
Chloe dan Black Aura tersentak kaget. Spontan, Chloe menarik lengan Black Aura dan mau tak mau memaksa Aura itu berlari. Kondisinya sedang tidak memungkinkan. Akan tetapi, situasi saat ini sangat mendesak mereka hingga membuat Chloe kesulitan berpikir dengan jernih.
“Tunggu di sini, Chloe!” seru Black Aura tiba-tiba. Aura itu mendorong Chloe menjauh darinya, lalu bergerak menahan serangan Gadis itu. Tidak disangkanya, gadis itu mengenakan topeng kucing berwarna oranye.
Black Aura dengan kasar membuang sabit gadis bertopeng kucing itu ke sembarang arah yang kemudian, disusul dengan tendangannya. Tendangan itu ditangkis balik dengan tendangan gadis bertopeng itu.
Chloe sampai terpukau kagum melihat keahlian gadis bertopeng kucing itu. Jangan-jangan, dia ahli beladiri lagi.
“Kau manusia, kan?” tanya Black Aura dingin. Tak lama, Black Aura tertegun mendapati penglihatannya yang buram. Ada apa denganku? Batinnya penuh tanda tanya.
Gadis itu mendengus geli, “Kalau udah tahu ngapain nanya? Heran aku. Kenapa semua orang suka kali pakai majas retoris? Oh, ya! Kau udah tahu belum siapa aku?”
Alis kanan Black Aura terangkat sebelah, pertanda bahwa Aura itu memang tidak tahu.
“Aku punya nama asli. Kalau kau ingin tahu siapa namaku plus siapa diriku, kau harus mengalahkanku dulu!” sombongnya.
Black Aura berdecak sebal. Bukan keinginannya melawan gadis bertopeng itu. Dan lagi, spesiesnya juga menjadi halangan bagi Black Aura untuk menyerang sesuka hatinya. Menyebalkan sekali!
“Begitu ya?!”
Black Aura tersentak, lalu menoleh cepat ke belakang. Rupanya Chloe!
Gadis itu entah bagaimana caranya bisa melayang tinggi di udara dengan membawa pedangnya. Chloe tersenyum mantap. “Kalau Black Aura nggak bisa, maka aku yang akan memecahkan topengmu!” serunya bersemangat.
Saat Chloe hendak melayangkan pedangnya ke arah gadis bertopeng itu, cepat-cepat, Black Aura mendorong tubuh gadis di depannya. Dengan cepat, dia menahan pedang Chloe dengan sabitnya.
Kedua gadis itu terbelalak tak percaya.
“Black Aura, kenapa kau menghalangiku?” protes Chloe langsung.
Setelah keduanya mendarat di atas rumput, barulah Black Aura menjelaskan alasannya. Alasan yang sangat simple bahkan sudah ia katakan sebelumnya. “Dia manusia. Baik kau ataupun aku, kita tidak berhak membunuhnya…”
“Tapi, bagaimana dengan perbuatan mereka selama ini? Kau nggak tahu kan apa saja yang mereka lakukan pada teman-temanmu?” potong Chloe langsung membungkam mulut Black Aura.
“Teman-temanku?” Black Aura terdiam. Entah kenapa, dia malah kehilangan kata-katanya untuk menghalangi niat Chloe melawan gadis bertopeng kucing itu.
Di luar lingkaran Chloe dan Black Aura. Gadis bertopeng kucing itu menelengkan kepalanya bingung. Matanya menangkap gadis manusia itu tengah beradu debat dengan Aura berjaket hitam itu. Berdiri di tengah hutan tanpa tujuan itu membuatnya seolah kehilangan arah hidup. Padahal, dia keluar untuk mencari dan melawan anggota Megavile yang katanya kejam. Gadis itu ingin menjadi petarung terkuat di dunia Carnater. Dipuja, dan disegani banyak orang. Meskipun keinginan tersebut masih samar, gadis itu bersama kekasihnya bersikeras untuk tetap mewujudkannya. Sensasi bertarung itulah yang ingin mereka dapatkan demi membalas orang yang telah mendorong mereka ke Carnater sekaligus menjadi lebih berani menghadapi masalah apapun yang biasanya membuat mereka menyerah dan putus asa.
