Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 26


__ADS_3

"Dark Fire..."


Begitulah nama pria yang kini berdiri tegap dengan sebilah pedang raksasa yang ia genggam dengan percaya diri. Ia tersenyum santai menghadap kedua remaja tersebut.


"Yap... Itu namaku." Sahutnya. Ia berjalan pelan hingga berada tepat di depan Black Aura dan Chloe.


Black Aura memandangnya tajam. Ia masih setia melindungi Chloe di belakang. Remaja itu tak akan membiarkan Chloe terluka bahkan sehelai rambutnya sekalipun.


"Berarti, dia pemimpin Legend Aura ya? Keren..." ucap Chloe sedikit berbisik.


"Terima kasih. Memang jadi pemimpin itu nggak mudah." Seru Dark Fire yang rupanya mendengar bisikan Chloe dari jauh.


"Eh...? Kedengaran."


Chloe menyengir menghadap Black Aura. Sedangkan Black Aura hanya menatap datar cengiran Chloe.


"Jangan takut. Aku kesini bukan untuk menghancurkan tempat. Aku udah terbiasa dengan lingkungan ini. Perpustakaan tempat yang manis, bukan? Sama seperti kami. Kami juga memilikinya di istana kami." Tutur Dark Fire.


"Jangan mudah tertipu, Chloe. Dia memang nggak bakal hancurin tempat ini. Tapi, membunuh iya." Black Aura bertelepati pada Chloe melalui pikiran mereka.


Chloe yang mendengar bisikan Black Aura di dalam pikirannya auto menoleh cepat pada orangnya. Lalu, mengangguk patuh.


"Kalian serasi juga ya! Nggak nyangka aja, Aura sepertimu yang bahkan nggak kenal belas kasih bisa berteman dekat dengan gadis polos itu."


"Apa maumu?" Black Aura akhirnya bersuara.


"Woah... Kau udah bisa berbicara? Selamat!"


Dark Fire memberikan beberapa tepukan tangan kecil atas keberhasilan Black Aura dalam mengungkapkan kalimatnya. Karena, sejauh yang ia tahu terutama di Carnater, Black Aura dan keluarganya memang terlihat jarang berbicara. Setiap kali bertemu, biasanya langsung baku hantam tanpa saling bertepuk sapa.


"Yah... Kita sama-sama berjuang. Nggak mudah berbaur di dunia ini. Warnanya terlalu banyak. Oh, ya! Ngomong-ngomong, kau punya selera yang bagus ya dalam memilih teman. Cewe lagi!" seru Dark Fire lalu terkekeh.


Black Aura tidak merespon kecuali memasang raut malas. Pria yang berada di depannya lama-kelamaan semakin membosankan. Menyebalkan lagi.


Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan dan waktunya terbuang sangat banyak, Black Aura memutuskan untuk menghamburkan beberapa langkahnya untuk pergi.


"Kita pergi." Ujar Black Aura kemudian. Ia menarik lengan Chloe dengan lembut dan membawa gadis itu pergi bersamanya. Mengabaikan tatapan sombong Dark Fire.


"Perang kita belum selesai."


Seketika, Black Aura menghentikan langkahnya tepat di samping Dark Fire yang baru selesai berbicara.


Chloe yang tidak tahu apa-apa mengenai masalah mereka hanya bisa memandang mereka dalam kebingungan. Gadis itu masih setia membiarkan tangannya digenggam erat oleh Black Aura.


Berbeda dengan Chloe yang kebingungan, Black Aura dan Dark Fire saling memandang dingin satu sama lain. Yah, pikiran mereka langsung teralih sepenuhnya jika mendengar kalimat yang berkaitan erat dengan 'perang'.


Sejak awal, perang mereka ini tak pernah ada habisnya. Seperti debat. Saling mencari alasan kuat untuk menjatuhkan musuhnya. Akan tetapi, berdebat bukan cara mereka mengakhiri sebuah perang. Mengandalkan kekerasan itulah cara mereka.


Namun, apa iya? Berperang di dunia milik orang lain yang bahkan tidak mereka kenali sama sekali sejarah dan watak setiap warganya? Hal itu hanya akan mengundang kebencian bagi orang-orang yang menempati bumi tersebut. Bisa jadi, memperparah keadaan dan berujung pada perang yang berkelanjutan tanpa akhir.


