
~ Happy Reading ~
Setelah meninggalkan Chloe dan Black Aura dengan sengaja, Aoi pergi mencari Megawave. Dia ingin memberitahu keberadaan manusia yang wajahnya mirip sekali dengan mendiang pacar Megawave. Hebatnya, namanya juga sama. Chloe.
Kalau nama panjang pacar Megawave, Park Chloe. Nama panjang gadis manusia itu masih dipertanyakan hingga saat ini.
Aoi berjalan sedikit tertatih-tatih karena luka hasil serangan Black Aura masih berbekas di sekitar tubuhnya. Sialnya lagi, Aura itu tidak memiliki portal yang dapat mempermudah dirinya sampai ke tempat Megawave.
“Aku yakin! Pasti dia adalah Chloe temanku! Aku yakin, di tubuh gadis itu ada jiwa Chloe di dalam sana!” katanya penuh keyakinan.
Ketika berjalan, telinga kucing Aoi menangkap suara besi yang jatuh dari arah timur.
“Besi jatuh? Padahal nggak ada angin,” Aoi bergumam heran. Aura itu memutuskan untuk menghampiri tempat asal bunyi itu muncul.
Posisinya saat ini berada di kota yang rata-rata bangunannya sudah tak bisa dibilang sebagai gedung lagi. Semuanya hancur. Bahkan, café yang sering Aoi kunjungi bersama kelompoknya juga hancur. Hangus tak berisisa apapun. Keberadaan para Aura yang menempati kota itu hanya tersisa kenangan sekarang.
Aoi segera berlari menghanmpiri benda itu. Sesampainya di sana, dia menemukan Megawave yang berusaha meraih batang besi yang menggelinding ke depan. Penampilan abangnya berantakan. Darah merah mengalir di sekitar tangan kanannya. Topeng visornya juga retak. Apa sebelumnya dia bertarung? Tapi dengan siapa?
Saat diperhatikan lebih teliti lagi, Aoi terkejut. “Merah?”
Tanpa pikir panjang, Aoi berlari menghampiri Megawave. Kucing es itu memanggil nama kakaknya dengan suara lantang.
“Kenapa teriak-teriak?” tanya Megawave datar menyambut kehadiran Aoi.
“Habis bertarung?” balas Aoi malah balik bertanya.
Megwave menggeleng, “Habis berenang.”
“Tapi kok luka?”
“Nggak usah pura-pura bodoh deh!” Megawave risih dan main berlalu begitu saja.
Aoi tak menyerah. Dengan sengaja, dia menarik tangan kanan Megawave yang terluka hingga kakaknya spontan mengaduh kesakitan.
“Aduh! Sakit!” Megawave juga spontan menghempas tangan Aoi ke udara.
Aoi terdiam dengan raut khawatirnya. “Kenapa bisa luka? Habis bertarung melawan siapa?”
__ADS_1
“Midnight.”
“Apa?! Dia datang lagi ke sini? Ngapain? Jangan-jangan, luka di lenganmu karena dia lagi! Tapi, kenapa merah warna darahmu? Bukannya ungu?”
“Lukaku buka Midnight penyebabnya. Ada manusia lain yang ternyata merekam aksi kami dan langsung ketahun oleh Midnight. Mereka laki-laki dan perempuan,” jelas Megawave. Suaranya terdengar tenang kali. Megawave pun melanjutkan kalimatnya, “Aku peringatkan, terutama untukmu yang bandel banget!” sambil menarik telinga Aoi. “Jangan cari manusia itu. Aku memperingatkanmu bukan karena kita harus tunduk pada manusia itu. Sebisa mungkin, kita hindari mereka.”
“Kalau Midnight?” Aoi menepis tangan Megawave, menjauh dari telinganya.
“Kurasa, dia pengecualian. Dia sudah lama tinggal di sini ketimbang kita. Jadi, pengetahuannya tentang dunia kita bisa dibilang dia paling menguasai. Intinya, yang kumaksud adalah manusia baru itu. Aku memperbolehkanmu berteman dengan manusia yang berpihak pada Midnight.
“Kenapa harus Midnight? Bukankah kau tahu sendiri? Yang membuat Carnater hancur kan karena ulahnya Megavile? Dan Mdinight punya hubungan erat dengan kelompok itu. Dia bahkan yang memisahkan kita dari Afra! Sekarang, aku jadi nggak bisa lagi ketemu pacarku!” mata Aoi berkaca-kaca ketika mengungkapkan seluruh kekesalannya. “Dan sekarang, kau seenak jidatmu aja bilang kita boleh berteman dengan mereka! Beh! Aku mending mati daripada berteman dengan musuh yang sudah jelas-jelas menimbulkan kekacauan sebesar ini!”
