Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 108 {Season 2: Mimpi Chloe}


__ADS_3

Di tengah keributan kota, seorang gadis bertopi news boy berlari tergesa-gesa sambil memeluk kantong berisikan obat-obatan.


Padahal sudah dilarang keluar tapi gadis itu tetap membuka pintu asramanya diam-diam demi mencari kekasihnya yang pergi tanpa seizinnya. Rambut pirangnya berkibar terbawa derap langkahnya yang semakin panik.


Manik birunya melirik ke atas lalu ke belakang, takut akan serangan Legend Aura yang tiba-tiba mengarah langsung padanya. Sangat mengerikan memandang permukaan kota yang hancur serta hangus terbakar api. Juga menonton kematian warganya.


Perasaan gadis itu tak keruan. Sana-sini api. Dari arah barat, tampak Devil Mask tengah menghajar salah satu anggota Legend Aura yang entah siapa namanya. Gadis itu tidak kenal semua anggotanya kecuali pemimpin mereka yang bernama Dark Fire. Itupun sekedar tahu namanya.


Di sela aktivitas berlarinya, sempat-sempatnya gadis itu tersandung oleh batu dan membuat wajahnya otomatis mencium permukaan tanah yang kotor. Gadis itu meringis kesakitan. Memegang pipi kanannya yang tergores batu.


"Aduh... Bisa-bisanya aku kesandung," lalu menoleh ke sekelilingnya. "Aku harus cepat!"


Gadis itu bangkit, bergegas meninggalkan tempat yang terkesan mengancam nyawanya itu. Di depan sana, gadis elf itu menemukan perempatan jalan. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke kanan jalan dan sebuah pedang tiba-tiba muncul dan tertancap di dadanya langsung.


Gadis elf itu terbelelak bukan main. Tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan saat memandang darah biru lautnya bercipratan deras membasahi tanah dan pedang yang tertancap itu.


Saat itulah, kantong belanjaannya jatuh. Obat-obatan yang ia beli berceceran entah kemana. Salah satu obatnya ada yang melundung sampai masuk ke dalam parit.


Gadis itu oleng. Sebelum dirinya jatuh menghantam tanah, seseorang menahan tubuhnya dengan memegang pundak kanannya. Nafas gadis itu tercekat. Karena penasaran, di tengah rasa sakit yang menguasainya itu, mati-matian ia menggerakkan kepalanya hanya demi mengetahui siapa Aura yang menolongnya meskipun ia tahu bagaimana kondisi dirinya lima menit ke depan. Gadis elf itu menebak kalau orang itu adalah anggota Megavile. Tapi, tidak tahu yang mana satu Auranya.


Penglihatan gadis itu buram seiring kesadarannya perlahan-lahan menipis. Kakinya mendadak lemah dan nyaris membuatnya terjatuh. Bersamaan dengan rasa sakit yang menjalar hingga ke seleruh tubuhnya.


Gadis itu menyadari akan kecerobohannya. Namun, dia tidak menyesali tindakannya menyusul sang kekasih.


Aura yang menahan tubuhnya itu kemudian mencabut pedang yang tertancap di dada gadis elf itu.


Rasa sakit itu muncul lagi. Sayangnya, tenaganya untuk berteriak sebagai ungkapan betapa tidak kuatnya dirinya menahan rasa sakit itu telah habis terkuras oleh kegiatan berlarinya tadi.


"Eh?" Gadis Elf itu terbelalak lemah mendapati tangan besi dan pakaian serba hitam itu terlihat familiar.


Tak lama, tubuh lemahnya digendong Aura itu layaknya putri salju yang tertidur lelap usai melahap apel beracun dari sang penyihir. Aura itu berjalan pelan seolah dirinya ingin membuat gafis elf itu merasa nyaman. Setidaknya, rasa sakit yang dialami gadis itu perlahan-lahan bisa teratasi dengan kenyamanan.


"Kau..."


