Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 222


__ADS_3

Langit malam yang saat ini menemani Black Aura perlahan-lahan berubah menjadi kelamnya malam. Waktu di jam dinding seakan tak ada artinya di dunia mimpi buatan Ghostwave.


Karena bosan, Black Aura merebahkan punggungnya di atas tanah. Dingin dan kesepian. Tapi, kedua hal itu bukan masalah besar bagi Black Aura.


Beruntung juga spesiesnya yang telah berganti manusia tidak sampai masuk ke dunia mimpi ini. Dia tetaplah Aura yang tahan banting.


"Masih belum selesai, ya?" pikirnya sambil memandang bintang-bintang dengan tatapan kosong miliknya.


Entah darimana asalnya, tiba-tiba terbesit ide yang membuat Black Aura bangkit tiba-tiba lalu melirik ke sekelilingnya.


Tanpa pikir panjang, dia mengeluarkan pedangnya dan kemudian, menusuk dirinya dengan senjata tersebut. Siapa sangka kalau cara yang menyakitkan itu bisa memecahkan dinding langit dan membuat retakan disekelilingnya.


Dengan raut datar yang biasa terukir diwajahnya seolah dirinya tidak menunjukkan rasa sakit yang dia rasakan saat ini, Black Aura menebas dirinya bersamaan dengan pecahan dari langit yang berjatuhan di sekelilingnya.


Cara ini adalah cara yang pernah Chloe lakukan ketika dirinya bertarung melawan Aurora di alam bawah sadarnya.


"Waktu itu aku panik banget. Kukira, aku nggak bakal bangun lagi. Tapi rupanya, pedangmu ini bisa membangunkanku dari alam bawah sadarku."


"Sekali lagi, makasih ya! Berkat kau dan pedangmu, aku bisa bangun"


Black Aura membuka matanya yang terpejam. Tangan kanannya menggenggam erat gagang pedangnya. Walau harus merasakan sedikit rasa sakit, tapi, rasa sakit itu tak sebanding dengan perasaan Chloe yang sudah bersabar menunggunya bangun.


"Fuh... Moga, bangun beneran..." gumam Black Aura bersamaan dengan pedang yang menembus dirinya.


~


Sosok hitam itu masih tak kunjung pergi dari jendela depan Chloe. Lantas, Ethan yang kebingungan itu mengguncang-guncang tubuh Black Aura yang masih terlelap dalam tidurnya.


Sampai detik ini, belum ada keterangan yang jelas mengenai penyebab tidurnya Black Aura. Awalnya Ethan menduga, kalau Black Aura hanya kelelahan setelah beberapa hari yang lalu mengalami patah tulang di kakinya.


Entah kenapa, sejak kehadiran para Aura ini, kesehariannya dibumbui oleh pertanyaan fantasi yang biasanya jarang sekali ada dalam hidupnya.


"Kok bisa kau jadi manusia? Makan apa nih, anak?" gumam Ethan sambil sesekali melirik ke jendela tempat dimana siluet itu masih berdiri tegap seolah memandang ke arahnya saat ini. Ethan menelan salivanya sedalam mungkin. Huft... Jangan takut Ethan! Sebentar lagi dia bangun kok.


Di tengah perasaan yang tak beraturan itu, Ethan tiba-tiba dikejutkan oleh Black Aura yang terbangun begitu saja.

__ADS_1


Aura itu seakan baru saja mengalami mimpi buruk dari tidurnya sampai-sampai membuatnya terbangun dari tidurnya. Tidak ada keringat dingin di sekitar wajahnya karena sejak awal dirinya memang dingin.


"Astaga!" seru Ethan terduduk di kursi dengan nafas yang tak terkontro setelah. "Kalau bangun itu jangan bikin orang kaget kenapa?!"


"Oh, kaget ya? Maaf..." balas Black Aura datar seperti biasanya. "Udah berapa lama aku tidur?"


"Tiga tahun."


"Ooh..." Sambil menahan kalimatnya yang tak lagi akan keluar, Black Aura juga mengeluarkan sebilah pisau tepat di depan kedua mata Ethan. Nyaris saja ujungnya mengenai bola mata pria berambut kuning tersebut. Bahkan, Ethan sempat mengelak sedikit dari ujung pisau tersebut.


