
Akhirnya, usai berlari sekitaran dua puluh menit lebih, Midnight pun sampai di area parkir mall tempat dimana Huke berada.
Midnight mengambil nafas sejenak seraya menstabilkan irama nafasnya yang tidak beraturan selama berlari tadi.
“Hah… Disini mereka. Hm?” saat bola matanya mengarah ke atap mall, Midnight melihat seperti ada dinding penghalang berwarna merah yang menutupi wilayah mall tersebut. “Penghalang Black Aura ya?”
Tanpa pikir panjang, wanita itu kembali melanjutkan perjalanannya. Entah bagaimana caranya, Midnight bisa menembus dinding tersebut tanpa mengalami luka ataupun terkena efek samping setelah dirinya menembus dinding transparan berwarna merah tersebut.
“Dasar… Ambisimu kuat kali, Yuuki…” gumam Midnight kesal.
Dengan kemampuan Silentwave, Midnight menaiki tangga eskalator sambil berbaur dengan kesunyian di lobi mall yang luas itu. Lantai dua berhasil dia naiki sekarang, tiba lantai tiga.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya selain hembusan nafas tenang Midnight. Dari luar, wajah wanita itu terlihat sangat datar. Akan tetapi, jauh di dalam benaknya, dia tengah merangkai berbagai macam rencana untuk membunuh Huke.
“Silentwave, kau siap?” tanya Midnight yang langsung mendapat anggukan cepat dari Silentwave yang sedari tadi bersembunyi di dalam alam bawah sadarnya.
Huft… Habis ngurusin makhluk fantasi, bentar lagi aku bakal ngurusin masalah pribadiku sendiri. Nyebelin banget dah! Batin Midnight kemudian menggigit ujung bibirnya lantaran merasa kesal setiap kali pikirannya terlintas akan masalah pribadi yang sudah empat belas tahun tak terselesaikan.
“Yuk, kita mulai kelahinya!” ujar Midnight dan saat itulah, atap lantai tiga itu roboh tepat di depan mata kepalanya. Melihat kejadian itu, Midnight sama sekali tidak kaget tapi malah terlihat santai seolah dirinya sudah memprediksi bahwa sepuluh menit kedepan langit-langit lantai tiga akan roboh.
Di antara puing-puing, patahan keramik, serta benda-benda elektronik seperti TV, android, dan masin cuci berjatuhan bersama dengan tubuh Huke.
Midnight mengangkat boomerangnya kemudian melempar benda tersebut. Saat Huke bangkit dari posisi telungkupnya usai tertimpa beberapa patahan keramik, boomerang itu dengan cepat menebas punggung kanannya.
“Oh, bantuan ya?” Huke yang menyadari kehadiran Midnight di belakangnya tanpa pikir panjang mengubah langit-langit mall yang runtuh menjadi langit malam yang penuh akan bintang.
“Heh? Langit?” Chloe terbelalak bukan main begitu latar belakang tempat mereka berubah. Di saat bersamaan, sebuah ide muncul. Chloe cepat-cepat merogoh isi tasnya untuk mengambil ponselnya dan merekam kejadian fantasi yang sedang ia rasakan saat ini.
“Indahnya…” gumamnya kagum.
__ADS_1
“Jangan bengong,”
Entah darimana asalnya, sebuah tepukan ringan mendarat pelan di punggung Chloe. Chloe tertegun sejenak lalu menoleh ke sumber dimana tepukan itu berasal. Oh Black Aura.
Seperti biasanya, Aura itu selalu mengingatkan Chloe untuk tidak bengong.
“Jangan terpaku pada keindahannya, kau bisa saja lenyap kalau terlalu banyak bengong,” lanjut Black Aura tersenyum. Kemudian, Aura itu menggandeng tangan Chloe dan membawa gadis itu menjauh dari ribuan bintang yang hendak menyerang mereka.
“Hm? Maksudmu, kemampuan Huke ada hubungannya dengan keindahan?” tanya Chloe penuh tanda tanya.
Black Aura mengangguk pelan. “Kurasa, saudara tirimu telah masuk ke perangkap Huke dan malah jadi bawahannya. Kau tahu? Keindahan itu bisa aja menipu kita. Seperti Huke yang wajahnya kelihatan seperti perempuan tapi nyatanya laki-laki,” beber Black Aura yang kali ini terpaksa maju untuk menghajar Huke.
Di bawah langit malam itu, Huke melayang dengan mengangkat katananya.
Muncullah beberapa lingkaran dengan garis bintang lima di dalamnya yang mengeluarkan ratusan bintang dengan warna yang beragam.
