Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 86 { Season 2 }


__ADS_3

 


 


“Hoaamm… Ngantuk


banget dah!” celetuk Midnight yang kala itu sedang berjalan menelusuri jalan di


kota, sendirian bersama Silentwave. Wanita itu baru saja membeli beberapa


cemilan untuk menemaninya mengisi kekosongan di malam hari. Malamnya sepi.


Devil Mask dan Yumi pergi ke rumah Jacqueline, membantu gadis itu membuat kue


ulang tahun. Midnight sendiri tidak terlalu memperdulikan kue ulang tahun itu.


Tugasnya banyak dan dia harus menyelesaikannya sebelum dirinya pergi ke


Carnater mengecek keadaan di dunia sana.


Sudah empat


belas tahun lebih sejak kepergian suaminya, Midnight jadi jarang berkunjung ke


sana. Kalaupun ke sana, pasti ada Carmine yang menemaninya.


“Beli apa ya?


Kalau coklat?”


Langkah Midnight


terhenti sebentar. Tak jauh dari posisinya berdiri, indra penciumannya


menangkap aroma kentang goreng yang masih panas. Seperti melodi musik, aroma


sedap itu naik turun mengelilingi Midnight. Ah, jadi lapar rasanya.


Ngomong-ngomong soal kentang goreng, Midnight jadi teringat dengan Black Aura


sebelum pergi ke Carnater. Aura itu berpesan padanya, “Kalau ibu mau bertemu


denganku, jangan lupa bawa kentang goreng.”


Tidak begitu


panjang tapi butuh waktu dan proses mendapat kentang itu. Midnight yakin, Aura


kesayangannya sengaja meminta kentang lantaran dirinya rindu dengan sosok gadis


remaja dengan senyuman polos yang disukainya itu. Selama Black Aura bersama


Chloe, makanan yang dia santap bukannya bolu, melainkan kentang. Makanan


favorit Chloe.


Midnight


terkekeh. Permintaan Black Aura itu tak jauh beda dengan Carmine. Cara mereka


berbicara dan meminta itu sama. Wajah Carmine yang selalu tampil datar juga


masih melekat jelas di benaknya. Sampai kapanpun, Carmine tetaplah adik


kesayangannya. Gadis itu sedang tenang sekarang. Yah, selagi tidak ada masalah


yang bersangkutan dengan Carmine, Midnight tinggal membereskan semua


pekerjaannya dan menjalani hidup normal layaknya para Chloe dan teman-temannya


yang lain.


Saat pikirannya


larut dalam masa lalu, Midnight dikejutkan oleh sesuatu yang berukuran besar


terjatuh tepat di depannya. Factor shock, Midnight mengambil beberapa langkah


cepat ke belakang. Takutnya ada hewan buas di dalam plastic hitam berukuran


besar itu.


“Tu-tunggu…!


Plastik apa ini?” selidik Midnight dengan nafas yang memburu. Sebelum mendekati


plastic besar itu, Midnight lebih dulu menenangkan dirinya. Setelah itu, dia


hampiri benda hitam berukuran besar. Ukurannya tidak begitu besar. Jika


dibandingkan dengan manusia, benda itu hampir menyetarai tinggi badan seorang


pria berusia dua puluh sampai tiga puluh tahun.


Midnight


mengernyitkan keningnya heran. Benda apa yang ada dibalik plastic hitam itu?


Jangan bilang… Isinya manusia?


Midnight


menundukkan dirinya. Area tempat dia berjalan ini sepi. Sebagian dari


toko-tokonya sudah ada yang mulai tutup. Mengetahui suasana di sekitarnya sepi,


Midnight mengambil kesempatan mengeluarkan boomerang-nya, kemudian memotong


plastic tersebut.


“Hehh?!”


Midnight terbelalak bukan main. Wajahnya seketika pucat. Kedua kakinya mendadak


lemas setelah mengetahui siapa sosok yang terbungkus di dalam plastic hitam


itu.


Seorang pria


yang sangat familiar di matanya. Orang yang aslinya sangat dia benci dan


sekarang, orang ditemukan berlumuran darah. Iris biru malamnya menyorot ke


pundak kanan pria itu. terdapat luka bekas tembakan di sana.


Dia diserang.


Tapi siapa menyerangnya?


Midnight


mendongak ke atas. Pria itu jatuh dari atas gedung yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Yang tidak Midnight sangka adalah, gedung itu statusnya sudah lama terbengkalai.


Otomatis, tidak ada seorangpun yang menempati gedung tersebut kecuali, penunggu


bangunan itu.


