Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 185 {Season 2: Curahan Hati}


__ADS_3

Suasana di luar mall ternyata berbanding terbalik dengan yang di dalam. Dimana di dalam mall semua pengunjung tertidur pulas, sementara di luar mall, kendaraan roda empat dan dua berfungsi dengan baik di jalan raya. Orang-orang berlalu lalang di jalan raya dengan rutinitas mereka masing-masing.


Setelah mengatur nafasnya, Chloe kembali melangkah mencari tempat untuk menelpon Devil Mask. Takut sekiranya Edward membawa mata-mata ke mall, Chloe pun memilih tempat yang cukup ramai yaitu perempatan dimana kendaraan mengantri menunggu lampu merah bertukar menjadi hijau.


“Halo… Devil Mask, bisa datang kesini nggak? Iya, aku share loc-nya lewat chat aja ya!”


Sementara di dalam mall, Black Aura sibuk menangkis beberapa pisau dapur yang mengarah padanya. Aura itu sedikit mengalami kesulitan saat bertarun dikarenakan keberadaan para pengunjung yang tak sadarkan diri ini menyebar tak beraturan di setiap lantai mall. Bahkan ada juga yang terbaring di eskalator. Untunglah, mesinnya mati. Andai kata mesinnya aktif…


“Cih!” Black Aura meringis kesakitan ketika salah satu pisau berhasil tertancap di pinggang kanannya. Sakit memang. Mengingat lawannya adalah Edward dengan kekuatan Huke.


Sampai saat ini pun pertanyaan Black Aura masih juga belum terjawab mengenai keberadaan Legend Aura dan kekuatan Huke yang tiba-tiba ada di dalam tubuh remaja bernama Edward itu.


Manusia memang aneh. Tapi, di lain sisi pintar (terutama saat melancarkan aksi jahatnya). Bisa-bisanya, kekuatan copy Huke dia miliki dan bahkan dirinya terlihat sudah mahir menguasai semua kekuatan Huke. Aneh.


“Hei, jawab dulu pertanyaanku! Sudah berapa lama kau bersama Chloe, ha?” seru Edward melempar beberapa panah api kearah Black Aura.


Black Aura tanpa pikir panjang mengeluarkan sabitnya dan beberapa kertas segel untuk menyegel Edward. Dia tetap tidak menjawab pertanyaan itu. Lagi pula, untuk apa?


Karena tidak ingin waktunya kencannya termakan sebelum senja tiba, Black Aura berinisiatif melempar semua kertas segelnya ke berbagai arah. Tidak ada celah dalam serangannya tersebut sehingga memungkinkan bagi dirinya untuk menyegel Edward.


Edward yang hendak menghindar itu tersandung karena salah satu kertas segel Black Aura berhasil menempel di kaki kanannya dan pundak kiri kanannya. Tubuhnya tak bisa bergerak untuk beberapa saat


Dalam kondisi seperti itu, kesempatan bagi Black Aura kembali melancarkan serangannya. Dia tak lupa mengaktifkan kemampuan segelnya hingga beberapa mantra keluar dari kertas tersebut dan menyegel kekuatan Huke agar tidak lagi keluar.


Edward terdesak. Pria itu berdecak sebal sambil berusaha melepaskan segel yang mengikatnya tapi nihil hasilnya.


“Apa ini?!” tanya Edward sedikit membentak. Dia tidak percaya kalau dirinya akan semudah ini dikalahkan Black Aura. Bukan, lebih tepatnya dia terlalu meremehkan Black Aura.


Padahal sudah diperingatkan oleh wanita berambut pirang itu dan juga pemimpin Legend Aura berkekuatan api tersebut.


Edward masih ingat dengan jelas suara mereka berdua saat mengatakan, “Kami tahu, kau dendam dengan gadis itu. Akan tetapi, ada baiknya, kau tunduk pada Huke agar nyawamu selamat dari Black Aura. Dia bukan Aura sembarangan yang mau repot-repot membuang tenaganya. Kalau pertarunganmu dianggap mengecewakan baginya, maka, tamatlah sudah riwayatmu,” setelah itu disusul dengan gelak tawa dari wanita berambut pirang tersebut.

__ADS_1


Sebelum langkah Black Aura semakin dekat ke arahnya, sempat terlintas di benak Edward soal rencananya ingin membunuh Chloe dengan kekuatan Aura yang sudah Yuuki percayakan padanya.


Kalau bukan karena Yuuki, dirinya tak akan bisa bertarung sampai membuat semua orang tidur. Dia tidak akan bisa bertemu dengan Chloe—saudara tirinya yang dengan teganya meninggalkan dirinya beserta keluarganya. Sebenarnya, Edward merasa baik-baik saja  jika Chloe tidak ada di dalam lingkaran keluarganya tersebut. Toh, ayahnya lebih menyayangi dirinya dan ibunya ketimbang anak kandungnya.


Edward terkekeh. Belum puas dirinya membuat Chloe menderita. Setelah dia tahu bahwa Lucas telah lama pergi meninggalkan Chloe, Edward merasa ingin lebih banyak lagi menyengsarakan kehidupan gadis itu.


Mungkin karena posisinya yang sangat beruntung lantaran dipilih dan dipercaya sepenuhnya oleh ayahnya. Sementara Chloe yang menurutnya tidak memiliki keistimewaan dalam dirinya sebaiknya dicampakkan saja atau dimusnahkan dari dunia ini.


“Rasa sakit perempuan itu mengerikan ya!” ujarnya sukses menghentikan langkah Black Aura.


Black Aura menelengkan kepalanya penuh tanda tanya.


