
Sebuah pedang terlempar jauh dari pemiliknya yang saat itu tengah bertarung sengit melawan salah satu Aura yang asalnya bukan dari Legend Aura bukan pula dari Megaville. Tidak ada julukan special untuk Aura yang asalnya dari perasaan manusia itu. Awalnya, mereka berjumlah seribu lebih. Kini, berkurang menjadi 545 lantaran dibantai habis-habisan oleh salah satu anggota Megaville yang terkenal kejam.
Muak dengan keberadaan Aura itu, Black Aura segera mengeluarkan sabitnya kemudian menebas lawannya dengan tingkat rasa sakit yang berlebihan.
Kemampuan Black Aura adalah memanipulasi rasa sakit. Begitu senjatanya menebas lawannya, saat itulah rasa sakit muncul dan secara diam-diam, Aura itu meningkatkan rasa sakit lawannya hingga pecah tak bersisa.
Seru memang. Membantai Aura-aura yang tidak terkendali itu selama dua bulan penuh tanpa istirahat.
Akan tetapi, keseruan itu tetap menyimpan sebuah batasan. Yaitu, kekuatan dan tenaga Black Aura yang kian menipis. Kakinya melemas hingga membawa tubuhnya ke dinding yang dipenuhi cipratan darah Aura-aura itu.
Black Aura menyandarkan punggungnya di dinding itu. Manik violetnya melirik ke arah kertas kecil bertuliskan “Help”. Sampai saat ini masih belum diketahui siapa yang menuliskan kata-kata bernada minta tolong itu.
Black Aura tidak sengaja menemukan surat itu di dalam buku temuan Chloe. Saat dia membuka lembaran paling terakhir, surat itu terjatuh tanpa suara. Segera ia ambil surat tersebut, kemudian membukannya setelah itu membacanya. Tulisan yang dituliskan dengan tinta spidol berwarna hitam. Black Aura langsung memberitahukan keberadaan surat itu pada Midnight. Sama seperti Rara, Midnight menduga bahwa di Carnater ada manusia yang menyasar. Tapi, bagaimana caranya? Sejauh ini, Megavile dan Legend Aura yang memiliki kekuatan portal hanyalah Devil Mask, Silentwave dan Huke. Sisanya mengandalkan teleportasi.
Awalnya Black Aura mencurigai bahwa pelakunya adalah Huke. Sementara Midnight, dia menuduh bahwa Yuuki-lah yang melakukannya. Sedangkan Rara yang kebetulan lewat dan mendengarkan pembicaraan mereka ikut menyambung serta menduga bahwa pelakunya berhubungan dengan seseorang yang menculik kakaknya. Gadis itu menduga Yohan pelakunya. Meskipun Midnight sempat meralat perkataan Rara tentang pria korea bernama Yohan yang sebenarnya hanyalah Yuuki yang sedang menyamar.
Sulit bagi Black Aura berkeliling mencari manusia yang diduga terjebak di dalam dunia tanpa warna ini. Ditambah lagi, Black Aura tidak menemukan banyak bukti juga bau anyir darah manusia di beberapa tempat di Carnater yang sudah lama sekali tidak ia kunjungi. Aura itu sempat meminta tolong Midnight, Devil Mask, Yumi, dan Silentwave untuk mengintai beberapa anggota Legend Aura yang berkeliaran di daerah kota. Tak lupa dengan pesan singkatnya mengenai Chloe. Black Aura tidak ingin rencananya ini terbongkar sampai ke telinga Chloe dan kedua sahabatnya. Cukup Rara saja yang mengetahui rahasia ini. Semoga saja, Rara bisa dipercaya perkataannya.
Black Aura kembali bangkit setelah merasa cukup dengan energinya yang telah terisi ulang. Rasanya, Black Aura ingin sekali kembali ke bumi dan bertemu dengan gadis bernama Chloe itu. Dia penasaran, apa kabar gadis itu? Walau malam selasa itu Black Aura sempat merasa sedih dengan Chloe yang mudah sekali teralihkan ke hal lain.
Black Aura masih ingat dengan permintaan Chloe yang ingin sekali berjalan-jalan dengannya. Dia bahkan belum punya jawaban yang pasti untuk pertanyaan Chloe yang gadis itu utarakan dua bulan yang lalu mengenai rasa Black Aura terhadap gadis itu. Kalau tidak salah, Rara juga pernah menyinggung soal itu. Lagi-lagi, Black Aura tidak bisa menjawab kecuali meminta lawan bicaranya mengganti topic.
"Oi!"
Black Aura menoleh tanpa suara mendapati sosok gadis dengan rambut indigo bergaris violet di dekat telinganya. Gadis itu mengenakan hoodie hitam di atas lutut dan sepatu boot wanita sepaha.
“Apa?"
