Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 142 {Season 2: Rencana Chloe dan Black Aura}


__ADS_3

Chloe mundur ke belakang. Dia menelengkan kepalanya penuh tanda tanya. Hampir semua kelompok Megawave mengira dirinya adalah reinkarnasi pacarnya Megawave. Semakin banyak Chloe mendengar kalimat itu, semakin penasaran dirinya akan penampilan mendiang pacar Megawave. Chloe juga ingin mencari tahu, apakah benar Black Aura yang membunuh gadis itu atau justru gadis itu memang sengaja ingin melenyapkan dirinya? Entahlah…


Di samping hal itu juga, tampaknya tidak ada sinyal bahaya dari Chariot. Aura itu malah terbengong di pijakannya. Memandang Chloe dengan kedua matanya yang mengerjap-ngerjap tiga kali. Seolah Aura itu berusaha menyesuaikan dirinya dengan kenyataan yang ada di hadapannya saat ini. Belum lagi dengan fakta bahwa Chloe yang ada di hadapannya ini adalah pacar Black Aura. Semoga saja, Chariot tidak memiliki niatan ingin mencuri dirinya dan mempermainkan ingatannya.


Bisa bahaya kalau yang dibahas mereka adalah reinkarnasi. Chloe akui, dirinya benci disamakan dengan orang yang sudah mati. Ya, siapa juga yang mau disamakan dengan orang mati? Bagaimana kalau dirinya terkena nasib sial seperti mengalami nasib yang sama seperti Chloe yang sudah mati itu?


“Bukan. Aku bukan Chloe yang kalian kenal!” ucap Chloe.


Chariot tidak merespon. Aura itu melirik ke sekelilingnya. Posisinya saat ini terbilang gawat karena kehadiran Black Aura di samping Chloe. Mungkin, tidak masalah jika Black Aura saat ini tidak berniat mengincar atau menghajarnya. Tapi, Black Aura itu tak tertebak meskipun sering dihantam oleh serangan kejutan dari sejumlah Aura yang sangat membencinya.


Chariot memasang kuda-kuda sebagai posisi siap bertarungnya. Begitu pula dengan Chloe dan Black Aura. Kebetulan sekali, keduanya memiliki sandera masing-masing.


Jauh di bawah sana, Megawave tengah fokus menjaga Aoi dan Jacqueline. Aura itu sepertinya paham dengan situasi serta rencana Black Aura. Dilihat dari Aoi dan Jean yang menghilang mendadak. Megawave menduga kalau ada Aura yang menghilang secara tiba-tiba, lalu ada beberapa benda tak masuk akal di sekitarnya, dia menyimpulkan kemampuan itu berasal dari Black Aura. Jentikan jari ajaib nan efektif itu juga merupakan ancaman terbesar musuh Black Aura. Lengah sedikit karena takut, panik, dan lamunan, nyawa mereka saat itu juga sudah dikunci gembok oleh Black Aura. Dunia Carnater seolah berada di kendali Black Aura.


“Kenapa ada Aoi dan Jean disana?” tanya Chariot. Tangan kanannya berada di belakang punggungnya. Bukan. Tangan bagian atasnya. Mengingat Chariot memiliki empat tangan. Selain itu, dia memiliki empat mata. Sekecil apapun pergerakan lawannya bisa ditebak dengan mudah olehnya. Belum lagi dengan  kemampuan apinya yang bisa menyebar ke segala penjuru tempat. Yah, tak begitu beda dengan Dark Fire yang mampu menciptakan puluhan bola api.


“Beritahu aku!” paksa Chariot.


“Kalau kau ingin pertanyaan itu dijawab, maka…”


“Jawab dulu pertanyaan kami. Mau kalian apakan Aoi dan Jacqueline?!” Chloe menyambung kalimat Black Aura yang terjeda sebelumnya. Pasangan itu siap dengan senjata mereka masing-masing. Chloe yang semulanya kagum mendadak jadi serius dan membuang jauh rasa kagum itu. Membiarkan sisi seriusnya menguasai pikirannya. Bukan saatnya lagi bersenang-senang. Ethan yang mereka cari belum ditemukan. Bahan ritual terakhir yang Midnight cari juga belum ada kabarnya. Tempat untuk menjalankan ritualnya juga masih dipertanyakan dimana.


“Mau kami tampung. Kami ragu kalau mereka ini adalah manusia yang suka membuat kekacauan seperti beberapa bulan yang lalu,” tutur Chariot.


