
Masih di istana Asoka, Grimoire dan Captain menemani Asoka yang saat ini sedang mengumpulkan kesadarannya usai pingsan beberapa menit yang lalu. Asoka bersandar di dinding istananya sambil mengisi ulang tenaganya yang terkuras lantaran mengamuk.
“Manusia yang kalian cari ada dua. Laki-laki dan perempuan,” ujar Asoka dengan suara lemah. Padahal sudah Grimoire nasehati untuk tidak memaksakan diri, tetap saja Aura itu menceritakan apapun yang ia temui. Asoka tidak mengingat banyak. Amarahnya menghilangkan satu preempt ingatannya.
Captain menelengkan kepalanya sambil berpikir. Aura itu tidak lagi mengkhawatirkan Aoi dan Jacqueline. Dia mengerti kalau pasangan itu bisa menemukan sahabatnya. Bukan mengerti. Lebih tepatnya, dia mager dan mengabaikan omongan Grimoire yang sudah berulang kali menyuruhnya untuk pergi menemani pasangan itu. Masih tak juga beranjak.
Grimoire lelah. Keselamatan Aoi dan Jacqueline dia serahkan pada Black Aura. Grimoire tidak bisa pergi jauh-jauh dari ratunya. Mengingat kejadian tadi, Grimoire memutuskan untuk menentang kata-kata Asoka dan membujuknya untuk menyetujui keinginannya yang ingin menemani Asoka sampai Aura itu pulih. Bodo Amat dengan Captain.
“Lalu, apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Captain.
Asoka berpikir. “Seingatku, mereka membawa canon dan pedang. Senjata mereka aneh tapi, aku bisa merasakan kekuatan tak biasa di dalamnya. Mereka juga membawa alat dan berbicara yang aneh-aneh. Yah, aku tidak begitu mengerti istilah dunia mereka. Yang jelas, mereka yang membuat kekacauan dulu. Mereka menembakku. Yang perempuan berlari dan menebasku,” Asoka memperlihatkan lengan kanannya yang terluka bekas tebasan.
Betapa terkejutnya Grimoire mendapati darah merah segar mengalir di lengan ratunya. Segera mungkin, dia obati dengan sihirnya yang berwarna hijau toska.
“Bukannya darahmu berwarna merah apel ya?” komen Captain heran.
Asoka menggeleng pasrah. “Aku tidak tahu. Rasanya sakit sekali sampai merambat ke kepalaku. Aku juga heran bagaimana bisa aku semarah itu? Intinya, ras kita ini dalam bahaya. Nyawa dan kekuatan kita menjadi incaran mereka. Mereka itu bukanlah Midnight, Afra, Yui, dan diriku di dunia nyata. Mereka turis yang tersesat tapi malah terobsesi dengan keunikan kita. Aura seperti kita bisa langsung tewas di tangan manusia itu. Maka dari itu, kuperingatkan pada kalian, jangan sesekali meremehkan mereka.
Saat mendengar penjelasan Asoka yang menyebutkan nama-nama manusia yang pernah berhubungan dengan mereka dulu, Captain diam. Wajahnya murung namun sebisa mungkin ia tutupi dengan raut seriusnya. Sebenarnya ada satu manusia lagi. Seorang gadis SMA yang sudah lama meninggal. Gadis itu berperan besar di dalam kelompoknya.
Grimoire melirik Captain, kemudian menepuk pundak gadis itu memberikannya kekuatan. Grimoire paham maksud ekspresi itu.
“Nggak papa kok. Santai aja…”
Captain tersenyum pada Grimoire. Status mereka memang musuh tapi, situasi membuat mereka menjadi akur.
“Kalau begitu, aku pergi dulu ya! Grimoire, tolong lindungi Asoka ya!” ucap Captain tersenyum hangat seraya menjauh dari istana Asoka. Captain berlari sekuat tenaga sampai penglihatan Grimoire kehilangan sosok Captain yang sedang berlari itu.
~
__ADS_1
Chloe memandangi bayangan dirinya lewat layar ponselnya. “Indah sekali. Kau yang membuatnya?”
Black Aura tersenyum mengangguk. “Apapun untukmu, Chloe…”
Chloe terkejut dan kembali menahan malu yang sebenarnya sudah tanggup lagi ia tahan. Aura dihadapannya telah berubah banyak. Walau masih tahap belajar, Chloe sukses dibuat salah tingkah, malu, dan memerah wajahnya hanya dengan jawaban singkat yang Black Aura lontarkan padanya. Pernyataan setuju mengenai hubungan yang mereka jalani saat ini. Pacaran ya? Semoga saja asri selalu.
Chloe ingin sekali dirinya dan Black Aura bisa memiliki waktu berduaan yang romantis. Seperti makan malam di restoran, berbagi banyak hal. Masa lalu, mimpi, hal memalukan. Semuanya!
Tidak cukup rasanya mengungkapkan bahagianya dia dengan air mata dan pelukan. Seperti nilai persen di hati Chloe belum sepenuhnya mencapai seratus. Tampaknya dia harus melakukan sesuatu yang lebih manis lagi agar hatinya tersebut bisa merasakan lega sepenuhnya.
