
"Suara dari rasa sakit?" ulang Aoi.
Midnight mengangguk. "Akan kuberitahu nanti. Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang?"
"Benar juga! Aku belum makan siang, hehe." Ujar Aoi. Kemudian, dia melihat jam tangannya.
"Setengah dua belas."
"Sebentar lagi, dia akan kubereskan." Ucap Midnight tersenyum mantap.
Tak lama kemudian, Silentwave datang menghampiri mereka. Tangan kanannya berubah menjadi tangan biasa. Aura itu menghampiri Midnight. Lalu, dia mengusap pipi Midnight yang memar itu.
"Jangan khawatir, nggak sakit kok." Ucap Midnight sambil mengelus punggung tangan Silentwave.
Mereka terlihat seperti ibu dan anak... Batin Aoi disertai helaan nafas lega.
"Namanya Aoi. Dia orang baik." Midnight memperkenalkan Aoi pada Silentwave saat menyadari wajah Aura itu yang terlihat bingung.
"Oh, kau mau kenalan denganku? Perkenalkan, namaku Rei Aoi. Salam kenal!" seru Aoi ramah.
Sebagai respon, Silentwave menunjukkan buku tulis. Namanya sudah tertera di sana. Jadi, tinggal Aoi baca saja.
"Aku udah tahu, kok!"
Ketika sedang sibuk berkenalan, Tiba-tiba, perhartian mereka teralihkan pada pintu bangunan tua yang terbuka perlahan. Kepala mereka masing-masing menoleh sebagai bentuk respon mereka pada pintu itu. Ada bayangan Aura itu yang memanjang hingga nyaris menyentuh ujung sepatu Aoi.
Rupanya Dark Fire. Langkahnya sedikit pincang. Tangan kanannya menyentuh pinggang kirinya yang terluka. Tak hanya itu, nafasnya juga tidak beraturan. Jelas sekali kalau serangan Silentwave sebelumnya sukses membuat Aura itu semakin melemah.
Melihat penampilan Aura itu yang sangat kacau, membuat Aoi jadi prihatin meskipun pada dasarnya, dia tidak memiliki rasa kasihan pada Legend Aura.
"Wah, belum capek, ya!" celetuk Midnight mengisi kekosongan suasana mereka.
"A-aduh... Lumayan, sih. Padahal aslinya, aku nggak berniat bertarung denganmu. Aku ingin membawamu langsung ke Yuuki. Tapi, kau ternyata tidak sendirian." Sahut Dark Fire. Kemudian, menghentikkan langkahnya.
"Selain itu, ada hal lain yang ingin kukatakan padamu, Midnight."
"Hm? Khusus untukku?"
Dark Fire mengangguk. Kali ini, Aura itu terlihat lebih tenang. Sehingga, membuatnya terkesan sudah lelah dan hanya ingin mengatakan hal penting itu saja. Setelah itu, mungkin dia akan pergi. Akan tetapi, Midnight tentu saja tidak akan melepaskan Aura itu karena sudah tahu keberadaannya.
Dark Fire menarik nafasnya, setelah itu berkata, "Pesan dari Yuuki jika seandainya salah satu dari kami ada yang menemukanmu. Aku yakin, kau pasti penasaran."
"Cih! Banyak kali bacod-mu lah!" Tinggal bilang aja susah kali!" bentak Midnight tak sabaran. Sampai-sampai, membuat Aoi dan Silentwave melonjak kaget.
"Galak banget, sih!" gerutu Dark Fire. Sebelum pada akhirnya, mengungkapkan semua yang ada di pikirannya.
Midnight dan Silentwave terbelalak mendengar ucapan Dark Fire. Entah benar atau tidak, Midnight memilih untuk mempercayai apa yang dikatakan Legend Aura itu. Dari nada bicaranya yang terkesan sombong, Midnight bisa merasakan fakta dan kebenaran di dalamnya.
Ya, konfliknya semakin di puncak. Dan, Midnight harus pandai-pandai mengatur emosinya dan rencana yang akan ia gunakan untuk menghabisi orang yang memulai konflik ini.
Orang itu sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Tidak hanya orang itu, ada satu lagi yang sangat berbahaya baru saja keluar dari dunia yang sangat ia takutkan. Silentwave bahkan terkejut dan sampai tidak mampu menggerakkan jari-jarinya.
"Dia hidup lagi? Bagaimana bisa?" ujar Midnight tidak percaya.
