Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 216


__ADS_3

“Oke, misi kita kali ini… Pertama, kita cari Devil Mask. Kita harus berkumpul sebelum


bertemu dengan Ghostwave bagaimanapun caranya,” jelas Yumi pada Black Aura dan Yira.


Mereka tidak kemana-mana. Selama tiga jam itu, mereka bertiga berkumpul di ruang tamu


Midnight. Ceroboh juga Midnight. Wanita itu tidak mengunci rumahnya.


Pintu rumahnya nggak dikunci?! Batin Yira setelah menelan salivanya.


Duduk di sofa orang yang belum pernah sekalipun ia kenal membuat Yira kaku dan tak


nyaman. Tak cukup jika Cuma sebatas bertemu di mimpi. Mengenal langsung orangnya


adalah hal yang terpenting.


“Kenapa nggak ditelpon aja?” usul Black Aura malas.


“Udah kutelpon berapa kali! Masih nggak diangkat juga. Mikir aku harus bagaimana lagi


menghubunginya?” omel Yumi pusing.


“Sebentar, kuperiksa.”


Black Aura mengaktifkan kemampuan mata pelacaknya dan mencari Devil Mask.


Kalau


terlalu lama mencari, mataku bisa rabun… Pikirnya sambil terus mencari.


Di sela-sela mencari Devil Mask, tiba-tiba terlintas dibenak Black Aura wajah Chloe yang


tersenyum. Seketika, Black Aura tersentak dan mengubah pikirannya untuk terus melakukan


pencarian bahkan sampai harus merelakan matanya.


Tunggu aku, Chloe…


“Aku bisa baca pikiranmu, Aura,” cibir Yumi mengejutkan Black Aura yang sudah hampir


99,9 serius mencari pacarnya dan Devil Mask.


“Apa? Aku Cuma ngomong doang kok. Bukannya melarang,” lanjut Yumi yang mendapatkan


tatapan tajam dari Black Aura.


Black Aura pun kembali mencari keberadaan dua orang penting itu.


“Hm, kalian ini… Tinggalnya di dalam dunia cermin ya?” tanya Yira.


“Bukan dunia cermin. Kami tinggal di Carnater. Cermin yang kau lihat itu Cuma sebagai


penghubung dunia ini dengan Carnater saja. Soalnya, ibu kami manusia. Dia tinggal disini


jadi mau tak mau kami butuh portal yang bisa membawa kami kesini. Sayangnya, cerminnya


udah rusak,” beber Yumi diakhiri dengan helaan nafas panjang.


“Jadi, nggak bisa pulang dong?”


“Iya.”


“Kalau diperbaiki?” usul Yira.


Yumi menggeleng resah. “Yang bisa perbaiki Cuma ibu kami aja.”


Manusia?!


“Ketemu…” ujar Black Aura menarik perhatian Yumi dan Yira.


Anehnya, manik violetnya gemetar hebat seolah akan menangis. Black Aura terdiam. Dia


sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Mata periksanya, seluruh


fokusnya tertuju pada gadis berambut pirang yang saat itu berdiri seorang diri di dalam


perpustakaan besar. Bukan perpustakaan yang sering Chloe datangi bersama Aoi.


“Chloe…”


“Chloe?! Kau menemukannya?!” seru Yumi syok minta ampun. Yira yang duduk


di sampingnya sampai terlonjak kaki. Nyaris saja tangannya menumpahkan toples yang


berisikan keripik kentang.


“Iya. Aku nggak punya waktu lagi! Aku harus kesana!” Black Aura lantas berdiri, lalu


melangkah cepat keluar.


Sial! Aku nggak punya portal!


“Black Aura! Tunggu!” ujar Yira meraih lengan Black Aura hingga membuat langkah Aura


tersebut terhenti.


“Kami ikut,” katanya.


Black Aura tak membalas tapi menggenggam erat tangan Yira dan Yumi kemudian

__ADS_1


berteleportasi ke tempat Chloe berada.


Di tengah perjalanan, Black Aura sambil menggendong Yira dan Yumi—melompat-lompat


beberapa atap gedung tanpa memikirkan apa kata orang yang melihatnya dari bawah.


Saking terburu-burunya, dia sampai tidak memperhatikan remaja yang tengah membuat


video dengan ponselnya.


“Lah? Devil Mask gimana? Masa iya kita cari Chloe dulu?!” protes Yumi baru sadar kalau


yang Black Aura temukan itu bukanlah Devil Mask.


“Kita bisa cari nanti,” balas Black Aura cepat.


“Kok gitu?! Gimana kalau pas di tengah jalan kita etemu Ghostwave? Kita nggak tahu


apa-apa lho soal Ghostwave! Kita juga nggak pernah bertarung dengannya!”


“Dia benar, Black Aura. Kalau kita utamakan Devil Mask dulu…” Yira ikut menimpali.


“Ck!” Black Aura menghentikan langkahnya---muak mendengar omongan kedua gadis itu.


“Gimana kalau kita pencar?” tanya Black Aura.


Yumi terbelalak bukan main, “Hah? Kau menyuruh kami pencar?? Coba kau lihat?! Dimana


kita sekarang?!”


Yumi menunjuk kebeberapa gedung perkantoran yang berdiri di sekitar mereka. Juga


keramaian yang mewarnai daerah kota juga berisiknya kendaraan yang berlalu-lalang di


jalan raya.


“Kita dimana ini, Aura?! Aku menyuruhmu mencari Devil Mask! Bukan Chloe! Periksa lagi


sana!” perintah Yumi. “Aku nggak mau kalau endingnya bakal tersesat di kota yang entah


apa namanya ini!”


