
Momen pernyataan cinta antara Chloe dan Black Aura bisa dikatakan langka. Mengapa? Karena latarnya bukan di bumi melainkan di dunia lain. Dunia Carnater.
Andai kata ada pertanyaan yang menyinggung soal tempat dimana mereka saling menyatakan perasaan mereka, maka jawabannya adalah dunia fantasi. Terdengar mustahil bukan? Orang-orang pasti tidak akan percaya pada awalnya. Pengecualian untuk Aoi dan Jacqueline yang terlibat meskipun tidak melihat dari dekat melainkan, merekam momen tersebut dibalik pohon besar yang gersang dengan kamera ponsel mereka.
Pasangan itu cengengesan tak jelas. Mereka bangga dengan aksi jahil mereka. Sungguh di luar dugaan, Chloe yang mereka kenal malu-malu itu bisa melakukan tindakan di luar nalar. Jacqueline yang bisa dibilang tak punya malu meski hanya 67%, seenggaknya masih berpikir dua kali untuk menembak Aoi dengan ciuman.
“Sumpah? First kiss Chloe?” Jacqueline mengerjap-ngerjap matanya tak percaya. Menatap Chloe yang baru saja mencium Black Aura dengan percaya dirinya, lalu mengungkapkan seluruh isi hatinya di depan Aura yang terlihat bengong itu.
Sementara itu, Aoi sedang mengecek hasil rekamannya dengan senyuman penuh kemenangan. Dia bangga akan perkembangan sifat Chloe. Perlahan-lahan, gadis itu mulai terbuka walau hanya satu orang saja. Tapi setidaknya, usaha mereka membawa Chloe ke Carnater dan membuat gadis itu dipertemukan kembali dengan sosok yang sangat ia cintai sampai-sampai menyatakan perasaan mereka di dunia fantasi, tidak sia-sia
“Aku… Aku terharu,” ujar Jacqueline sedikit berlebihan. Seakan-akan dirinya memang terharu. Hanya saja, air matanya tersebut tidak menetes dari pelupuk matanya.
“Iya. Aku juga.” Balas Aoi lega.
“Eh, kirim lah videonya! Mau kusimpan biar jadi kejutan dia nanti,” pinta Jacqueline memaksa sambil menggoncang-goncang pundak Aoi.
“Aish! Jangan sekarang! Nanti kita ketahuan!” tolak Aoi risih. Pandangannya tertuju ke layar ponselnya. Saat ini, Aoi sedang memindahkan video tersebut ke folder rahasia yang nantinya bakalan dia kirim saat waktu istirahat tiba. Akan tetapi, pacarnya yang tak sabaran itu bersikeras memaksa Aoi hingga menimbulkan kekacauan kecil.
50:50. Keduanya sama-sama salah. Jacqueline yang terlalu memaksa Aoi hingga ponselnya terjatuh menghantam tanah dan Aoi yang tidak benar memegang ponselnya.
Alhasil, kecerobohan mereka itu disadari cepat oleh Black Aura. Pengaruh ciuman Chloe tadi masih menguasai pikirannya. Aura itu seperti terhipnotis atau lebih tepatnya mabuk karena aroma lipstick Chloe yang entah apa namanya.
Sontak, Chloe terkejut dan tentu saja meluapkan emosinya karena telah direkam secara ilegal oleh kedua sahabatnya. Ya, maklum. Namanya juga sahabat. Nggak selamanya mereka ada untuk menghibur. Ada kalanya mereka berbuat jahil demi mencari sensasi dan tanpa disadari juga, aksi konyol mereka itulah yang akan menjadi cerita manis setelah perpisahan menghampiri mereka.
“HAPUS NGGAK?!” teriak Chloe antara menahan emosi dan malunya. Gadis itu tak ingin kebahagiaannya pudar karena emosi negatif.
Aoi melirik kearah Jacqueline dengan senyum kakunya. Beginilah reaksi mereka ketika sudah tertangkap basah. Bingung mau berbuat apa selain kabur.
Baru lima langkah saja, suara jentikan jari Black Aura membuat mereka berpindah secara otomatis di depan Chloe yang tengah memasang raut garang.
Dengan kedua tangan yang menganggur, Chloe menarik pipi kiri dan kanan pasangan jahil tersebut. Chloe tidak memperdulikan bagaimana rasa sakit yang Aoi dan Jacqueline rasakan. Ditambah lagi, suara aduh mereka yang terdengar memilukan itu tampak seolah dibuat-buat oleh mereka. Chloe yang tidak percaya akan keaslian suara aduh mereka memilih untuk mengintrogasi mereka mengenai perbuatan tercela satu menit yang lalu.