Dark Fire menyeringai menanggapinya. "Ya. Aura yang selama ini kalian kira sudah terbunuh, sekarang sedang berhadapan langsung dengan Devil Mask dan Yumi. Mungkin nggak lama lagi, dia akan..."
Krak!
Dark Fire tertegun untuk sesaat. Barusan, telinganya merespon suara retakan. Dimana?
"Suara apa itu?" tanya Aoi sambil mengeluarkan ponsel Midnight yang masih bersamanya. Untunglah, tidak retak.
Dark Fire mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan pergelangannya yang retak. Oh, disini ternyata.
"Sepertinya, hari Minggu ini bakal menjadi hari terakhirmu, deh." Ujar Midnight yang ikut menyaksikan retakan di pergelangan Dark Fire semakin bertambah. Namun kali ini, suara retakannya menghilang karena kemampuan Silentwave. Midnight tidak ingin mendengar suara retakan yang menurutnya menyakitkan itu. Meskipun Dark Fire adalah musuh mereka, Midnight tetap memiliki rasa belas kasih dan sedih.
Suara retakan itu pernah dia dengar di salah satu anaknya. Tapi untunglah, anak itu masih bertahan dan sedang dalam masa pemulihan.
"Yah, kurasa kau benar." Dark Fire tersenyum.
Aoi mengerutkan keningnya heran. Kenapa Legend Aura itu jadi selembut itu? Kesambet apa dia? Apa kepalanya terbentur pintu mobil sehingga ingatannya akan kelembutan itu kembali?
"Ada informasi lain tentang Yuuki atau kata terakhir?" tanya Midnight.
Aoi melirik Midnight. Dia juga. Sepertinya tidak ada niatan ingin bertarung lagi, deh.
"Hmm... Kata terakhir, ya? Entahlah. Mungkin, cuma pesan Yuuki aja yang mau kusampaikan padamu." Balas Dark Fire seiring retakan itu merambat hingga ke wajahnya.
"Bagaimana dengan pesanmu? Kalau ada kesempatan bertemu Yuuki, akan kubilang."
"Oh, kau mau bertemu dengannya?" Dark Fire cukup terkesan dengan perkataan Midnight barusan. Lengan ogre yang menempel di tangan kirinya memudar. Dia cukup sedih dengan menghilangnya senjata itu.
"Kalau ada kesempatan."
"Baiklah... Bilang padanya..."
"Dimana Huke berada?" sela Midnigh tanpa permisi.
"Lho? Midnight?" Aoi menelengkan kepalanya sambil memasang raut bingung. Dan lagi, siapa Huke? Nama orang kah?
"Oh." Dari Fire menutup mulutnya rapat.
__ADS_1
"Beritahu aku!" Paksa Midnight seraya menodongkan boomerang yang sebelumnya adalah tongkat baseball.
"Jembatan Gold Gate."
"Bagus. Kalau sampai aku dengar, ada anak yang tewas..."
Boomerang itu dilemparnya dan menebas Legend Aura di depannya.
"Aku nggak akan segan-segan membunuh kalian. Bahkan, jika harus dicap sebagai penjahat sekalipun!" lanjut Midnight dengan tangan kanannya yang berhasil menggenggam boomerang-nya yang sudah kembali dengan membawa tetesan cairan kental orange bercampur merah.
Setelah serangan tadi, Dark Fire pun pecah. Aura itu tidak menyisakan apapun. Bahkan, dia tidak dipersilahkan untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya.
"Aneh. Kenapa dia jadi selemah itu, ya?" gumam Aoi.
"Hm? Kenapa kau bilang begitu?" Midnight menoleh ke arah Aoi penasaran.
"Soalnya, saat pertama kali bertemu, aku dan Devil Mask sampai kewalahan melawannya. Black Aura juga." Jelas Aoi.
Midnight terkekeh menanggapinya. "Itu karena..." Wanita itu melirik Silentwave yang berdiri di sampingnya seraya berkata, "Kami kuat."
"Oh, begitu..."
Yah, apapun jawabannya, Aoi tetap mengiyakannya. Karena Midnight lebih tahu soal Aura ketimbang dirinya. Dan, ikut alur saja intinya.
"Tunggu dulu!" sentak Aoi tiba-tiba.
"Apa?"
"Huke itu siapa?"
"Komandan Legend Aura."
Aoi membeku di tempat. Bulu kuduknya berdiri beserta keringat dingin yang bercucuran. Pria itu memegang kepalanya seperti orang frustasi.