"Kau mau bunuh aku?!" tanya Ethan curiga.


"Nggak. Nakutin aja..."


"Nakutin? Asal kau tau ya, Aura! Aku udah berjam-jam nahan rasa takutku demi nungguin kau bangun! Hargai dikit kenapa?! Rasa takut dan mentalku inu mahal lho!" Ethan mengomel sambil menepuk dada kirinya pelan tiga kali.


Sementara Black Aura hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Ethan, setelah itu memperhatikan sekitarnya. Ruang tamu rumah Chloe. Semua perabotannya diletakkan dengan rapi dan masih sama seperti dulu peletakkannya.


Tiga hari tidur rupanya.... Batin Black Aura diakhiri dengan helaan nafas singkat. Entah kenapa, ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya ketika dia tahu bahwa tiga hari ini dirinya tidak ada bertindak sama sekali.


"Akhirnya! Dia yang dari kemarin bikin aku takut... Eh, maksudku... Dia baru disini pagi tadi sampai sekarang. Kau tahu siapa dia?" tanya Ethan yang sebentar lagi mau mengeluarkan pistol dari jaketnya.


"Nggak."


"Oh..."


"Jadi, kau mau aku ngapain sekarang?" Black Aura melirik Ethan yang sedang mengisi peluru pistolnya.


Pria itu berhenti beraktivitas ketika menyahuti pertanyaan Black Aura. "Aku mau kau apa? Maksudnya?"


"Nggak jadi. Kukira kau butuh bantuanku. Ya udah, sana! Habisi orang itu kalau kau..."


"Nggak, nggak! Kau yang lawan dia! Aku cuma sekedar ngisi ulang peluru aja. Kau yang nggak bisa takut, hajar dia sana!" potong Ethan. Dengan kecepatan tinggi, dia berpindah tempat ke belakang punggung Black Aura disusul dengan kedua tangannya yang mendorong pelan punggung Aura tersebut.


Di mata Black Aura saat ini, Ethan terlihat mirip sekali dengan anak ayam yang tengah berlindung di belakang induknya. Nggak lucu sih, menurut Black Aura.

__ADS_1


~


Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Aneh sekali, tidak ada pergerakan dari siluet pria misterius itu. Bahkan, Chloe dan kedua sahabatnya masih tak kunjung tiba di depan rumah.


Black Aura mengeluarkan kerisnya sambil diam-diam berjalan tanpa suara menghampiri pintu ruang tamu.


Pikirannya kosong. Tapi, ia tahu apa yang harus dia lakukan ketika tangannya menarik kenop pintu rumah Chloe.


Ya, menyerang pria itu tanpa memperdulikan angin yang ikut terluka tergores oleh ujung kerisnya yang tajam.


Black Aura memejamkan kedua matanya. Dia bertelepati sebentar dengan Ethan.


"*Kau diam aja. Jangan banyak gerak. Usahakan juga jangan teriak pas aku menyerang."


"Eh, Ba-baik*!" balas Ethan dalam hati. Sebenarnya dia agak kaget setelah mendengar suara yang berbicara dengannya di dalam kepala Ethan.


Suasana semakin menegang ketika Black Aura berhasil meraih kenop pintu rumah Chloe. Pelan-pelan, dia putar kenop pintu tersebut dan...


Ctak!


Ethan yang tadinya berada di belakang Black Aura berpindah tempat menjadi di teras rumah Chloe. Atau lebih tepatnya, di tempat dimana pria misterius itu berdiri berjam-jam memperhatikannya dalam diam.


"Eh? Aku diluar?" celetuk Ethan panik. "Lalu... Yang di dalam itu..."


~


Craatt!!


Tetesan darah hitam melayang di udara. Sebagian ada yang mengecap di pipi Black Aura dan sebagiannya membasahi dinding ruang tamu Chloe.


Jelas sekali di manik violet Black Aura wajah penuh rasa terkejut. Mata merah yang menyala bersamaan dengan wujudnya yang berubah menjadi wujud aslinya. Asap hitam itu dengan cepat menguasai seluruh tubuhnya.


Orang itu, tak lain adalah Ghostwave.


Jadi dia alasannya kenapa aku nggak bangun...

__ADS_1


__ADS_2