Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 29


__ADS_3

Di bawah indahnya langit sore yang membentang luas dari segala penjuru langit, Chloe bersandar di Mercendenz Benz milik Morgan sambil menunggu sahabatnya.


Tentang pemilik mobil tersebut, Morgan tengah pergi ke suatu tempat. Katanya, ia ingin membeli sejumlah obat-obatan untuk Chloe jikalau gadis itu mengalami luka parah ketika bertarung. Baik sekali dia. Chloe sampai tak bisa berkata-kata dibuat pria itu.


Sepastinya, Chloe sangat bersyukur bisa menjalin ikatan dengan orang baru seperti Morgan. Meskipun dikenal pemalu, bukan masalah besar bagi Chloe. Senangnya...


Ngomong-ngomong, Chloe tidak sendirian di depan cafe. Seperti biasa, Black Aura selalu ada di sampingnya-tengah menyantap sebungkus kentang goreng di dalam mobil Morgan. Remaja itu juga menyetel sebuah lagu di dalamnya.


"Huft... Kenapa Rara lama sekali?" gumam Chloe resah.


Di belakangnya, kaca mobil Morgan menurun dengan sendirinya. Chloe menoleh ke belakang.


"Belum datang?" tanya Black Aura. Tidak disangka, rupanya remaja ini sudah mahir memencet tombol untuk membuka kaca mobil. Chloe yang melihatnya sangat bangga dan spontan bertepuk tangan singkat.


"Apa-apaan kau?"


"Selamat! Kau sudah pandai membuka jendela mobil!" seru Chloe kemudian terkekeh ringan.


Black Aura tidak merespon dan menutup kembali kaca mobil itu.


"Eh?! Jangan di tutup dulu! Temani aku dulu napa!" Chloe buru-buru menahan kaca jendela yang tak lama lagi akan tertutup rapat.


"Aduh! Kejepit bodoh!" teriak Chloe kasar menyadari rasa sakit pada empat jarinya yang terjepit.


Lantas, Black Aura menurunkan kacanya kembali begitu mendengar suara gadis itu meringis kesakitan.


Dengan raut yang sangat datar, ia membalas. "Kau yang bodoh."


Chloe terperanjat. Darah panas merambat naik bagaikan larva gunung merapi yang hendak meletus.


"Apa kau bilang?!!" Bentak Chloe yang kemudian meninju keras tepat di wajah Black Aura.


"Ambil ini! Rasakan! Rasakan!" bentaknya tanpa bisa menghentikan tinjuannya. Orang-orang yang lewat di sekitarnya sampai ngeri dibuatnya. Sebagian juga ada yang bertanya-tanya dan menjauhinya dalam diam.


"Agh!" Black Aura refleks menutupi sebagian wajahnya.


Tinjuan gadis itu langsung Black Aura hentikan dengan satu tangannya yang menggenggam keras pergelangan kanan Chloe.


Chloe terkejut mendapati tangannya digenggam erat oleh Black Aura. Jantungnya yang sebelumnya berdetak normal kini malah berdebar-debar dibuat remaja itu. Alhasil, rona merah itu secara otomatis langsung mewarnai wajahnya.


Tangan Black Aura dingin. Tapi cukup membuat dadanya kepanasan. Ginilah! Kalau sudah terlanjut suka, apapun bisa membuat gadis ini membara.


"Eh? So-sorry!"


Tak ingin tenaganya terkuras karena tersipu, Chloe segera menarik tangannya. Ia terpaksa menyingkirkan perasaan sukanya dan beralih pada rasa panik. Buru-buru, ia mengambil ranselnya lalu, ia membuka resleting ranselnya dan menarik sehelai tisu.


"A-ambil!"


Tisu tersebut diambil oleh Black Aura. Aneh, remaja itu tidak marah ataupun membalas serangan Chloe. Ia hanya fokus pada lukanya.


"Pukul! Cepat pukul!" Pinta Chloe merasa bersalah.


Black Aura tidak merespon dan sibuk mengelap darah hitam yang baru saja mengalir dari mulutnya. Tidak disangka, tinjuan seorang gadis yang dikuasai amarah bisa semenyakitkan ini? Lain kali, dirinya harus lebih hati-hati menjaga emosi Chloe.


"Pukul cepat! Kalau kau nggak terima, pukul aja aku!!"


Tidak tahan dengan ocehan Chloe, Black Aura melayangkan tatapan dinginnya yang langsung membungkam mulut gadis itu rapat-rapat.


