
Yira mematung di depan gudang milik Midnight. Pintu gudangnya hancur. Barang-barang yang sebelumnya rapi, berserak tak beraturan. Pertanyaannya, siapa dibalik semua kekacauan kecil ini? Pagar rumah Midnight juga baik-baik saja saat Yumi datang berkunjung ke rumah Ibunya. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaannya adalah, tidak ada jejak kaki yang membekas di rumput-rumput kecil di pekarangan rumah Midnight.
Belum lagi dengan Devil Mask yang tidak bisa dihubungi. Biasanya dia cepat mengangkat telepon. Tapi kali ini, Yumi sampai harus tiga kali menelpon Aura itu.
“Aduh, kenapa jadi berantakan begini?” pusing Yumi sambil memencet beberapa nomor kemudian, menelpon Black Aura.
Aku sebenarnya mencemaskan Devil Mask. Perasaanku juga tak enak setiap kali mengingat dia. Batinnya resah.
Tak memakan waktu lama, panggilannya pun dijawab oleh Black Aura. Aneh juga Aura satu ini. Biasanya dia yang paling susah dihubungi lantaran menghabiskan waktunya dengan Chloe.
Yah, karena Chloe menghilang bersama Midnight, Black Aura sudah pasti sendirian dan auto gerak cepat mencari sang kekasih. Perasaan tak ingin dipisahkan yang mendorong Aura itu untuk keluar malam-malam melawan hawa dingin seperti dulu saat dirinya belum bertemu dengan Chloe.
“Aura… Kau dimana?”
“Di Taman. Kenapa?”
Akhirnya, Yumi bisa menghela nafas lega begitu tahu bahwa Black Aura baik-baik saja. “Di rumah ibu. Tapi… Gudangnya hancur. Kaca Carnater juga pecah! Ini gawat, Aura! Kita udah nggak bisa pulang lagi ke Carnater. Kita bisa mati disini!” beber Yumi mendadak panik.
“Kok bisa?”
Di seberang sana, Black Aura terkejut bukan main. Dia bahkan reflex bangkit dari duduknya dan hampir membuat Yira tersedak akan aksi refleksnya tadi.
“Aku nggak tahu, Aura. Aku mohon, kau kesini cepat! Ini pasti ulah orang-orang Yuuki. Mana Devil Mask nggak bisa dihubungi lagi! Bagaimana ini!!!”
Di atas rumput, Yumi yang panik menghentak-hentakkan kedua kakinya berulang kali. Dia menangis. Takut jika kematian itu menghampiri dirinya dan takut karena posisinya saat ini dia sedang sendirian.
Wajar dia seperti itu karena, dia bukan tipe Aura yang hobi bertarung. Yumi lebih mahir dalam urusan mengalih perhatian musuh.
“Oke, aku kesana. Tunggu ya!”
Black Aura mematikan ponselnya lalu, melirik ke arah Yira. “Temanku panik. Kau mau ikut atau tidak?” tanyanya.
Yira membelalak kemudian meremuk bungkus keripiknya. “Aku ikut!” serunya dengan mulut penuh.
“Hm, oke. Tapi, ngantuk nggak?” tanya Black Aura ragu mengingat seharian ini mereka banyak berkeliling ke berbagai tempat. Memang mereka ada menyempatkan diri untuk beristirahat. Akan tetapi, bukan mengistirahatkan mata.
“Nggak ngantuk kok! Udahlah! Jangan buang-buang waktu! Kasihan Yumi.”
Sesuai yang gadis itu katakan, Yumi pergi begitu saja sambil tak lupa menarik tangan Black Aura.
Saat tangannya ditarik, Black Aura merasakan sensasi yang berbeda. Perasaannya seakan belum terbiasa dengan genggaman Yira. Tidak hanya genggaman gadis itu tapi juga dengan kehadirannya yang begitu tiba-tiba.
Jika pertemuannya dengan Chloe dulu—dirinya yang menghampiri Chloe, kali ini, Yira-lah yang menghampirinya. Yang memberitahunya serangkai mimpi aneh yang dialami selama seminggu entah berapa lama Yira mengalami mimpi buruk tersebut.
__ADS_1
Akan tetapi, jika dibandingkan dengan Chloe, Yira justru lebih semangat dan sepertinya dia tulus membantu Black Aura.
Black Aura menunduk. Dia merenung. Ada sesuatu yang aneh dengan Yira. Gadis itu seolah tak mempermasalahkan dirinya. Gadis itu seolah mengerahkan seluruh kekuatannya pada Black Aura untuk menyelesaikan konflik yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia.
Bagaimanapun juga, gadis ini hanya warga sipil. Dia tak ada hubungannya dengan ibu, Ethan, ataupun Chloe. Tapi, kenapa?
Di tengah jalan, Black Aura menahan kakinya sampai-sampai membuat Yira nyaris saja tersandung.
“Kenapa berhenti? Nanti kalau terjadi sesuatu yang aneh pada Yumi bagaimana?” komplain Yira.
“Aku bisa teleportasi.”
“Lah? Ya, udah! Kita teleport sekarang aja! Nanti Yumi…” Yira mendadak bungkam ketika tangannya beserta tubuhnya ditarik paksa oleh Black Aura sampai menyisakan jarak kira-kira 10 cm wajah Yira dengan Black Aura.