“Kesedihan mereka itu berlebihan entah kenapa. Tapi, itulah yang kusukai. Melihat gadis itu menangis, menderita, merasa dicampakkan. Aku suka drama itu. Aku suka melihatnya seperti itu. Lebih bagus lagi kalau dia sampai terbujuk untuk mengakhiri hidupnya. Bukankah melihat orang yang tidak kau sukai mati itu menyenangkan? Kau pernahkan berpikiran seperti itu?” tanyanya pada Black Aura.


Edward menunduk dan masih terkekeh. Suaranya terdengar dingin dan licik. Tapi, tetap saja bagi Black Aura suara dengan nada seperti itu bukanlah sesuatu yang perlu ia takuti.


“Oh, jadi kau membenci Chloe?” tanya Black Aura akhirnya buka mulut.


Edward yang dalam kondisi tersegel itu mengangguk. “Iyap. Di sisi lain juga, aku nggak punya alasan khusus kenapa aku bisa membencinya. Aku hanya nggak suka aja melihat anak sepertinya hidup. Bagiku, nggak ada yang istimewa dari Chloe. Aku penasaran, alasan papanya menikah lagi mungkin karena muak merawat anak-anaknya yang nggak bisa membahagiakannya sama sekali.


Black Aura mengernyit heran. Entah kenapa, pikiran pria ini terkesan kejam bagi Black Aura. Ternyata, Aura itu kalah kejamnya dengan manusia seperti mereka.


Pikiran mereka tentang menyingkirkan orang lain tak kalah kuat dan sadisnya dari Aura.


“Aku… Kecewa. Aku bertanya-tanya kenapa papa yang sekarang mendadak mengkhawatirkan Chloe? Padahal sebelumnya, dia nggak peduli sama sekali dengan gadis itu. Tapi, kenapa malah sekarang?


“Beliau tertekan, sampai-sampai mabuk setiap kali pulang ke rumah. Untunglah, mama bisa mengatasinya. Tapi, hari itu… Aku melihat mama dan papa bertengkar sampai mama kehilangan nyawanya. Mereka bertengkar karena rasa bersalah papa yang ingin bertemu dengan Chloe dan Lucas.,” Edward menjeda kalimatnya sejenak. Dadanya sesak dan sakit. Pria itu tidak menganggap kematian ibunya sebagai karma. Melainkan, akibat dari rasa bersalah ayah tirinya yang berlebihan.


Black Aura masih diam dan mendengarkan semua curahan hati pria itu. Tak peduli sesedih apapun ceritanya, Black Aura tidak akan tergerak hati dan perasaannya untuk menolong apalagi menghibur pria yang telah membuat kekasihnya menderita.


Black Aura sadar, bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam konflik antara Chloe dan Edward. Akan tetapi, jika diberi pilihan pihak mana yang akan Black Aura selamatkan, sudah pasti dia memilih Chloe.

__ADS_1


Karena, dendam yang Chloe simpan itu hampir semuanya berasal dari jiwa yang tersakiti.


“Kau tahu, kehilangan itu menyakitkan. Papa meninggalkanku dan pergi mencari anak kandungnya. Dia meninggalkanku seorang diri bersama mama. Aku merasa, bukan sekarang mama harus pergi. Karena itulah, aku mencari cara agar aku bisa membawa mama kembali.


“Kukira, mama beneran pergi meninggalkanku. Tapi, ternyata, ada seorang gadis yang berbaik hati mengembalikan jiwa mama. Dia memberi mama kehidupan.,” air mata Edward meluap dan berjatuhan dengan deras membasahi lantai mall yang dingin.


Sayang sekali, Black Aura sama sekali tidak tersentuh mendengar cerita itu dan justru mempertanyakan siapa gadis yang memberi ibu Edward kehidupan.


“Gadis? Dia Aura?” tanya Black Aura menghiraukan kesedihan hati Edward.


Edward tersenyum tipis. “Gadis yang menghidupkan mama adalah Huke.”


“Huke?” Black Aura terbelalak. Tapi disisi lain ingin tertawa mengingat gender asli Huke adalah laki-laki. Rasanya, ingin sekali dia mengoreksi omongan pria tersebut tapi takut suasana dingin dan mencekam ini hancur karena malu.


“Dia baik sekali. Dia juga memberiku separuh kekuatannya. Jangan khawatir, Huke masih hidup kok. Aku tahu, kau punya keinginan untuk membunuh Huke, bukan?”


“Lalu, dimana Huke?”


Entah kenapa, keringat dingin mengalir di pipi kiri Black Aura. Perasaannya mendadak tak keruan ditambah dengan sedikit bumbu dari rasa takut yang mengusik jiwanya.


Tidak biasanya Black Aura merasa dirinya terancam seperti ini. Black Aura merasa, selain Edward, masih ada orang lain di dalam mall ini mengamatinya dalam diam. Menunggu timing yang tepat untuk menghajar Black Aura dan membebaskan Edward dari segelnya.


“Kau mau tahu dimana Huke?”


Edward menyeringai. Walau gemetar hebat jari-jemarinya, Edward tetap memaksakan diri agar jari telunjuknya tersebut bisa memberi Black Aura petunjuk mengenai keberadaan Huke sebenarnya.


Edward yakin kalau rencana yang sudah ia susun dengan Huke ini akan sukses melumpuhkan sekaligus membunuh Black Aura.


Karena, manusia selalu diuntungkan dimanapun dia berada.


“Di sampingmu…” Lirih Edward menyeringai lebar.

__ADS_1


Black Aura tertegun, Sontak, dia menoleh ke samping dan…


~


__ADS_2