“Oh, lalu, apa kalian tidak menyadari dengan keberadaan Afra, Yui, dan Rini di dunia ini? Kau masih ingat bencana yang mereka perbuat dulu? Coba kutanya, siapa yang mengatasi tsunami Yui dan ledakan arwah yang dibenci punya Rini?” tanya Black Aura yang tidak ingin keberadaan dirinya dan kelompoknya terus-terusan dianggap sebagai ancaman juga tidak berguna.


Chariot tidak merespon. Tangan bagian atasnya mengeluarkan panah busur. Kemudian, ujung panah itu diarahkannya tepat di hadapan Black Aura. “Jawabannya ada di sampingmu. Kau sendiri, kenapa bawa manusia ke sini?”


“Bukan aku yang membawanya. Mereka yang mau datang,” jawab Black Aura berdasarkan fakta.

__ADS_1


Chloe jadi malu karena dirinya ikut disinggung dalam topic dingin antara Black Aura dengan Chariot. Hehehe, sorry Aura… Katanya dalam hati.


“Kau pikir, dunia ini kalian yang atur? Kalian pikir, kalian ini penguasa? Kalau memang benar kalian penguasa, lihat kekacauan yang sudah kalian perbuat! Kalian bahkan tidak bisa mengatasi masalah ini dalam waktu singkat!” serbu Chariot. Nada bicaranya semakin terdengar sinis di telinga kedua remaja itu.


Kepalan tangan Chloe mengeras karena tidak tahan dengan untaian kata dingin dari Aura-aura di Carnater. Chloe yakin, mereka semua menolak fakta bahwa Legend Aura-lah pelakunya. Setelah dipikir lagi, semua Aura di dunia ini telah termakan oleh dendam dan perasaan sakit hati. Karena itulah, mereka mudah sekali dikendalikan. Omong-omong, benang merah yang sempat menempel di leher Megawave, Lady Asoka, dan Grimoire itu milik siapa?


Sampai detik ini, pertanyaan itu belum terjawab juga. Parahnya lagi, dilupakan.


Panah yang sedari tadi Chariot tahan, akhirnya lepas dan meluncur dengan bebas. Di udara, panah itu menciptakan sepuluh bayangan dengan target yang sama yaitu Black Aura. Belum sampai panah itu menusuk Black Aura, Chloe main maju seraya menangkis semua panah itu. Arahnya berbalik menjadi ke pemiliknya. Alhasil, senjata makan tuan pun terjadi lagi dalam pertarungan kali ini.


Sayang, istilah itu hanya berlaku satu menit. Chariot, Aura sekaligus pengguna elemen api itu menghilangkan sepuluh panah tersebut.


“Bersiaplah!” Chariot mengangkat tangan kanan bagian atasnya. Tanah yang menjadi pijakan mereka memanas karena kemampuan Chariot. Baru berkedip sekali, api sudah ada di sekitar mereka. Mengurung mereka dalam lingkaran api setinggi dua meter.


“Black Aura, gimana ini?” Chloe panik. Dia menggigit bibirnya karena kesulitan berpikir.


“Aku tahu. Kemarilah…” Black Aura segera membopong Chloe. Setelah itu melompat ke atas menghindari kurungan api tersebut. “Kita terlambat.”


“Kau nggak tidurin dia…” Black Aura menghela nafas sebelum akhirnya memperlihatkan ekspresi sebalnya.


Menyebalkan sekali Chloe ini. Perhatiannya mudah sekali teralihkan dan gampang terpesona oleh penampilan Chariot. Bukannya Chariot yang dibius, justru gadis itulah yang terbius oleh keunikan Chariot dihadapannya. Kalau begini caranya, mereka mau tak mau harus bertarung. Seandainya pertarungan Black Aura melawan Chariot ini sampai memakan waktu banyak, bisa-bisa, Megawave muncul dan membantu Chariot. Black Aura mesti berhati-hati dengan kemampuan portal milik Megawave. Memang, tidak ada yang spesial dari Aura bertopeng visor itu. Namun, keahlian dan kepintarannya menyusun taktik pertarungan itu sungguh tak terduga.


Black Aura yang sudah berpengalaman melawan semua Aura yang pernah menantangnya itu, dibuat sangat terkejut untuk pertama kalinya oleh Megawave. Aura bertopeng visor itu bisa saja menjatuhkan benda-benda berat seperti truk, batu, dan lainnya dalam jarak dekat menggunakan portal.


