
“Coklat… Bolu… Pandan… Bolu…” Black Aura membaca semua nama makanan yang hendak dia beli untuk makan tengah malamnya nanti. Juga untuk Midnight yang datang berkunjung ke rumah Chloe.
Belakangan ini, tak ada yang mencurigakan. Tak ada masalah ataupun orang-orang yang biasanya kerasukan Aura. Hari berjalan biasa saja.
“Bosan tapi, nggak papa sih kalau terus begini,” ujar Black Aura diakhiri dengan senyuman.
Setelah membeli beberapa kotak bolu, Black Aura beranjak menuju kursi taman dan duduk. Menunggu Devil Mask yang katanya ingin membahas sesuatu yang penting tentang Yuuki dan Emma. Dua orang itu memang nggak ada habisnya.
“Oi,” sapa Devil Mask.
Black Aura menoleh ke belakang, memperlihatkan raut datar.
“Jadi, apa yang ingin kau bahas?”
“Sudah jelas, kan? Oh, ya… Yang patahin kaki kananku itu… Ulahmu, bukan?” tanya Devil Mask memicingkan matanya.
Black Aura menghela pelan, “Menyuruhku kesini Cuma untuk bahas itu, mending aku pulang aja. Nggak guna…”
Baru saja bangkit, Black Aura langsung ditahan oleh Devil Mask. Aura itu memperlihatkan ekspresi serius meskipun wajahnya jelas sekali tertutupi oleh topengnya.
Devil Mask menarik pelan lengan Black Aura agar Aura bermanik violet iut mau mendengarkan omongannya sedikit saja. Karena, yang akan dia bahas bukan Cuma perbuatan tercela Black Aura melainkan Yuuki dan Emma yang sekarang ini mulai mulai bergerak secara diam-diam.
“Dengerin aku dulu, Au. Ini penting. Kemarin aku tak sengaja melihat Elena,” tutur Devil Mask sukses membuat seluruh perhatian Black Aura tertuju ke arahnya.
Black Aura terkejut. “Elena? Maksudmu, minji?”
Devil Mask mengangguk pelan. Aura itu mulai membeberkan apapun yang dia lihat di sekolah tua waktu itu. Leganya karena Elena baik-baik saja. Hanya saja, Devil Mask tidak bisa bergerak dengan bebas lantaran Elena berkeliling tidak sendirian. Dia ditemani oleh sosok Aura yang sama sekali tidak Devil Mask kenali. Aura itu memilih hawa dingin yang luar biasa.
Didekati saja, Devil Mask sudah merasa seluruh tulangnya membeku karena hawa tersebut.
“Aku ketemu Elena di sekolah tua dekat rumah Jacqueline. Aku lihat, wajah Elena pucat. Tapi untungnya,nggak ada luka memar apapun di tubuhnya. Aku nggak tahu dengan siapa dia pergi waktu itu yang jelas, Elena ketakutan.”
Penjelasan Devil Mask itu cukup menarik bagi Black Aura. tapi disisi lain memiliki kesan menakutkan karena keberadaan Elena yang saat ini benar-benar dalam ancaman besar. Masalah yang dia kira sudah selesai ternyata masih belum selesai.
Black Aura menghela nafas berat sebelum akhirnya berdiri dari kursi tamannya.
__ADS_1
“Jadi, kapan kita cari Elena? Aku jadi nggak bisa tinggal diam abis dengerin Elena yang dalam bahaya besar.
“Besok aja. Nanti kita ketemuan di gedung tua tempat Midnight dan Silent wave kelahi. Aku… Kalau nggak salah dengar, katanya Elena di sana.”
Saat menyebut nama Elena, terdengar suara teriakan seorang gadis dari arah depan. Tak begitu jauh dari tempat mereka duduk di depan minimarket.
“Siapa itu?” Black Aura beranjak dari kursinya dan berlari ke tempat sumber suara itu muncul.
Suaranya bukan Chloe, Midnight, ataupun Jacqueline. Rara dan Elena juga bukan. Mungkin orang lain. Meskipun dalam hati Black Aura merasa ragu akan penampilannya, tapi tetap saja mau tak mau dirinya harus pergi demi keselamatan gadis itu.
“Lepaskan aku!” teriak gadis itu.
Sementara, Black Aura dan Devil Mask berlari mencari sumber suara itu. Beruntunglah, suara itu semakin santer di telinga mereka.
“Itukah?” tunjuk Devil Mask.
Black Aura menghentikan langkahnya dan benar saja. Ada perempuan sebaya dengan Chloe tengah berusaha melawan pria berkumis yang sedang menarik paksa lengan Chloe.
“Oi!” seru Black Aura tanpa pikir panjang mendorong pria berkumis itu agar menjauh dari gadis berkacamata itu.
