
“Ada apa, Grimoire?” tanya Captain mendapati Grimoire yang berhenti mendadak seperti baru merasakan sinyal buruk. Aura duri itu menoleh ke kanan kemudian ke atas. Seakan mencari sumber asal sinyal tersebut.
“Nona…” lirih Grimoire.
Dari luar, memang Grimoire tampak datar tanpa emosi. Namun, pergerakannya termasuk jari jemarinya mengisyaratkan bahwa dirinya sedang panik saat itu.
“Ada apa dengan Asoka?” sambar Captain tanpa memperdulikan langkah Aoi dan Jacqueline yang kian menjauh lantaran tidak menyadari bahwa Aura yang berjalan di belakang mereka berhenti untuk sesaat.
“Ada yang menyerang nona.” Grimoire menoleh ke kiri.
Jarak mereka kini bisa dikatakan lebih dari 10m. Grimoire bisa saja menggunakan portal untuk menyelamatkan dirinya dari perasaan tidak mengenakan soal Asoka. Grimoire menatap Captain intens.
“Kurasa, manusia yang kita cari ada di istana nona.” Ujar Grimoire yakin.
“Benarkah? Kalau begitu, kita langsung kesana saja! Sebelum Asoka terluka parah!” seru Captain bersemangat namun, semangat tersebut dengan cepat padam ketika dirinya mendapati sepasang remaja itu yang langkahnya sudah mencapai jarak lebih dari 6 m dari tempat dia berdiri.
“Astaga… Aku harus apa ya, agar mereka mau mendengarkanku? Sumpah, manusia memang menyusahkan!” keluh Captain.
Aoi dan Jacqueline asyik berbincang berdua diiringi gelak tawa receh mereka. Yah, membahas sesuatu yang tidak dimengerti para Aura.
Selama perjalanan, Captain merasa kesal akan tingkah laku pasangan yang hobi tertawa itu. Kala ia berusaha untuk fokus mencari manusia yang tersesat itu, pikirannya selalu teralihkan oleh lelucon yang dilontarkan Aoi hingga membuat tawa Jacqueline meledak sejadi-jadinya. Yang lebih kesalnya lagi, mereka kebal. Sudah diberitahu dua kali untuk diam masih ada saja bahan yang mereka bicarakan. Ah, ngurusin dua manusia saja sudah capek. Belum lagi ngurus yang hilang itu.
Kira-kira, Aura sama Chloe baik-baik aja nggak ya? Sebenarnya aku penasaran sama hubungan mereka? Captain membatin dengan raut layaknya seorang detective.
“Masa sih? Wah kalau aku jadi kau, aku lebih baik kunci rumah daripada berhadapan dengan pembunuh yang terobsesi dengan rambut perempuan. Ngeri nggak sih?” celetuk Jacqueline menanggapi cerita horor Aoi yang berasal dari film yang ia tonton beberapa hari yang lalu bersama bibinya.
Keduanya tampak akrab. Merasa seolah tidak pernah mengalami cekcok apapun. Mungkin, mereka sedang berusaha membangun ikatan yang kuat agar menjelang pernikahan mereka nanti, hidup mereka akan terus disertai oleh keharmonisan. Itulah salah satu mimpi Aoi yang saat ini sedang dalam masa proses.
“Makanya, kalau mau keluar, hit me up dulu!” ujar Aoi santai.
“Ya, nggak mungkin jugalah aku menelponmu di saat kau sedang sibuk. Nyebelin gini seenggaknya aku paham dengan kesibukanmu!” sewot Jacqueline tak lama kemudian terkekeh kecil. “Kau lucu ya! Aku beruntung punya pacar semanis dan penuh perhatian sepertimu. Hahaha! Berarti, tinggal Chloe yang masih single yah!”
“Iya. Aku harap sih, dia nemu pacar yang jauh lebih baik. Seenggaknya lebih baik dari aku. Kau tau sendiri kan kalau Chloe itu agak susah deket-deketan sama orang lain. Kayak ada dinding pemisah gitu.”
“Hmm… Gimana kalau Black Aura? Sayang sih, dia bukan manusia. Kalau manusia, auto mesra-mesraan dua orang itu. Ish! Aku tuh pengen banget liat Chloe digodain, di gombal… Pengen banget deh liat ekspresi malunya!” Jacqueline menggeleng-geleng kepalanya semangat.
“Kalau soal gombal, kurasa Morgan ahlinya. Selain dekat sama Black Aura, Chloe juga dekat sama Morgan. Morgan juga romantis-lah…” tutur Aoi. Pandangannya menghadap ke depan sambil sesekali melihat jam.