“Ini Chicago.” Celetuk Yira datar.


“Devil Mask sama Jacqueline.”


Black Aura melirik tajam kea rah Yumi setelah mengetahui keberadaan Devil Mask. “Puas?”


“Puas. Antar aku kesana!” perintah Yumi.


“Cih!”


suaranya. Selain sadar sedari tadi hanya menjadi nyamuk diantara Aura yang sedang


bertengkar kecil, Yira yang merasa mengetahui daerah tersebut memutuskan untuk mencari


Chloe.


“Ide bagus! Kau aja yang cari Chloe.”


“Apa?!” Black Aura tak terima.


“Cepat, Aura!” paksa Yumi hingga pada akhirnya, dirinya berhasil membawa pergi Black


Aura.


Tersisa Yira yang berdiri seorang diri di depan toko bunga yang masih belum buka. Yira


terdiam beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu memutuskan untuk melangkah menuju


perpustakaan tempat Chloe berada.


Ketika berjalan, pikirannya tiba-tiba memutar rekaman mimpinya dimana dirinya yang


ditusuk dari belakang oleh Ghostwave.


Yira tertegun.


Kalau dipikir lagi, tempat dan jalan raya di sampingnya adalah tempat dimana


dirinya ditusuk dari belakang.


“Jangan-jangan… Aku bakal mati disini?!” gumamnya panik.


“Nggak mungkin, kan?” tambah Yira lagi berusaha menenangkan dirinya.


“Aku harus mencari Chloe! Aku tahu, aku ada karena aku diperlukan! Aku punya peran di


dunia ini!”


~


Dua puluh menitan Yira berjalan mencari perpustakaan itu, akhirnya ketemu juga.


“Ini… Perpustakaannya masih berfungsikan?”


Seingatku, perpustakaan ini masih ramai. Terus…


Yira membuka pintu tua tersebut, lalu masuk sambil tak lupa mengucapkan “permisi”.

__ADS_1


Terakhir kali aku kesini itu dua bulan yang lalu.


Yira melirik seisi perpustakaan itu. Ada sesuatu yang membuat ia tersadar setelah satu


menit mengamati ruangan yang kosong itu.


Gadis itu terdiam. Mengingat dirinya yang entah mengapa bisa terlibat begitu saja dalam


cerita fantasi milik orang lain. Tapi…


“Apa justru… Ini juga termasuk dalam cerita hidupku? Meskipun aku bukan siapa-siapa


mereka. Aku belum pernah merasakan pahit senangnya bersenang-senang dengan orang


lain…”


Selama ini, yang kulakukan hanyalah mengurung diri. Aku benci mencari masalah dengan


orang lain. Tapi, aku ingin diingat. Aku ingin punya seseorang yang bisa menjadi temanku


dan mengingat memori indah bersamaku.


Aku ini… Sebenarnya… Nggak papa kan gabung sama mereka?


Nggak masalah kan, kalau aku ikut bertarung?


Memangnya, kalau aku terluka, apa mereka mau mengobati lukaku?


Aku ini… Kenapa?


“Sejak awal, nggak ada yang menginginkan kehadiranmu.”


“Kau itu kegagalan, Yira!”


“Gimana mau punya teman kalau kau sendiri nggak mau buka diri?”


“Cuma dia aja yang bisa.”


Plak!


Yira menampar pipinya sendiri.


“Bengong lagi…” gumamnya.


“Aneh, belakangan ini, aku suka ngomong sendiri. Aku suka bengong sendiri. Apa karena, saking membosankannya hidupku ini, aku jadi begini?” pikirnya setelah itu melanjutkan perjalanannya mencari mencari Chloe.


Saat dirasa, Yira tidak merasakan tanda-tanda kehadiran seseorang di dalam perpustakaan


ini. Yang dia dengar hanyalah hembusan angin. Hanya dirinya seorang di dalam


perpustakaan ini.


Menyedihkan. Lagi-lagi, sendirian. Meskipiun dirinya sudah terbiasa bersahabat dengan


‘sendirian’, tetap saja, tidak ada yang memperhatikan itu memuakkan.


“Haloo! Apa ada orang disini?” teriak Yira.


Tidak ada satupun jawaban dari suara yang berbeda kecuali suaranya yang bergema


Terpantul oleh kesunyian dan merasakan betapa menakutkannya suasana hening


perpustakaan saat itu.


Padahal, buku-bukunya tersusun dengan rapi. Tapi mengapa perpustakaan ini seolah sudah


lama terbengkalai?


Horor.


Mendadak, Yira merasakan perasaannya ketakutan akan kesepian yang menghampirinya


ini.


Ini tak biasa.


“Halo!! Chloe!!! Apa kau disiniiii?” lanjutnya dengan suara yang lebih ia besarkan lagi


nadanya.


“Chloe!!”


Tidak ada respon apapun selain pantulan suaranya. Saat itulah, Yira terdiam. Meratapi


ruangan kosong itu seorang diri.


"Chloe nggak ada disini. Selain itu, Black Aura lama banget. Apa jarak antara perpustakaan


ke tempat Devil Mask itu jauh ya?”


Sejenak, Yira keluar. Selain tak ingin merasakan ketakutan terus-menerus, Yira juga


mengantisipasi andaikata ada orang yang diam-diam mengawasinya dari belakang.


Aku sampai saat ini masih bingung dengan diriku. Aku bingung dengan tujuan hidupku


selanjutnya. Kira-kira, aku bakal kemana ya? Masa remajaku terlalu datar sih…


“Ya, udah deh… Tunggu Black Aura aja deh…”

__ADS_1


~


__ADS_2