Kalau tidak peka, nyawa mereka bisa terancam. Kalau sudah terancam…


“Aura, awas!” teriak Chloe menyadari Black Aura akan bola api yang tak lama lagi akan mendekatinya.


“Cih!”

__ADS_1


Tak Cuma bola api, puluhan panah api, mawar api, dan ribuan kelopak sakura menghujani area tempat Black Aura dan Chloe berada. Keduanya membeku di tempat. Black Aura juga kehabisan ide untuk menghindari setiap serangan yang Chariot berikan. Meminta bantuan Midnight di saat mendesak seperti ini sama dengan membunuh wanita itu.


“Aku tahu! Black Aura, aku ada ide!”


“Di waktu sesempit ini?”


Chloe mengangguk penuh keyakinan. Seakan idenya yang satu ini merupakan ide terbagus yang pernah terlintas di benaknya. Gadis itu melirik ke salah satu panah yang terletak di atas kepala Chariot.


“Kurasa, ideku bagus. Tapi, aku nggak yakin denganmu,” ucap Chloe nyengir kuda.


“Oh, aku ngerti. Nggak papa!” balas Black Aura. Tanpa pikir panjang, segera menjentikkan jarinya bermaksud menukarkan posisi Chloe dan bola api yang berada tepat di belakang Chariot.


“Hati-hati…” lirih Black Aura tersenyum kecil.


“Jangan khawatir. Aku sudah terbiasa dengan semua ini,” Chloe mengedipkan mata kirinya sebagai tanda bahwa rencana mereka kali bukanlah masalah besar baginya. Justru menjadi berguna dan berperan itulah yang membuat Chloe menikmati petualangannya saat ini.


Sesuai rencana, posisi Chloe berpindah tepat di belakang Chariot. Dengan seringai lebar yang terukir di wajah cantiknya, Chloe melayangkan pedang Black Aura. Alhasil, punggng Chariot tertebas tanpa sepengetahuan Aura itu. Di saat bersamaan, Black Aura yang baru saja menukar Chloe menjadi bola api itu cepat-cepat menghindar sambil meluncurkan serangan lainnya agar mengacaukan konsentrasi Chariot yang sebelumnya terpaku ke ribuan bola api itu.


Mata boleh banyak, tapi fokus selalu ke satu arah. Begitulah sindiran Chloe ketika dirinya sukses menyerang Chariot.


Tampaknya, sekali tebasan belum cukup membuat Chloe puas. Gadis itu menendang wajah Chariot ke kanan, lalu kiri. Kemudian, mengeluarkan tisu yang sudah ia tuangkan obat tidur dan dilayangkannya tisu itu ke wajah Chariot. Sayang, kecepatan Chloe tak sebanding dengan genggaman Chariot. Chloe lupa kalau lawannya kali ini memiliki empat tangan.


“Astaga!” seru Chloe saking terkejutnya. Kulitnya merespon suhu panas dari genggam Chariot yang kuat itu. Gimana ini? Kalau dia menyundulku pakai kepalanya, bisa-bisa… Argh! Aku nggak mau mati!


Saat perhatian Chariot sepenuhnya tertuju pada Chloe, salah satu matanya merespon pergerakan di bawahnya. Yang mana, Black Aura bergerak tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Aura bermanik violet itu kemudian menebas Chariot tanpa mengetahui keberadaan Chloe yang saat itu terancam.


“Wow, wow! Black Aura! Hati-hati! Ada aku disini!” jerit Chloe yang nyaris saja terkena tebasan Black Aura tadi.


“Eh?” Black Aura mematung heran menanggapi Chloe yang kini malah disandera Chariot dan tidak tahu harus berbuat apa. Gadis itu juga keringat dingin dengan lingkungan sekitarnya yang dipenuhi oleh serangkaian serangan milik Chariot. Memang tak jauh beda dengan Dark Fire. Bedanya adalah latar. Di Carnater ini, Aura bisa dengan bebas mengeluarkan kekuatan mereka tanpa memperdulikan berapa banyak jumlah lawannya. Dan juga, sepinya dunia itu menambah ruang bagi Aura untuk menghajar lawan yang mereka anggap sebagai pengganggu.

__ADS_1


Chloe meneguk salivanya susah payah sambil mati-matian menenangkan dirinya. Genggaman Chariot terlalu erat. Selain erat, tangannya juga panas. Jika terlalu lama digenggam, bisa saja pergelangan tangan Chloe melepuh.


~


__ADS_2