“Barusan kalian ngapain?” tanyanya dingin. Senyuman yang terukir di wajahnya terlihat dipaksakan sehingga memunculkan hawa tidak enak ketika mata Aoi berpapasan langsung dengan mata Chloe.
Jacqueline mendadak menjadi pengecut. Dia membuang wajahnya ke arah lain sambil berdoa agar mereka diberikan keselamatan dan umur yang panjang.
“Bilang! Tadi habis ngapain?!” bentak Chloe tak sabaran.
“Aaa… Itu… Kami disuruh Captain nyari kalian.” jelas Aoi ketakutan.
__ADS_1
“Lalu, apa yang kalian lihat setelah sampai di sini?”
“Kalian ciuman!” sambar Jacqueline girang. Suaranya terdengar imut sampai-sampai membuat Chloe harus kembali menahan rona merah yang menjadi kelemahan terbesar dalam hal cinta.
Jacqueline melepaskan dirinya dari cubitan Chloe, memilih berdiri menghadap sahabatnya disusul dengan kedua tangannya yang ia letakkan di atas pundak Chloe. Jacqueline memasang senyum mantap di depan Chloe berharap amarah gadis itu pudar. Biasanya, cara itu sukses membuat Chloe luluh dari emosi. Namun kali ini, karena ada pacarnya, mungkin agak sedikit sulit menenangkan suasana hati sahabatnya.
“Selamat ya! Aku nggak nyangka kau bakal senekat itu Chloe! Sumpah, aku salut banget sama aksimu tadi!” ucap Jacqueline mantap.
Chloe melongo mendengar ucapan Jacqueline.Ucapan selamat?
“Kami minta maaf ya, udah merekam diam-diam. Kami ngelakuin itu biar kau punya kenangan pas kalian berdua sudah berkeluarga nantinya,” tambah Jacqueline, dibumbui sedikit alasan bijak agar Chloe mau mengerti dan tidak lagi memasang wajah garang layaknya singa di Afrika. Ada-ada saja Jacqueline ini…
Tatapan minta maaf yang Jacqueline perlihatkan pada Chloe tak bertahan lama. Sepuluh detik lewat itu…
Semangat empat limanya berkobar di dalam dadanya menanggapi betapa beraninya Chloe mencuri ciuman dari Black Aura. Lihat saja! Aura itu auto diam tak berkutik mendapatkan kecupan manis dari Chloe yang kini sudah menyandang status sebagai pacarnya. Wah, semoga langgeng terus ya! Begitulah yang Jacqueline lontarkan di dalam hatinya.
Chloe menghela nafas pasrah. Ada benarnya juga yang teman-temannya lakukan. Hahh, jadi serba salah.
“Kalau begitu, thanks ya!” ucap Chloe kemudian memeluk kedua sahabatnya dengan penuh kasih sayang. Nakal-nakal begitu, menyenangkan juga lho!
“Sama-sama! Kalian berdua juga harus kompak terus ya! Kalau berantem, minta maaf.” Timpal Aoi sambil cekikikan tak jelas.
Di luar lingkaran tiga sahabat itu, Black Aura hanya tersenyum mengamati ketiga remaja yang saat ini berbincang-bincang hangat sambil sesekali terkekeh menanggapi lelucon yang Jacqueline lontarkan. Gadis itu benar-benar humoris. Ditambah dengan ledakan tawa Aoi dan Chloe yang tak kalah lucunya.
Aura itu bersyukur bisa bertemu dengan Chloe dan belajar menjadi lebih hidup di dalam lingkaran pertemanannya.
“Kok panas ya?”
Mendengar Chloe yang mengeluh merasa panas, lantas membuat perhatian Black Aura teralih cepat pada gadis itu.
“Panas?” Black Aura mengernyitkan keningnya.
Aura itu berputar sambil mendongakkan kepalanya ke atas langit. Yang dikatakan pacarnya memang benar. Ada hawa panas yang semakin lama mengusik pundak leher mereka. Dan, panas tersebut asalnya dari atas sana. Langit.
Black Aura menghela nafas. Menurut tebakannya, hawa panas tak biasa ini asalnya bukan dari cuaca mendung di Carnater saat ini. Melainkan Aura yang keberadaannya tersembunyi.
Rasanya mustahil ada matahari yang bersinar. Jika warga Carnater membutuhkan sinar matahari, mereka harus menghubungi Aura yang bisa mengendalikan cuaca untuk mengusir awan-awan mendung itu dengan ritual mereka. Sayangnya, sejak perang Legend Aura itu muncul, kelompok Aura pengendali cuaca itu tewas. Entah dihajar, dibunuh atau terbunuh.
“Wah, kupu-kupu.”