"Kau bisa mati kalau kubalas, asal kau tahu itu." Sahutnya dingin.


Chloe menyengir. "Ah, iya juga ya!"


"Gimana temanmu? Mau sampai kapan dia berada di rumah?" protes Black Aura. Sekaligus, mengubah topik pembicaraan mereka. Ia menyadari kalau darahnya sudah berhenti mengalir. Ia pun berhenti mengelap darahnya.


"Astaga! Sabar napa?! Perempuan biasanya berdandan dulu agar terlihat manis." Jelas Chloe yang tanpa sadar teralih begitu cepat ke topik yang lain.


"Padahal kau nggak dandan."


"Ah, Aku memang bukan type orang yang suka dandan. Cukup bedak dan lipstik yang warnanya soft kurasa sudah cocok untukku.".


"Ooh..."


"Oh, ya! Berikan padaku buku sejarahnya!"


Black Aura menuruti perkataan Chloe lalu, mengambil buku tersebut. Kemudian, ia lempar.

__ADS_1


"Nah."


"Thanks!"


Chloe membuka halaman buku itu secara acak. Kali ini, bukan halaman Black Aura yang ia temukan. Melainkan, Devil Mask.


Terakhir kali, Dark Sport mengatakan pada mereka tentang keberadaan Aoi.


"Devil Mask... Kalau memang benar kau yang bersama Aoi, sekarang dimana kalian?" gumam Chloe. Semangatnya perlahan menurun.


"Di dunianya, Devil Mask dikenal sebagai aura yang lumayan kejam. Dia memiliki dua sisi yang tak terduga di luar dan di balik topengnya. Jika di luar, ia terlihat biasa saja dan tetap tanpa emosi. Ia terlihat sangat penyayang dengan kucing-kucingnya. Akan tetapi, sisi di balik topengnya-sama saja dengan Black Aura.


"Ia melawan siapapun yang mencoba membuka topengnya. Ia melawan siapapun yang mengganggu keluarganya. Ia melawan siapapun yang berani menghalangi jalannya. Pertarungannya selalu diwarnai oleh kekerasan. Topeng yang tersenyum itu selalu terkena cipratan darah."


"Di keluarganya, dialah yang terkuat ketiga setelah Black Aura. Jika Black Aura mengandalkan rasa sakit lawannya, Silentwave mengandalkan kesunyian maka, Devil Mask mengandalkan kekerasan."


Chloe membuka halaman selanjutnya. Disana tertera beberapa jepretan foto Devil Mask. Tampak seperti paparazzi.


Aneh. Kalau buku ini ditulis oleh Midnight, ibu Megavile. Lalu, kenapa foto disini hasilnya jepretan agak berantakan? Apa dia takut dengan anak-anaknya? Apa diam-diam menulis buku ini?


Chloe masih tak habis pikir dengan tulisan di buku itu. Sekilas, beberapa hurufnya tampak di tulis menggunakan tinta dan terlihat tradisional. Gaya penulisannya seperti tulisan latin. Kalau saat Chloe TK, ia diajarkan cara menulis latin oleh gurunya.


Sekarang, pertanyaan Chloe ialah... Kenapa ibunya menulis buku tentang mereka? Dan kenapa bahasanya seperti bahasa manusia di negaranya yaitu bahasa inggris? Apa Midnight memang manusia sejak awal? Atau buku ini memang hanyalah buku fiksi? Lalu, bagaimana dengan Black Aura yang di sampingnya ini?


Terlalu lama larut dalam lamunannya, sebuah teriakan sapaan memecahkan semuanya. Telinga kanannya merespon suara sapaan yang sangat familiar. Suara seorang gadis. Chloe pun menoleh ke sumber suara dan menemukan orang yang bersangkutan atas suara tersebut.


Senyuman lebar terukir begitu ia tahu siapa yang memanggilnya barusan. "Rara!" sahut Chloe yang langsung berlari dan memeluk Rara.


"Hi, bestie! Kangen banget!" ucap Rara yang masih belum lepas dengan pelukannya.


"Aku lebih kangen. Btw, ada apa?"


"Ah, itu... Ada sesuatu yang perlu kubicarakan denganmu. Ayo, masuk! Kutraktir."


"Oh, thanks a lot!"


"Kau kesini sendirian?"


"Ada temen tadi, cuma lagi beli obat."


"Oalah..."


"Dingin." Ujar Rara yang masih memeluk dirinya.