“Kau mau mati?” tanya Black Aura datar.
Jelas di mata Yira pantulan sosok Black Aura dengan manik violetnya yang menyala. Dia menatap serius dan dingin ke arahnya. Tapi, tidak ada tanda-tanda kebencian yang tersirat di mata Aura itu.
Yira bingung. Tidak seperti gadis yang lain dimana mereka sudah pasti berdebar-debar dengan posisi seperti itu, Yira justru bingung. Keringatnya mengalir tanpa suara dan jatuh ke permukaan tanah. Rok pendek di atas lututnya berkibar terkena terpaan angin malam.
“Mati? Apa maksudmu? Tadi bukannya kau ngajak ya?” protes Yira heran.
Black Aura menghela pelan sambil menjauhkan Yira darinya. “Maksudku, kau pasti punya niat lain kan membantuku selain niat ingin memberiku petunjuk tentang keberadaan Ghost Wave dan tempat-tempat yang biasanya dia datangi.”
“Ha? Nggak ada tuh. Aku memang murni mau bantu kalian. Aku juga mau tidur dengan tenang. Itu aja kok…” jelas Yira sambil terkekeh.
“Hah… Maksudku, tidur tanpa harus mimpi terjebak di kota yang hancur. Mana mimpi itu terasa nyata lagi. Karena itulah, aku percaya kalau dunia ini sebenarnya ada yang aneh. Sudahlah, ayo, teleportasi!” tegas Yira sekali lagi.
“Baiklah…”
Kedua remaja itu akhirnya berteleportasi ke tempat Yumi berada.
Tidak seperti Chloe yang biasanya digendong, Yira saat ditawarkan gendong oleh Black Aura, dia menolaknya.
“Nanti pacarmu marah,” begitu katanya.
Black Aura tertegun. Dan tanpa alasan yang jelas, dia terkekeh kecil. Kalau dipikir-pikir lagi, Yira ini unik juga.
~
Tak sampai setengah jam, Black Aura akhirnya sampai di depan rumah Midnight. Rumah itu sepi. Seakan ditelantarkan oleh pemiliknya selama tiga sampai lima tahun.
Yira melongo memandang lingkungan sekitarnya yang tenang. Tidak ada tanda-tanda musuh ataupun sesuatu yang janggal di sekitar rumah Midnight.
__ADS_1
“Ini rumah Midnight? Kukira dia tinggal di Carnater,” ujarnya sambil berjalan memasuki pekarangan rumah Midnight.
“Ibu juga punya rumah di Carnater. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Hmm? Bukan apa-apa kok.”
Baru akan berbelok ke gudang, kedua remaja itu dikejutkan oleh Yumi yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
“Astaga!” kaget Yira bahkan sampai terjatuh dan menghantam rumput-rumput kecil dibawahnya.
“Eh? Kukira kau bersama Chloe,” ujar Yumi terbelalak begitu tahu gadis yang bersama Black Aura itu bukanlah pacarnya melainkan orang lain.
“Kayak apa pecahnya?” tanya Black Aura mengabaikan omongan Yumi.
Yumi cemberut sebentar, tak lama, dia mengajak Black Aura dan Yira ke gudang tempat dimana dia menemukan cermin Carnater dalam keadaan pecah.
Sudah diperiksa rumah, ruangan, dan pekarangan rumah Midnight, Yumi anehnya tidak menemukan jejak si pelaku ataupun senjata yang pelaku itu gunakan untuk memukul cermin.
“Parah kali,” komen Black Aura setelah tahu kondisi cermin Carnater itu.
“Iya kan? Aku jadi khawatir dengan Captain. Dia pasti kesepian disana,” Yira menggeleng pelan kepalanya.
“Orang-orang Yuuki ini emang keterlaluan ya kalau udah buat masalah,” lanjutnya setelah itu berbalik dan menatap serius Black Aura.“Kita udah nggak punya waktu lagi. Kita mau tak mau harus membantai mereka semua!”
“Memang itu kan tugas kita?” balas Black Aura datar.
“Iya. Lalu, siapa gadis ini? Apa hubungannya dengan insiden ini?” Yumi mengalihkan tatapan seriusnya ke arah Yira.
Yira mematung dengan raut malu ketika mendapatkan tatapan serius dari Yumi. Kakinya gemetar karena malu.
“Dia… Mau membantu kita pokoknya,” jelas Black Aura singkat.
“Hah? Kau mau melibatkan warga sipil lagi??”
“Bukan gitu, Yumi. Mimpinya bisa jadi petunjuk kita. Kau masih ingat Ghost Wave?”
Saat Black Aura menyebut nama “Ghost Wave” barulah Yumi bungkam. Dengan cepat, wajahnya berubah menjadi pucat.
“Ingat,” katanya dengan suara kecil.
“Gadis ini bertemu dengan Ghost Wave di mimpinya,” jelas Black Aura singkat padat dan jelas. Sebenarnya, dia malas ingin menjelaskan detailnya. Karena itulah…
__ADS_1
“Kalau kau mau lebih detailnya, tanyakan aja langsung sama orangnya,” tambahnya datar disertai ibu jarinya yang mengarah ke Yira.
Yumi cemberut. “Kau emang nggak bisa diandalkan kalau soal berbicara.”