Dan, jepit ini. Jangan dipandang dari besar kecil ukurannya. Usaha Black Aura dalam membuat jepit itu juga membuat sedikit atraksi sederhana menggunakan kemampuannya dan sulap, semua itu memerlukan proses yang panjang. Chloe jadi berpikir kalau selama dua bulan ini, Black Aur tak hanya sekedar meninggalkannya melainkan berlatih demi membahagiakannya di bulan selanjutnya. Inilah hasilnya sekarang!
Setelah menempuh perjalanan panjang, suka dan duka. Hal-hal menyebalkan di antara mereka pada akhirnya, mereka berdua bisa memiliki penghargaan dibalik semua kerja keras tersebut.
Chloe mendekatkan dirinya pada Black Aura. Aura itu tersentak namun berusaha terlihat santai. Memang sudah kebiasaan ya! Black Aura itu sulit sekali berkata jujur di depan Chloe.
“Kau mau apa?” tanya Black Aura takut-takut, mendapati tatapan serius yang Chloe layangkan padanya. Lama sekali gadis itu menatapnya sampai-sampai Black Aura ingin sekali memundurkan beberapa langkah kecil ke belakang.
“Aura!” Panggil Chloe.
Hawa di sekitar mereka semakin menghangat. Padahal tidak ada pancaran solar dari sang surya di langit tapi, mereka merasa dada dan wajah mereka panas. Butuh AC rasanya.
“Terima kasih! Aku bahagia. Sangat bahagia! Aku… Aku nggak tahu harus mengungkapkan rasa ini dengan apa? Aku… Bodoh! Kenapa aku nggak bawa hadiah ya?” Chloe mengacak-acak rambutnya.
“Stop.”
Saat Chloe berhenti karena perintah singkat Black Aura, Aura itu merapikan kembali rambut pacarnya. Dia mengelus pelan pucat kepala Chloe sambil memastikan rambut gadis itu kembali seperti semula. Dia berusaha agar setiap helainya menyatu.
“Begini kan cantik. Jangan, marah-marah begitu. Kau nggak salah kok,” kata Black Aura meletakkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Kita lanjut?”
__ADS_1
Chloe tersenyum lebar disusul dengan anggukan mantapnya.
Black Aura terkekeh pelan menanggapi tingkah laku pacarnya semakin menggemaskan di matanya. Black Aura senang. Tidak ada lagi air mata kesedihan bercucuran di pelupuk matanya. Wajah yang dulu tersiksa karena rasa kehilangan kini dipenuhi oleh kegembiraan.
Perjalanan mereka mencari manusia yang tersesat itu kembali lanjut. Tidak disangka-sangka, belum sampai lima langkah, tiba-tiba saja lengan Black Aura ditarik kencang oleh Chloe. Black Aura yang terkejut itu tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi mengendalikan tubuhnya yang sempat kehilangan keseimbangan sampai bibir Chloe bersentuhan dengan bibirnya.
Awalnya Black Aura tidak mengerti apa maksud dari tarikan tersebut. Begitu dia merasakannya, barulah jantungnya diserang oleh panah cinta yang tak akan pernah hentinya menusuk organ vital tersebut. Tubuhnya seketika menegang. Genggaman gadis itu terlalu kuat, Black Aura sampai tidak berkutik dengan posisinya saat ini.
Dunia mereka seakan berhenti. Tapi tidak dengan denyut jantung mereka yang melaju kencang.
Setelah puas, barulah Chloe memisahkan dirinya dengan Black Aura. Mau sampai kapanpun, Chloe tidak akan pernah bisa menyembunyikan rasa sukanya dari Aura bermanik violet ini.
“Kau bukan stranger lagi bagiku. Sekali lagi, terima kasih banyak. Kau benar-benar berjasa bagiku, kau sudah melindungiku, membantuku mencari Aoi, terkadang berusaha menenangkan tangisku, dan kau juga berusaha untuk tidak menyakitiku meskipun kau rela tersakiti olehku. Semua itu… Berharga sekali,”
Black Aura yang tadinya membeku, perlahan-lahan terkumpul kesadarannya. Kalau dulu pipinya, sekarang bibirnya.
“Maaf ya, Cuma itu yang bisa kuberikan untukmu. Kalaupun ada, kita bisa langsung tukaran. Kau jepit, aku…”
DUK!
Chloe dan Black Aura tertegun. Mereka merespon suara benda jatuh yang terdengar tak jauh dari jarak mereka berdiri saat ini.
Black Aura ke kiri. “Chloe…”
Merasa ada yang tidak beres, apalagi mendengar suara canggung Black Aura yang memanggil namanya, Chloe segera menoleh ke arah dimana suara benda jatuh itu muncul. Benar saja. Ada benda yang baru saja jatuh dan kini berada di genggaman pemiliknya.
Mereka nyengir kuda. Salah satunya, remaja perempuan berambut ungu yang tengah mengusap-usap layar ponselnya yang jatuh tadi. Wajah mereka sangat familiar di mata Chloe. Saking familiarnya, ingin sekali Chloe hajar satu persatu wajah mereka dengan telapak sepatunya karena sudah diam-diam terlibat dan parahnya, merekam momen romantis tersebut dengan ponsel mereka.
“HAPUS NGGAK!”
__ADS_1
~