Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 78 { diskusi }


__ADS_3

Seorang remaja, laki-laki dan perempuan sedang duduk di sudut café sambil berbincang serangkain topic hangat yang tidak begitu dimengerti orang-orang. Mereka berdua terlihat begitu nyaman dengan dunia mereka sampai-sampai tidak memperhatikan seisi café yang semakin ramai akan pengunjung terutama bagi mereka yang sedang berpacaran.


Usai mendapat persetujuan dari Black Aura, Rara kemudian mengajak Aura itu berkeliling sebentar diiringi dengan basa-basi ringan mereka. Akan tetapi, justru Raralah yang paling banyak berbicara waktu itu. Gadis itu menceritakan banyak hal seputar kotanya hingga tanpa sadar, mereka berdua sudah berdiri di depan café langganan Rara dan Minji. Tanpa pikir panjang, mereka segera melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di sudut ruangan setelah itu melanjutkan pembicaraan yang sempat terjeda karena sibuk memilih tempat duduk.


Sudah lima menit lebih mereka berdua di café dan Black Aura mendapatkan sebuah kejutan kecil dari sifat Rara yang biasanya terlihat gugup di matanya. Tidak disangka-sangka, ternyata Rara juga memiliki sisi yang menyenangkan bahkan jauh lebih berisik ketimbang Chloe. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Rara bercerita banyak hal dengan harapan dapat mengusir kebosanan yang saat itu tengah menguasai pikiran Black Aura. Banyak hal yang dilakukan gadis itu. Mulai dari bercanda, mengejek kakaknya diam-diam, atau menceritakan sebagian pengalaman horornya semasa sekolah dulu. Rara bercerita sedikit tentang dirinya yang sering sekali diganggu oleh hantu bahkan sampai di usianya yang menginjak 22 tahun.


Black Aura sebagai lawan bicaranya hanya bisa mengangguk-angguk.  Tiba-tiba saja, Black Aura dibuat teringat akan sesuatu mengenai hantu. Dia ingat pertarungannya di kapal melawan Aurora. Waktu itu, Chloe ada membahas sedikit soal hantu. Namun, terpotong oleh pertarungan sengitnya dengan Aurora dan akhirnya, Chloe-lah yang menyelesaikan pertarungan tersebut. Benar-benar di luar dugaan. Entah bagaimana cara Chloe bisa mengalahkan Aurora hingga Aura itu tak lagi hinggap di dalam alam bawah sadar Chloe.


Kembali ke detik saat ini dimana sebuah pertanyaan terlintas begitu saja di benak Black Aura dan mengharuskan Aura itu untuk langsung mengajukannya sebelum dirinya lupa.


Pertanyaan sepele seputar hantu yang sebenarnya tidak begitu menarik perhatian Black Aura namun, hanya sekedar diutarakannya agar suasana di sekitarnya tidak canggung amat seperti saat pertama kali dirinya bertemu dengan Rara.


“Hantu itu memang menyeramkan, ya?” tanya Black Aura penasaran. Apalagi mengingat dirinya yang sempat disamakan dengan hantu oleh Chloe.


Rara terkekeh menanggapi pertanyaan Black Aura. Tidak perlu menunggu waktu lama, gadis itu menjawab pertanyaan Black Aura berdasarkan fakta, pengalaman, dan beberapa informasi yang didapatkannya dari berbagai media.


“Hmm, bagaimana ya? Menurutku, ya begitulah. Mereka menyeramkan karena ada sebabnya. Mereka juga tidak semuanya jahat. Kau mau melihat hantu, Aura?” tawar Rara disertai senyuman jahil yang lantas disambut oleh tatapan menusuk dari Black Aura.


“Ogah.” Jawab Black Aura singkat. Alasannya bukan karena dia takut, melainkan karena dirinya yang tidak memiliki kemampuan melihat dan pengetahuannya terhadap hal-hal mistis itu masih minim. Terus terang, Black Aura tidak mau ambil resiko pergi ke tempat angker bersama Rara yang ujung-ujungnya malah membahayakan diri mereka andaikata kehadiran mereka ini sanggup menarik perhatian para penunggu bangunan angker tersebut.


Seumpama sampai terjadi, apa yang harus mereka lakukan? Bertarung? Tentu saja tidak! Hantu itu transparan. Apabila Black Aura melayangkan pedangnya ke arah mereka, sama saja dengan dirinya melawan angin.


Sudah cukup dengan hantunya, kini mereka beralih ke hal lain yang dimulai dengan pertanyaan Rara.

__ADS_1


“Oh, ya Black Aura. Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan padamu. Kau keberatan tidak mau jawab?”


Black Aura menghela nafas lalu tersenyum, “Tentu. Asalkan, pertanyaanmu itu bukan sesuatu yang berkaitan dengan duniamu ya! Terus terang, aku memang bodoh soal duniamu. Tapi, kalau duniaku atau hal-hal yang berkaitan dengan Aura, aku pasti bisa menjawabnya.”


“Begitu ya…? Tapi, pertanyaanku ini malah berhubungan dengan Chloe.”


“Chloe? Hmmm...” Black Aura berpikir sebentar mempertimbangkan perkataan Rara barusan. Ada hubungannya dengan Chloe, ya? Menurut tebakan Black Aura, pertanyaan Rara ini pasti juga berujung ke Morgan. Pasti, gadis itu ingin bertanya kenapa dirinya bisa berada di luar, duduk seorang diri sambil memainkan kedua jarinya.


“Okelah, tanyakan saja…”


“Oke!” senyuman Rara otomatis mekar seperti bunga.  “Black Aura… Sebenarnya, rasamu terhadap Chloe itu bagaimana?”


“Rasaku?”


