
Setelah mengalahkan Dark Fire, Midnight dan Aoi segera bergegas keluar dari bangunan
terbengkalai tersebut menuju daerah kota yang ramai. Perjalanan mereka lumayan
memakan waktu lama. Hingga sampailah mereka di sebuah café yang biasanya Aoi
datangi bersama Chloe. Café tempat di mana dia dan gadis itu berbagi cerita senang, lucu, dan sedih.
Aoi serasa dibuat bernostalgia oleh café itu. Pelayannya masih sama dan seperti
biasa, sibuk dengan pelanggan mereka masing-masing. Aoi terenyuh dengan pemandangan café yang tak pernah sepi itu. Andai, ada Chloe dan Jacqueline di sampingnya, mereka pasti sudah bercengkrama berjam-jam di café itu.
“Kau mau minum di sini?” tanya Midnight memecahkan lamunan Aoi.
“I-iya. Sejak bertemu dengan Megaville, kami jadi jarang main ke sini. Kami lebih
menghabiskan waktu kami untuk mengetahui lebih dalam soal Aura.” Jawab Aoi sambil melangkahkan masuk ke dalam café. Dia juga mengajak Midnight untuk masuk.
“Aku nggak pernah ke café ini. Tapi, aku hafal rutenya. Aku sering melihat mahasiswa
seperti kalian berkunjung ke sini. Tak jarang, teman-temanku juga pada ke sini.
Mereka mengajakku tapi, aku menolaknya.”
“Karena masalah ini?”
Midnight mengangguk setelah itu mengucapkan “terima kasih” kepada pelayan café yang telah menyajikan hidangan hangat di meja mereka.
“Habis makan, kita akan pergi mencari teman-temanmu.” Ucap Midnight dibalas dengan anggukan kecil Aoi.
“Hmmm, benar juga ya!" celetuk Aoi.
"Apa?"
"Itu loh, aku penasaran bagaimana cara
kalian bisa terhubung dengan dunia fantasi? Aneh sekali. Terus, Silentwave… Apa benar dia anakmu?”
“Ya. Silentwave memang anakku. Lebih tepatnya anak angkat. Terus, kenapa aku bisa terhubung dengan dunia fantasi sebenarnya, bukan karena kemauanku. Melainkan, karena kebetulan atau keajaiban." Jelas Midnight.
"Oooh."
"Hmm, aku jadi penasaran dengan teman-temanmu. Tentu saja kau juga. Aku heran, kenapa kalian tertarik dengan Aura-auraku?"
"Hehehe, kau tau? Anak remaja seperti kami ini sangat menyukai yang namanya fantasi. Bisa bertemu hal seperti itu saja sudah membuat kami bangga. Ditambah lagi, menjadi teman. Bukankah hal seperti itu patut dihargai? Dari semua Aura-mu, aku paling senang berbicara dengan Yumi. Meskipun dia cerewet dan menjengkelkan, dia sangat percaya diri. Dia membuatku diperhatikan sekitar. Dia juga yang membuat gambarku menjadi terkenal." Ungkap Aoi dengan suara yang tenang.
"Aku senang kalau mereka bisa menjadi teman yang baik. Selama ini, sebelum bertemu kalian khususnya, Yumu dan yang lainnya benar-benar anti sosial. Mereka sebenarnya takut dengan dunia luar. Namun, karena ada satu hal, mereka jadi berani."
"Begitu ya... Rasanya, aku ingin mendengar semua ceritamu. Kalau bagus, aku ingin menjadikannya cerita komik atau novel."
Midnight terbelalak, tak lama kemudian tersipu malu. "Ah, kalian ini!"
"Heh? Kenapa harus malu? Aku suka mendengar ceritamu. Kau itu memang yang paling unik diantara orang-orang yang kukenal." Ungkap Aoi tanpa terselip kebohongan sedikitpun.
Midnight terdiam sesaat. Dia memikirkan sejenak perkataan Aoi.
"Baru pertama kali, aku mendengar ada seseorang yang mau mendengarkan ceritaku. Terima kasih ya!" ucapnya disertai senyuman manisnya.
"Sama-sama!"
"Oh, ya! Sudah siap makannya? Aku mau langsung bertemu teman-temanmu."
Aoi tersentak kemudian menghabiskan bolu yang ia pesan. "Sebentar lagi habis!" katanya dengan mulut penuh.