"Hei, ada apa?! Kenapa tiba-tiba jadi setakut ini?" tanya Midnight.
"Dark Fire bilang, Huke lagi bertarung dengan Devil Mask, ya?"
"Kalau nggak salah sih, iya. Kenapa?"
Seketika, nafasnya menjadi sesak. Detak jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat. Lalu, kembali berfungsi dengan normal.
Kenapa aku baru ingat?!
"Oi! Kau kenapa, sih?!" sentak Midnigh nggak sabaran.
"Jacqueline ada di sana!!" sambar Aoi tanpa jeda.
~
pikir panjang, gadis itu segera menggeserkan layarnya ke atas untuk menyalakan
ponselnya.
Saat itu, Chloe sedang duduk di kursi taman sambil menyantap kebab yang Rara beli untuknya. Kebabnya juga belum habis karena Chloe lebih mengutamakan kenikmatannya ketimbang perutnya.
Rara dan Yohan berpisah sebentarnya. Katanya,
Yohan masih mau membeli kebab. Sedangkan Black Aura, yah… Aura itu seperti biasanya duduk di sampingnya dengan kedua mata terpejam. Dia sedang mendengarkan lagu lewat headphone yang Chloe pinjamkan padanya.
Dari Jacqueline? Chloe menelengkan kepalanya. Tanpa membuang waktu lama, dia langsung membuka kotak pesan tersebut.
Betapa terkejutnya Chloe menemukan tulisan yang menurutnya mirip sekali dengan gaya penulisan monyet. Ada apa dengannya?
Banyak sekali typo yang dia buat. Hadeh…
Mau tak mau, Chloe harus menguras otaknya agar bisa mengerti apa yang dituliskan Jacqueline padanya. Memang, Jacqueline itu terkadang suka terburu-buru. Akan tetapi, jangan sampai berujung pada penulisan juga. Heran jadinya. Chloe menebak, kalau gadis itu mengetik sambil berlari.
Jacqueline
[ GoldeGa te Bridt. Surh Aur a kesna!
Ad a mysud bari. Hukr Meyafora ]
“Astaga… Niat apa nggak, sih? Ngetik aja udah
kayak dikejar setan.” Gerutu Chloe yang masih mengunyah.
“Kenapa, Chloe?”
Chloe menoleh ke arah Black Aura dan langsung menunjukkan layar ponselnya pada Aura itu. “Ada pesan dari Jacqueline. Tapi, aku nggak mengerti isinya. Kau bisa baca?”
“Hm?” Black Aura melepaskan headphone tersebut dari kepalanya dan beralih pada pesan yang dikirimkan Jacqueline. Aura itu membacanya.
“Huke…!” Black Aura membeku seketika usai membaca pesan itu.
“Eh? Huke? Siapa dia?” tanya Chloe polos.
Black Aura menarik nafas kemudian, membuangnya perlahan. Lalu, dia menatap Chloe dengan wajah datarnya. “Jacqueline dan yang lainnya dalam bahaya.” Jawabnya.
“A-apa?! Kita harus ke sana!”
__ADS_1
“Kalian mau pergi?”
Sebuah pertanyaan yang dilontarkan seorang pria sukses membuat pergerakan mereka terhenti. Masing-masing dari mereka menoleh perlahan ke belakang dan menemukan sosok
Yohan berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Dia tidak sendirian. Di belakangnya, ada Rara tengah berlari kecil menyusul Yohan.
Anehnya, mereka tidak membawa kebab seperti yang mereka bilang sebelumnya.
Akhirnya, kecurigaan itu muncul tanpa harus diundang. Chloe dan Black Aura memandang curiga pada Yohan yang memasang senyuman biasa. Pria itu pun mendekat.
“Kau nguping ya, barusan?” tanya Chloe sinis.
“Memangnya kenapa kalau jawabanku, ‘ya’?” balas Yohan.
“Wah! Kak Yohan cepat sekali!” Rara yang baru sampaiitu langsung mengeluh tanpa memperhatikan kalau suasana di sekitarnya sangat canggung. “Loh? Kalian kenapa diam-diaman?”
Yohan melirik Rara sebentar sebelum akhirnya kembali ke Aura yang berdiri tepat di depannya.
“Kau kaget ya, Black Aura?”
Chloe terkejut saat Yohan menyebut nama Black Aura. Seoalah, pria itu sudah mengenal Black Aura jauh sebelum dia mengenal Aura ini.
Dan seperti biasa, Black Aura tidak merespon jika yang dilontarkan itu tida terlalu penting
menurutnya.