__ADS_1
Kalau awalnya panas, sekarang perhatian Chloe teralih cepat pada seekor kupu-kupu yang melintas begitu saja di depan wajah mereka. Sayapnya berwarna kuning menyala. Terbang dan dengan mudahnya menarik perhatian ketiga manusia yang sempat keheranan karena panas yang mengusik mereka.
“Kira-kira, dari mana ya, asalnya?” Jacqueline menjepret kupu-kupu itu kemudian disimpannya langsung di drive.
“Mari kita tanyakan langsung pada Iguana,” gurau Aoi, disambut langsung dengan tawa renyah Chloe dan Jacqueline.
Pasti ada yang tak beres di sekitar sini…
Black Aura membatin serius setelah geleng-geleng kepala melihat tingkat pacarnya bersama kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga tersenyum, sebisa mungkin senyuman itu bertahan sampai Black Aura menemukan siapa dalang dibalik panas dan kupu-kupu tersebut.
Tidak disangka-sangka, tak hanya satu kupu-kupu yang terbang. Melainkan, ada lima ekor yang berterbangan ria, berusaha menyusul kawannya yang semakin jauh dari barisan mereka.
Chloe berdecak kagum hanya dengan memandang lima ekor serangga Carnater tersebut. Sayapnya seterang sinar matahari. Kalau ditangkap, lumayan dijadikan alat penerangan di kala malam tiba.
“Aura… Kupu-kupu itu cantik sekali,” panggil Chloe sambil menarik-narik tangan kiri pacarnya.
Black Aura terbangun dari keseriusannya, dengan segera melirik kearah lima ekor kupu-kupu yang Chloe maksud. Awalnya dia diam. Seakan tengah mengumpulkan pikirannya yang buyar layaknya keramaian.
“Hah?”
Tiba-tiba, Black Aura terbelalak. Aura itu spontan mengeluarkan sabitnya. Kemudian, mengayunkan sabit itu dengan kencang sampai lima kupu-kupu itu tersapu dan lenyap seperti sulap.
“Kalian mundurlah!” seru Black Aura memasang sikap waspada. Genggaman tangannya semakin erat dengan Perasaan negatif yang mengatakan bahwa kupu-kupu yang indah itu bukanlah pertanda baik bagi mereka. Melainkan, pertanda akan keberadaan musuh lama yang sedari tadi telah menunggu mereka menyadari kehadirannya. Dan musuh itu kini berdiri melayang di udara dengan tangan kanannya yang terbuka. Kobaran api kecil di atas tangan kanannya itu berubah menjadi kupu-kupu yang kemudian turun memenuhi ruangan ketiga remaja manusia itu.
Tak senang dengan keberadaan serangga indah tersebut, Black Aura tanpa pikir panjang menghancurkan serangga malang tersebut dengan kemampuan mata penghancurnya. Sekali tatap, langsung hancur.
“Wait… Ada musuh ya?” tanya Chloe mendadak panik seraya mengedarkan pandangannya ke berbagai arah bersama Aoi dan Jacqueline.
“Iya. Dia di atas sana.”
Jari telunjuk Black Aura mengarah ke atas. Dengan membawa seluruh perhatian remaja itu ke langit mendung yang di bawahnya terdapat sosok remaja laki-laki bertanduk menyerupai telinga kucing. Dia masuk dalam spesies hybrid. Aura, manusia, dan naga.
Tokisaki Alter. Itulah namanya.
Saat angin berhembus kencang, Alter memamerkan senyumannya. Bersamaan dengan puluhan kupu-kupu api yang ia ciptakan dari kobaran api mininya. Belum ada sapaan yang ia lontarkan. Hanya senyum seringai sebagai sambutan baiknya terhadap Black Aura yang sudah lama meninggalkan Carnater.
“Jadi dia Aura yang menjadi musuh terbesar Aoi? Huh! Kukira musuh terbesarnya aku. Rupanya dia!” gumam Alter kesal.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, Alter dengan santainya mengeluarkan lima lingkaran sihirnya yang kemudian, mengeluarkan ratusan panah api. Serangannya tersebut ia kerahkan tak hanya untuk Black Aura. Ketiga manusia itu juga. Sebab, Alter mencurigai kalau ketiga manusia itu bisa saja pelaku yang menjadi trauma terbesar para Aura di Carnater. Muak rasanya mendengar kematian spesiesnya kian menambah. Karena itulah, Alter dengan seluruh kekuatan yang ada, ingin membuktikan pada Aoi sekaligus pada siapapun bahwa dirinya sanggup membunuh Black Aura yang terkenal kejam dan tidak memiliki belas kasihan sedikitpun.
__ADS_1
“Belas kasihan apanya? Aku tak butuh dikasihani!” ujarnya penuh percaya diri.
~