Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 16


__ADS_3

When the sun is going down...


I feel you coming closer...


Counting in the dark. I feel at home...


Sebuah alunan lagu terputar dengan sendirinya di sela-sela ketenangan yang menyelimuti pundak remaja bermanik violet tersebut.


Lagu yang diputar secara tak sengaja itu membuat perasaannya semakin nyaman. Seolah dirinya kini berada di dalam rumah.


Sejauh ini, Black Aura sangat merindukan rumahnya. Untuk kembali ke dunianya, ia harus membunuh hampir semua aura yang hendak menguasai tubuh manusia tanpa harus melukai manusia. Ia harus berhati-hati dengan para manusia yang diam-diam hendak memburu kekuatan mereka. Ia juga harus mencari beberapa anggota keluarganya yang tersesat di dunia nyata. Belum lagi mencari dan memperbaiki cermin Carnater.


"Banyak kali...".


Dia menarik nafas dan membuangnya. Merasa bahwa jiwanya telah lama lelah menghadapi hal yang tidak ia inginkan ini.


Kesepian dan tersesat. Dua kalimat itulah yang bisa ia deskripsi saat ini.


Meskipun ia memiliki Chloe sebagai guide-nya di dunia nyata, Black Aura masih belum sepenuhnya menaruh kepercayaannya pada gadis itu.


"Dia lama sekali..." gumamnya datar.


Ia memutar ulang lagu tersebut dan kembali menikmatinya. Ia memejamkan kedua matanya. Mencoba merasakan warna di dalam musik tersebut.


Ia masih tak habis pikir dengan tindakannya yang akan ia lakukan di masa depan nanti.


"Apa yang bisa kulakukan disini? Entah sampai kapan aku bisa bertahan di dunia ini?".


Langit biru siang ini menampilkan sekumpulan kumulus dengan beragam bentuk. Ia melirik kearah rimbunan daun yang menari halus diterpa angin sepoi.


"Langitnya tenang tapi berwarna. Beda jauh dengan tempatku. Kenapa Chloe lama kali? Dia ngapain... Hmm?".


Black Aura terpaksa berhenti bergumam ketika kedua matanya menangkap seorang gadis berhoodie hitam yang berkeliaran di sekitar area parkiran mobil.


Cara berjalannya agak aneh tapi ia tampak berusaha membetulkan cara berjalannya agar tidak ada seorang pun yang curiga padanya.


Karena pikirannya terfokus pada gadis berhoodie itu, Black Aura melupakan perkataan Chloe sebelum ia meninggalkan mobil kesayangannya dan juga dirinya.


TOK! TOK!


Ketika hendak mengeluarkan senjatanya, suara ketukan berhasil memecahkan konsentrasinya. Sontak Black Aura langsung mengeluarkan pedangnya dan menoleh ke sumber suara. Ia menoleh ke samping dan tidak menemukan seorang pun yang mengetuk jendelanya.


"Hmmm Orang tadi? Dia dima...".


Belum selesai ia berbicara, ia kembali dikejutkan oleh ujung pisau yang diarahkan tepat di depan matanya.


Ia terbelalak sempurna menemukan sosok gadis berhoodie yang ia sangka hilang rupanya duduk disampingnya dan mengarahkan pisau padanya.


"Hai! Lama gak ketemu!" Gadis itu buka suara dan mengubah pisaunya menjadi katana lalu ia layangkan ke pundak Black Aura. Untunglah di tangkis cepat oleh Black Aura menggunakan sabitnya.


Sadar ruangan mereka sempit untuk sebuah pertarungan, gadis itu mengeluarkan tembakan canonnya dan menyerang Black Aura hingga membuat remaja itu menghantam beberapa mobil yang terparkir disana.


Alhasil, mobil Chloe mengalami kerusakan parah. Yep! Terdapat Lubang yang berukuran lumayan besar di bagian pintu kanan mobil.