“Morgan? Aku belum kenalan sih sama dia. Memangnya, dia tipe yang romantis banget yah? Kalau iya, kenapa nggak jodohin aja si Chloe sama Morgan? Mereka lumayan dekatkan? Kemarin yang waktu ditinggal dua bulan sama Black Aura, itu gara-gara Chloe deketan sama Morgan, kan?”
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, topic mereka berujung membahas Chloe dan kejadian dua bulan yang lalu. Dan, Aoi yang pada awalnya kurang nyaman membahas topic tersebut, lama-kelamaan larut hingga mereka lupa kalau di belakang ada sosok yang mengikuti mereka dengan kedua tangannya yang terkepal.
“Iya. Kalau kulihat sih, Chloe lebih senang sama Black Aura. Yah, tinggal bagaimana cara mereka mengatur ikatan mereka. Kau tahu bukan? Kalau Chloe sebenarnya bingung dengan ikatan mereka. Teman, bukan. Sahabat, masih bingung. Pacar, lebih bingung lagi. Rasanya, berteman dengan makhluk fantasi itu bakal membingungkan otak manusia dan makhluk fantasi itu.” Beber Aoi semakin larut.
“Ah! Aku pernah baca beberapa novel fantasi. Rata-rata, perempuan yang menjalin ikatan dengan orang dari dimensi lain, palingan Cuma sebatas sahabat doang.” Komen Jacqueline.
“Ada nggak sih yang sampai nikah?”
“Beda. Itu kalau si tokoh utama tidur dan menemukan dirinya berada di tubuh orang lain. Apa ya? Transmigration? Semacam itulah!”
“Kalian berdua mau sampai kapan ngobrol terus, HA?!”
Seruan keras yang berasal dari belakang mereka sontak membuat pasangan itu melonjak kaget. Pundak mereka auto bergetar mendengar amarah yang dilontarkan oleh Aura berambut ungu, kawannya Black Aura.
Captain memandang mereka dengan tatapan ngeri. Tangan kanannya menggenggam tongkat dengan mahkota berbentuk hati yang sudah siap ia layangkan ke kepala pasangan itu masing-masing. Ups, tampaknya, kenyataan yang ditulis di buku temuan Chloe berbanding terbalik dengan kenyataan yang mereka lihat kali ini. Aura seperti Captain justru memiliki emosi yang bahkan pemiliknya sendiri masih dalam tahap belajar mengontrol emosinya.
“Ini peringatan ketiga! Kalau kalian melanggar lagi, mau nggak mau aku akan membunuh kalian!” ancamnya yang langsung dipatuhi oleh Jacqueline dan Aoi. Pasangan itu berlari terbirit-birit menjauhi Captain dan berjalan mendekati Grimoire yang tengah menunggu kehadiran mereka sambil membuka portal menuju istana Asoka.
Captain menghela nafas seberat-beratnya. Bukan maksud menakuti mereka, hanya saja… kalau tidak diperlakukan tegas, maka manusia itu akan seenaknya berbuat sesuatu di dunianya. Kalau saja bukan manusia, sudah Captain bantai habis-habisan orang yang tidak mau mendengarkan ucapannya meski hanya satu kalimat saja.
“Grimoire, ayo!” ajak Captain tanpa pikir panjang.
Grimoire mengangguk tersenyum. Dia menggeserkan badannya membiarkan Captain masuk lebih dulu ke dalam portalnya. Sementara, untuk pasangan itu, Grimoire tatap sejenak. Ada yang ingin ia katakan sebelum memasuki istana Asoka.
“Astaga… Kenapa mereka kejam sekali?” gumam Jacqueline heran.
“Hahaha…” Aoi hanya membalas gumaman Jacqueline dengan tawa kakunya sebelum akhirnya mereka mendengarkan rentetan aturan yang Grimoire jelaskan pada mereka.
~
Shizukana Aoi.
Dia bukan sahabat Chloe maupun kekasih Jacqueline. Dia bukan Shouta Aoi pengisi suara sekaligus penyanyi lagu Jepang. Dia adalah Aura yang saat ini berstatus sebagai musuh Black Aura namun memutuskan untuk mengubur niat balas dendamnya sedalam mungkin sejak kehadiran gadis dari dunia luar yang wajahnya sangat familiar di matanya. Wajah gadis itu tidak begitu beda dari wajah gadis elf yang sudah lama meninggal.
“Aoi?” Chloe melongo setelah Aoi memperkenalkan dirinya. Sempat terpikirkan di benaknya kalau Aoi yang ada di depannya adalah diri Aoi sahabatnya yang lain. Sekedar info, nama panjang Aoi sahabat Chloe adalah Rei Aoi.
