
“Hoaamm… Ngantuk
banget dah!” celetuk Midnight yang kala itu sedang berjalan menelusuri jalan di
kota, sendirian bersama Silentwave. Wanita itu baru saja membeli beberapa
cemilan untuk menemaninya mengisi kekosongan di malam hari. Malamnya sepi.
Devil Mask dan Yumi pergi ke rumah Jacqueline, membantu gadis itu membuat kue
ulang tahun. Midnight sendiri tidak terlalu memperdulikan kue ulang tahun itu.
Tugasnya banyak dan dia harus menyelesaikannya sebelum dirinya pergi ke
Carnater mengecek keadaan di dunia sana.
Sudah empat
belas tahun lebih sejak kepergian suaminya, Midnight jadi jarang berkunjung ke
sana. Kalaupun ke sana, pasti ada Carmine yang menemaninya.
“Beli apa ya?
Kalau coklat?”
Langkah Midnight
terhenti sebentar. Tak jauh dari posisinya berdiri, indra penciumannya
menangkap aroma kentang goreng yang masih panas. Seperti melodi musik, aroma
sedap itu naik turun mengelilingi Midnight. Ah, jadi lapar rasanya.
Ngomong-ngomong soal kentang goreng, Midnight jadi teringat dengan Black Aura
sebelum pergi ke Carnater. Aura itu berpesan padanya, “Kalau ibu mau bertemu
denganku, jangan lupa bawa kentang goreng.”
Tidak begitu
panjang tapi butuh waktu dan proses mendapat kentang itu. Midnight yakin, Aura
kesayangannya sengaja meminta kentang lantaran dirinya rindu dengan sosok gadis
remaja dengan senyuman polos yang disukainya itu. Selama Black Aura bersama
Chloe, makanan yang dia santap bukannya bolu, melainkan kentang. Makanan
favorit Chloe.
Midnight
terkekeh. Permintaan Black Aura itu tak jauh beda dengan Carmine. Cara mereka
berbicara dan meminta itu sama. Wajah Carmine yang selalu tampil datar juga
masih melekat jelas di benaknya. Sampai kapanpun, Carmine tetaplah adik
kesayangannya. Gadis itu sedang tenang sekarang. Yah, selagi tidak ada masalah
yang bersangkutan dengan Carmine, Midnight tinggal membereskan semua
pekerjaannya dan menjalani hidup normal layaknya para Chloe dan teman-temannya
yang lain.
Saat pikirannya
larut dalam masa lalu, Midnight dikejutkan oleh sesuatu yang berukuran besar
terjatuh tepat di depannya. Factor shock, Midnight mengambil beberapa langkah
cepat ke belakang. Takutnya ada hewan buas di dalam plastic hitam berukuran
besar itu.
“Tu-tunggu…!
Plastik apa ini?” selidik Midnight dengan nafas yang memburu. Sebelum mendekati
plastic besar itu, Midnight lebih dulu menenangkan dirinya. Setelah itu, dia
hampiri benda hitam berukuran besar. Ukurannya tidak begitu besar. Jika
dibandingkan dengan manusia, benda itu hampir menyetarai tinggi badan seorang
pria berusia dua puluh sampai tiga puluh tahun.
Midnight
mengernyitkan keningnya heran. Benda apa yang ada dibalik plastic hitam itu?
Jangan bilang… Isinya manusia?
Midnight
menundukkan dirinya. Area tempat dia berjalan ini sepi. Sebagian dari
toko-tokonya sudah ada yang mulai tutup. Mengetahui suasana di sekitarnya sepi,
Midnight mengambil kesempatan mengeluarkan boomerang-nya, kemudian memotong
plastic tersebut.
“Hehh?!”
Midnight terbelalak bukan main. Wajahnya seketika pucat. Kedua kakinya mendadak
lemas setelah mengetahui siapa sosok yang terbungkus di dalam plastic hitam
itu.
Seorang pria
yang sangat familiar di matanya. Orang yang aslinya sangat dia benci dan
sekarang, orang ditemukan berlumuran darah. Iris biru malamnya menyorot ke
pundak kanan pria itu. terdapat luka bekas tembakan di sana.
Dia diserang.
Tapi siapa menyerangnya?
Midnight
mendongak ke atas. Pria itu jatuh dari atas gedung yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Yang tidak Midnight sangka adalah, gedung itu statusnya sudah lama terbengkalai.
Otomatis, tidak ada seorangpun yang menempati gedung tersebut kecuali, penunggu
bangunan itu.
