Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 192 {Season 2: Jebakan}


__ADS_3

“Heeehhh?” Chloe terbelalak bukan main mendapati bintang raksasa jatuh dari langit dan hendak menimpanya. Akan tetapi, Midnight dan yang lainnya justru membiarkan bintang itu mengenai Chloe sebelum Chloe akhirnya terpaksa untuk menghindar dengan mengandalkan kakinya untuk berlari.


“Aduh!” dia tersandung.


“Bagaimana? Kaget kan?” tanya Midnight menyeringai lebar pas di depan wajah Chloe saat gadis itu baru saja mendongakkan kepalanya ke depan. Tentu saja, Chloe langsung terlonjak kaget sampai melompat menghindari Midnight.


“Midnight! Jangan bikin kaget napa?!” serunya disertai nafasnya yang tak beraturan seketika.


Midnight tersenyum lembut setelah dirinya merasa puas dengan ekspresi terkejut Chloe. Wanita itu kemudian duduk setengah jongkok di hadapan Chloe.


“Kalau nggak mau kaget, makanya kau jangan bengong,” katanya kemudian menangkis salah satu bintang yang mengarah langsung padanya. “Dan lagi, kau nggak perlu khawatir seandainya ada serangan Huke yang mengenaimu.”


“Hm? Apa maksudmu?” Chloe menelengkan kepalanya semakin tak mengerti dengan situasi apalagi omongan yang baru saja Midnight lontarkan.


“Kau diuntungkan di dimensi ini. Buktinya…” Midnight bangkit, lalu berjalan mundur menjauhi Chloe. “Tetap disana dan jangan kemana-mana! Pokoknya, kau harus lihat aku!” tegas Midnight.


Chloe menelan salivanya ragu, meskipun seluruh tubuh dan pikirannya mengikuti apa yang Midnight katakan.


Tak sampai lima menit, salah satu bintang raksasa jatuh dan menimpa Chloe.


Black Aura yang tadinya sempat fokus menghajar Huke, tersentak saat manik violetnya tidak sengaja mengarah ke tempat dimana bintang besar itu menimpa Chloe.


“Chloe!” serunya langsung menghampiri pacarnya yang tertimpa bintang besar.


Ketika berlari, Midnight dengan cepat menahan Black Aura. “Biarin aja. Toh, posisi dia disini diuntungkan,” kata Midnight.


“Apa maksudmu?”


“Kau lihat itu!”


Jari telunjuk Midnight mengarahkan seluruh pandangan Black Aura ke bintang besar yang terjatuh setelah itu menghilang. Tidak disangka-sangka, Chloe yang sempat dikira Black Aura sudah tewas rupanya masih hidup. Gadis itu berdiri dengan raut syoknya sambil sesekali menepuk-nepuk celana jins-nya yang ia rasa berdebu.


Benar yang Midnight katakan. Chloe diuntungkan di dimensi ini. Gadis itu bahkan tidak terlihat sedikitpun bercak darah yang menempel di mantel ataupun tubuhnya.


Black Aura sejenak bersyukur usai mengetahui kondisi Chloe yang baik-baik saja. Akan tetapi, dengan alasan apa? Bagaimana bisa Chloe selamat dari bintang besar itu? Bukankah sebelumnya dia tertimpa oleh benda raksasa itu?


Black Aura menoleh ke arah Midnight seolah meminta penjelasan yang jelas dari wanita itu.


“Pacarmu itu mudah sekali teralihkan ke sesuatu yang menarik perhatiannya. Jadi, yah… Kau harus terima kenyataan ini mau nggak mau,” jelas Midnight santai.


Black Aura mengernyit tak mengerti. “Maksudmu? Coba jelaskan lebih…”

__ADS_1


“Chloe udah masuk dalam perangkap Huke. Dan sekarang, jiwanya lagi dihisap sama Huke,” potong Midnight menyeringai lebar.


“Eh…” Black Aura tertegun. Untunglah, Aura itu langsung mengerti situasi dan langsung berteleportasi cepat ke langit. Di atas sana, Black Aura mengeluarkan lima belas pilar hingga menembus langit malam dan juga laser yang ia gunakan untuk mencari Huke sekalian menghancurkan bintang-bintang yang berjatuhan.


Astaga, Chloe…


Merasa bukan saatnya waktu untuk mengeluh, Black Aura dengan sigap melempar beberapa pedangnya ke langit. Saat itulah, pedangnya berubah menjadi puluhan lingkaran dengan bintang lima di dalamnya. Lingkaran itu mengeluarkan hujan pedang tanpa akhir. Sama seperti kemampuan dirinya saat berada dibawah kendali Reverse.


Melihat pemandangan yang serba merah itu, Midnight hanya bisa tersenyum dan kembali mencari keberadaan Huke sambil menarik Chloe ke tempat yang aman.


“Kekuatan itu… Black Aura kenapa?” tanya Chloe heran.


“Oh, dia lagi menyelamatkanmu sekarang,” balas Midnight santai sampai akhirnya dia menemukan batu besar dengan tinggi kira-kira 2,5 meter.


“Menyelamatkanku dari apa?”


“Kematian,”


Seketika, senyuman seringai terukir di wajah Midnight. Sebetulnya, sudah menjadi kebiasaan Midnight memperlihatkan tatapan yang mengerikan itu pada seseorang yang menurutnya sedikit tak berguna.


“Ke-kematian?!”


“I-iya! Aku mau bantu Black Aura tapi… Jangan terlalu dekat juga wajahmu itu!” ucap Chloe dengan rona merah di wajahnya. Dia juga berusaha menjauhkan Midnight dari dirinya agar setidaknya dirinya memiliki ruang untuk menghirup oksigen. “Jadi, apa rencananya?”