"Kurasa yang terkesan penjahat itu adalah kalian." Ucap Black Aura dingin.


"Hmmm? Atau justru peran kita yang tertukar? Kau tahu? Dunia juga bisa memperngatuh sifat kita juga, lho." Balas Dark Fire diakhiri dengan seringai miliknya.


Suasana mereka benar-benar canggung sekali. Mungkin, inilah yang akan terjadi jika kedua pihak yang saling bermusuhan itu dipertemukan.


"Black Aura..." Panggil Chloe seraya mengguncang pelan lengan Black Aura.


Black Aura merespon cepat guncangan tersebut.


"Bukankah perpustakaan ini ramai? Kemana semua orang-orang disini?" bisiknya.


Setelah terlalu lama larut dalam suasana dingin sepasang Aura tersebut, akhirnya Chloe menyadari keanehan yang sudah lama ada di dalam ruangan perpustakaan yang terkenal sunyi ini. Teringat akan Minji yang baru saja keluar dari perpustakaan selang beberapa menit yang lalu, membuat gadis ini berpikir tentang para pengunjung yang mendatangi tempat membaca buku ini.


Ditambah lagi, ia tidak menemukan sosok ibu penjaga perpustakaan yang ia dan Aoi cap sebagai wanita tergalak setelah ibu Aoi. Dimana wanita tua itu? Tidak mungkin dia pulang cepat hari ini. Dan lagi, hari ini biasanya ibu itu sedang berkeliling merapikan buku-buku yang tersusun tanpa aturan.

__ADS_1


Perasaannya mulai cemas. "Black Aura..." Panggilnya khawatir.


Black Aura paham dan memberinya isyarat untuk tetap diam selama tidak ada serangan kejutan yang diluncurkan Dark Fire.


"Hei... Kalau bisik-bisik ajak aku juga dong! Aku udah punya perasaan loh." Dark Fire bersuara menyadari dirinya diabaikan oleh kedua remaja tersebut.


"Dimana orang-orang ini?!" tanya Black Aura tajam.


"Akhirnya! Nanti kau akan melihatnya. Eh, ADA BERUANG MASUK!" tunjuk Dark Fire mengejutkan sepasang remaja tersebut.


"MANA BERUANG?!" Chloe malah ikut terpengaruh.


Berkat jari telunjuk yang mengarah ke arah pintu dan suaranya yang besar, perhatian mereka tertuju seratus persen ke pintu keluar yang bahkan masih tertutup sangat rapat.


Sadar bahwa akan tipuan Dark Fire, Black Aura otomatis menoleh ke arah Dark Fire.


Namun, apa yang terjadi? Bukannya bertatapan dengan Dark Fire, ia justru bertatapan dengan mulut cannon yang jika ditarik pelatuknya maka akan menyemburkan laser-nya yang panas.


Dark Fire menarik pelatuknya dengan ringan dan...


DUAR!


Sebuah serangan kejutan dari Dark Fire berhasil mengenai Black Aura dan membuat lawannya terpental menghantam dinding toko di seberang perpustakaan. Lantas, terkejutlah sebagian orang yang melintasi area depan perpustakaan.


"Ada apa itu?" celetuk seorang pria yang tengah menggedong buah hatinya.


"A-api dari perpustakaan? Bagaimana bisa?" sahut seorang wanita tua.


"Ambulance!"


Serangan yang sukses besar menimbulkan kehebohan masyarakat. Beberapa dari mereka ada yang berniat melibatkan ambulance dan beberapa mobil polisi. Akan tetapi, apa bisa mereka mengalahkan api yang asalnya bukan dari bumi? Ya, lihat saja.


Sementara itu, Chloe tersungkur ke bawah menyaksikan serangan barusan. Mau sampai kapan Black Aura disakiti? Air mata kirinya mengalir tanpa permisi. Ia tidak bisa melihat sosok Black Aura disana karena keramaian mewarnai tempat yang terbakar itu.


Alih-alih berhamburan tak tentu arah dengan kepanikan, Dark Fire dengan santai melangkah kedua kakinya menghampiri Chloe yang terduduk tanpa harus melakukan apa-apa.


Dark Fire menunduk demi menyamai tingginya dengan Chloe. Ia dengan lembut menghapus


air mata Chloe. Perasaan panik dan khawatir dari gadis itu ia rasakan cukup baik.