Meskipun sudah berulang kali diperingatkan, Chloe masih tidak bisa mengontrol kedua arah matanya untuk berpaling ke tempat lain. Bintang-bintang itu seolah menarik seluruh jiwa Chloe untuk terus terpaku pada keindahan dan membuatnya lupa akan efek samping dari keindahan tersebut.
Huke menyeringai, tapi, seringaian tersebut tak berujung lama lantaran, Devil Mask membelah semua bintang-bintang itu dengan cakarannya. Salah satu bintang dengan bekas cakaran Devil Mask itu tak sengaja bersentuhan dengan pundak kanan Huke hingga berujung luka goresan yang sangat dalam di pundak kanannya.
Huke terbelalak bukan main apalagi ketika dirinya yang otomatis merasakan rasa sakit dan pedih yang merambat cepat hampir ke seluruh tubuhnya.
Huke nyaris saja tumbang, tapi beruntunglah, berkat dimensinya itu serta fenomena alam Aurora yang menari-nari indah membantunya mencari kesempatan untuk beristirahat. Selain indah, juga terdapat ribuan pisau yang menghujani area tempat Black Aura dan teman-temannya berdiri saat ini.
Midnight menghela nafas berat. Tapi, bukan berarti dirinya kehabisan ide. Melainkan lelah melihat bintang-bintang yang cahayanya sangat menyilaukan mata itu. Wanita itu sudah berulang kali melepas kacamatanya, mengucek matanya dua sampai tiga kali, dan memakai kacamatanya kembali.
“Yumi, alihkan perhatian Huke ke atas!” perintah Midnight pada Yumi yang saat itu sedang bersembunyi dibalik batu besar, bersebelahan dengan Devil Mask.
Mendengar perintah Midnight itu lantas, Devil Mask, Black Aura, dan Chloe terkejut. Mereka kira hanya mereka berempat saja yang melawan Huke, tapi nyatanya, masih ada orang lain yang tidak menampakkan dirinya lantaran mengikuti rencana Midnight.
__ADS_1
“Yumi? Dimana dia?” celetuk Chloe melirik ke kiri, kanan, atas, dan bawah di waktu bersamaan.
Black Aura melirik ke arah batu besar di samping Devil Mask, lalu menghampirinya. Sekilas tampak bayangan seseorang sedang duduk sambil menyantap kentang goreng yang ia bawa dari mall sebelumnya.
“Disini kau rupanya?” ucap Black Aura datar.
Yumi yang tidak sadar keberadaannya sudah diketahui Black Aura otomatis tersentak kaget sampai mundur cepat sekitar lima langkah ke belakang.
“Astaga, Aura! Bikin kaget aja!” serunya sambil mengelus dada dan membereskan sisa kentang goreng yang sempat tumpah.
“Kau yang bikin kami kaget,” sambar Devil Mask tanpa pikir panjang menarik Yumi untuk bangkit dari posisi duduknya.
“Jadi, Yumi dari tadi ada disini?” timpal Chloe senang begitu tahu bahwa pasukan mereka kali ini unggul karena jumlahnya yang semakin bertambah. Ditambah lagi dengan kemampuan Yumi yang mampu mengalihkan perhatian lawan kearah lain dalam kurun waktu maksimal lima belas menit. Setahu dia begitu.
Yumi nyengir kuda. “Iya. Sebenarnya…”
“Dari awal aku udah nyadar kalau kalian bakal didatangkan langsung sama Huke,” potong Midnight santai plus, mengabaikan Yumi yang cemberut karena merasa tidak dihormati saat berbicara. “Intinya adalah… Fokus melawan Huke-nya. Bukan keindahannya, kalau kalian semua nggak mau tewas. Kau tahu Chloe? Kita ini sebenarnya berada di dunia mimpi ciptaan Huke,” jelas Midnight serius.
Seperti biasa, jika tangan Midnight sudah menggenggam boomerang disertai tatapan dingin yang menusuk, itu artinya sudah tidak ada lagi negosiasi antara dirinya dengan lawannya. Apalagi dengan siapapun yang berani membujuk Midnight agar wanita itu merasa setidaknya kasihan dengan kondisi lawan yang sekarat.
“Chloe, kau mau bantu atau nggak?” tanya Midnight.
“Mau bantu dong!” serbu Chloe bersemangat.
Midnight tersenyum, “Kalau gitu, sebelum dengerin rencanaku, kau hindari duluan bintang-bintang di atas kepalamu.”
“Eh?”
~
__ADS_1