Seketika, Black Aura berhenti dari kegiatannya memotong brownies yang telah disajikan si pelayan padanya. Mendadak, suasana di antara Rara dan Black Aura berubah sehening hutan meskipun saat itu mereka sedang berada di tempat yang ramai akan suara pengunjung cafe dan suara klakson kendaraan yang bertebaran di luar sana.


Sebetulnya, Black Aura tidak ingin membuat Rara terus menunggu jawabannya darinya. Akan tetapi, pertanyaan yang diajukannya begitu sulit untuk dijawab. Bagi Black Aura, pertanyaan tersebut tidak seharusnya dipertanyakan sekarang. Terutama di saat dirinya sedang merasa kesal terhadap Morgan yang dengan mudahnya menarik perhatian Chloe.


“Aku tidak tahu.” Jawab Black Aura berdasarkan fakta.


Rara menunduk sambil mengelus-elus lengan kanannya. Menyadari bahwa dirinya baru saja melakukan kesalahan. Untuk mengucapkan permintaan maaf saja rasanya agak bagaimana begitu. Singkatnya takut.


“Perasaanku belum sepenuhnya seperti kalian. Sejak awal, aku terlahir tanpa emosi. Aku tidak memiliki perasaan apapun dan hanya mengandalkan naluri. Yah, simpelnya… Jika aku merasa terancam, maka aku akan melawan. Aku tidak akan mengganggu kalian jika kalian tidak menggangguku. Hah,,, Dunia kalian ini terlalu banyak aturan dan warna. Kalau sampai makhluk aneh sepertiku macam-macam dengan dunia kalian, saat itulah aku dianggap sebagai penjahat. Seperti yang dituliskan di buku ini.” jelas Black Aura kemudian, memperlihatkan buku temuan Chloe pada Rara.

__ADS_1


Kedua bola mata gadis itu membelalak. Dia masih ingat dengan buku yang pernah Chloe perlihatkan beberapa hari yang lalu padanya. Buku yang berisikan informasi tentang Carnater dengan identitas penulisnya yang masih misterius.


“Kau juga tahu buku ini?” tunjuk Rara penasaran.


Black Aura mengangguk pelan sembari memotong brownies hangat yang ia pesan. “Sebenarnya buku ini mau diselidiki ibuku lebih dalam. Ibuku berpikir, buku ini dibuat oleh manusia. Akan tetapi, ibuku tidak mencurigai Yuuki.” Sambil mengunyah, Black Aura sambil bercerita sedikit tentang buku dan tindakan Midnight soal kehadiran buku itu. Buku yang misterius,


“Benar juga. Sepertinya, kita harus membaca habis isi buku itu. Tapi, dengan ketebalannya dan juga waktu kita yang kian dipenuhi hal-hal penting, aku rasa tidak mungkin bagi kita bisa menyelesaikan buku itu selama tiga hari. Kecuali jika ada salah satu dari kita yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan apapun. Kita bisa saja menyuruhnya membaca habis buku itu dan menyimpulkan apa saja yang ia baca.” Komen Rara setelah menelan brownies coklat.


“Aoi? Aku rasa, orang itu sedang tidak sibuk hari ini kecuali…”


“Kalau dia memiliki rencana berkencan dengan Jacqueline.” Potong Rara disertai dengan senyumannya.


“Sudahlah, urusan buku itu biar ibuku saja yang mengurusnya.”


“Lalu? Andaikata buku ini memang dibuat oleh manusia yang sebenarnya tidak sengaja terjebak di duniamu bagaimana? Cara masuk ke duniamu itu loh…” ujar Rara yang terlalu jauh perkiraannya namun Black Aura tetap menganggap apa yang dikatakan Rara itu penting dan perlu dia ingat. Kalau perlu, dicatat atau hubungi Midnight langsung menggunakan ponselnya.


“Hmmm, untuk kembali ke duniaku, kami biasanya menggunakan cermin Carnater. Sekarang sih, cermin itu sudah jarang digunakan sejak aku, Devil Mask, dan Yumi fokusnya mencari Legend Aura yang mencari gara-gara di dunia kalian. Yah, kuharap cermin itu masih berfungsi seperti dulu.”


“Ngomong-ngomong, apa kami boleh ikut?” ujar Rara spontan.


Black Aura tercekat mendengarnya. “I-ikut? Kalian gila? Kalau kalian ikut, sama saja dengan bunuh diri. Di duniaku itu tidak ada yang namanya aturan sejak ras Aura ini bermunculan. Menginjakkan kaki di duniaku hanya akan menambah trauma dan ketakutan kalian semakin menjadi-jadi. Tidak ada yang namanya belas kasih selain kekerasan yang bertebaran di mana-mana. Aku juga sudah bilang padamu, kalau diriku yang dulu tidak memiliki perasaan sama sekali. Artinya sudah jelas bukan? Kalau aku saja dulunya tidak punya perasaan, apalagi mereka-mereka yang bersembunyi di dalam sana?” omel Black Aura panjang lebar.


“Aku sebisa mungkin nggak akan melibatkan kalian jika aku memang bisa mengatasinya sendiri. Seumpama yang kau katakan itu memang benar ada manusia yang bersembunyi di dunia Carnater, aku dan keluargaku akan secepat mungkin menemukan mereka sebelum malapetaka menghampiri mereka.” Tegas Black Aura.

__ADS_1


Rara berdecak kagum sekaligus tidak menyangka Aura sediam Black Aura ini sanggup berbicara sepanjang itu. Namun, itu tidaklah penting untuk saat ini. Selain kakaknya, dugaannya mengenai manusia yang tidak sengaja terjebak di dunia Carnater itu bisa-bisa memang benar adanya dan kedua perkara itu semestinya didiskusikan bersama Midnight secepatnya sebelum bahaya lain menyerbu mereka.


~


__ADS_2