Captain, gadis yang tadi memanggil Black Aura itu tersenyum. Salah satu anggota Megaville dengan kemampuan yang tidak begitu jelas. Kemampuannya akan jelas jika dia berhadapan langsung dengan Legend Aura yang mengganggu mood-nya
Penampilan Captain tak jauh beda dengan Black Aura. Berantakan tersiram darah lawannya dari ujung kaki sampai kepala. Dia sadis tapi cerewet.
“Tadi aku berkeliling di teritori Lady Asoka. Di depan pagarnya, aku menemukan tas ransel yang kurasa itu milik manusia yang nyasar ke sini. Tapi, ransel itu kosong dan aku hanya menemukan ‘ini’.” lapor Captain menunjukkan gantungan kunci kentang goreng.
Black Aura hanya meng-oh menanggapi temuan Captain itu. Biasa saja, tidak ada yang istimewa dari temuannya.
“Blaze dan Blitz… Mereka menemukan benda kotak yang memiliki tombol..."
"Ponsel namanya."
"Eh? Ponsel toh. Kau tahu ya?"
Black Aura mengangguk singkat.
"Hebat..." Gumam Captain seakan ejekan bagi Black Aura.
Tampaknya, pembicaraan mereka berakhir sampai sampai disitu pembicaraan mereka. Karena itulah, Black Aura dan Captain memutuskan untuk pergi seraya mencari keberadaan manusia yang hingga saat ini masih belum diketahui keberadaannya. Buku sejarah temuan Chloe itu mendadak terlintas di benak Black Aura, membuat langkahnya terhenti untuk beberapa saat sebelum akhirnya lamunannya di pecahkan oleh Captain yang terlihat bingung.
“Ada apa, Aura? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Kurasa, surat, buku, ponsel, dan ransel itu milik seorang manusia yang terjebak di dunia kita. Mereka pasti bersembunyi di sekitar istana Asoka pasti.” Ungkap Black Aura yang tampak yakin dengan perkataannya.
“Begitu ya? Okelah!” Captain tersenyum lebar dan pemandangan itu sama sekali tidak membuat Black Aura terkejut.
“Untuk ponselnya, kurasa kita bisa meminta bantuan ibu. Ibu kan paham soal teknologi. Dan lagi, ibu juga seorang manusia.” Tambah Captain tambah bersemangat. “Black Aura! Gimana kalau kita hubungi ibu?”
“Boleh.”
“Oke!”
Entah kesambet apa itu cewek, wajah datar yang semula mewarnai wajahnya dengan cepat terhapus oleh sekumpulan barang-barang milik manusia yang telah mereka temukan dengan susah payah di beberapa wilayah terlarang Carnater. Salah satunya teritori Lady Asoka yang terkenal sangat ketat penjagaannya ditambah dengan penjaganya yang tidak kenal belas kasih terutama jika ada yang mendatangi teritori mereka tanpa izin.
Captain yakin seratus persen bahwa barang-barang itu memiliki kaitan erat sehingga dapat disimpulkan bahwa manusia yang terjebak di dunia Carnater berjumlah satu orang. Tidak lebih!
Captain menoleh cepat dengan senyuman lebar terpancar di wajah cantiknya. “Ayo, kita panggil ibu!” serunya.
~
“Jadi, ada perlu apa kau memanggilku
kesini?” tanya Midnight santai pada pria yang duduk di hadapannya. Dia adalah
pria berkacamata kotak yang dua bulan lalu mengajak Chloe berjalan hingga
mengabaikan Black Aura plus datang ke rumah Midnight dengan alasan menemani
Chloe pulang. Saat itu, dia memberondong Midnight dengan beberapa pertanyaan
tanpa koma dan spasi. Hal itu membuat Midnight merasa (sangat) risih dan meminta
__ADS_1
pria itu untuk segera pulang dengan alasan hari sudah malam dan ada banyak hal
yang ingin dia bicarakan dengan Chloe.
Sebetulnya, Midnight sangat berwaspada terha
mereka bisa saja menjadi seorang pengkhianat dalam selimut. Meskipun pikirannya
terkadang suka random, berusaha berpikir positif tapi di lain sisi sulit
menghilangkan pikiran negative tersebut. Midnight tidak ingin Pria berkacamata itu
mengetahui keberadaan mahluk fantasi di dalam rumahnya. Sayangnya terlambat.
Pria itu sudah mengetahuinya melalui Chloe.
Jengkel sih, iya. Hanya saja, Midnight tidak
ingin memperparah masalahnya dengan masalah di dunia nyata. Terutama dengan
mahasiswa seperti Chloe dan pria yang duduk di depannya ini.
Pria itu berdehem, “Jadi, sebelum saya
memulai…”
“Terlalu formal menggunakan ‘saya’. Toh,
usia kita juga sebaya!” Cetus Midnight main sela begitu saja.