“Salah satu Aura yang mati mengenaskan di tanganmu. Aku terkesan, kau bisa membunuhnya. Tapi sekarang, Aku penasaran, bagaimana caramu mengalahkan Huke nantinya. Kau tahu, dia berbeda dari sebelumnya. Dia tidak selemah yang kau kira.” Ujarnya. Tangan kanan yang tadinya ia sembunyikan di dalam saku, kini, dikeluarkannya dan diletakkannya di atas puncak kepalanya. Perlahan-lahan, Yohan mengusap-usap rambutnya sambil berkata,
“Ingat baik-baik. Devil Mask dan yang lain dalam bahaya, lho... Dan lagi, hari ini adalah hari Minggu. Mungkin saja aku bakal bertemu dengan Midnight. Siapa tahu, kan?”
Chloe dan Rara terbelalak melihat perubahan Yohan. Seperti di film fantasi lainnya, dimana ada satu tokoh antagonist-nya bisa berubah menjadi orang lain hanya dengan membuka
sweeter-nya. Tapi, bagaimana bisa? Ini dunia nyata dan Chloe jelas-jelas melihat perubahan tersebut. Memang pakaiannya tidak berubah, tapi! Wajahnya!
Sama seperti Chloe dan Rara, Black Aura justru lebih terkejut lagi. Dia tidak menyangka, dirinya
bisa dengan mudah tertipu oleh penampilan luar. Sialnya, Black Aura tidak memperhatikan pakaian yang saat itu dikenakan Yuuki.
“Yu… Yuuki?” sebut Black Aura. Suaranya tertahan karena pemandangan yang tak terduga diperlihatkan dengan jelas di mata kepalanya sendiri.
Yuuki menyeringai. “Ya, sudah kubilang, bukan? Di café waktu itu…”
Langsung, Black Aura teringat akan perkataan Yohan di café kemarin. Pria itu mengatakan, “Lama tak berjumpa, Black Aura.”
Dan, kalimat itu terulang kembali. Meskipun, lokasinya bukan di café yang kemarin mereka
datangi.
Tanpa pikir panjang, Black Aura segera menyembunyikan tangan kanannya di belakang dan hendak mengeluarkan pedang. Dia tersenyum, mengingat dirinya yang sampai sekarang ingin sekali membunuh Yuuki agar tidak ada lagi yang mengganggu ibunya serta
pikirannya. Yah, walaupun Black Aura
bukan manusia, setidaknya dia juga menginginkan kehidupan yang normal sama
seperti Chloe dan kedua sahabatnya itu.
“Chloe, pergilah!” bisik Black Aura yang masih
menatap tajam ke arah Yuuki.
“Oke. Ayo, Ra!” ajak Chloe seraya menarik lengan Rara diikuti dengan derap langkah
kakinya, menjauhi Black Aura.
“Yang benar saja?! Yohan itu… Yuuki?!"
“Sudahlah! Bukan itu yang harus kita pikirkan! Kita harus mencari Minji dan Aoi secepatnya!" tegas Chloe sampai tidak sadar kalau langkahnya terlalu cepat berlari dan berakhir menabrak seseorang. Dia dan orang itu terjatuh dan sama-sama mengaduh kesakitan.
“ADUH!” seru mereka serempak dan secara bersamaan, mereka tertegun.
Chloe mendongakkan kepalanya. “Jacqueline!” serunya senang.
Berbanding terbalik dengan Jacqueline yang melongo heran mengetahui Chloe yang terjebak di jembatan bersamanya. “Chloe? Kenapa kau bisa disini?"
"Eh? Memangnya, aku dimana?"
“Jembatan Golden Gate.” Jawab Jacqueline beranjak berdiri kemudian, mengulurkan tangannya untuk memberi bantuan pada sahabatnya.
Di sisi lain, Black Aura membeku dengan kedua manik violet yang mengecil karena kaget. Dia tidak percaya dengan apa yang lihat saat ini.
Aura itu, dia berdiri tak jauh darinya. Tubuhnya diwarnai oleh darah magenta dan Black Aura tahu betul siapa pemilik darah itu.
Aura itu, memandang Black Aura dengan wajah datarnya. Dari semua Legend Aura, hanya dialah yang tidak memiliki emosi.
"Senang bertemu denganmu, Black Aura." Sapa Huke diakhiri dengan senyuman kecilnya.
"Huke..." Black Aura terdiam.
~
__ADS_1