Aura yang menggendongnya tidak menggubris suara kecilnya. Dia tetap melangkah seraya mencari tempat yang aman untuk gadis ini tertidur.


"Jangan bersuara... Tidurlah..."


Suara itu terdengar layaknya bisikan menjelang kematiannya. Gadis elf itu tersenyum tipis Sebelum akhirnya ia tertidur pulas untuk selamanya. Entah kapan ia bangun yang jelas, gadis itu dinyatakan tidak akan kembali lagi ke dunianya.


~


Chloe membuka matanya begitu saja. Rasa kantuk yang sebelum menguasai indra penglihatannya seketika terhapus oleh tanda tanya besar di kepalanya. Gadis itu bangkit sambil mengumpulkan kesadarannya yang entah ke mana-mana perginya. Mimpi barusan dan gadis elf itu. Itulah pertanyaan yang kini bersarang di sudut pikiran Chloe.


Sangat disayangkan Chloe tidak ingat dengan wajah gadis elf itu selain pedang yang terlempar cepat kemudian tertancap di dada gadis itu hingga membuatnya tewas.


Mata Chloe tiba-tiba melebar begitu ingat rupa pedang yang menusuk dada gadis elf itu.


“Tunggu dulu…! Pedang itu… Pedang Black Aura, kan?” gumam Chloe tak percaya. Bersamaan dengan itu, ia mencoba menarik nafasnya. Berpikir positif kalau kekasihnya bukanlah pelaku yang membunuh gadis elf tak bersalah itu.


Dia memandang sekitar kamarnya yang gelap. Tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya yang duduk terbengong di atas ranjang tidur yang berantakan.


Chloe menoleh ke arah jendela yang menampilkan suasana malam. Tidak ada bintang  di langit segelap itu. Yang ada hanyalah suara decitan pintu yang terbuka dan sukses menarik atensi Chloe ke arahnya.


Rupanya Black Aura.


“Lho? Kau udah bangun?” ujar Black Aura lumayan kaget.,


Chloe terkekeh, “Sebelum masuk itu ketok dulu. Kan bisa bahaya kalau aku…”

__ADS_1


“Aku tahu. Nih, kau belum makan kan?” Black Aura menghampiri ranjang Chloe lalu duduk di pinggirannya. Dia meletakkan nampan berisikan sepiring bole coklat di atas nakas di samping ranjang tidur Chloe. Bolu itu ia potong segitiga.


“Thanks…” Chloe segera mengambil piring tersebut lalu melahap satu bolu yang Black Aura sodorkan. “Tadi aku mimpi aneh.”


“Apa?"


“Hmm… Aku mimpi ada cewek elf, berlari ditengah kota yang hancur gitu. Ada yang gedungnha kebakar ada yang gedungnya terbelah-belah. Cewek itu berlari sambil bawa obat-obatan gitu.


"Nggak lama kemudian, ada pedangmu tertancap di dadanya. Dia mati. Tapi anehnya, aku nggak begitu ingat wajahnya,” beber Chloe berusaha mengingat mimpinya yang perlahan-lahan memudar dari ingatannya.


“Ketusuk pedangku? Yang mana?"” Black Aura mulai berpikir. Berbeda dengan Chloe, Black Aura tidak memiliki ingatan yang kuat.


“Aku juga nggak tahu. Haah… Lupakan saja... Toh, nggak penting juga."


"Jangan gitu. Mana tahu mimpimu itu ada hubungannya dengan masalah kami. Seperti Carmine yang dulu."


Seperti teringat akan sesuatu, Chloe langsung mengiyakan apa yang Black Aura katakan. "Iya juga ya... Ada-ada saja aku. Apa mungkin aku lagi stress kali?”


“Stres? Soal apa?” Black Aura yang penasaran itu perlahan-lahan mendekatkan dirinya dengan kekasihnya yang tampak frustasi sekarang. Meskipun demikian, gadis itu tetap melanjutkan kegiatan mengunyah bolunya. Sudah lima bolu ia lahap tanpa jeda.