Kalau dilihat-lihat, mereka itu akrab juga ya…
Gadis bertopeng itu menghela nafas pelan. Niat ingin bertarungnya lama-lama pudar lantaran menunggu Chloe dan Black Aura selesai berdebat.
“Kau nggak ingat apa yang terjadi pada Lady Asoka? Dia ngamuk nggak jelas karena siapa? Mereka kan?” Nafas Chloe memburu tiba-tiba. Padahal bukan keinginannya berdebat dengan Black Aura. Huft, salahku juga sih udah buat dia berubah…
“Apa katamu? Kau nggak terima dengan diriku yang sekarang?” serbu Black Aura sedikit tak terima.
“Ha? Kau baca pikiranku lagi?”
__ADS_1
“Nggak sengaja.”
“Bukan nggak sengaja! Kebiasaan!”
Bukannya mereda, perang dingin mereka menjadi sengit dan berujung panas. Baik Black Aura maupun Chloe, keduanya kesulitan mengerem mulut mereka. Bahkan Black Aura yang pada dasarnya dingin berubah jadi banyak ngomong karena omongan Chloe yang terkesan memancing amarahnya.
“Kayaknya mereka nggak bakal berhenti, deh…” Gadis bertopeng itu semakin bosan. Dia berpikir, mencari cara agar bisa menarik perhatian kedua remaja yang sibuk dengan dunianya sendiri dan tanpa mereka sadari telah mengabaikan orang lain.
“Aha! Aku yakin, benda ini bisa menarik perhatian mereka.”
~
Okka.
Ytber terkenal di dunia manusia itu kini memperlihatkan dirinya dengan menggunakan topeng di hadapan Black Aura dan Chloe. Tapi sayangnya, keputusannya itu malah membuat posisinya terabaikan oleh perdebatan yang kunjung reda layaknya hujan deras disertai angin tornado.
Terlalu lama menunggu dan diam membuat Okka merasa baru saja melakukan hal bodoh. Dia diabaikan karena ulahnya sendiri. Datang ingin menjadi petarung terkuat tapi akhirnya malah ditelantarkan.
“Aha! Aku yakin, benda ini bisa menarik perhatian mereka.”
Okka dengan seringai penuh keberanian itu mengeluarkan canonnya kemudian menarik pelatuknya langsung tepat ke sepasang remaja yang masih berdebat hingga saat ini. Satu-satunya cara agar dirinya memperoleh perhatian dari orang-orang. Tidak apa-apa meskipun harus berbuat hal mengerikan sekalipun.
Suara tembakan itu muncul dan mengejutkan Chloe dan Black Aura. Lagi-lagi serangan kejutan. Mau sampai kapan?
Black Aura menjentikkan jarinya dan menukar peluru berukuran kecil itu menjadi daun hijau. “Chloe, ikuti aba-abaku. Kau boleh menyerang saat aku memberikan aba-aba, ya!” jelas Black Aura yang tak lama lagi akan bergerak. Aura itu terpaksa melayani pertarungan yang sengaja diadakan Okka. Salah satu hal yang Black Aura benci dari manusia adalah sifat mereka yang seenaknya sendiri. Di matanya sekarang, kehadiran Okka tak jauh bedanya dengan Legend Aura yang mencari kekacauan di berbagai tempat.
Black Aura berdecak sebal. Keinginan ingin membunuhnya timbul meski pada dasarnya dia tidak ingin membunuh. Sejak awal, dia berniat membunuh keluarga Yuuki. Akan tetapi, karena kelicikan dan keegoisan Yuuki yang terlalu terpaku pada Midnight, usahanya jadi dipersulit karena terlempar ke dunia yang berisik.
“Maaf sudah mengomel tadi. Mungkin kau ada benarnya…” katanya, tak lama kemudian berlari mengejar Okka yang melompat-lompat ke atas dahan sembari menembak-nembak Black Aura bola-bola listrik dari cannon-nya.
