Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 221


__ADS_3

Buku yang menjadi saksi bisu perjalanan Chloe dan Black Aura hingga ke titik ini diletakkannya perlahan di atas meja.


Chloe terdiam untuk beberapa saat. Dia kembali merenungkan diri sambil mengingat masa-masa dirinya bertemu dengan Black Aura.


Cuacanya hari ini cerah sekali. Meskipun begitu, perasaan gadis itu justru kebalikan dari cuaca hari itu.


"Aura nggak bangun-bangun. Mau sampai kapan? Bosan banget nih!" gumam Chloe gusar sambil merapikan beberapa helai rambutnya.


Burung-burung di pohon berkicau. Seolah menyambut musim panas tahun ini.


Di tengah tenangnya suasana di taman, Chloe menengadahkan kepalanya ke langit. Jelas sekali pantulan langit di iris matanya.


"Padahal, hari ini lagi nggak ada masalah. Tapi, kenapa selalu saja aku kesepian?" Choe melirik ke sekelompok remaja yang saat itu tengah merekam keisengan teman mereka yang hendak mengejutkan seekor kucing yang sedang berjalan pelan membawa ikan.


Melihat pemandangan itu saja tidaklah cukup menghibur Chloe.


Tidak adanya Black Aura sama dengan Chloe kembali ke masa-masa kesendiriannya. Duduk di kursi taman seorang diri dan sibuk dengan duniannya sendiri.


Membiarkan Aoi dan Jacqueline bersenang-senang layaknya seorang pasangan sambil mengisi kesendiriannya dengan membaca semua biodata serta sejarah yang pernah Black Aura lewati sebagai Aura yang dikatuki warga Carnater.


Senyum kecut terukir di wajahnya. Hari ini terlalu membosankan. Kalaupun ada insiden, Chloe malah merasa bingung harus berbuat apa selain berbaur dengan keramain para warga yang berlarian menghindari bahaya.


"Minji... Minji sama dengan Elena. Dan Elena adalah sahabat Midnight. Aneh. Kok bisa aku secara tidak langsung terhubung ke mereka?" gumamnya sambil membuka halamana selanjutnya yang kini menampilkan gambar sosok Devil Mask.


"Mungkinkah... Ini takdir?"


~


Setelah puas berkencan dan berkeliling ke berbagai tempat, Jacqueline dan Aoi kembali menghampuri bangku kursi Chloe. Gadis berambut pirang itu masih disana. Tentunya dengan posisi duduk yang sama seperti posisi awal sebelum Jacqueline dan Aoi meminta izin untuk bersenang-senang pada Chloe.


"Dari tadi kau disini?" tanya Jacqueline sedikit kaget.


Chloe mengangguk pelan.


"Nggak bosan?" tambah Jacqueline lagi. Tanoa ia sadari, dia memotong omongan Aoi yang hendak menanyakan pertanyaan yabg sama dengannya.


"Bosan sih. Tapi aku malas mau gerak kalau nggak ada kawannya. Kalian kalau masih mau jalan-jalan, nggak papa... Lanjut aja. Jangan terlalu memikirkan aku. Aku baik-baik aja disini," jelas Chloe panjang lebar hingga akhirnya senyuman tipis itu terpancar di wajahnya.

__ADS_1


Jacqueline dan Aoi yang mendengar penjelasan Chloe itu entah kenapa merasa bersalah. Mereka sebenarnya ingin Chloe ikut bersenanh-senang dengan mereka. Tapi, mereka sadar. Bahwa yang bisa membuat hati gadis itu bahagia hanyalah Aura yang saat ini sedang tertidur tanpa alasan yang jelas.


"Oke... Gimana kalau kita..."


Lagi-lagi, Aoi terpaksa membungkam bibirnya lantaran nada dering ponselnya yany tiba-tiba berbunyi di saku kemejanya. Menyebalkan memang.


"Ethan?"


"Ethan??!!" celetuk Chloe dan Jacqueline bersamaan. "Aura udah bangun?!"


"Bukan. Ethan kirim kita foto lho!"


"Foto? Coba lihat!" Chloe tanpa pikir panjang langsung merebut ponsel Aoi dan melihat langsung foto tersebut. Meski aslinya, si pemilik belum melihat sama sekali apa isi foto tersebut, Aoi tetap memberikannya pada Chloe selagi itu Ethan yang mengirimkannya.


Saat melihat foto tersebut, seketika, Chloe membeku. Kejadian ini kembali terulang. Akan tetapi...


Chloe menelan salivanya. Wajahnya berubah pucat. Sangat pucat bahkan hampir dikatakan miril dengan mayat hidup.


