
Jam tangan midnight sekarang menunjukkan jam sembilan malam.Yang mana menjelaskan diwaktu tersebut, Black Aura Reverse itu belum menunjukkan kekalahan atau kondisi yang menjelaskan bahwa Aura itu kelelahan.
Black Aura dan Chloe yang sudah bekerja sama, sama sekali tidak mengeluh melainkan mereka sangat menikmati momen-momen tersebut.
Kali ini, sebelum ujung pedang Black Aura Reverse itu menusuk punggung Chloe, Black Aura dengan cepat menendang wajah kembarannya yang disusul dengan Chloe yang berpindah tempat dengan cepat di belakang Black Aura Reverse itu. Tanpa pikir panjang, Chloe ikut menendang kepala kembaran pacarnya hingga terlempar ke tempat yang lebih jauh. Tak sampai disitu, Chloe dan Black Aura kembali bertelportasi. Kali ini, mereka mengandalkan kemampuan fisik mereka ketimbang menggunakan senjata.
“Rasakan ini!” seru Chloe bersemangat sambil menarik kerah jaket Black Aura Reverse itu, kemudian melayangkan tinjuan beruntun ke wajahnya.
“Menghindar Chloe!”
Black Aura membanting palunya tepat ke bagian perut kembarannya bersamaan dengan Chloe yang menglompat ke belakang.
“Fyuh, nyaris saja! Kerja bagus, Aura!” puji Chloe usai menyeka keringatnya.
“Kau juga!”
Dari kejauhan, Midnight diam-diam memperhatikan Black Aura dan Chloe yang bekerja sama melawan Black Aura yang berubah ke bentuk Reverse. Sungguh di luar dugaan, serangan mereka berdua mampu melemahkan kekuatan Reverse itu sampai-sampai wujud monster dari kembaran Black Aura perlahan-lahan menghilang. Juga hujan pedang dan laser itu perlahan-lahan berkurang jumlahnya.
“Hah… Jadi kangen masa lalu,” gumam Midnight. Wanita itu mengangkat boomerangnya. Matanya tertutup sebelah karena Midnight ingin memastikan arah dimana boomerang itu akan melukai Black Aura Reverse tersebut. “Semoga kena…” Midnight pun melempar senjatanya tanpa suara.
Ketika Black Aura Reverse itu berusaha untuk bangun karena merasa dirinya sulit dikalahkan, boomerang Midnight dengan cepat menebas punggung Aura itu. Black Aura dan Chloe tidak terkejut lagi melihatnya. mereka tahu pemilik dari senjata itu. Karena itulah, Chloe yang awalnya hendak menyerang berubah pikiran untuk tidak menyerang melainkan menyerahkan tugasnya pada Black Aura. Sebenarnya, rencana ini sudah lama mereka persiapkan. Hanya saja, Black Aura ragu. Karena kali ini, yang harus dikorbankan adalah Chloe.
Gadis itu dengan percaya dirinya meminta Black Aura untuk menebasnya kemudian memindahkan lukanya itu pada Black Aura Reverse. Dengan begitu, Aura Reverse itu kemungkinan besar akan mati karena sudah tak sanggup lagi menanggung rasa sakit yang lebih nyata.
“Ayolah! Nggak papa! Aku percaya kok, kau nggak akan membunuhku. Black Aura pasti punya banyak cara menyelematkanku. Makanya, aku nggak ragu,” tutur Chloe saat itu.
Black Aura menghela nafas berat. “Oke. Tapi kau jangan menangis,” katanya bimbang.
“Nggak kok. Aku yang sekarang kan udah kuat! Aura, kau harus percaya padaku juga!” balas Chloe.
Black Aura terkekeh, “Hahaha, iya… Aku percaya kok.”
__ADS_1
Di liar lingkarang Cjloe dan Black Aura, Blqck Aura Reverse itu menyeringai. Ini kali pertamannya dia mendapatkan serangan yang penuh akan warna itu. Rasanya seperti baru menemukan seusuatu yang segar.
Meskipun dirinya hanya sekedar tiruan bukan asli ciptaan dari perasaan Carmine. Black Aua Reverse itu memiliki setidaknya beberapa ingatan yang selama ini Black Aura asli alami. Salah satunya adalah ingatan masa lalu nya dimana Black Aura itu elalu menghadapi suatu pertarungan itu seorang diri. Dia tidak pernah melibatkan orang lain atau bahkan dirinya juga tidak senang apabila ada orang lain yang berusaha melibatkannya dalam konflik mereka.
Yah, perasaan itulah yang Carmine dan Midnigt alami di dunia nyata. Mereka berdua tidak salah apa-apa. Akan tetapi, ada orang lain yang memiliki masalah dan berusaha menyeret mereka ke masalah tersebut.
Black Aura Reverse itu mengepal keras tangannya. Entah kenapa, saat ini dia merasa marah. Padahal, dirinya tidak ada kaitannya dengan konflik ini. Saat membuka mata pun, seseorang emnyuruhnya untuk membunuh dirinya yang asli berserta perempuan berkacamata bulat bernama Midnight.