“Aku nggak tahu. Tapi yang jelas, aku ingin mendengar semuanya darimu. Seperti awal mula perang ini terjadi dan juga… Bagaimana dirimu di masa lalu? Aku ingin tahu sekejam kau di masa lalu..." Saat bola mata Chloe mengarah ke Black Aura, Aura itu menatapnya dengan raut aneh dan barulah Chloe menyadari kesalahan dalam kalimatnya.


"Eh! Ta-tapi… Bukannya aku memihak mereka. Kau tetap kekasihku, Aura. Aku bertanya seperti ini karena aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Bahkan termasuk makanan favoritmu,” jelas Chloe mendadak takut Aura itu salah paham dengan omongannya. “Santai aja. Jangan dibawa serius kali,” tambahnya.


Black Aura menghela nafas singkat, “Aku paham kok. Baiklah kalau kau mau mendengar semuanya. Walau sebenarnya, aku nggak begitu ingat dengan masa laluku. Aku juga nggak tahu udah berapa banyak kepalaku terbentur benda keras. Mungkin karena benturan itulah ingatanku perlahan-lahan memudar.”


“Yah... Berarti aku harus nanya Midnight dong?” Chloe kecewa.


Black Aura terkekeh, "Iya kayaknga. Intinya, sifatku dulu nggak sebaik yang sekarang. Kau merubahku, Chloe.”


Black Aura mengelus lembut puncak kepala gadis di hadapannya. Sesuai dugaannya, wajah Chloe langsung diwarnai oleh rona merah. Di dalam ruangan yang gelap dan dingin ini, Black Aura bisa mendengar samar-samar suara detak jantung Chloe yang berpacu cepat. Suka saja melihat kekasihnya salah tingkah.


“Iya… Lagi pula, aku ingin bersenang-senang denganmu…” Selama kau terlihat nyata di mataku. Chloe melanjutkan omongannya lewat batinnya. Ah, dia lupa lagi kalau kekasihnya ini bisa membaca pikirannya. Dasar!


“Memangnya aku ini nggak nyata?” pancing Black Aura demi menyandarkan gadis itu akan kemampuan uniknya yang satu ini. Dan benar saja, gadis itu menegang kemudian menjerit sejadi-jadinya. Chloe malu lagi.


“Hei, kecilkan suaramu!” bisik Black Aura yang kini tubuhnya digoncang-goncangkan penuh amarah oleh Chloe.


“Ah! Kau jahat! Kau jahat!”


“Kukira kau udah tahu lama soal kemampuanku yang satu ini.”


“Mana mungkin? Argh! Kalau begini caranya, semua rahasiaku dan rencanaku bakal kebongkar gara-gara kemampuanmu! Kau jahat!” gadis itu akhirnya menyerah dengan kegiatannya dan memutuskan untuk menyembunyikan dirinya dalam selimut. Chloe ngambek.


Black Aura geleng-geleng kepala menanggapi tingkah Chloe tapi tidak bisa menutupi senyuman jahilnya. “Kau marah?”


“Nggak tahu!” serbu Chloe dengan nada tinggi.


“Haahh… Maaf aku nggak maksud.”


“Kau udah mengulanginya lebih dari tiga kali! Aku marah pokoknya!” Di tengah amarah yang menguasainya, terbesit ide nakal di benaknya. Chloe melirik kearah bantal yang terbaring di sampingnya. Bantal itu menganggur. Hmmm…


“Baiklah… Kau mau ap…”


BUGH!


Sebuah bantal melayang tepat menghantam wajah Black Aura. Seketika, Aura itu terjatuh dari ranjang tidur Chloe karena kaget. “Oi, kau kenapa?”


“Ini mauku!” seru Chloe bersemangat sambil memeluk guling. Kemudian melayangkan guling itu lagi-lagi ke wajah Black Aura. Berbeda dari sebelumnya, Black Aura menendang guling itu hingga menghantam rak buku di sampingnya.