Megawave tidak merespon. Dia paham akan perasaan adiknya. Namun, di lain sisi, dia juga mulai mengerti siapa pelaku dibalik kekacauan di dunianya. Midnight dan kelompoknya tidak bersalah. Mereka justru tidak tahu apa-apa dan tahu-tahu terlibat dalam perang. Dan sekarang, Kelompok itu harus kembali dengan perasaan yang diselimuti rasa bersalah.
“Misterius. Kau pernah mendengar istilah itu, kan?”
“Nggak ada. Aku Cuma mau bilang, menurut kacamataku mereka…”
“Kau nggak pakai kacamata, Meg.” Potong Aoi datar.
“Itu perumpamaan. Tolong, hal sekecil ini saja kau tidak paham. Bagaimana dengan hal besar? Aoi, coba kutanya! Untuk apa Midnight dan kelompoknya membuat kekacauan ini? Untuk apa mereka datang ke sini dengan jumlah anggotanya yang semakin terbatas. Aku bukannya membela mereka tapi, mengetes jalan pikirmu yang pendek,” jelas Megawave, menahan kekesalannya.
Aoi menghela nafas berat. “Terserahmu… Aku bosan mendengar pertanyaan seperti itu. Lama-lama, kau terkesan membela mereka, Meg.”
“Sudah kubilang aku nggak bela mereka!” tegas Megawave. “Baiklah, akan kuberitahu siapa pelakunya. Tadi aku bertarung melawan Midnight dan aku mendengar semua pembicaraannya. Pelakunya adalah Legend Aura. Mereka sekarang ada di dunia manusia. Kemungkina besar, mereka nggak akan kembali ke dunia ktia sebab, mereka sedang mengalami masalah disana. Dan harapanku, mereka nggak seharusnya datang ke sini!”
“Kenapa?”
“Ada manusia di dunia kita.”
“Cih! Pengecut! Udah buat kekacauan malah ditinggalin gitu aja!” gerutu Aoi kesal.
Seperti biasanya pikirannya pendek sekali. Batin Megawave, geleng-geleng kepala melihat Aoi yang kekesalannya berpindah dengan cepat ke Legend Aura.
__ADS_1
“Tunggu dulu…!”
Nah, ada apa lagi sekarang? Megawave masih diam memperhatikan Aoi.
“Jadi, itu alasan Midnight?”
Megawave mengangguk pelan, “Kau sudah mengerti sekarang?”
“Ya.”
“Baguslah. Kau tahu, Aoi? Kau dan Afra itu saling mengisi. Perpisahan ini tak akan lama kok. Kalian pasti bakalan ketemu lagi mungkin dengan cara yang berbeda. Afra itu adik kandung Midnight. Kau seharusnya maklum. Apapun Midnight lakukan demi keselamatan adiknya,”
Megawave menunduk. Memandang wajah adiknya yang sembab. Aura itu mengusap puncak kepala Aoi dengan lembut, berharap perlakuannya tersebut bisa meringankan sedikit beban rindu yang Aoi tanggung selama ini.
“Kalau Chloe? Apa kau sudah menemukan siapa pelaku yang membunuh pacarmu, Meg?”
Megawave mengangguk sebagai jawaban. Meskipun nyatanya dia merasa sakit setiap kali mengingat nama mendiang pacarnya, sebagai saudara yang tertua kedua, Megawave harus kelihatan tegar di depan adik-adiknya.
“Bukan anggota Midnight intinya. Jangan bilang, kau menuduh salah satu anggotanya lagi?”
Aoi tertegun. Mengingat akan dirinya beberapa menit yang lalu. Dia menuduh Black Aura sebagai pelakunya. Dan sekarang, begitu tahu kebenarannya, Aoi merasa telah melakukan kesalahan besar. Memfitnah orang yang jelas-jelas tidak melakukan hal keji pada pacar kakaknya.
Selain itu, ada Chloe dari dunia manusia. Mumpung ingat!
“Meg! Tadi aku ketemua manusia! Dia mirip sekali dengan Chloe pacarmu! Bahkan namanya juga sama, Chloe!” serunya lantang, nyaris membuat Meg terkena serangan jantung.
Mata violet Megawave mengerjab-ngerjab tak percaya. “Beneran?”
“Iya! Jangan-jangan, Chloe pacarmu bereinkarnasi jadi Chloe pacar Aura lagi!”
“Apa? Aura punya pacar?” Megawave semakin tidak percaya. Namun, hatinya merasa senang begitu tahu ada manusia yang mirip sekali dengan pacarnya. Hal itu membuat Megawave semakin percaya akan keberadaan reinkarnasi yang terkadang suka ia ragukan keasliannya.
“Semoga saja, Chloe itu memang benar-benar pacarmu, Meg! Biar triple lagi kayak dulu!” celetuk Aoi kembali bersemangat.
“Ya, aku berharap begitu…”
~
__ADS_1