Yah, itu karena aku sangat ahli di bagian desain jadi… Ayahku mengadalkanku untuk sementara.” Ungkap Minji dengan nada bicara yang santai.
“Begitu ya! Wah, jangan lupa ya, undang aku!”
“Pasti! Oh, ya!”
Tiba-tiba, Minji berlari ke dapur dan mengambil segelas susu hangat untuk Rara. “Sebelum pergi, minumlah ini! Untuk menghangatkan tubuhmu dari salju yang mengamuk di malam hari!” ucapnya disertai senyuman lebar.
Rara terkekeh dengan candaan kakaknya sampai tidak menyadari keanehan yang tadinya sempat terngiang di kepalanya.
Rara pun menerima segelas susu tersebut dan menenguknya sampai habis. “Hmm… Enak!”
“…”
Usai meminum segelas susu, Rara merasa ada yang janggal dengan penglihatannya. Pandangannya perlahan-lahan memburam tanpa sebab. Kedua kakinya melemas seakan mau jatuh. Wajah Minji yang berada tak jauh darinya ikut memburam hingga pada akhirnya, semua yang ia lihat benar-benar menghitam bersamaan dengan kesadarannya yang kian memudar.
~
“Jadi begitu… Kau sepertinya diberi obat tidur oleh kakakmu sendiri dan kau terbangun tiba-tiba di dalam taksi yang kakakmu pesan itu.” Black Aura menyimpulkan usai mendengar cerita dari Rara.
“Sepertinya… Tapi, kenapa Minji sampai melakukan hal semacam itu? Aku yakin, dia pasti berbohong soal abangnya yang mau menikah itu." Tukas Rara.
“Entahlah... Pasti ada sesuatu yang menimpanya tadi.” Chloe menambahi seraya berpikir.
“Bukannya siang tadi kalian ketemu, ya? Hyori cerita kalau kalian sempat bertatapan sinis.”
“Memang benar, tapi cuma sebentar. Setelah itu, kami didatangi pacarnya, Yohan." Entah kenapa, kali ini Chloe enggan membahas Yohan.
“Tunggu. Yohan mendatangimu? Ah! Kau ingat tidak kalau aku pernah bilang, pacar Minji punya hubungan dengan Legend Aura?” Rara tiba-tiba menepuk bantal kursi yang ia peluk setelah teringat akan sesuatu yang ternyata sangat penting namun sempat terlupakan olehnya.
Lantas, Chloe dan Black Aura terbelalak bersama. “Benar! Kami ingat!” seru mereka serempak.
“Boleh, boleh! Waktu itu, aku nggak sengaja menguping pembicaraan Yohan dengan seseorang lewat telepon. Saat itu, Minji sedang sibuk menyiapkan makanan di dapur. Jadi, Yohan punya kesempatan untuk keluar sebentar dan menelpon. Aku nggak sengaja mendengar pria itu menyebut beberapa nama yang aneh seperti ‘Dark Shadow’, ‘Dark Flower’, dan ‘Aurora’.
“Aku curiga, jadi kuputuskan untuk menguping seluruh pembicaraannya. Kalau nggak salah, dia pernah berbicara tentang wanita yang sedang ia cari. Namanya… Ah! Midnight.”
“MIDNIGHT?!” pekik Chloe tidak percaya.
“Sudah kuduga!” disusul Black Aura yang terlihat tidak terima.
“Memangnya, Midnight itu apa? Dia manusia ya?” tanya Rara heran.
“Iya. Dia adalah ibu dari Megavile. Jadi begini… Megavile dan Legend Aura itu berbeda. Untuk asal-usulnya, aku masih nggak tahu. Tapi yang jelas, kedua kelompok Aura itu berbeda dan tidak saling berhubungan. Nah, Midnight yang kau sebut tadi itu berhubungan erat dengan seluruh rangkaian masalah yang terjadi saat ini. Saat ini, kami sedang mencarinya.” Jelas Chloe.
“Begitu, ya? Baiklah, kembali ke topik sebelumnya, saat itu aku mendengar kalau Yohan berencana untuk ketemuan dengan seorang gadis lain bernama Emma. Aku nggak tahu siapa Emma. Yohan juga menyuruh Emma untuk memberi perintah pada Aurora, Dark Flower, Dark Sport untuk mengincar Black Aura, Devil Mask, dan Yumi apa begitu.
"Dia juga menyebut namamu, Chloe! Makanya waktu itu aku sangat mencemaskanmu. Aku benar-benar nggak nyangka kalau Yohan ini punya rahasia gelap.” Beber Rara seperti larut
dalam ceritanya sendiri.
“Lalu, kenapa kau tidak bilang pada kakakmu kalau pacarnya mencurigakan?” tanya Black Aura kemudian.
“Aku sudah memberitahunya. Tapi, kelihatannya Minji tidak mendengarkanku. Karena itulah, aku memberitahukanmu. Dan juga, selepas pulang dari café tadi… Nggak biasanya Minji pulang sendirian. Biasanya, dia ditemani Yohan. Tapi siang itu, tidak.
"Aku bertanya padanya, 'dimana si Yohan?' dan dia tidak menjawab. Minji seperti mau menangis. Sumpah, Chloe! Aku benar-benar bingung dengan semua ini! Sebenarnya ada apa?! Aku takut jika terjadi sesuatu yang aneh pada Minji.
“Meskipun aku jengkel padanya, tapi dia tetap kakakku. Dia selalu menjagaku, menghiburku, dan menjadi sandaranku di kala aku sedih. Dia kakak yang baik.” Ucap Rara yang kali ini terdengar seakan dirinya sungguh-sungguh mengakui Minji sebagai kakaknya yang baik.