Tidak diketahui
di lantai berapa Yuuki jatuh sebab, jendela-jendela di gedung itu semuanya
sudah pecah. Berdasarkan desas-desus yang beredar lima bulan yang lalu, gedung
itu dulunya bekas café. Tapi, karena insiden kebakaran yang disebabkan oleh
arus pendek listrk, gedung itu terbakar. Semuanya selamat. Meski hanya
mengalami luka bakar saja.
Lupakan soal
gedung, sekarang Midnight beralih ke Yuuki. Sebenarnya apa yang telah menimpa
Yuuki hingga babak belur seperti ini? Anehnya lagi, terdapat luka tembakan di
pundak kanannya. Sedang mencari gara-gara dengan siapa lagi pria ini?
Midnight
mendesah lelah. Sebetulnya dia tidak berminat membantu Yuuki, hanya saja,
keadaan pria itu sungguh memprihatinkan. Belum lagi darah segar miliknya yang
masih mengalir. “Hahh… Ada-ada saja kau,
Yuuki.” Lirihnya, geleng-geleng kepala. Midnight merogoh isi tasnya, menemukan
ponsel andalannya setelah itu menghubungi ambulance.
Begitu Yuuki
berada di bawah naungan para petugas medis, Midnight berencana mencari pelaku
yang menjatuhkan Yuuki sekaligus yang menyerangnya. Walau rasa bencinya
terhadap pria itu sudah terlanjur dalam, tetap saja Midnight merasa kasihan.
“Baiklah, Yuuki.
Sembuh nanti, masalah kita selesai.” Ucapnya.
~
Chloe memutar
bola matanya malas menanggapi tingkah Aoi yang mendadak seperti orang tersesat
saat ini. Di depan rumah yang pemiliknya diduga sedang berlibur dan tidak tahu
jelas dimana dan kapan dia akan datang. Keberadaannya mesti Chloe pertanyakan
juga alasan kenapa Aoi mengajaknya kemari? Ke rumah Midnight katanya.
“Percuma dicari
sampai ke ujung dunia, orangnya lagi di luar rumah.” Ujar Chloe datar.
Aoi menoleh ke
arah Chloe memperlihatkan senyuman kakunya, sadar akan tingkah bodohnya
“Haahh!
Buang-buang waktuku aja!”
“Kalian!”
Chloe dan Aoi
melirik ke pohon besar yang tumbuh rapuh di halaman rumah Midnight. Suara
memanggil itu berasal dari pohon itu. Dengan tatapan menyelidiki, Chloe
berjalan pelan menghampiri pohon tersebut dan rupanya Jacqueline-lah yang
memanggil mereka itu. Gadis itu tersenyum manis diiringi dengan lambaian tangan
singkatnya pada Chloe.
“Hai! Lama nggak
jumpa, Chloe!” sapanya ramah. Masih sama seperti dulu.
“Hai… Sedang apa
kau di sini?” tanya Chloe tanpa basa-basi. Wajahnya terlihat penasaran diikuti
dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk memeriksa bagian-bagian pohon yang
membuatnya curiga.
Jacqueline
terkekeh melihat tingkah Chloe. Kekanak-kanakan gadis itu mash ada meskipun
kadang, suka dipadukan dengan sifat dinginnya. “Kelihatannya kau dan Aoi
berdebat sebelum pergi ke sini.” Tebak Jacqueline sambil berkacak pinggang di
samping pohon tua itu.
Chloe mengangguk
pelan tanpa merespon.
“Kau berubah ya!
Jangan bilang kalau kau cemburu dengan kami berdua?” selidik Jacqueline. Gadis
itu mendekat dan sukses membuat Chloe merasa tidak nyaman.
“Apaan sih?!
Jangan bertingkah layaknya detective, dong!” protes Chloe tak terima sekaligus
merasa tidak nyaman dengan perlakuan sahabatnya. Menurut Chloe, yang berubah
itu justru Aoi dan Jacqueline. Berdasakan pengamatan Chloe, belakangan ini,
terutama kalau sedang penasaran, Aoi dan Jacqueline selalu mendekatkan tubuh
mereka disertai tatapan serius layaknya seorang detective. Yah, akhir-akhir
ini, pasangan itu sangat menyukai novel misteri. Sementara, Chloe yang tidak
__ADS_1
begitu berminat membaca novel misteri. Sejak awal, dunia Chloe berpacu pada
hal-hal fantasi. Dunia yang memiliki keindahan di luar nalar manusia. Dunia
yang hanya menyimpan spesies-spesies aneh namun mempesona. Dunia seperti itulah
yang sebenarnya ingin Chloe kunjungi. Sudah lama sekali Chloe merencakan ingin
membuat laporan mengenai dunia lain apabila gadis itu telah berhasil menapakkan
kedua kakinya di dunia yang katanya fiksi tersebut.