Midnighy terkekeh melihat tingkah Aoi yang menurutnya lucu. Selama ini, ia tidak pernah berbicara dengan laki-laki seramah Aoi. Laki-laki yang dulu ia jumpai rata-rata sedingin es. Hal itu membuat Midnight merasa dirinya sedang berada di dalam cerita novel buatan seseorang.
"Kau sudah tau dimana mereka?" tanya Aoi bersemangat. Makan siangnya sudah habis.
"Sudah!" balas Midnight.
Aoi tersenyum lebar. "Dimana?"
“Hmmm, sebentar yah!" Midnight mengambil earphone dari dalan mantelnya. Kemudian, memasangnya di telinganya dan berbicara. "Silentwave, bagaimana keadaan di sana?”
Aoi tertegun sesaat. Dia bertanya-tanya, bukankah Silentwave dari tadi bersembunyi di lengan Midnight? Lalu, kapan perginya Aura itu?
“Memangnya, Silentwave lagi di mana sekarang?” tanya Aoi penasaran.
Midnight menoleh ke arah Aoi disertai senyuman seringainya. “Jembatan Golden Gate.” Jawabnya.
Lagi-lagi, Aoi terbelalak dengan apa yang diucapkan Midnight.
“Jangan khawatir, mereka semua aman."
“Memangnya, apa yang sedang terjadi di sana?”
“Ssttt... Kau harus mengikuti rencanaku."
“Rencana apa?”
"Ayo, kita keluar!"
__ADS_1
Setelah membayar makan siang mereka, Midnight mengajak Aoi keluar cafe. Pergi ke samping gedung yang sepi dimana tidak ada seorang pun yang melintasi area tersebut.
“Kau sudah siap, Aoi?”
“Sudah!"
Tanpa pikir panjang, Midnight menarik lengan kanan Aoi dan berlari bersama pria itu masuk ke dalam portal yang ia buka.
Saat masuk, hal pertama yang menyambut mereka adalah gumpalan asap.
“Astaga…! Asap!”
“Wah, asap di sini tebal sekali.” Celetuk Midnight, berjalan pelan di belakang Aoi seraya
menarik tangan Aoi untuk berdiri.
“I-iya. Ini dimana? Kenapa banyak sekali kabut di sini?”
“Di Jembatan Golden Gate.”
“Eh?”
Begitu tau di mana dirinya berdiri saat ini, Aoi segera mengedarkan pandangannya
seluas mungkin ke berbagai daerah. Kabut membuat benda-benda di sekitarnya
terlihat samar. Dia bertanya-tanya, dimana Jacqueline dan Chloe. Apa mereka
baik-baik saja?
"Nah, Aoi. Dengarkan aku! Aku punya ide bagus untuk mengeluarkan kita semua dari situasi ini. Kebetulan, semua Legend Aura ada di sini. Aku tidak mau kita bertarung. Aku mau langsung pulang bersama kalian semua. Jadi, dengarkan aku!" bisik Midnight usai menemukan tempat persembunyian yang pas. Yaitu, dibalik mobil yang terbalik.
"Oke..."
“Bagus. Rencanannya..."
Untuk sesaat, Midnight menjelaskan rencananya pada Aoi dengan hati-hati. Aoi juga mempersiapkan pemahamannya agar bisa langsung memahami apa yang Midnight katakan.
"Nah, di depan sana ada Yuuki juga. Jadi, yang harus kau lakukan adalah..."
"Hmmm... Oke, oke! Aku paham!" jawab Aoi setelah mengerti rencana Midnight.
Tanpa pikir panjang, Aoi dan Midnight segera melangkah kaki mereka menuju tempat para Legend Aura itu berada. Suara tapak kaki mereka sengaja dipelankan agar tidak mengundang keributan.
Selama berjalan Aoi asyik memikirkan rencana Midnight. Dia tidak menyangka kalau Midnight sudah memberitahu rencananya lebih awal kepada Chloe dan Jacqueline. Entah bagaimana caranya, tapi Aoi sangat salut dengan ide wanita itu.
Midnight tersenyum. "Jangan khawatir, mereka cuma pura-pura pingsan. Silentwave melindungi mereka saat mereka hendak diserang Legend Aura." Lalu berjalan ke depan dan hendak mendatangi Yuuki yang tersenyum puas telah mengalahkan Megaville. Bersama dengan Legend Aura yang turun dan berdiri di belakang Yuuki dengan rapi.