Tidak diketahui


di lantai berapa Yuuki jatuh sebab, jendela-jendela di gedung itu semuanya


sudah pecah. Berdasarkan desas-desus yang beredar lima bulan yang lalu, gedung


itu dulunya bekas café. Tapi, karena insiden kebakaran yang disebabkan oleh


arus pendek listrk, gedung itu terbakar. Semuanya selamat. Meski hanya


mengalami luka bakar saja.


Lupakan soal


gedung, sekarang Midnight beralih ke Yuuki. Sebenarnya apa yang telah menimpa


Yuuki hingga babak belur seperti ini? Anehnya lagi, terdapat luka tembakan di


pundak kanannya. Sedang mencari gara-gara dengan siapa lagi pria ini?


Midnight


mendesah lelah. Sebetulnya dia tidak berminat membantu Yuuki, hanya saja,


keadaan pria itu sungguh memprihatinkan. Belum lagi darah segar miliknya yang


masih mengalir. “Hahh…  Ada-ada saja kau,


Yuuki.” Lirihnya, geleng-geleng kepala. Midnight merogoh isi tasnya, menemukan


ponsel andalannya setelah itu menghubungi ambulance.


Begitu Yuuki


berada di bawah naungan para petugas medis, Midnight berencana mencari pelaku


yang menjatuhkan Yuuki sekaligus yang menyerangnya. Walau rasa bencinya


terhadap pria itu sudah terlanjur dalam, tetap saja Midnight merasa kasihan.


“Baiklah, Yuuki.


Sembuh nanti, masalah kita selesai.” Ucapnya.


~


Chloe memutar


bola matanya malas menanggapi tingkah Aoi yang mendadak seperti orang tersesat


saat ini. Di depan rumah yang pemiliknya diduga sedang berlibur dan tidak tahu


jelas dimana dan kapan dia akan datang. Keberadaannya mesti Chloe pertanyakan


juga alasan kenapa Aoi mengajaknya kemari? Ke rumah Midnight katanya.


“Percuma dicari


sampai ke ujung dunia, orangnya lagi di luar rumah.” Ujar Chloe datar.


Aoi menoleh ke


arah Chloe memperlihatkan senyuman kakunya, sadar akan tingkah bodohnya


“Haahh!


Buang-buang waktuku aja!”


“Kalian!”


Chloe dan Aoi


melirik ke pohon besar yang tumbuh rapuh di halaman rumah Midnight. Suara


memanggil itu berasal dari pohon itu. Dengan tatapan menyelidiki, Chloe


berjalan pelan menghampiri pohon tersebut dan rupanya Jacqueline-lah yang


memanggil mereka itu. Gadis itu tersenyum manis diiringi dengan lambaian tangan


singkatnya pada Chloe.


“Hai! Lama nggak


jumpa, Chloe!” sapanya ramah. Masih sama seperti dulu.


“Hai… Sedang apa


kau di sini?” tanya Chloe tanpa basa-basi. Wajahnya terlihat penasaran diikuti


dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk memeriksa bagian-bagian pohon yang


membuatnya curiga.


Jacqueline


terkekeh melihat tingkah Chloe. Kekanak-kanakan gadis itu mash ada meskipun


kadang, suka dipadukan dengan sifat dinginnya. “Kelihatannya kau dan Aoi


berdebat sebelum pergi ke sini.” Tebak Jacqueline sambil berkacak pinggang di


samping pohon tua itu.


Chloe mengangguk


pelan tanpa merespon.


“Kau berubah ya!


Jangan bilang kalau kau cemburu dengan kami berdua?” selidik Jacqueline. Gadis


itu mendekat dan sukses membuat Chloe merasa tidak nyaman.


“Apaan sih?!


Jangan bertingkah layaknya detective, dong!” protes Chloe tak terima sekaligus


merasa tidak nyaman dengan perlakuan sahabatnya. Menurut Chloe, yang berubah


itu justru Aoi dan Jacqueline. Berdasakan pengamatan Chloe, belakangan ini,


terutama kalau sedang penasaran, Aoi dan Jacqueline selalu mendekatkan tubuh


mereka disertai tatapan serius layaknya seorang detective. Yah, akhir-akhir


ini, pasangan itu sangat menyukai novel misteri. Sementara, Chloe yang tidak

__ADS_1


begitu berminat membaca novel misteri. Sejak awal, dunia Chloe berpacu pada


hal-hal fantasi. Dunia yang memiliki keindahan di luar nalar manusia. Dunia


yang hanya menyimpan spesies-spesies aneh namun mempesona. Dunia seperti itulah


yang sebenarnya ingin Chloe kunjungi. Sudah lama sekali Chloe merencakan ingin


membuat laporan mengenai dunia lain apabila gadis itu telah berhasil menapakkan


kedua kakinya di dunia yang katanya fiksi tersebut.