Akibat serangan dadakan tadi, Black Aura mengalami pusing dan nyeri dibagikan punggungnya. Ia mencoba berdiri meski sempoyongan.

__ADS_1


"Kau masih sama ya! Kenapa gak berani masuk ke tubuh manusia? Oh ya! Ngomong-ngomong... Gimana kabar Midnight? Kuharap dia...".


DUAKKK!!


Belum selesai gadis itu berbicara, sebuah palu menghantam kepalanya hingga dagunya menghantam permukaan aspal dan hancur.


Siapapun yang mengganggunya akan mendapat balasan yang jauh lebih menyakitkan.


Tidak ada yang patut dibicarakan dengan musuh kecuali mengubah palunya menjadi sabit. Tanpa pikir panjang, Black Aura langsung melancarkan ujung sabitnya. Sayangnya langsung ditangkis oleh tembakan canon milik gadis itu.


Lantas, Black Aura pun segera menjauh dan kembali berwaspada dengan serangan yang akan diluncurkan gadis itu selanjutnya.


"Keliatannya kau sudah terbiasa dengan dunia ini. Aku penasaran bagaimana cara kau menghadapi dunia ini?" Gadis itu masih tak henti mengoceh.


Black Aura tidal merespon sepatah Kata pun. Ia memilih untuk fokus dalam pertarungannya. Selama gadis itu masih stay di dalam restoran, Black Aura akan memanfaatkan kesempatan bertarungnya tanpa di dampingi Chloe meskipun gadis itu sudah berulang kali ingin ikut bertarung.


Tak ingin waktunya terbuang dengan lamunannya, Black Aura langsung berlari menghampiri gadis itu sembari melayangkan sabitnya dari samping kanan. Berniat ingin melukai pinggang gadis itu.


Senyuman lebar terukir dengan muda di wajahnya, gadis itu dengan lincah menahan ujung sabit tersebut.


"Segini aja kah?" gadis itu bertanga dengan nada meremehkan.


Black Aura tetap tidak merespon. Sabitnya ia ubah menjadi pedang dan langsung menghantam pundak gadis itu.


Mengetahui pundaknya terluka sangat parah, sontak gadis itu segera menjauh dari serangan Black Aura.


Tak cukup sampai disitu, Black Aura tetap melanjutkan serangannya dengan terus melangkah maju dan memainkan pedangnya. Berniat ingin melukai sekaligus melihat ekspresi panik gadis itu.


"Ah!" Gadis itu meringis kesakitan ketika pedang Black Aura berhasil menggores pundaknya.


"Cih!...".


Gadis itu tak mau kalah. Ia mengeluarkan tongkat besinya dan menghantam permukaannya pada kepala Black Aura.


Darah berwarna hitam melayang-layang di udara.


Black Aura terpental hingga menembus truk yang tengah berjalan. Untunglah hanya truk itu saja yang melintasi area tersebut.


Di dalam truk itu, Black Aura berusaha bangun. Ia merasakan rasa sakit seakan seluruh tulang punggungnya retak semua. Sempat ia perhatikan di sekitarnya yang ramai akan kaleng syrup yang pecah akibat dirinya.


Black Aura mulai panik melihat beberapa botol syrup itu tersebar tak tentu arah.


DUAKKK!!!


Lagi-lagi, ia menerima serangan dadakan dari gadis itu. Gadis itu meninju wajahnya menggunakan kempalan tangan yang terkepal mantap.


Alhasil, kini keberadaan mereka justru semakin dekat dengan keramaian.


Di pihak lain..


"Woi! Apa-apaan dengan trukku? Kenapa berisik sekali?!" sopir truk itu menggeretu dan terpaksa menghentikkan truknya.


Ia keluar seraya mencabut earphone-nya dari telinganya.


"Astaga! Apa yang...??!" Dia terkejut bukan main begitu menghampiri gerbong truknya yang berlubang kiri dan kana. Sungguh fenomena yang aneh!