Midnight menunduk—menyamakan tingginya dengan Chloe. Kemudian, dia membisikkan semua rencana yang sudah ia rancang selama diperjalanan pada Chloe.


“Yang benar saja?! Masa aku harus…”


Chloe yang merasa tidak setuju dengan rencana Midnight langsung mendapatkan ancaman berupa ujung boomerang Midnight yang tajam.


Bungkam langsung mulut Chloe. Begitu pula dengan tubuhnya yang membeku dalam waktu satu detik.


“Dasar… Padahal aku udah berbaik hati menyelamatkanmu tapi kau malah menolak semua rencanaku? Kau pikir, merangkai rencana itu mudah?” tanya Midnight dingin. Senyuman wanita itu masih bertahan di wajahnya. Akan tetapi, kali ini terlihat jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya.


“Jangan paksa aku mengeluarkan semua kemampuan asliku. 45 menit lagi nyawamu bakal habis.”


“Aku tahu! Tapi, masa iya aku Cuma diam di tempat? Masa iya aku Cuma nonton kalian bertarung? Aku ini nggak gitu lemah lho! Aku bisa bertarung juga, Midnight!” jelas Chloe.


Midnight mendengus. “Astaga… Nanti kau juga kedapatan kok bagian bertarungnya,”


“Kau ini kenapa sih? Dari tadi senyum mulu? Kau meremehkanku ya?”

__ADS_1


“Hmm… Nggak juga sih... Sebenarnya senyum itu memang kesukaanku. Bukannya banyak tersenyum itu bisa mempercantik wajah kita?” basa-basi Midnight setelah itu dirinya tertawa lepas. Entah apa yang ia tertawakan. “Masa gitu aja nggak tahu?”


“Hadeh…” Bagaimanapun juga, Chloe yang menjadi lawan bicara Midnight hanya bisa geleng-geleng kepala tak mengerti dengan maksud omongan wanita berkacamata itu. Arahnya tak jelas. Melenceng ke kiri, kanan, atas, bawah, serong kanan dan kiri. Sekali masuk jurang baru tahu rasa.


“Apanya sih, yang lucu?” omel Chloe lama-lama merasa risih.


“Nggak ada… Pokoknya, ikutin aja rencanaku, oke?”


Chloe menghela pelan dan kali ini, demi keselamatannya dia memilih untuk mengiyakan apapun yang Midnight katakan.


Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja sebuah tombak meluncur. Sebelum ujungnya menyentuh punggung Chloe, Devil Mask sudah lebih dulu menangkisnya.


“Astaga… Kalian lupa ya?”


Seketika, seluruh perhatian tertuju ke sumber suara dimana memperlihatkan dirinya berdiri bersama Dark Sport, Grimoire, dan Chloe.


“Nggak kusangka, dimensiku ini bisa banget ngalihin perhatian kalian. Kalian nggak ingat kalau sebelumnya kalian ada bertarung dengan mereka?” tanya Huke disertai senyuman liciknya.


Meskipun jauh, tapi senyuman Huke itu jelas sekali di pantulan bola mata mereka.


Black Aura dan Devil Mask tertegun begitu mereka ingat bahwa sebelumnya mereka sempat bertarung melawan Grimoire, Dark Sport, dan Chloe.


Rasa bersalah Black Aura yang tadinya sudah menghilang dari pikirannya kini muncul dan mengambil alih niat bertarungnya.


“Memang nggak bisa dipungkiri lagi kalau sesuatu yang indah itu bisa menarik semua perhatian orang. Yah, bisa dibilang… Nggak Cuma Chloe aja yang masuk perangkapku. Tapi, kalian semua juga!” ungkap Huke mengejutkan remaja-remaja itu.


“Apa maksudmu hah? Sejak kapan kau…” Yumi mendadak kehabisan kata-katanya saat Huke memperlihatkan kelima jarinya yang mengeluarkan benang merah panjang.


Benang merah itu ternyata melilit tangan kanan Devil Mask, Yumi, Chloe, dan Midnight.


“Aku nggak?” Black Aura melirik ke tangan kanannya yang selamat dari lilitan benang merah Huke. Bukannya rasa syukur yang Black Aura rasakan, malah dirinya mencemaskan mereka yang terkena lilitan benang merah plus nyawanya yang sebenarnya terancam.


Black Aura berdecak sebal. Dia tidak menyangka kalau niatan Huke untuk melenyapkan dirinya dan juga anggota yang lain sampai sejauh ini. Tidak. Lebih tepatnya keinginan terbesar Yuuki yang berlebihan.


Rencana Huke pasti memperalat mereka untuk membunuhku. Kalau aku melukai mereka sama dengan aku membunuh mereka. Kalau Huke membuat mereka mengeluarkan banyak kekuatan, sama dengan nyawa mereka juga terancam. Kalau aku membiarkan diriku mati, sama dengan aku membiarkan mereka mati. Pikir Black Aura semakin rumit. Saat dipikir-pikir lagi, kesempatan dia untuk berpikir dan merancang strategi tampaknya sempit sekali. Ditambah dengan sisa waktu empat puluh menit.


“Jadi, bagaimana? Sanggup nggak kau melawan delapan orang ini?” tantang Huke, kemudian mengendalikan Chloe, Devil Mask, Midnight, Yumi, Edward, hantu mama Edward, Grimoire, Chloe, dan Dark Sport.


“Ini sih, curang namanya…” gumam Black Aura pasrah.


~

__ADS_1


__ADS_2