
Srak…
Ethan berjalan menembus buku-buku yang berserakan di sekitar sepatunya. Tangan kanannya menggenggam lengan kirinya yang saat ini sedang terluka. Untunglah, luka tersebut sudah dibaluti dengan perbanan sehingga darahnya tidak terbuang banyak/ Antisipasi juga seandainya luka tersebut sampai membuatnya lemas lantaran kehabisan banyak darah.
Ya, setelah bermalaman di dalam asrama milik Megawave, Ethan tidak menyangka kalau dirinya akan berhadapan langsung dengan Aura yang kewarasannya dipermainkan oleh benang merah yang melilit tengkuk mereka. Terpaksa, Ethan mengesampingkan rasa penasarannya dan memprioritaskan situasinya yang tengah didesak oleh puluhan Kristal yang tak lama lagi akan melukainya. Membuat bolong tubuhnya dan membiarkan nyawanya melayang.
Sekarang jam tangannya rusak. Ponselnya apalagi. Ethan berdecak sebal sekaligus merasa bodoh karena dirinya dengan mudahnya terpeleset saat sedang berusaha menghindari dari serangan Ayano yang secara tidak sengaja menemukannya. Alhasil, akibat kecerobohannya tersebut, kaki Ethan jadi kehilangan keseimbangannya dan ponselnya yang ia genggam itu terlepas dari tangannya. Kemudian terbanting di atas permukaan lantai, setelah itu pecah sudah layarnya yang berharga.
Sesak dada Ethan begitu melihat pemandangan tersebut. Benda yang sudah menjadi bagian dari hidupnya mati karena ulahnya sendiri. Ethan menghela nafas sedalam-dalamnya sambil menyemangati dirinya untuk terus bangkit.
“Jangan pernah berhenti, Ethan! Kau itu hebat! Seorang pria nggak boleh menyerah dengan mudah hanya karena ponselnya… Hiks… Mati…” Suara Ethan bergetar saat lidahnya menyebut kata ‘ponsel’ dan ‘mati’.
Tampaknya, situasinya saat ini sudah aman. Di dalam ruang dapur yang luas, memiliki Sembilan meja yang digunakan untuk memasak, dan juga peralatannya yang masih tersusun rapi di tempatnya, Ethan berjalan mengendap-endap menuju jendela. Di balik jendela, tidak ada seorang pun yang melintasi halaman asrama. Meskipun sepi, Ethan tidak bisa mengatakan asrama dengan tingkat delapan ini aman dari Aura yang kehilangan kewarasannya.
“Bagaimana pun juga, aku harus menemui Midnight! Aku harus membantunya apapun caranya!” gumam Ethan sambil mengisi pelurunya ke dalam pistol. Beruntunglah, pistolnya masih berfungsi. Seandainya tidak, Ethan terpaksa harus menggunakan kemampuan fisiknya.
“Tunggu, aku di lantai dua kan? Kalau lompat, kira-kira patah nggak ya, tulangku?” pikir Ethan. Dengan cepat, ide gilanya muncul di benaknya. Sebelum bertindak, Ethan merumuskan perkiraan yang akan dihadapi jika dirinya melompat keluar dari balkon lantai dua. Seandainya dia hanya mengalami cedera di bagian kaki, mungkin tidak masalah. Yah, asalkan kepalanya tidak menyentuh permukaan tanah, nyawanya bisa dibilang terselamatkan. Tapi…
Ethan menelan salivanya ketakutan. Tak pernah seumur hidupnya dia melompat dari balkon layaknya orang yang sedang melakukan percobaan bunuh diri. Kalau tidak dilakukan sekarang, maka Ethan harus menuruni tangga menuju lantai satu lalu mendobrak pintunya. Akan tetapi, bagaimana jika dirinya terpaksa berhadapan lagi dengan Aura yang menurutnya sedang bersembunyi di balik perabotan yang ada di asrama ini?