__ADS_1


"Aku yakin! Ini bukan ulah manusia!" Ungkapnya yakin.


~


"Oh, ya! Aku duluan! Makasih buat hari ini." Morgan beranjak dari kursinya dan berpamitan.


"Lho? Cepat kali" celetuk Chloe yang tengah melahap kentang goreng. Ia ikut beranjak juga dari kursinya.


Morgan terkekeh pelan. "Kenapa? Masih mau ngomong sama aku?".


"Aiiishhh! Jangan sok berharap ya! Kan udah kubilang kalau diriku sama sekali gak tertarik buat pacaran!" Chloe mengulangi kembali kata-katanya dengan artikulasi yang sangat jelas.


"Yah... Aku malah berharap kali punya pacar kek kamu yang kawaii gini.".


Chloe terbelalak kaget. "Awww.... Aku juga berharap kok punya pacar kek diriku...".


Gelak tawa mereka lepas dengan bebas membuat suasana diantara mereka terasa hangat. Sudah hangat karena aroma ayam ditambah lagi dengan warna yang mereka berikan dari gelak tawa mereka.


"Sampai ketemu lagi..." salam Morgan berlalu meninggalkan Chloe.


"Ya.. Hati-hati." Balas Chloe juga dengan senyuman manisnya. Usai berbicara dengan Morgan, ia merasakan ketenangan di dalam hatinya.


Sebelum hendak keluar dari restoran, Morgan berbalik. Memandang Chloe sesaat kemudian melambaikan tangannya. Setelah itu, barulah ia benar-benar meninggalkan tempat tersebut usai mendapatkan lambaian tangan dari Chloe.


Aku salah selama ini... Kukira dia pria mesum. Dia seru diajak bicara...


"Oh, benar juga! Black Aura juga menungguku. Hahaha kasihan sekali dia. Kuharap dia gak muntah dengan aroma mobilku.".


Tanpa pikir panjang, Chloe segera membawa kantong berisikan pesanan ayamnya dan melangkah cepat menuju pintu keluar.


Chloe berjalan setengah lari diiringi dengan irama musik yang ia mainkan di dalam pikirannya. Memejamkan kedua matanya berniat untuk merasakan sejuknya angin di pagi menjelang siang ini. Sampai ketika dirinya menghantam seseorang dan terjatuh.


"Aarrgghh! Dimana matamu, nona?!" bentak pria berpakaian polisi itu.


"Eh, sorry!" Gadis itu mendadak mematung. Jelas sekali terdapat bayangan sekumpulan orang dari bola matanya yang biru.


Chloe mengerutkan keningnya. Ia mengamati di sekitarnya yang sangat kacau. Ia bertanya-tanya, apa yang terjadi? Kenapa semuanya terlihat berantakan?


Lebih kacau lagi truk yang tengah mengangkut gerbong berisikan beberapa botol syrup. Syrupnya mengalir dimana-mana dan ditemukan beberapa serpihan kaca kecil yang berasal dari pecahan botolnya.


Hatinya mendadak cemas. Tiba-tiba, pikirannya tertuju pada Black Aura.


Jangan-jangan, dia...


Tak ingin membuang waktu lama, Chloe segera berlari meninggalkan tempat tersebut dengan membawa ayam yang baru saja ia beli. Untunglah, nasib mobilnya tidak sampai terpikirkan olehnya^^


Dari kejauhan, seseorang diam-diam memperhatikan gadis yang tengah berlari membawa kantong berisikan ayam.


"Tuan Dark Fire, gadis yang kau maksud itu sekarang menuju ke tempat Black Aura dan Yui bertarung. Apa ada yang perlu kulakukan?" tanya pria itu pada ponselnya.


"Gadis itu biar aku saja yang mengurusnya. Sisanya kita fokus membunuh anggota Mega vile.". Balas seseorang di seberang sana.


"Baik tuan...".


Pria itu langsung menutup teleponnya lalu masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


~


__ADS_2