“Gara-gara konflik ini, aku yang nggak tahu apa-apa jadi terlibat. Cih!” Karena tak terima, langsung saja Black Aura Reverse itu mengakhiri pertarungan tersebut dengan mengubah wujudnya menjadi sosok yang lebih menakutkan dan juga mengaktifkan kemampuan terlarang tersebut. Langit yang tadinya akan kembali menjadi birunya malam malah berubah kembali menjadi merah. Hujan pedang yang tadinya reda, mendadak menjadi deras kembali.
Terus terang, dirinya merasa sangat marah. Dalam hatinya, dia terus mengulangi kata-kata “Aku tak bersalah” sebanyak yang dia mau. Sampai akhirnya, semua Aura dan manusia yang berdiri di tanah itu terkejut bukan main
dibuatnya.
Hari sudah malam, tapi pertarungan sengit itu tak kunjung usai. Midnight tak habis pikir dengan kemampuan terlarang Black Aura itu. Dia tidak menyangka kalau Carmine akan menciptakan kemampuan Aura itu dua kali
lebih kuat dari Aura lainnya. Bahkan Silentwave sendiri sepertinya tak mampu mengalahkan Black Aura Reverse itu.
“Cih! Harus kuapakan Aura itu?” gerutu Megawave. Dia mengeluarkan canon berukuran besar. Lalu, mengarahkannya ke Black Aura Reverse yang berdiri melayang di atas langit. Tersenyum seringai memandang mereka dengan tatapan meremehkan. Tidak. Bukan hanya meremehkan, dari jarak yang lumyayan jauh ini, baik Megawave ataupun Black Aura, mereka bisa merasakan amarah yang dipendam Black Aura Reverse tersebut.
Midnight, Chloe, dan manusia lainnya juga ikut serta merasakan amarah yang dipendam Aura tersebut.
“Aku ini nggak salah. Aku ini nggak salah…” ulang Black Aura Reverse. Tampaknya, kewarasannya terganggu oleh rasa marahnya terhadap seseorang yang menciptakannya kemudian dengan santainya menyuruhnya membunuh kembarannya.
Saat melihat dirinya yang asli berdiri memandanginya dengan ekspresi datar, barulah dia sadar kalau sebenarnya dirinya yang asli itu juga tidak terlibat dalam konflik ini. Tidak, semua orang yang ada di lapangan luas itu juga tidak terlibat. Lantas, mengapa konflik tak jelas ini sampai melibatkan orang banyak?
“Black Aura, dia kenapa?” bisik Chloe pada Black Aura. Mereka berdua tak bisa melepaskan pandangan mereka dari langit.
“Aku nggak tahu. Tapi, akan lebih baik jika kita tidak menyerangnya,” ucap Black Aura.
Chloe dan yang lainnya menelengkan kepala mereka dengan ekspresi penuh tanda tanya. “Kenapa?”
__ADS_1
“Karena diriku yang disana sadar, kalau kita tidak memiliki masalah apapun dengannya. Baik dia maupun kita, adalah korban dari konflik konyol yang Yuuki buat. Kemudian, konflik ini semakin berkembang sejak pacarnya
mengambil alih semuanya,” jelas Black Aura yakin. Dari sinilah, Midnight bisa menyimpulkan akar dari permasalahan ini.
“Jadi, kita biarkan saja dia?” tanya Megawave sekedar memastikan.
“Ya,” balas Black Aura diakhiri dengan senyuman. Senyuman tersebut sukses membuat Megawave tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya Megawave sendiri ikut tersenyum dibuatnya.
Jadi kau sudah berubah, ya? batinnya.
Selagi menunggu Black Aura Reverse itu puas melampiaskan amarahnya, Chloe dan teman-temannya hanya bisa menunggu sambil memandang langit merah yang perlahan memudar menjadi kelamnya biru malam.
Mungkin, sudah saatnya bagi Black Aura menghampiri kembarannya. “Chloe, mau ikut?” tawar Black Aura.
“Mau dong!” balas Chloe secara antusias meraih tangannya Black Aura.
Kedua remaja itu terbang ke atas menghampiri Black Aura Reverse yang sudah kembali ke wujud aslinya. Terlihat jelas, manik violetnya redup lantaran terlalu lelah setelah menggunakan kemampuan Reverse itu secara paksa.
“Hei,” panggil Black Aura lembut.
Kembarannya itu tertegun, seketika mendongakkan kepalanya sampai pandangannya dengan dirinya yang asli bertemu.
“Kalian… Kenapa kesini?” tanyanya lemas.
“Untuk menemanimu,” jawab Chloe yang tak kalah manisnya senyumannya. “Kau… Aslinya nggak mau kan melawan kami?”
Black Aura palsu itu mengangguk pelan. Tatapannya berubah kosong seolah ekspresi dalam dirinya terkuras habis karena amarah yang tak terbendung tadi.
“Kami ngerti kok. Kita semua aslinya nggak terlibat dalam konflik ini. Bahkan dirimu sekalipun,” timpal Black Aura, perlahan menghampiri dirinya yang kelihatan sangat lelah. Tak lama kemudian, memeluknya. “Terima kasih, diriku…”
~
__ADS_1