Aura di Carnater ini cenderung suka menyerang tiba-tiba. Maka dari itulah, Ethan tidak mau mengambil resiko dirinya bertemu dengan tuhan tiba-tiba. Belum lagi dengan Elena yang masih misterius keberadaannya. Setelah dibawa Emma ke tempatnya, Elena sudah tak lagi mengabarinya. Ponsel gadis itu juga tak bisa dihubungi. Ethan khawatir jika Elena telah mengalami sesuatu yang tidak-tidak. Seperti dibunuh?
“Cih! Apa-apaan pikiranku ini?!” gerutu Ethan, dengan cepat merampas piala yang terpajang di atas rak berisikan bermacam-macam piala di dalamnya. Dengan benda itu, Ethan memecahkan kaca jendela tanpa memperdulikan ribuan serpihan kecilnya yang melukai dirinya.
Sekarang, kaca tersebut bolong. Tinggal melangkah ke beranda dan melompat ke bawah. Ya, kali ini, Ethan tidak ragu lagi. Dia berlari tanpa aba-aba satu sampai tiga, kemudian melompat dengan bebas.
“Woah!”
Ethan tertegun mendapati dirinya yang sekarang melayang di udara. Tinggal menghitung beberapa detik lagi , tubuhnya akan mendarat ke tanah.
__ADS_1
“Aku nggak bakal mati, kan?” tanyannya dalam hati.
Entah darimana asalnya, seseorang menarik kerah kemeja Ethan, lalu mebopong tubuh Ethan ke luar pagar. Orang itu mendarat dengan sempurna tanpa cedera apapun.
“Kau mau mati ya?” orang itu bertanya hingga menyadarkan Ethan dari lamunan yang sempat membawanya ke pemikiran akan kematian. Untunglah, pemikiran tersebut memudar dengan cepat.
Ethan mendongakkan kepalanya, mendapati wajah seorang gadis yang menatapnya heran. Imut sekali wajahnya. Ethan nyaris saja dibuat merona oleh wajah tersebut. Pria itu segera memalingkan wajahnya sambil meminta pada gadis itu untuk menurunkannya. Memalukan sekali, dirinya dibopong oleh seorang gadis yang tinggi badannya berada di bawah dirinya.
“Bukan mau mati. Aku terpaksa melakukannya… Hm, kau siapa?” tanya Ethan pada gadis itu.
Gadis itu tersenyum lebar menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Ethan padanya. Dengan senang hati, dia memperkenalkan dirinya. Tak lupa disertai pose berkacak pinggang agar dirinya terlihat lebih percaya diri di depan Ethan.
“Namaku Captain. Aku kesini memang sengaja mencarimu. Kau tahu, Midnight mengkhawatirkanmu, lho…” guraunya setelah itu cekikikan tak jelas. “Kau tahu nggak dimana Aura sekarang? Aku sibuk mencarinya tapi nggak ketemu.”
Ethan menggeleng dengan wajahnya yang dipenuhi rona merah. Pikirannya mendadak tak jelas arahnya. Yang pada awalnya berniat ingin keluar dan mencari Midnight, kini berubah menjadi dirinya yang salah tingkah usai mendengar perkataan Captain yang mengatakan kalau Midnight mengkhawatirkannya. Ethan membeku. Tak lama kemudian tersadar pada kenyataan sekarang.
“Nggak. Aku nggak tahu dimana Aura. Anu, kau mau bantu aku, kan?”
“Cari Midnight. Aku juga… Mengkhawatirkannya,” ungkap Ethan malu-malu.
“Oh… Memangnya, kau siapanya ibuku?”
“Sahabat SMP-nya! Awalnya, aku kesini bersamanya. Tapi, karena ada Legend Aura yang menyerang kami, aku jadi terpisah dengannya.”
“Begitu ya… Oke! Akan ku bantu!”
Ethan merasa lega mengetahui dirinya bisa mencairkan kecurigaan Captain. Dengan begini, dia tidak perlu lagi melangkah sendirian dan…
Kebingungan mendapati sebuah pedang yang tiba-tiba berada di depan lehernya.