"Iya. Kalau di Indonesia, entar malah kita yang merindukan salju." balas Chloe diiringi dengan senyumannya.


"Oh, ya! Kau ingin membahas apa?" lanjut Chloe yang sudah tidak sabar.


Rara tertegun lalu terdiam. Ia tampak memikirkan sesuatu dan ragu ingin mengatakannya. Rara membuka pelan mulutnya.


"Chloe, ada sesuatu yang ingin kubahas mengenai Minji. Aku harap, kau nggak marah padaku. Aku sudah memberitahunya untuk menyertakanmu dalam pesta nanti malam."


"Pesta?"


"Hmmm. Pesta reuni masa SMP. Minji hanya mengundang kelompok kita saja tapi..."


Chloe menghela nafas kemudian menyela pelan ucapan Rara. "Dia nggak bakal mengundangku."


"Ya, kau udah tahu jawabannya pasti. Makanya, aku kesini agar setidaknya, kita berdua bisa berbicara walau sebentar. Minji juga sibuk dengan dekorasi rumahnya. Aku... Benar-benar minta maaf. Aku nggak berguna jadi sahabatmu. Aku seharusnya melawan Minji."


Rara merutuki dirinya sendiri. Ia mengepalkan tangannya kuat dengan kedua mata yang terpejam erat. Ia mendadak tidak berani menatap Chloe yang tengah murung itu.


"Nggak papa kok. Jangan menyalahkan dirimu. Toh, kalau aku disana, bukannya bersenang-senang justru malah baku hantam sama dia kan?" balas Chloe. Jujur saja, Chloe benci dengan perlakuan Minji terhadapnya. Akan tetapi, ia juga tidak ingin Rara terlibat dalam masalahnya. Yang lain juga.


"Jangan khawatir. Aku masih punya Aoi kok." Tambah Chloe disertai senyuman tulusnya. Mati-matian ia menahan sedihnya.


"Oh, benar juga ya! Aku juga dengar dari Minji, belakangan ini kau dekat sekali dengan beberapa cowok. Ah, tadi kau bertemu dengan Minji kan?"


"Hanya sebentar. Aku nggak nyangka aja bakal ketemu dia."


"Dia bilang, kau bersama laki-laki."


Chloe tersedak ketika sedang meneguk coklat panas miliknya. "Ah, dia itu cosplayer nyasar." Dia lagi-lagi berbohong.


"Begitu ya? Tapi, Minji memperhatikanmu terus. Dia bilang, kau dan dia seperti sudah berteman lama. Minji bilang, laki-laki itu nggak seperti cosplayer." Perbincangan Rara semakin berlanjut. Kalau sudah membahas laki-laki, gadis itu bisa saja lupa waktu.

__ADS_1


"Dia cosplayer. Yah, dia orang yang menyenangkan. Aku suka kepribadiannya. Dia baik dan juga tam..."


"Dia manusia, kan?"


"Eh? Ya, iyalah! Aneh-aneh aja lo! Mana mau temenan sama nonhuman." Sangkal Chloe cepat-cepat meskipun ia tahu kebenarannya. Ia sengaja melepas gelak tawanya agar terkesan seperti ia menertawakan jokes Rara.


Rara juga ikut menertawakan loluconnyam


"Jangan makin melencenglah, mbak." celetuk Chloe yang masih terjebak dalam tawaannya.


Rara mendengus geli sebelum pada akhirnya memilih untuk serius. "Sebenarnya bukan itu yang mau kubahas. Tapi, ini yang mau kubahas Chloe. Aku ingin kau lebih berhati-hati."


"Dari awal aku sudah berhati-hati. Cepat selesaikan omonganmu dan jangan buat aku penasaran, oke?"


"Oke. Aku cuma mau bilang kalau, kau jangan sampai bertemu dengan Yohan."


Chloe mengerem gelak tawanya. Ia lantas mengerutkan keningnya. "Siapa Yohan?"


"Oh? Kau belum tahu ya? Astaga, aku lupa. Hehe, sorry. Yohan itu pacarnya Minji. Akhir-akhir ini, aku merasa aneh dengan sifatnya. Yah, dia memang romantis bersama Minji, tapi... Dia juga memiliki rahasia yang hanya diketahui Minji seorang. Bahkan, dunia luar juga nggak mengetahui rahasia ini. Tapi, ini berbahaya!" beber Rara yang wajahnya mulai diwarnai kepanikan.