__ADS_1


Ternyata bantal dan guling itu tak cuma satu, melainkan ada sepuluh bantal dan guling tersusun di sudut ranjangnya. Dengan cepat, Chloe mengambil guling lalu menampar pipi Black Aura dengan ujung gulingnya.


Aura itu langsung kehilangan keseimbangannya sebelum akhirnya membalas serangan Chloe lantaran geram. Black Aura mengambil bantal dan hendak memukul lengan Chloe dengan bantal itu. Sayang, kecepatannya tak sebanding dengan kelincahan Chloe menghindari serangan Black Aura.


Gadis itu melompat dari ranjangnya dengan semangat, setelah itu mendorong Aura itu dengan ujung gulingnya.


“Ambil ini! Hahahaha!” tawa gadis itu meledak. Sepertinya puas dengan pertarungan konyol yang ia buat.


Black Aura ikut tertawa. Merasa lega bisa mengembalikan mood gadis itu meskipun dirinya harus rela dihajar habis-habisan oleh bantal dan guling Chloe. Yah, selama bukan pedang tidak apa-apa.


“Capek..."


Gadis itu merebahkan dirinya di lantai, di samping Black Aura berbaring.


"Kau masih marah?"


"Nggak lagi."


"Tadi itu apa?"


Chloe melirik ke arah Black Aura lalu tertawa kecil. "Perang bantal. Biasanya sebelum tidur, aku dan abangku bermain perang bantal. Menyenangkan sih..."


"Iya. Menyenangkan..."


"Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa di sini?"


"Kau dan kedua sahabatmu pingsan tiba-tiba. Kupikir, kalian kelelahan. Jadi, kuputuskan menggendong kalian bertiga ke markasku," ungkap Black Aura dengan manik violetnya yang menatap lurus ke langit-langit kamar.


Chloe terbelalak, menggendong tiga remaja yang sudah jelas berat badannya melebihi dirinya?


"Kau nggak keberatan?"


"Nggak. Cuma lelah aja balik tiga kali. Hmm, kau nyaman nggak tidur disini?"


Chloe berpikir sebelum menjawab pertanyaan Black Aura. Kalau dia pikir-pikir, tidak ada yang salah dengan kamarnya. Panas tidak, dingin lumayan. Tapi, sejauh ini Chloe merasa nyaman.


"Nyaman kok! Asalkan nggak ada kecoa aja. Hm... Aku jadi penasaran bagaimana rupa markasmu dari luar. Boleh aku keluar?"


Black Aura menggeleng pelan dan otomatis mendapatkan ekspresi lecewa Chloe. "Di luar dingin. Kau bisa membeku atau demam karena suhu itu. Yah, penampilannya seperti mansion luas bertingkat lima. Mansionku minim pencahayaan. Kami menggunakan obor sebagai penerangan. Nggak papa kan?"


"Santai aja, Au. Aku malah senang. Terasa banget kesan fantasinya."


Gadis berambut pirang itu menoleh ke arah Black Aura, memamerkan senyuman manisnya yang selalu terlihat teduh di matanya. Akan tetapi, ada sesuatu yang menjanggal dibalik senyuman itu. Seolah senyuman itu pernah dimiliki oleh gadis lain yang statusnya adalah musuhnya, di masa lalu.


Black Aura menghela nafas berusaha menghilangkan pemikiran yang mengganggunya itu dengan sebuah pertanyaan.


"Nanti pagi, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


Mendengar itu, kedua alis Chloe terangkat seketika. Rasa penasarannya untuk ke ribuan kali menguasai dirinya. Begitu pula dengan antusiasme-nya menunggu Black Aura melanjutkan kalimatnya.


"Ke mana?"


"Ke tempat yang hanya orang tertentu bisa melihatnya. Karena itulah, aku minta kau harus tampil manis di depanku, Oke!"


"Huh, kau ini ada-ada saja!"


Keduanya terkekeh sebelum akhirnya larut dalam pemikiran mereka masing-masing.


~

__ADS_1


__ADS_2