
Di atas pohon kelapa, Black Aura mengamati Chloe dan Ethan yang tengah asyik berbincang sambil menyeruput es kelapa buatan Midnight. Lagi-lagi, punggung kedua remaja itu yang ia lihat. Sebenarnya menyebalkan bagi Black Aura jika dirinya hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa. Akan tetapi, di lain sisi Black Aura tidak ingin mengganggu suasana Chloe dan Ethan saat itu. Apalagi menghancurkan mood Chloe. Seandainya mood Chloe mendadak jelek sama seperti waktu itu, maka Black Aura terpaksa mendengar semua ocehan tak berguna Chloe. Mungkin berguna untuk Chloe sebagai pelampiasan kekesalannya. Akan tetapi, tidak ada untungnya bagi Black Aura.
Black Aura memalingkan wajah datarnya ke lautan yang luas itu. Di sana tenang meskipun ada tiga pengacau yang tengah berselancar sambil tertawa terbahak-bahak disana.
“Tch…”
~
“Eh? Jadi kau teman SMP-nya Midnight?!” Chloe membulat kedua matanya tak percaya usai Ethan menceritakan sedikit masa lalunya dan mengapa dirinya bisa berada di Carnater.
“Haha, segitunya responmu itu. Aku sendiri sempat kaget. Sahabatku yang selama ini kukira udah tiada… Rupanya hidup sebagai dirinya yang lain. Aku kaget sekali waktu tahu wajahnya saat Midnight melepas kacamatanya,” tutur Ethan. Sadar es kelapanya sudah habis, Ethan meminta izin pada Chloe untuk pergi sebentar untuk mengisi kembali gelasnya dengan air kelapa.
Sebelum Ethan benar-benar pergi, Chloe dengan cepat menahan lengan Ethan seolah ada suatu yang ingin ia katakan pada pria itu.
“Mau kemana?”
“Mau nambah minum. Kenapa? Kau mau?”
Chloe mengangguk. “Pakai es juga ya!” tambahnya sambil nyengir kuda.
Selang beberapa menit kemudian, Ethan akhirnya kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas air kelapa dan sepiring kentang. Chloe yang saat itu tengah asyiknya membangun istana pasir, langsung menyadari suara langkah kaki Ethan.
“Wah, ada kentang! Kau tau aja yang aku mau!” ujar Chloe senang. Tanpa pikir panjang, Chloe menghampiri Ethan dan merangkul pria itu sampai ke tempat mereka bersantai nanti. Tempatnya ada di samping istana pasir buatan Chloe.
“Hahaha, kesukaanmu itu unik. Makanya, begitu ingat, aku langsung mengambilnya. Ayo, kita makan!” ajak Ethan.
Mereka berdua duduk di atas tikar yang Midnight pinjamkan dengan tulus. Disanalah, mereka menikmati Es kelapa dan kentang goreng yang telah Ethan sajikan awal-awal. Mereka berdua bercanda, berbagi cerita, dan saling menjahili satu sama lain.
Senyuman yang terukir di wajah Chloe jelas sekali menunjukkan bahwa gadis itu bahagia. “Ah, senang banget deh, kau ada disini. Kenapa sih, nggak langsung gabung aja? Aku suka lho bekerja sama denganmu!” ujar Chloe sambil menyulang gelasnya dengan Ethan.
Ethan terkekeh, “Waktu itu, aku ragu mau gabung. Aku yakin kalau kalian pasti bakalan bingung kenapa aku bisa bersama Midnight. Tapi syukurlah, semuanya berjalan dengan baik. Aku senang kau ada disini juga,” balas Ethan.
__ADS_1
“Iya, semuanya berakhir dengan baik. Hoam…” Chloe menguap. Dengan manjanya, dia meletakkan kepalanya dia paha Ethan. “Aku nggak nyangka, kau punya nama lain juga.”
“Haha, aku melakukannya karena aku ingin mencari Midnight. Kau tahu? Midnight itu bukan nama aslinya. Dia juga bukan orang Amerika asli. Dia itu orang Jepang. Aku kaget dengan perubahan sahabatku ini. Dia awalnya lembut, murah senyum, tiba-tiba berubah menjadi perempuan yang dingin dan agak pedas omongannya,” ungkap Ethan. Tanpa ia sadari, tangan kanannya membelai rambut Chloe hingga membuat gadis itu merasa nyaman dengan posisinya saat ini.
“Tapi sekarang, kau udah bertemu dengannya kan? Kalau udah bertemu, apa yang akan kau lakukan dengannya?” tanya Chloe.
“Gimana ya… Yah, jujur aja, sebenarnya aku suka sama Midnight.”
Saat Ethan bilang dia menyukai Midnight, Chloe spontan bangkit dari posisi baringnya seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Terkejut gitu ceritanya.
“Kau suka? Astaga!!! Jadi kau mengubah identitasmu hanya demi mencari Midnight yang kau cintai?” tanyanya lagi. kemudian, Chloe menjerit kecil karena tak sanggup menahan rasa antusiasnya.
“Sstt! Kecilkan suaramu! Aku nggak mau rahasiaku sampai kedengaran di telinganya!” bisik Ethan malu.
“Nggak papa dong! Habisnya, aku nggak mau lihat usaha dan kerja kerasmu jadi sia-sia gara-gara kau diam aja,” komentar Chloe. “Ayo, tunggu apa lagi? Langsung aja confess!”
“Aish! Jangan sekarang kubilang! Bahaya!”
“Bahaya apanya sih? Kau-nya aja yang terlalu takut.”
“Daripada mikirin itu, mending kita jalan-jalan aja. Ah, berenang sambil berselancar juga seru kayaknya,” gumam Chloe yang masih nyaman dengan posisi baringnya.