"Kau pasti bertanya-tanya kan?"


Chloe tertegun dan tanpa sadar memberikan seluruh perhatiannya pada Dark Fire.


Dinding kesunyian yang membatasi dunia mereka dari hiruk pikuk dunia luar merupakan kesempatan emas bagi Dark Fire untuk mengungkapkan apa yang ingin ia ucapkan pada Chloe. Pria itu sulit sekali melepaskan pandangannya dari wajah Chloe yang hancur karena air mata.


"Aku kasihan dengan wajahmu. Tapi, aku juga penasaran bagaimana rasanya menumpahkan air mata. Ah, lupakan soal itu. Kau pasti ke perpustakaan karena mengira, kau akan bertemu dengan Aoi, kan?" tanya Dark Fire datar.


"Sayangnya, perkiraanmu itu salah. Aku nggak menyangka, kau bakal menaruh seratus persen kepercayaanmu pada kode yang kubuat. Kutebak, kau menemukannya di rumah Aoi, kan?" sambungnya yang kali ini langsung mendapatkan serangan amarah dari Chloe.


"KAU! SEBENARNYA APA MAUMU?! APA YANG KAU INGINKAN DARI KAMI?!! KENAPA KAU MELIBATKAN AOI? KENAPA?!" gertak Chloe yang masih belum bisa melepaskan genggaman eratnya dari kerah Dark Fire.


"KENAPA MALAH MENUMPAHKAN MASALAH KALIAN KE DUNIA KAMI, HA?! BUAT APA?!!"


Gadis itu mendorong kasar Dark Fire.hingga membuat pria itu menghantam salah satu meja membaca disana. Dorongan kasar Chloe tidak cukup membuatnya merasakan sakit. Pria itu kembali berdiri dengan santai sembari menyibak pakaiannya.


"Kau lihat ini?"


Sudah menghantam meja pun, Dark Fire masih bisa tersenyum stabil. Kini, ia menunjukkan tangan kirinya yang tertutupi sarung tangan.


"Aku benar-benar minta maaf soal tangan kiriku ini dan kuharap, kau bisa bersabar mendengar kabar dariku ini." Ucapnya.


Chloe mengeryit heran. Ia sudah tak habis pikir lagi dengan pria ini. Ditambah, kenapa Black Aura lama sekali muncul?


"Ada apa dengan tangan kirimu, ha?!" Omel Chloe tak sabaran.

__ADS_1


Ketika hendak membalas omelan Chloe, sebuah serangan muncul dan menebas tangan kiri Dark Fire. Alhasil, tangannya tersebut terjatuh tepat di tengah-tengah Chloe dan Dark Fire. Keduanya memasang raut terkejut.


Serangan lain lun bermunculan dan kini, sebilang pedang berhasil tertancap di puncak Dark Fire. Lalu, mendorong pria tersebut hingga menembus dinding luar perpustakaan.


Ditemukan beberapa asap yang mengepul akibat hantaman Dari Fire menyebar hampir seluruh ruang perpustakaan. Chloe yang berada dekat dengan asap tersebut, terbatuk-batuk seperti nenek-nenek.


Di saat seperti itu, sebuah tangan muncul menerobos asap tebal tersebut kemudian, menarik lengan Chloe. Ya, siapa lagi kalau bukan Black Aura.


Kesempatan emas baginya selama musuhnya tidak menyadari gerak-geriknya dan masih berkutat dengan rasa sakit yang menyebar di area pundaknya.


Tanpa pikir panjang, Black Aura segera mengangkat tubuh gadis itu layaknya tuan putri. Lama-kelamaan, remaja aura itu semakin terbiasa dengan berat badan Chloe yang lumayan ringan itu.


"Black Aura..." Chloe memeluk erat dirinya pada Black Aura.


Black Aura hanya terdiam sebelum pada akhirnya, memutuskan untuk pergi meninggalkan perpustakaan tersebut. Ia sudah menduga lebih awal bahwa kejadian buruk pasti akan menimpa mereka.


Mungkin selama dirinya tinggal di dunia nyata. Mau bagaimanapun juga, nasib buruk pasti mengintai mereka dari belakang.


Sebuah kode yang sangat dipercaya bisa membantu mereka menemukan jawaban yang sesuai, bisa saja tidak menjamin kebenaran yang tertera di dalam kode tersebut.