"Baiklah."
“Akhirnya!" seru Yuuki lega.
Sesuai perkiraannya, baik Black Aura, Devil Mask, maupun Yumi sekalipun, tidak ada
yang menunjukkan pergerakan sama sekali. Mereka semua terkapar dengan luka yang
parah.
Selain itu, sesuai yang dikatakan Midnight, Chloe dan kedua sahabatnya mengikuti rencana Midnight yaitu, berpura-pura terluka parah. Padahal, sebenarnya mereka baik-baik saja.
Jacqueline membuka matanya. Dia melirik ke arah Chloe memastikan bahwa gadis itu tidak ketiduran.
"Chloe!" panggilnya sedikit berbisik.
Chloe menoleh kepalanya yang menghadap ke kanan menjadi ke kiri. Tepatnya ke arah Jacqueline yang saat ini pura-pura pingsan di sampingnya.
"Kapan?"
"Entahlah. Intinya, kita diam aja dan pura-pura lemah. Kita harus mengecohkan Yuuki dan Legend Aura itu!" jelas Chloe.
“Kelihatannya, mereka nggak ada yang bangun, Yuuki.” Ucap Dark Fire selang beberapa menit
kemudian.
“Kalau begitu, sisanya tinggal mengurus Megaville saja! Huke!” perintah Yuuki.
“Baik!” sahut Huke. Kemudian, dia mengeluarkan tiga panah esnya dan mengarahkannya ke tiga Megaville itu. Lalu, melepaskannya tanpa aba-aba satu dua tiga.
Ketiga panah es itu meluncur dengan bebas. Akan tetapi, ada sesuatu menangkap ketiga
panah tersebut dan mengubah sifatnya dari padat menjadi cair. Es itu larut dalam genggaman hitam milik Aura yang super diam itu.
Sontak, semuanya terkejut melihat kehadiran sosok makhluk aneh yang tidak mereka undang
itu. Termasuk ketiga gadis itu. Jacqueline nyaris saja berteriak. Untunglah, suaranya tertahan karena tatapan tajam dari Chloe.
“Ka-kau…” Huke terkejut bukan main.
Mendadak, Yuuki merasakan mulutnya kelu. Dia ingin menyebutkan nama Aura yang berdiri di
depannya itu. Aura yang sangat dekat dengan Midnight kini, berdiri dengan kedua tangan cairnya yang terkepal. Kedua mata merah Aura itu mengarah lurus pada Yuuki. Tatapan mata yang kosong dan hampa.
__ADS_1
“Silentwave…” Akhirnya, Yuuki berhasil mengendalikan lidahnya dan menyebut nama Aura itu.
“Tepat sekali!”
Dari kejauhan, Midnight menyahuti perkataan Yuuki dengan raut serius. Sambil melangkahkan kakinya dengan tegas, memperlihatkan bahwa dirinya sedang marah saat ini.
Seketika, perasaan puas itu lenyap saat
pandangannya menangkap sesosok perempuan yang berdiri dari kejauhan sana. Meski kepulan asap menutup sebagian wajah perempuan itu, Yuuki bisa menebak, bahwa
sosok itu adalah perempuan yang selama ini ia incar. Perempuan dengan kacamata bulat.
“Midnight…” Yuuki bergumam tidak percaya. Dia
mengira, dirinya yang akan menemukan gadis itu. Tapi rupanya, gadis itulah yang
akan mendatanginya dengan raut serius. Tidak seperti dugaannya, Midnight tidak
sendirian. Wanita itu berjalan ditemani seorang laki-laki yang tampak gugup.
Midnight hanya diam. Memandang datar ke arah Yuuki tanpa mengatakan sepatah kata pun. Senyuman yang biasanya ia sunggingkan itu lenyap ketika tahu bahwa dirinya bertemu dengan seorang pria yang sangat ia benci.
Mendadak, tubuh Yuuki membeku. Tidak seperti para Legend Aura yang memasang sikap waspada dan hendak menyerbu Midnight dengan sejumlah kekuatan mereka.
“Kau pikir, aku datang kesini untukmu?” tanya Midnight datar. Boomerang yang sebelumnya menebas Dark Fire, dia lempar lagi dengan bebas. Karena kekuatan melemparnya cukup kuat, boomerang itu kemungkinan agak lama kembalinya.
"Silentwave, tahan mereka!" perintah Midnight.
Aura itu mengangguk dan berubah menjadi cair.