“Iya… Itu namaku.” balas Aoi tersenyum tipis.
Dengan kedua kakinya yang gemetaran menahan sakit, Aoi berusaha mati-matian berdiri hanya demi memandang wajah Chloe dengan teliti. Wajah gadis itu sangat familiar sampai-sampai membuatnya ingin meluapkan kesedihannya sewaktu ditinggal pergi gadis elf itu.
__ADS_1
Terlalu fokus pada wajah Chloe, tanpa sadar tangan kanannya bergerak dan tak lama lagi akan menyentuh pipi Chloe. Sebelum hal itu terjadi, Black Aura dengan segera menepis tangan tersebut. Ups, sudah beda dunia pun rasa cemburunya masih sama seperti di bumi.
Black Aura melayangkan tatapan tajam sekaligus tak senang melihat Chloe, gadis yang ia cintai itu disentuh orang lain.
“Jangan sentuh dia!” katanya dingin.
Aoi balas menatap tajam ke arah Black Aura sambil mengelus-elus tangannya yang memerah. “Siapa juga yang mau merebut pacarmu!”
Di luar situasi mencekam itu, Chloe tampak biasa saja dan bingung dengan ucapan Aoi yang menganggap dirinya hidup lagi. Memangnya, siapa yang mati dan bereinkarnasi menjadi dirinya?
“Hmm… Maksudmu apa? Apa wajahku ini terlihat mirip dengan orang yang kau kenal?” tanya Chloe penasaran. Ekspresi penuh tanda tanya itu membuat Aoi terenyuh. Hatinya sesak memandangnya. Di lain hal itu, Aoi merasa gemas dan ingin sekali mencubit pipi Chloe. Andai saja Black Aura tidak ada disampingnya, pipi itu sudah Aoi serbu dengan cubitan gemasnya.
“Ya. Wajahmu mirip sekali dengan pacar kakakku. Sayangnya, dia sudah lama meninggal.” Tuturnya.
Black Aura terbelalak. Chloe apalagi walau nyatanya dia tidak tahu apa-apa.
“Mati? Kapan?” Black Aura bersuara kali ini.
“Sejak perang itu muncul. Aku yakin, kau-lah yang membunuhnya, kan?” tuduh Aoi sinis. Bola mata birunya menyala seakan memancarkan api kebencian terhadap Black Aura yang sebenarnya tidak melakukan tindakan keji tersebut pada kekasih Megawave.
Black Aura hanya diam menahan emosinya. Kalau bukan karena Chloe, emosi yang seharusnya menjadi ledakan yang ganas terpaksa ia jinakkan. Black Aura menghela nafas berat. Yah, terserahlah! Hidup-hidup dia.
“Bukan saatnya saling menuduh. Kita semua punya masalah masing-masing, jadi mohon kerja samanya, ya!” ucap Chloe berusaha menengahi kedua Aura itu disertai senyuman lebarnya. Berharap sekali mereka berdua mau mengerti situasi saat ini.
Aoi tertegun. Pandangannya terpaku pada senyuman Chloe yang langsung membuat hatinya merasakan rindu yang berat. Dirinya seolah melihat sosok gadis elf itu tapi dengan penampilan yang berbeda. Gadis elf itu memiliki rambut yang panjang. Sedangkan Chloe memiliki rambut pendek pirang. Keduanya sama-sama pirang ditambah dengan iris mata mereka yang berwarna biru.
Sebab itulah, Aoi mengira kalau gadis elf yang mati itu bereinkarnasi menjadi Chloe. Ya, kita lihat sajalah apakah gadis elf itu memang asli reinkarnasi menjadi Chloe atau dirinya memang sudah tenang di alam sana.
“Jadi, Aoi… Siapa nama cewek itu?”
Sebelum menjawab, Aoi menarik nafasnya terlebih dahulu. “Namanya… Chloe.”
“Haa…?”
Chloe menganga tidak percaya untuk kedua kalinya. Lagi-lagi, denyut jantungnya dibuat berdisko ria di dalam rongga dadanya. Wah, semakin banyak terkejut, semakin sehat pula jantungnya.
Chloe mematung, syok. Kalau dalam dunia anime, gadis itu digambarkan mematung dengan sekujur tubuhnya berwarna putih layaknya patung yang dipahat di beberapa tempat bersejarah. Patung-patung itu rata-rata berwarna putih, kan?
Menanggapi reaksi Chloe, Black Aura hanya bisa geleng-geleng kepala. Setelah itu, menepuk pelan jidatnya.
__ADS_1
Pantas saja dia mengenalku! Batin Chloe syok.
~