"Dia... Muncul lagi..." lirih Chloe sembari memperlihatkan foto tersebut pada kedua sahabatnya.


Begitu terlihat jelas isi foto tersebut, sama dengan Chloe, wajah Jacqueline berubah pucat. Tapi, dibarengi dengan rasa takut. Sedangkan Aoi, pria itu hanya terkejut biasa sampai-sampai refleks merampas ponselnya dari tangan Chloe demi melihat lebih jelas isi foto yang terputrat sedikit buram dan gelap itu.


Akan tetapi, ada sesuatu yang justru lebih menarik perhatian tapi cukup membuat bulu kuduk mereka meremang. Di siang bolong seperti ini, bagaimana bisa sesosok pria berbadan besar dengan menggenggam kapak ditangan kanannya mengintip di jendela ruang tamu Chloe.


Khawatir dengan kondisi Ethan yang saat ini masih menemani Black Aura yang tertidur pulas di ruang tamu, Chloe langsung mengeluarkan ponselnya dan menanyakan keadaan Ethan saat ini.


Menelpon pria itu hanya akan memburuk keheningan yang berusaha melindungi Ethan dan Black Aura. Karena itulah, Chloe menggunakan aplikasi chat untuk menghubungi Ethan.


Chloe: "Ethan, nggak papa kan? Pintu ruang tamunya terkuncinya?!"


Chloe menghela nafas sebentar sembari menunggu Ethan selesai mengetik.


Ethan: "Pintunya terkunci, kok. Aku juga baik-baik aja disini."


Chloe: "Pokoknya, jangan keluar rumah ya! Pastikan semuanya terkunci!"


Ethan: "I-iya... Tapi, kalian kesini dong! Lewat jalan mana gitu! Soalnya orang ini dari tadi cuma berdiri doang. Ngintipin aku aja gitu. Aku juga nggak nampak jelas gimana rupa dia.

__ADS_1


Chloe: "Duh, oke, oke! Kami kesana."


Chloe mematikan ponselnya, kemudian berpikir.


Seingatku, ada jalan raya yang bisa menghubungkan aku ke pintu belakang rumahku. Tapi, ada pagar rumah orang sih... Apa lewati aja kali atau minta izin.


Setelah selesai membatin, Chloe tanpa pikir panjang mengajak Aoi dan Jacqueline pergi ke rumahnya lagi. Tapi, dengan jalur berbeda tentunya.


"Ao, aku ada ide!" seru Chloe.


"Ide?" Aoi mengernyit penasaran.


"Kau tahu kan rumah Choi? Yang ada di belakang rumahku."


"Oh, tahu. Aku ngerti sekarang! Yuk kita kesana sekarang!" ajak Aoi.


Jacqueline dan Chloe mengangguk cepat sampai akhirnya mereka bertiga berlalu menuju parkiran mobil dan tancap gas menuju rumah Chloe.


~


Sementara itu, Ethan yang sedari bertahan di sofa dan berusaha berbaur dengan keheningan itu lama-kelamaan kehilangan kesabarannya. Dia melirik pelan ke arah siluet seorang pria dengan kapak yang digenggam di tangan kanannya.


Seingatnya, pria itu sudah dibawa pergi oleh Black Aura menggunakan kemampuan teleportasinya. Tapi, bagaimana bisa pria itu datang kembali setelah tiga hari kemudian.


Yah, itu sebenarnya tergantung dimana Black Aura meninggalkan pria itu.


Ethan menelan ludahnya. Perasaannya tak karuan itu berusaha dia tepis dengan berpikir positif bahwa tak lama lagi Black Aura akan bangun dan membantu dirinya menyingkirkan pria misterius itu dari jendela ruang tamu Chloe.


"Ayo, bangunlah, Aura!" lirih Ethan. "Kau udah tidur tiga hari, tau! Masa iya, harus dijagain sama kami?! Gantian napa!"


Aura itu... Nggak tidur kan?


Di tengah kepanikannya, tiba-tiba saja terlintas dibenak Ethan omongan Chloe.


"Benar juga... Aura itu nggak bisa tidur. Baik Devil Mask, Captain, bahkan Black Aura sendiri. Apa jangan-jangan... Black Aura tidur karena kehadiran orang itu?" gumam Ethan dengan matanya yang melirik dalam diam ke arah pria misterius tersebut.


~

__ADS_1


"Eh, kau jangan lama-lama ya bobo nya! Kalau nggak ada kau, kita nggak bisa selamat melawan semua Legend Aura. Adikku juga nggak bakal ketemu kalau kau tidur terus!"


Dalam hatinya, Ethan komat-kamit pasrah.


__ADS_2