Chloe membeku di pijakannya dengan wajah memerah merona. Dia menyadari ketidakstabilan detak jantungnya di dadanya. Tangan kanannya menyentuh bagian dimana jantung itu berdetak. Rasanya hangat. Chloe mendongakkan kepalanya memandang Black Aura yang berusaha meraih Okka namun nihil hasilnya karena kegesitan Okka.
“Apa mungkin aku yang terlalu keras kepala ya?” gumamnya seketika merasa tidak enak. Chloe sadar bahwa, sejelek apapun sifatnya hari itu, Black Aura pasti memiliki cara untuk mengatasinya. Memang wajah kesalnya terlihat jelas walau tipis. Namun, kekesalan itu akan berakhir penyesalan setelah salah satu diantara mereka merasa ada yang salah dengan kelakuan mereka sebelumnya. Dan lagi, kalau terlalu lama berdebat, mereka tak akan lagi bisa bercanda dan berbagi cerita layaknya seorang pacar. Keinginan akan keharmonisan dan ikatan yang panjang.
“Mungkin, inilah sisi yang Aura nggak sukai…” Chloe merenung untuk beberapa saat sebelum sambil bersembunyi dan menunggu aba-aba dari Black Aura.
“Kalau Midnight sampai tahu aku dan Black Aura sering berantem Cuma karena hal sepele, pasti dia langsung memutuskan kami berdua. Dipisahkan. Lalu, seterusnya tak akan pernah bertemu.”
Suara pedang yang beradu dengan canon itu terdengar jelas di telinga Chloe. Chloe mengamati bagaimana Black Aura membalas dan menangkis serangan Okka. “Ah! Benar juga! Cewek itu manusia! Kalau Black Aura sampai salah langkah, kalau aku terlalu lambat maka…”
Tiba-tiba, terdengar suara benturan besar yang menyebabkan pohon-pohon di hutan roboh. Cepat-cepat, Chloe keluar dari tempat persembunyiannya dan menemukan Black Aura yang bangkit setelah tersangkut di batang pohon. Sakit memang.
Black Aura melirik ke beberapa luka gores di lengannya. Jaketnya juga sampai tersobek karena tersayat oleh kulit batang pohon yang terkelupas.
“Astaga…” Black Aura tak habis pikir dengan dirinya yang bisa-bisanya tidak fokus dalam bertarung dan malah berakhir dengan bola listrik yang mendorongnya hingga menabrak puluhan pohon. Sangat disayangkan pohon yang masih segar bugar itu harus tumbang.
Kurasa, yang Chloe katakan memang benar. Mereka mengacaukan apapun. Kalau begini caranya, bagaimana cara kami bisa mengembalikan Carnater? Mengembalikan manusia ini saja belum tentu mudah. Apalagi mengembalikan dunia yang rapuh ini.
__ADS_1
Black Aura menghela nafas berat. Pikirannya terlalu lelah menghadapi masalah di musim kedua cerita ini. Selain di Carnater, Devil Mask dan Yumi sibuk mencari keberadaan Elena yang hilang secara misterius dan juga Rara yang ikutan hilang saat sedang mencari kakaknya. Kenapa semua itu terjadi di saat bersamaan? Seandainya ada Carmine di samping mereka, gadis itu langsung main kekerasan. Carmine gadis yang diam, terkenal sebagai murid teladan, dan baik. Namun siapa sangka? Dibalik tampangnya yang beraura positif itu dia menyimpan dendam yang sangat mendalam. Hati kecilnya sebagian telah dihancurkan oleh balas dendam.
Bukan saatnya memikirkan itu! kesal Black Aura. Ia pun kembali melibatkan dirinya ke pertarungan yang Okka sengaja buat.
“Hei, perlihatkan dong, kekuatanmu yang sesungguhnya!” serunya. Dengan lihai, Okka melepaskan sepuluh anak panah secara berurutan tepat ke arah Black Aura. Dimana Black Aura berpijak, maka tempat itulah yang akan menjadi tempat mendarat panah itu.