Permukaan aspal yang semula kering, sekarang
dipenuhi oleh cairan hitam yang melebar. Cairan itu meluas hingga menenggelamkan
paha para Legend Aura itu termasuk Yuuki sekalipun.
“Ah, cairan ini!” Dark Fire terkejut mendapati
cairan hitam itu mengeluarkan empat pasang tangan yang menggenggam kuat kedua
kakinya. Tak cuma Dark Fire, semua Legend Aura juga begitu. Termasuk Yuuki sekalipun. Akan tetapi, pria itu hanya bergeming di tempat tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Midnight yang berjalan pelan ke arahnya.
“Asal kau tahu saja, aku lelah berhadapan terus denganmu!"
Suara tapak sepatu Midnight terdengar kuat dan tegas. Telinga Chloe merespon suara itu.
"Eh? Jangan-jangan... Apa dia yang membuat rencana ini? Siapa dia?" gumam Chloe penuh tanda tanya.
"Itu... Midnight kah?" timpal Rara yang ikut penasaran itu.
"Astaga... Mau sampai kapan kita pura-pura pingsan ini?" keluh Jacqueline kemudian, memilih untuk tidur.
Dari semua Legend Aura, Chloe mengklaim kalau Huke-lah yang patut diwaspadai. Pergerakannya terlalu lembut sehingga sulit
untuk ditebak dari arah mana Aura itu akan menyerang. Tapi, Huke kelihatannya masih terkejut dengan kehadiran Silentwave. Jadi, tidak ada tanda-tanda bahaya yang akan menghantam mereka nantinya.
Kembali pada wanita berkacamata bulat yang berhenti tepat di sampingnya.
Midnight menoleh ke arah Chloe dengan senyumanya hangatnya. Rupanya, wanita itu menyadari tatapan Chloe yang diam-diam menatapnya dengan raut bingung. Dia memperlihatkan pose tangan seperti menyuruh Chloe untuk tidur.
"Oke..." Chloe pun mengiyakan apa yang diperintahkan tangan Midnight dan tidur sejenak. Rara juga ikut tidur usai menanggapi isyarat tangan yang mengarah ke Chloe it.
Suasana di jembatan yang sebelumnya berisik,
menjadi sunyi setelah Black Aura, Yumi, dan Devil Mask terbaring tanpa memperlihatkan pergerakan apapun. Karena serangan combo dari Legend Aura tadi, mereka jadi tak sadarkan diri.
Setelah Chloe, Midnight mengedarkan pandangannya ke atah lain. Di balik kacamata bulatnya, matanya berkaca-kaca. Dia memandang tiga Aura kesayangannya yang terkapar tak berdaya. Sesak rasanya melihat mereka dalam keadaan seperti itu.
“Baiklah....” Midnight mengelap air matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang yang sangat ia benci itu.
Boomerang yang dilempar tadi kembali ke genggaman Midnight usai melukai Huke, Dark Fire, dan Dark Shadow.
Dengan tajam, Midnight memperlihatkan ujung
Boomerangnya secara terang-terangan di depan Yuuki dan Legend Aura-nya.
“Sampai jumpa.”
Midnight berbalik bersamaan dengan cairan hitam yang tiba-tiba, meledak dan membuat pandangan mereka terganggu oleh tinta itu. Satu hal penting, ledakan tersebut tidak menimbulkan suara besar sehingga, ketenangan yang sedari menemani mereka terusik.
“Astaga!” celetuk Dark Sport kaget.
“Midnight! Tunggu dulu! Tolong dengarkan aku...!” Yuuki kehilangan suaranya setelah dia mengetahui, sosok Midnight yang dia kejar
itu telah menghilang dari hadapannya. Entah bagaimana cara perempuan itu melarikan diri, yang jelas, Yuuki menyesal dan menyalahkan dirinya. Ini sudah kesekian kalinya dia gagal. dia bertanya-tanya, apa
dirinya ini sejak awal memang tidak ditakdirkan dengan perempuan itu? Lalu, apa maksudnya perasaan suka yang selama ini menguasai pikirannya itu?
Yuuki menghantamkan kepalan tangannya ke
permukaan jalan yang tidak bersalah. Berulang kali pria itu mengatakan “sial” sampai Huke terpaksa turun tangan menghentikkan pria yang tengah dikuasai amarah itu.
__ADS_1
~
Sembilan jam yang lalu pun berakhir