Bertemu dengan
Black Aura sebenarnya tak jauh-jauh dari kata cukup. Masih ada puluhan misteri
yang mesti Chloe gali lebih dalam jawabannya. Misteri tentang hubungan
Megaville dengan Carmine. Sampai saat ini, pernyataan Midnight tentang
identitas Megaville itu masih dalam status “unknown” yaitu tidak
diketahui.
Chloe pernah
berpikir, kalau Megaville itu berasal dari gambaran perasaan negative Carmine,
sementara Carmine-nya sendiri sudah meninggal, bukankah seharusnya mereka ikut
lenyap bersama pemiliknya? Otak Chloe kembali berputar ketika dirinya menemukan
pertanyaan yang timbul begitu saja di benaknya. Pernyataan tentang Legend Aura
dan Megaville. Megaville terbentuk dari perasaan Negatif Carmine, sedangkan
Legend Aura? Mereka berasal dari apa? Bagaimana bisa manusia biasa seperti
Carmine dan Yuuki ini memiliki kemampuan yang kemungkinan besar sulit
dinalarkan dalam ilmu fisika. Hanya professor berasal dari Carnater aslilah
yang bisa memecahkan serangkai pertanyaan yang menggantung di benak Chloe.
“Nah kan!
Bengong lagi dia.” Seru Jacqueline, memecahkan dinding lamunan yang membentengi
antara dunia Chloe dengan dunia Aoi dan Jacqueline. Kebiasaan dari kecil,
setiap kali berpikir, Chloe dengan mudahnya larut tanpa bisa mengembalikan
dirinya ke dunia nyata kecuali kalau ada seseorang yang mengejutkannya.
“Sorry…
Lagi mikirin jalan cerita novel tadi.” Balas Chloe datar. “Jacqueline…
Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian berdua mengajakku ke sini? Kan Midnight
lagi nggak ada di rumah.”
“Justru karena
Midnight lagi nggak di rumah kita dapat kesempatan berlibur bertiga!” sambar
Aoi tanpa permisi.
“Haaaa? Kenapa
begitu? Kalian mau cari gara-gara sama dia? Yang benar saja! Kalau gitu, nggak
ikutan deh!” tolak Chloe langsung berbalik badan. Namun, gerakannya dengan
cepat ditahan Jacqueline. Tatapan yang Jacqueline layangkan serius sekaligus
membujuk Chloe untuk mau mengikuti perkataan mereka.
“Bukan cari
gara-gara Chloe. Kami ini mau membantumu.”
“Membantu soal
apa?”
“Ikut aku!”
Jacqueline tidak merespon melainkan mengalihkan Chloe dengan mengajaknya
berlari menuju halaman belakang rumah Midnight. Di sana ada gudang dengan
pintunya yang dirantai. Jelas sekali kalau usianya telah memasuki usia senja.
“Kemarin, aku menemukan
cermin cantik di gudang ini. Devil Mask bilang, cermin itu adalah pintu menuju
dunia Carnater. Sayangnya, Midnight nggak mengizinkan siapapun menggunakannya.”
Jelas Aoi. Dia mendorong pelan pintu gudang itu dan masuk bersamaan dengan dua
gadis itu.
Aoi menarik kain
yang melindungi cermin dari debu. Benar yang dikatakan Aoi, cermin itu cantik
sekali. Kacanya bersinar juga mengkilat. Terdapat permata berwarna indigo di
bingkai bagian atas.
Chloe berdecak
kagum melihat keindahan yang ditebarkan cermin itu. “Jadi, cermin ini mau kita
apakan?” tanya Chloe yang masih terpaku pada cermin tersebut.
Aoi dan
Jacqueline saling melirik disertai
senyuman. Mereka mengangguk-angguk kecil seperti sedang menghitung aba-aba.
Keduanya engambil beberapa langkah mundur, sebelum akhirnya berlari kencang
sampai mendorong Chloe masuk ke dalam cermin dengan mereka yang ikut menyusul masuk
ke dalamnya.
“BERTEMU DENGAN
AURA DONG!” seru Aoi dan Jacqueline serempak.
__ADS_1
~