Mendengar ungkapan Rara tadi, membuat Chloe jadi terdiam. Tidak diragukan lagi, bahwa Rara memang sudah sepenuhnya menganggap Minji sebagai kakaknya dan Chloe tidak memiliki hak untuk marah pada Minji lagi.
__ADS_1
"Jadi... Apa rencanamu besok?" Black Aura bertanya sekaligus mengalihkan mereka dari suasana canggung yang hendak menguasai mereka.
Rara mengangkat kepalanya sambil berpikir. "Benar juga ya! Hmmm, sebenarnya... Aku mau menginap di rumahmu, Chloe. Itu pun kalau kamunya nggak keberatan."
Chloe tercengang lalu tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja! Aku sama sekali nggak keberatan kok! Malah senang!"
"Beneran?! Thank you! Untuk rencanaku besok, aku akan ikut kalian."
“Oh, itu artinya, kau nggak keberatan dong membantu kami mencari Aoi.” Sahut Jacqueline yang tiba-tiba muncul bersama Yumi. Mereka berdua membawa dua piring pancake yang masih hangat.
“Eh? Sama sekali tidak. Justru, aku senang karena bisa mendapatkan banyak pengalaman." Balas Rara berusaha menyeimbangkan antara senyuman dan raut terkejutnya.
Jacqueline tak lagi terlihat curiga pada Rara. Dia malah memuji gadis itu disertai tepukan tangannya. “Aku suka alasanmu. Perlu diingat juga, tidak ada kata mengeluh saat berpetualang. Kau juga tahu Aura, kan?”
“Tahu. Black Aura dan cewek berkacamata itu, Aura, kan?"
"Seratus." Puji Chloe.
"Selain itu juga, besok pagi, aku ingin meminta tolong pada kalian semua untuk menemaniku ke rumah Minji. Aku yakin, malam ini dia pasti mengunci diri di dalam rumah." Jelas Rara. "Ah! Aku juga mau menghubungi Yohan besok. Tapi, kurasa, dia nggak terlau penting."
“Nggak. Yohan juga penting. Kau yang bilang sendiri, kan?” Black Aura menimpali.
Mengetahui Black Aura yang menanggapi ucapannya, Rara mengangguk malu-malu.
“Oh, begitu ya? Wah kita semua punya tujuan masing-masing ya!" celetuk Yumi terkekeh pelan.
"Mencari Aoi, Midnight, Minji, terakhir Yuuki. Orang itu harus dibunuh secepatnya.” Sela Devil Mask yang sudah lama duduk di samping Rara dan membuat gadis itu terkejut.
"Lah? Kenapa orang bernama Yuuki itu harus dibunuh?”
“Nanti juga tahu." Black Aura membalas diiringi dengan senyuman tipis miliknya.
“Oke! Jadi, semuanya sepakat ya, mau kerja sama?" celetuk Chloe. “Oh, ya! Kau masih menyimpan nomornya, kan? Sebaiknya, kau hubungi dia besok pagi saja. Kalau malam-malam begini, dia pasti sudah terlelap.”
“Iya. Minji sudah melewati hari yang melelahkan. Tapi aku heran, masa diantara kalian tidak ada satupun yang memperhatikan Minji dan… Tunggu! Aura-aura ini berpihak pada kalian, kan?” tanya Rara sekedar memastikan.
Devil Mask mengangguk pelan kemudian, menjawab.
"Tenang saja, kami berada dipihak kalian dan kami nggak berniat membunuh manusia yang ada di dunia ini kecuali…”
“Pria jepang bernama Yuuki itu.” Lanjut Black Aura.
Chloe menghela nafas lalu, tersenyum. Senang rasanya melihat kehadiran Rara ini dapat menarik ketiga Aura itu untuk berkumpul di ruang tamu. Dan lagi, masalah yang dialami gadis itu begitu tiba-tiba dan sepertinya berkaitan juga dengan hilangnya Aoi.
Mengingat masalah mereka juga yang semakin lama semakin memanas. Chloe rasa, dengan kehadiran Rara dan terjalinnya kerja sama yang baik, petualangan mereka akan menjadi sangat seru. Chloe bertanya-tanya, kapan semua masalah ini akan berakhir dan bagaimana ending-nya nanti?
Menyadari jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam lewat, mereka semua memutuskan untuk beristirahat. Namun sebelum itu, Devil Mask dan Black Aura membantu Rara mengangkat koper dengan dipandu oleh Chloe menuju kamar yang akan ditempati Rara nanti. Sementara, Jacqueline dan Yumi menyempatkan diri untuk menemani Rara yang telah dipersilahkan untuk menyantap pancake buatan mereka. Suasana mereka benar-benar harmonis.
Dari kejauhan, Chloe dan Black Aura tersenyum mengamati momen yang secara tidak langsung menghangatkan dada mereka dan membuat mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
“Tidurlah… Besok, akan ada banyak hal yang menjadi tantangan kita selanjutnya.” Ucap Black Aura selang beberapa menit sebelum gadis berambut pirang itu memejamkan matanya.
Black Aura duduk di samping Chloe yang tak lama lagi akan dikuasai oleh rasa kantuknya. Di dalam ruangan yang dingin dan gelap karena lampunya dimatikan oleh pemiliknya, Black Aura merasa nyaman dan tentram menemani Chloe. Seumur hidupnya, memandangi gadis yang bisa dibilang- dia suka-sama halnya dengan meminum secangkir kopi panas sembari menunggu hujan deras reda.
Black Aura sangat suka memandang iris biru langit milik Chloe. Warna yang menenangkan.
“Good night, Black Aura.” Bisik Chloe.
“Good night, Chloe." Balas Black Aura.
__ADS_1
~