Anggaplah seperti kisi-kisi. Pasti ada satu dua dari sekian soal yang memiliki satu dua kesalahan.


~


Setelah berteleportasi ke berbagai tempat demi mencari tempat yang aman, Black Aura akhirnya menemukan sebuah toko buku yang mungkin saja bisa menghibur Chloe. Perlahan, ia menurunkan tubuh gadis itu.


Sedari tadi, Black Aura merasakan keanehan dari raut panik Chloe yang hingga sekarang kian memudar. Karena tak ingin tersiksa karena rasa penasaran, i pun bertanya.


"Chloe... Ada apa?" tanyanya sambil mengguncang pelan tubuh Chloe yang kaku. "Chloe!"


"Black Aura..." Akhirnya, gadis itu terbangun dari lamunannya. Namun, tatapannya justru terlihat kosong. Seperti jiwanya berkeliaran di mana-mana dengan raganya yang masih berdiri di samping Black Aura.


"Aku bodoh..." ucapnya Chloe lirih.


"Ha? Kok bisa?"


"Harusnya aku percaya dengan ucapanmu. Kau benar. Masa depan belum tentu menjamin keselamatan kita... Aku... Aarrrghh!! Bagaimana ini?!" Chloe tiba-tiba menghadiahkan dirinya tiga kali jitakan di kepalanya. Dia melakukannya atas kemaunannya sendiri.


Melihat tingkahnya yang kasar terhadap dirinya, cepat-cepat Black Aura melerai tangan Chloe agar tidak lagi menyakiti pemiliknya. Sudah dilerai pun gadis itu masih memberontak karena menyesal. Ia merutuki dirinya karena asal menaruh kepercayaan.


"Oi... Kau kenapa? Hentikan tanganmu atau kau kutinggal disini?" ancam Black Aura meskipun tidak beneran ia melakukannya.


"Hiks... Gimana mau cepat-cepat ketemu Aoi kalau aku bahkan ceroboh dengan diriku sendiri?" balas Chloe yang mulai memecah air matanya.


"Kau bahas tentang kode?"


"Iya! Aku nggak tahu kalau kode itu buatan Dark Fire. Sumpah! Aku nggak tahu! Kukira, aku bakal ketemu Aoi. Tapi, rupanya... Rupanya..." Chloe mendadak terdiam. Ia kehabisan kata-kata karena syok dan panik.


"Kau benar." Tambahnya merasa bersalah dan kembali tersungkur ke tanah.


Sebelum benar-benar jatuh, Black Aura sempat menahan gadis itu. Dugaannya benar akan tetapi, ia tidak berniat menyalahkan Chloe. Di matanya, Chloe terlihat seperti gadis polos yang secara tidak sengaja terlibat dalam suatu konflik.


"Jangan menyalahkan dirimu. Kalian jadi terlibat karena kami. Jangan khawatir. Aku akan terus mencari Aoi. Aku yakin, dia masih hidup. Jangan nangis lagi ya! " bujuk Black Aura halus.


Chloe masih berputar dengan kegiatan menangisnya. Dari kemarin, ia sangat merindukan Aoi. Dia ingin kembali ke saat-saat seperti dulu dimana dirinya dan Aoi bersenda gurau sambil menikmati hangatnya kentang goreng. Ia merasa nafasnya tersesat setiap kali kehilangan Aoi.


Seperti dulu ketika Aoi pulang ke kampung halamannya untuk beberapa minggu, Chloe berdiam diri di rumah bahkan sampai bolos sekolah beberapa minggu. Alasannya simpel. Karena tidak memiliki teman untuk diajak berbicara.


Apapun yang terjadi pada Chloe, Aoi selalu ada di sampingnya. Memberinya bantuan apapun dengan hati yang tulus. Pria jepang itu sangat setia menemani Chloe apapun masalah yang dialami gadis itu.


"Kita akan ketemu Aoi, kan?" tanya Chloe sekali lagi.


Black Aura merespon pertanyaan tersebut dengan anggukan kecilnya.


Black Aura juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi gadis yang kini merupakan temannya. Tak peduli apapun yang terjadi, ia akan melakukan apapun demi mengukir senyuman di wajah Chloe.

__ADS_1


Sampai konflik merekanya berakhir.


~


__ADS_2