Menggunakan kemampuan teleportasi, Black Aura menghindar. Aura itu harus pintar-pintar bertarung tanpa membunuh Okka. Pasalnya, gadis itu tidak dirasuki oleh Aura. Tapi malah mencari keributan. Menyebalkan bukan?
Black Aura merasa belakangan ini kesabarannya sering diuji.
“Hei, dimana kekuatanmu yang dibilang kejam itu? Dimana? Dimana? Ayo, tunjukan!” pancing Okka, menebas-nebas batang pohon itu dengan pedangnya, kemudian ditembak dengan canonnya agar batang pohon yang besar itu dapat melumpuhkan Black Aura.
“Sebenarnya tujuan dia ke sini buat apa?” gumam Chloe dan Black Aura bersamaan.
BUM! BUM!
“Astaga!” Chloe melompat ke samping menghindari salah satu batang yang nyaris saja menghantamnya. Kalau tidak fokus, bisa-bisa nyawanya tak terselamatkan.
Sekarang, tiba batang kedua yang tak lama lagi akan mengenai tubuh Chloe. Baru saja mau lari, kesialan datang menghampirinya berupa kaki Chloe yang tidak sengaja tersandung oleh batu. Alhasil, lututnya lecet beserta sikunya. Chloe meringis kesakitan. Bersamaan dengan itu sadar akan bahaya yang tinggal beberapa menit lagi akan melahap nyawanya.
Matilah…
Chloe sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Seluruh tulangnya seakan tidak berguna di waktu yang mendesak ini.
Dia manusia, tapi kenapa bisa sekuat itu?
Apa yang membuatnya bisa menjadi kuat?
Batang besar itu akhirnya jatuh menghantam tanah. Kepulan asap tebal secara otomatis menyelimuti seisi hutan dan mengepung ketiga remaja itu.
“Sial! Pandanganku!” Okka melepaskan topengnya karena debu bersentuhan dengan retina matanya dan menyebabkan rasa perih yang tidak begitu parah. Namun, lama-lama rasa perih itu berkembang menjadi sakit. Okka semakin mengucek matanya yang berair itu.
“Apaan ini? Kenapa perih sekali?” herannya. Saat melihat pemandangan di depannya, semuanya mengabur layaknya cait air yang pudar warnanya karena ketumpahan air.
Okka melirik ke sekelilingnya. Belum ada sinyal bahaya yang ia rasakan sejauh ini. “Apa sebaiknya aku mundur saja ya?” pikirnya.
Ketika dirinya hendak melompat ke dahan bagian atas, meninggalkan hutan tersebut, tangan kanannya di cengkram erat oleh tangan berjari besi yang dingin. Sedangkan tangan kirinya dipeluk oleh seseorang sehingga pergerakannya terblokir.
Okka tercekat, “Apa ini?!”
Perlahan tapi pasti, asap-asap itu mulai menipis keberadaannya. Memperlihatkan sosok Black Aura yang menatap datar padanya dan Chloe yang memperlihatkan raut penuh emosi.
Kedua remaja yang ia kira sudah lenyap itu muncul tapi dengan luka memar dan goresan di sekujur tubuh mereka.
“Kalian?!” Okka berusaha meronta-ronta akan tetapi, keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak padanya. Genggaman mereka terlalu erat sampai-sampai Okka kehilangan separuh tenaganya dan berakhir lemas seperti anak sekolah yang belum sarapan.
“Kalau kau nggak mau mati, maka ikut kami!” ucap Chloe menyeringai puas. Sayang, senyum itu tak bertahan lama dan memudar dengan cepat lantaran sorot mata Chloe yang mengarah langsung ke wajah Okka membuatnya terbelalak tak percaya.Mulutnya diam tapi seluruh tubuhnya seakan sulit menerima kenyataan yang ia lihat dengan mata kepalanya.
__ADS_1
“Kau… Okka si Ytber terkenal itu… Kan?”
~