Pria itu agak terkejut dengan tanggapan
Midnight yang terkesan tidak senang akan kehadirannya. Bukannya tersinggung,
dia justru terkekeh dan kembali melanjutkan perkataannya yang sempat terpotong
itu.
“Hahh… Sebelum memulai semuanya, izinkan aku
memperkenalkan diri dulu. Namaku Morgan Palmer. Aku pria yang kemarin menemani
“Dan orang yang menghancurkan semua rencana
Chloe dan Aura kesayanganku. Lalu, apa maumu kesini? Kau sendiri tahu kalau aku
ini sedang sibuk? Dan lagi, kenapa kau suka sekali mengikutiku? Sebenarnya apa
maumu? Kau jatuh cinta denganku?”
“Bu-bukan begitu… Ada sesuatu yang ingin
kutanyakan padamu. Hmm, ngomong-ngomong… Namamu?”
“Midnight.”
“Baiklah, Midnight. Aku mohon, berhentilah
menyembunyikan identitasmu!” seolah baru saja membulatkan tekadnya, Morgan
membuka kedua matanya dan memperlihatkan tatapan penuh keyakinannya pada
Midnight yang justru memperlihatkan reaksi terkejut.
Midnight menarik nafasnya kemudian
membuangnya pelan, berusaha menstabilkan nafasnya agar tidak terlihat
mencurigakan di mata Morgan. “Identitas apa? Kau anggota FBI, ya?”
Morgan tersenyum mengangguk. “Ya. Aku dan
adiiku menjadi FBI bukan tanpa alasan. Bodoh ya! Padahal kita ini sahabatan
tapi, kami nggak tahu masalah apa yang sedang kau alami saat itu, Midnight.
Jujur saja, kau lebih cocok disapa Midnight ketimbang menggunakan nama aslimu.”
Ungkap Morgan. Di balik kacamatanya, mata pria itu berlinang air mata.
__ADS_1
Pertahanannya tidak lama lagi akan runtuh seiring memori masa lalu kembali
mengambang di benaknya.
Morgan sangat merindukan momen dimana
dirinya masih menduduki bangku SMP. Sebuah momen dimana adiknya dapat tersenyum
lebar ketika bersama seorang gadis berambut pendek coklat yang terlihat biasa
saja. Dia tidak begitu cantik seperti gadis di kelasnya. Tapi, peran dia
terhadap adiknya sungguh besar. Adiknya yang introvert, jarang sekali
menyunggingkan senyuman itu akhirnya berubah sejak kehadiran gadis bernama
Aogata Yoru.
Yoru adalah teman pertama adiknya. Seorang
gadis yang dengan tulusnya bermain dan menjadi kawan cerita adiknya.
Morgan menyeka pelan air matanya, lalu
tersenyum tipis. Jejak air mata itu tertangkap jelas oleh Midnight.
“Kau menangis?” tanya Midnight sedikit
khawatir. Perlahan-lahan, tatapan dingin gadis itu meleleh seiring senyuman
yang Morgan berikan padanya melelehkan dinding es yang menghalangi sifat asli
Midnight.
Aslinya, Morgan mengetahui sosok Midnight
yang sebenarnya. Ya, dia adalah gadis yang menjadi sahabat pertama adiknya,
Elena sekaligus siswi yang disangka adalah korban penculikan empat belas tahun
yang lalu. Morgan tidak tahu jelas bagaimana Midnight bisa selamat dari sang
pembunuh berdarah dingin yang mengincar gadis-gadis. Namun, apa gunanya
memikirkan itu sekarang? Toh, usahanya selama ini mencari Yoru akhirnya
membuahkan hasil yang manis hingga mampu meneteskan sedikit air mata
kebahagiaannya di pelupuk mata kanan.
Gadis bernama Yoru itu duduk berhadapan
dengannya. Nama jepangnya dibuang jauh oleh Yoru dan diganti menjadi Midnight.
“Padahal, kita ini sahabat. Tapi, kenapa aku
nggak pernah tahu masalah yang saat itu tengah mengganggumu? Kami ini
benar-benar jahat ya! Jelas sekali ada yang sedang stress dan membutuhkan
seseorang untuk berbicara.” Morgan memejamkan matanya sambil terisak pelan.
Melihat Morgan yang menangis itu, Midnight
jadi merasa bersalah telah memperlakukan Morgan dengan dingin. Wanita itu
mengelus pelan punggung Morgan sebagai permintaan maafnya. Sungguh, dia
benar-benar tidak tahu bahwa Morgan adalah orang yang sebenarnya sudah lama ia
kenal. Sejak SMP.
Akan tetapi…
“Hei, jangan bilang… Namamu adalah…”
Morgan tersenyum manis pada Midnight yang
menatap dengan tatapan heran ke arahnya. “Aku Ethan… Sahabat SMP-mu sekaligus, kakak dari Elena, sahabatmu.”
__ADS_1