"Aku langsung saja! Chloe! Buku yang kau katakan padaku itu memang nyata isinya. Aura itu ada! Mereka berkeliaran di mana-mana dan merasuki tubuh manusia. Mereka bahkan berbaur di lingkungan kita. Kumohon, kau harus berhati-hati! Aku yakin, diantara kita ini ada yang memantau kita dari jauh.


"Chloe! Untuk soal Yohan, dia memiliki rahasia yang hanya diketahui Minji. Aku mengetahuinya karena aku nggak sengaja nguping. Kalau tidak salah, ia mengadakan kerja sama dengan Legend Aura."


"Legend Aura?!"


"Kau tahu?"


"Hmmm. Kau sebaiknya jangan percaya mereka! Jangan sampai kau bertemu mereka kalau bisa!"


"Aku tahu! Tapi... Siang tadi..." Rara menggantungkan kalimatnya. Tiba-tiba, air matanya menetes membasahi pipinya tanpa sebab. Chloe yang menyaksikannya langsung panik. Ia pun langsung menggenggam erat kedua tangan Rara sembari membujuk gadis itu untuk tidak menangis.


"Ra! Ra! Duh, jangan nangis...! Kau kenapa? Kau punya masalah? Kenapa nggak langsung cerita aja? A-aku memang sibuk belakangan ini. Ta-tapi, aku akan selalu meluangkan waktuku untukmu." Bujuk Chloe yang malah terbawa perasaannya hingga kedua matanya ikut meneteskan air mata.


"Hiks... Bukan itu yang mau kubahas."


"Loh? Jadi apa??"


"Kau diincar Yohan!"


"Aaappaa??!" Chloe terbelalak sampai mengundang seluruh perhatian pengunjung cafe ke arahnya.


"Kau diincar! Siang tadi, aku mendengar Minji sedang menelpon Yohan. Hiks... Kurasa, Minji tidak senang dengan pertemuanmu tadi. Dia Hiks... Menyuruh Yohan untuk mencarimu. Dia juga bilang, kalau kau bersama Megavile. Huwaaa!" tangisan Rara pecah seperti tangisan anak tentangga yang tinggal bersebelahan dengan rumah orang tua Chloe di Semarang.


Menanggapi hal itu, Chloe hanya bisa terdiam sembari menenangkan Rara yang menangis.


Jadi, dia tahu kalau Black Aura itu Megavile.


"Chloe! Hiks... Kumohon, menjauhlah dari Megavile itu atau kita nggak akan lagi bertemu. Aku juga bodoh! Bukannya membelamu, aku malah..."


"Stop! Jangan dilanjutkan lagi! Aku nggak tahu lagi apa yang diinginkan Minji sampai-sampai dia mengincarku. Yah, kau sebaiknya jangan ikut campur ya! Dah, dah! Jangan nangis terus. Kan malu diliatin anak kecil." Bujuk Chloe halus. Ia masih belum berhenti mengelus punggung Rara yang gemetar menahan tangisan.


"Megavile itu orangnya baik. Mereka nggak seperti yang kau kira. Buktinya, sampai sekarang... Aku masih hidup kok!"


"Tapi, bagaimana kalau mereka menusukmu dari belakang?" tanya Rara dengan nafas tersengal-sengal.


"Nggak bakal. Aku jamin!"


"Gimana kalau pas Chloe tidur, dia bawa Chloe ke dunianya lalu dibunuh?"


"Nggak bakal. Janji! Aku dan dia udah menjadi teman. Surga neraka kami lewati sama-sama." Ucap Chloe mantap. "Kalaupun aku bakal ketemu Yohan, aku bisa kok melawannya."


"Benar nih?" Rara mendongak dan memperlihatkan jelas-jelas tampangnya yang hancur bak kota yang terseret tsunami.


Chloe mendengus geli melihatnya. Ia langsung menarik sehelai tisu, lalu memberikannya pada Rara.


"Aku jamin. Kalau kau butuh apa-apa, aku akan siap luangkan waktuku." Chloe mengulangi kata-katanya. Dia ingin Rara terus merasa nyaman sebagai sahabatnya.


"Kuharap, kau benar. Dimana dia?" tanya Rara yang langsung beranjak berdiri.


"Dia? Siapa?"


"Si Megavile!"


"Untuk apa?"

__ADS_1


Rara membuang ingusnya seraya berkata "Aku mau ngomong sama dia! Pokoknya, dia harus melindungimu apapun yang terjadi!"


~


__ADS_2