__ADS_1
“Kau boleh mengkhawatirkan ibuku. Tapi, kalau yang kau bilang Cuma sekedar omong kosong, aku nggak akan pernah ragu membunuhmu!” ancam Captain.
~
“Astaga! Tadi itu apa?” seru Chloe panik. Setelah terbangun dari tidurnya, Chloe dikejutkan oleh suara ombak yang berada tepat di belakang Black Aura, lalu puluhan pedang kristal yang mengejar mereka kemudian meledak, dan semburan api dari atas. Ketiga serangan itu terjadi di waktu bersamaan hingga membuat Chloe dan Black Aura kebingungan mau lewat jalur yang mana. Sementara,jalur yang mereka lewati hanya ada satu.
“Musuh intinya,” balas Black Aura singkat. Pandangan Aura itu tertuju lurus ke depan. Tampaknya, tidak ada waktu bagi Black Aura memandang wajah Chloe saat ini.
Sampai detik ini pun, Chloe selalu diselamatkan oleh Black Aura. Aura itu seolah tidak terlalu memperdulikan kekurangan Chloe yang kerap kali memancing amarahnya. Justru keinginan ingin terus bersama Chloe-lah yang membuat Black Aura selalu tepat waktu melindunginya.
“Uhm… Makasih ya, sekali lagi udah menyelamatkanku. Aku nggak tahu harus membalasnya dengan…”
“Jangan pikirkan itu. Yang penting, aku senang kau baik-baik aja…” ucap Black Aura diakhiri dengan senyuman.
Setelah puluhan menit dikejar oleh Alter yang berubah wujudnya menjadi naga, Black Aura akhirnya menemukan tempat persembunyian yang tempat. Dimana tidak ada satupun dari kelompok Yui yang bisa menemukan keberadaan mereka.
Black Aura tersenyum, lalu menunduk menyamai tingginya dengan Chloe “Aku juga minta maaf soal tadi. Mungkin aku kasar padamu, tapi kumohon… Jangan pergi sendirian lagi,” bisiknya.
Chloe terdiam sambil menundukkan kepalanya. Gadis itu kemudian, mendongakkan kepalanya menatap wajah Black Aura dalam-dalam.
“Kenapa minta maaf? Aku yang salah,” balas Chloe lembut, lalu menangkup wajah Aura itu kemudian menempelkan jidat mereka. Bagaimanapun juga, Chloe-lah yang bersalah. Dia selalu keras kepala dan bertindak sesukanya. Selain itu, Chloe tidak memikirkan posisinya yang saat ini sedang berada di dunia luar. Dunia dimana kekerasan lebih diutamakan ketimbang perang dingin yang kerap kali mengandalkan omongan dan juga negosiasi.
“Mulai sekarang, aku janji, akan terus disampingmu. Kita akan hadapi semuanya bersama-sama. Mulai sekarang, kau nggak sendirian lagi, Aura,” lanjut Chloe. “Kau mau ‘kan’ sama aku lagi?”
“Ya, aku mau sama Chloe lagi dan terima kasih, aku senang kau masih mau bersamaku,” Black Aura memejamkan kedua matanya.
Sejenak, kedua remaja itu melupakan konflik yang sempat membuat mereka terpisah beberapa saat yang lalu. Bagi mereka, terpisah itu tidak enak. Apalagi jika hati dan pikiran mereka sudah menyatu. Jujur saja, Black Aura sama sekali tidak ingin ditinggalkan oleh siapapun. Termasuk Chloe sendiri. Gadis itu adalah obat kesedihan sekaligus teman sesungguhnya. Seorang teman yang bisa menerima apapun itu sudah seharusnya dihargai keberadaannya. Bahkan sampai ikatan mereka berubah dari teman menjadi seorang kekasih lalu…
“Chloe… Kau nggak keberatan membantuku melawan mereka?”
__ADS_1
Chloe menggeleng. “Nggak kok. Aku malah senang setidaknya bisa membantumu lagi. Nah, ayo kita satukan kekuatan kita lagi!” ucap Chloe diakhiri dengan senyuman lebar.
~