Bertemu dengan


Black Aura sebenarnya tak jauh-jauh dari kata cukup. Masih ada puluhan misteri


yang mesti Chloe gali lebih dalam jawabannya. Misteri tentang hubungan


Megaville dengan Carmine. Sampai saat ini, pernyataan Midnight tentang


identitas Megaville itu masih dalam status “unknown” yaitu tidak


diketahui.


Chloe pernah


berpikir, kalau Megaville itu berasal dari gambaran perasaan negative Carmine,


sementara Carmine-nya sendiri sudah meninggal, bukankah seharusnya mereka ikut


lenyap bersama pemiliknya? Otak Chloe kembali berputar ketika dirinya menemukan


pertanyaan yang timbul begitu saja di benaknya. Pernyataan tentang Legend Aura


dan Megaville. Megaville terbentuk dari perasaan Negatif Carmine, sedangkan


Legend Aura? Mereka berasal dari apa? Bagaimana bisa manusia biasa seperti


Carmine dan Yuuki ini memiliki kemampuan yang kemungkinan besar sulit


dinalarkan dalam ilmu fisika. Hanya professor berasal dari Carnater aslilah


yang bisa memecahkan serangkai pertanyaan yang menggantung di benak Chloe.


“Nah kan!


Bengong lagi dia.” Seru Jacqueline, memecahkan dinding lamunan yang membentengi


antara dunia Chloe dengan dunia Aoi dan Jacqueline. Kebiasaan dari kecil,


setiap kali berpikir, Chloe dengan mudahnya larut tanpa bisa mengembalikan


dirinya ke dunia nyata kecuali kalau ada seseorang yang mengejutkannya.


“Sorry…


Lagi mikirin jalan cerita novel tadi.” Balas Chloe datar. “Jacqueline…


Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian berdua mengajakku ke sini? Kan Midnight


lagi nggak ada di rumah.”


“Justru karena


Midnight lagi nggak di rumah kita dapat kesempatan berlibur bertiga!” sambar


Aoi tanpa permisi.


“Haaaa? Kenapa


begitu? Kalian mau cari gara-gara sama dia? Yang benar saja! Kalau gitu, nggak


ikutan deh!” tolak Chloe langsung berbalik badan. Namun, gerakannya dengan


cepat ditahan Jacqueline. Tatapan yang Jacqueline layangkan serius sekaligus


membujuk Chloe untuk mau mengikuti perkataan mereka.


“Bukan cari


gara-gara Chloe. Kami ini mau membantumu.”


“Membantu soal


apa?”


“Ikut aku!”


Jacqueline tidak merespon melainkan mengalihkan Chloe dengan mengajaknya


berlari menuju halaman belakang rumah Midnight. Di sana ada gudang dengan


pintunya yang dirantai. Jelas sekali kalau usianya telah memasuki usia senja.


“Kemarin, aku menemukan


cermin cantik di gudang ini. Devil Mask bilang, cermin itu adalah pintu menuju


dunia Carnater. Sayangnya, Midnight nggak mengizinkan siapapun menggunakannya.”


Jelas Aoi. Dia mendorong pelan pintu gudang itu dan masuk bersamaan dengan dua


gadis itu.


Aoi menarik kain


yang melindungi cermin dari debu. Benar yang dikatakan Aoi, cermin itu cantik


sekali. Kacanya bersinar juga mengkilat. Terdapat permata berwarna indigo di


bingkai bagian atas.


Chloe berdecak


kagum melihat keindahan yang ditebarkan cermin itu. “Jadi, cermin ini mau kita


apakan?” tanya Chloe yang masih terpaku pada cermin tersebut.


Aoi dan


Jacqueline  saling melirik disertai


senyuman. Mereka mengangguk-angguk kecil seperti sedang menghitung aba-aba.


Keduanya engambil beberapa langkah mundur, sebelum akhirnya berlari kencang


sampai mendorong Chloe masuk ke dalam cermin dengan mereka yang ikut menyusul masuk


ke dalamnya.


“BERTEMU DENGAN


AURA DONG!” seru Aoi dan Jacqueline serempak.

__ADS_1


~


__ADS_2