Mendengar perkataan Chloe itu, Ethan tersenyum dan otomatis berpikir mencari permainan yang bisa mengisi liburan singkat mereka hari ini. Pada awalnya, ethan berniat mengajak Midnight berkeliling. Akan tetapi…
“Eh, Chloe. Kita jalan-jalannya nanti sore aja ya! Aku baru ingat kalau ada keperluan penting yang harus aku diskusikan sama Midnight. Maaf ya, nanti kita lanjutkan lagi,” katanya buru-buru.
Chloe yang percaya akan perkataan Ethan itu hanya bisa memakluminya dan mempersilahkan pria itu pergi. Setelah langkah Ethan semakin jauh dari Chloe, barulah keheningan dan kesunyian menyerbu area piknik gadis itu. Singkatnya, Chloe merasa kesepian saat ini.
“Hah, bosan. Enaknya mau ngapain ya?” gumamnya tanpa ia sadari ada orang di balik pohon kelapa itu merasa tersakiti hatinya. Merasa dirinya tidak dianggap dan telah disingkirkan oleh pria lain yang jauh lebih menarik perhatian kekasihnya.
Dalam diam, Black Aura hanya bisa menelan pil pahit usai mendengar gumaman Chloe. Detik ini, dia bimbang, antara mau melanjutkan ikatannya dengan Chloe atau justru mempertahankannya. Karena Black Aura tahu sendiri bahwa Chloe ini type orang yang mudah sekali lupa. Dia juga mudah sekali teralihkan ke sesuatu yang menurutnya sangat menarik sampai-sampai melupakan yang lain.
__ADS_1
Saat dipikir lagi, Black Aura sadar bahwa dirinya bukanlah manusia. Akan tetapi, dia juga memiliki batas kesabaran. Aura itu berusaha menenangkan dirinya dengan mengatur nafasnya. Dia tak akan menyerah bagaimanapun keadaannya. Black Aura akan mencoba untuk mengajak Chloe pergi. Sebisa mungkin menjauh dari Ethan dan membuat Chloe lupa akan keberadaan Ethan. Sesungguhnya, cemburu itu tidak enak. Cemburu itu hanya akan menyakiti diri sendiri dan membuat jalan pikiran seseorang menjadi rumit hingga pada akhirnya berujung ke pikiran negative. Bahkan, bisa saja mengundang bisikan kecil tentang kematian.
“Baiklah…” setelah mengatur nafasnya, Black Aura memberanikan dirinya menghampiri Chloe. Pertama-tama, dia tidak langsung memanggil nama gadis itu, melainkan dengan menepuk pelan punggung pacarnya.
Chloe tersentak pelan, lalu menoleh ke belakang. “Eh? Aura. Kemana aja kau? Aku dari tadi nungguin lho.”
“Kau nungguin aku?” tanya Black Aura sekedar memastikan.
Chloe mengangguk pelan. Tapi, anggukan itu justu yang menjadi keraguan Black Aura saat ini.
Black Aura menelan salivanya. Pernafasannya yang semula stabil mendadak tidak normal. Sesak begitu maksudnya. “Kau sekarang lagi apa?” tanya Black Aura berusaha mencari topic agar suasana diantara dirinya dengan Chloe tidak terlalu canggung. Mengingat hari ini adalah liburan, Black Aura harus mencari cara agar dirinya bisa menikmati liburan hari ini dengan sepenuh hati. Terutama bersama dengan gadis yang ia cintai.
Jujur saja, setelah mengamati Jacqueline yang sedang menjahili Aoi dan dua youtuber yang sedang berselancar, Black Aura merasakan getaran kegembiraan dari senyuman mereka. Keempat remaja itu terlihat bahagia. Mereka menikmati waktu-waktu mereka di laut dengan sangat baik. Mereka memanfaatkan peralatan yang ada asalkan hati mereka bahagia. Nah, karena itulah, Black Aura juga ingin setidaknya menjadi mereka.
“Aku lagi gabut. Nggak tahu mau ngapain,” balas Chloe melirik ke pacarnya dengan tatapan santai. Gadis itu membaringkan kepalanya di karpet sambil menikmati kentang goreng pemberian Ethan tadi.
Aneh, bukannya melirik ke arah Black Aura, iris biru Chloe masih saja memandang punggung Ethan dari kejauhan. Terlihat Ethan sedang berbicara dengan raut kaku pada Midnight.
“Ethan itu… Menarik ya?”
“Eh?”
Pertanyaan Black Aura itu sukses mengalihkan perhatian Chloe. Yang awalnya terpaku ke Ethan kini berubah menjadi ke Black Aura yang memasang raut datar.
Sungguh, Black Aura tidak mengerti apa yang ada dipikiran Chloe saat ini. Tidak seperti biasanya dimana Black Aura bisa membaca isi pikiran Chloe. Kali ini, kemampuan itu mendadak tidak berguna.
“Habisnya, dari tadi kau memperhatikan Ethan terus, meskipun aku ada disini,” lanjut Black Aura. Suaranya terdengar seakan Aura itu sedih. Merasa dirinya tidak dianggap atau tepatnya telah disingkirkan oleh pesona Ethan yang penuh akan daya tarik. Memang mengejutkan jika Morgan yang ia kenal pemalu rupanya adalah Ethan yang ia dengar dari Midnight merupakan anggota FBI.
“Maksudmu apa?” balas Chloe tidak mengerti.
Black Aura terdiam sejenak. Setelah menghembuskan nafas beratnya, barulah dia mengutarakan isi hatinya. Meskipun demikian dirinya tidak mau karena pertanyaanya kali ini hanya akan membuat Chloe menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
“Maksudku, kau suka sama Ethan, kan?”
~