“Awas!” teriak gadis itu.
Untunglah, pisau itu bisa ditahan dengan mudah oleh Black Aura menggunakan tangan kanannya.
“Rambut putih? Kau ini cosplayer?” ledek pria itu tapi tidak digubris oleh Black Aura yang memilih untuk langsung melumpuhkan pria itu dengan sejumlah serangan kecil yang sekiranya bisa melemahkan pergerakan pria berkumis tersebut.
Alih-alih menunggu Black Aura selesai menghabisi pria berkumis itu, Devil Mask segera menghampiri gadis berkacamata bulat itu dan langsung mengamankannya ke tempat yang agak jauh dari pria berkumis itu.
Gadis itu kelihatan syok. Devil Mask berpikir, mungkin ini kali pertamanya gadis itu diculik.
“Ada yang luka, nggak?” tanya Devil Mask.
Gadis itu tertegun dan mendongakkan kepalanya menghadap topeng Devil Mask.
“Ah, kau itu… De-Devil Mask?” celetuk gadis itu mengejutkan Devil Mask.
__ADS_1
~
Yira yang sebelumnya sempat bertabrakan dengan seseorang itu tidak disangkanya akan ditarik paksa oleh pria berkumis yang hendak membawanya masuk ke dalam mobil hitam.
Mobil hitam dengan kaca hitam, biasanya mobil dengan kaca hitam tiga baris itu digunakan oleh orang-orang jahat untuk menculik perempuan dan anak kecil.
Yira yang pikirannya terserang panik tentu saja tak ingin membiarkan nyawanya menghilang karena dilenyapkan oleh pria misterius yang tak sengaja ia sebut sebagai “Black Aura”.
Sempat malu karena dirinya salah menyebut nama orang.
“Cih! Lepaskan aku!” gerutu Yira hingga pada akhirnya berteriak meminta tolong sampai akhirnya, keajaiban berpihak padanya. Dua orang remaja datang dan langsung memisahkan dirinya dengan pria berkumis itu.
Remaja berambut putih itu saat ini sedang mengajar pria yang hendak menculiknya tadi. Sedangkan remaja bertopeng kucing itu…
“Devil Mask?” Yira menelan salivanya tidak percaya dengan kenyataan yang dia lihat. Yira yakin seratus persen kalau remaja bertopeng kucing di hadapannya ini seratus persen adalah Devil Mask yang kerap kali muncul di mimpinya dan selalu mencakar Dark Fire dan Dark Shadow kala bertarung.
“Kau tahu darimana namaku?” tanya Devil Mask menelengkan kepalanya penuh tanda tanya.
Yira terkekeh geli, “Tentu saja aku tahu. Karena aku sering melihatmu di mimpiku. Jadi,kalian ini nyata?” tanya Yira kali ini sekedar memastikan tapi di lain sisi tidak bisa menutup wajah kebahagiaan penuh antusiasnya di hadapan Devil Mask.
Bingung ingin menjawab pertanyaan Yira dengan respon apa, Devil Mask memutuskan untuk menjawab seadanya.
“Kalau yang kau lihat ini memang nyata, ya, kenapa tidak?” balasnya.
Yira bungkam. Namun, dia bersemangat lantaran mimpi yang selama ini menemani kesadarannya saat tidur akhirnya menjadi kenyataan. Dengan begini, dia bisa membuat buku novel yang base of true story.
“Begitu ya?” kali ini seluruh perhatian Yira mengarah ke Black Aura yang baru saja selesai menghajar pria misterius tersebut. Beruntunglah, Black Aura tidak mendapatkan luka serius apapun. Dia hanya mendapatkan luka memar bekas di tinju dan juga goresan pisau.
“Hm, kau baik-baik aja, kan?” tanya Black Aura pada Yira yang tersipu malu ketika pandangannya itu berpapasan dengan manik violet Black Aura yang indah.
Mata violet itu, tak peduli seterang dan segelap apa dunia ini, mata itu tetap akan bersinar dan menyala. Mata yang menggambarkan gabungan dari seluruh rasa sakit seorang gadis bernama Carmine. Mata yang memberinya kekuatan untuk membunuh semua hal-hal yang menjadi penyebab rasa sakit itu muncul.
Yira bergumam dalam hati. Sungguh, tidak bisa dipungkiri seberapa senangnya hati Yira diselamatkan oleh Black Aura dan Devil Mask yang biasanya hanya muncul di mimpi dan menyerangnya kini berusaha melindunginya dari bahaya yang mengancam nyawanya.
“Mungkin, mereka bisa membantuku mencari tempat tinggal,” pikirnya diakhiri dengan senyuman licik.
__ADS_1