Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 175 {Season 2: Curhat}


__ADS_3

Devil Mask masih menggenggam ponselnya setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Midnight. Dia menghela nafas setiap kali memikirkan Jacqueline yang saat ini sedang berada di Carnater. Yah, ini mengejutkan baginya kalau Jacqueline dan kedua sahabatnya bisa membobol dengan mudah pintu gudang Midnight yang dirantai itu. Mungkin saja, hari itu Midnight lupa mengunci pintu gudangnya sehingga anak-anak nakal itu tertarik untuk menjelajah dunia Carnater lewat cermin yang dibungkus oleh kain putih.


Masalah Legend Aura sampai saat ini masih belum diketahui dengan jelas detailnya. Mereka belum melakukan pergerakan apapun. Manusia-manusia di kota juga menjalani rutinitasnya seperti biasa. Seolah, semuanya berjalan dengan normal apa adanya. Dibantu Yumi yang saat ini sedang berkeliling sambil mencari minuman dingin sebagai obat penawar dahaga mereka.


“Benang merah? Belakangan ini, aku menemukan banyak benang merah tapi… Siapa yang membuatnya? Dari semua orang yang kutahu, Yuuki masih di rumah sakit. Kedua, Emma yang menghilang secara misterius. Ketiga, Legend Aura menghilang secara misterius. Terakhir, Elena. Adik Ethan yang sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya. Astaga, ada saja yang harus kami kerjakan,” keluh Devil Mask. Topeng kucingnya menengadah ke langit malam. Di balik topengnya, Devil Mask merasa matanya silau saat cahaya lampu jalan berpapasan langsung dengan bola matanya.


Sekarang sudah empat hari mereka nggak pulang. Apa ritualnya belum mereka jalankan sama sekali? Dan juga…


Devil Mask mengalihkan pandangannya dari indahnya malam menjadi potret seorang gadis berambut ungu yang tersenyum di dalam layar ponselnya. Rambutnya yang diikat ekor kuda dan kacamata kotak yang ia kenakan waktu itu, sampai detik ini, perasaan Devil Mask terhadap gadis itu masih sama.


Kini, dia tidak lagi memiliki dendam. Dendamnya lenyap tanpa jejak tepat ketika dirinya pertama kali bertemu dengan gadis berambut ungu dengan senyuman khas-nya itu.


“Kau pasti bersenang-senang disana, kan?” gumamnya.


~


“Hahaha, hancur kali mukamu, Line!” ejek Okka dengan jari telunjuknya mengarah terang-terangan di hadapan make-up Jacqueline yang luntur usai tenggelam dalam lautan.


“Ha? Aku? Dia nggak sih?!” tunjuk Jacqueline ke arah Chloe. “Kau tunjuk pula aku,”


“Nah, gimana berenangnya tadi? Seru?” sambut Midnight dengan membawa box berisikan beberapa handuk untuk  remaja-remaja yang baru saja mengalami insiden saat menaiki perahu pisang itu. Midnight menutup mulutnya, berusaha menyembunyikan tawanya setiap kali melihat wajah Jacqueline yang sudah tak jelas lagi bentuknya. Ada-ada saja masa remaja ini.


“Sebentar lagi malam, kalau nggak mau demam, kalian semua harus mandi dulu,” ucap Midnight seraya membuka portal menuju mansionnya. Wanita itu dibantu anaknya, Silentwave agar portalnya bisa bertahan lebih lama.


“Chloe, Jacqueline, Okka, kalian mandi dulu ya! Setelah itu, kalian mau kan bantu aku masak nanti?”

__ADS_1


“Tentu!” sahut mereka kompak. Tanpa pikir panjang, mereka semua berlarian masuk ke dalam portal dengan membawa handuk mereka masing-masing. Tingkah mereka yang terlihat seperti anak-anak itu mengingatkan Midnight akan para pelajar SMA yang pernah menjadi muridnya saat itu.


“Yang laki-laki?” tanya Aoi melirik ke Ethan lalu Kenzo.


“Siapkan alat masak,” jawab Midnight tersenyum manis.


~


“Okka! Cepetan mandinya! Kasihan Midnight nungguin kita lama!” teriak Jacqueline pada Okka yang sibuk membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.


Ini sudah lima menit lebih tapi, Okka tak kunjung keluar dari kamar mandi juga. Heran Jacqueline dan Chloe dibuatnya. Sebenarnya juga nggak salah Okka mandinya lama.  Itu karena, kamar mandi yang disediakan di mansion Midnight tidak jauh berbeda dengan kamar mandi yang biasanya ada di hotel bintang lima.


Chloe dan Jacqueline yang bisa dikatakan memiliki rekor mandi tercepat tapi bersih ya, wajar saja tersulut emosi lantaran Okka terlalu lama membersihkan dirinya. Besar kemungkinan, gadis youtuber itu sedang melakukan eksperimen dengan sabun mandi Midnight yang kata Black Aura adalah sabun mahal sekaligus awet wanginya. Sabun itu hanya bisa mereka temukan di dunia Carnater.


“Buset dah! Lama kali kau mandi!” celetuk Jacqueline begitu Okka keluar dengan wangi semerbak di sekujur tubuhnya.


“Masalahnya, Midnight itu bukan tipe yang suka menunggu. Kalau kelamaan, bisa-bisa kita kena semprot lagi sama dia,” timpal Chloe. Di saat bersamaan, ponselnya berbunyi. Saat dia cek notifikasinya, ternyata Black Aura.


“Nanti malam sibuk nggak? Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu,”Begitu pesannya.


Chloe tersenyum hangat ketika membaca pesan itu. Baru dia sadari kalau hari ini, dirinya sama sekali belum ada interaksi panjang dengan Black Aura. Lantas, Chloe langsung tertunduk sekaligus merasa bersalah karena dengan mudahnya lupa dengan Black Aura.


Mendadak, dirinya ragu. Pikirannya terpaku pada kepercayaan yang telah Black Aura berikan sepenuh hati kepada Chloe.


“Aura… Dia pasti sedih karena kuabaikan. Tapi, aku selalu melanggar kata-kataku,” gumamnya yang tanpa ia sadari terdengar di telinga Okka dan Jacqueline.

__ADS_1


“Kau memikirkan Black Aura ya?” tanya mereka yang sontak mendapat reaksi terkejut berlebihan dari Chloe.


“Heh? Kalian dengar ya?” tanya Chloe shock berat begitu tahu gumamnya terdengar kedua gadis itu.


“Dengar kok!” balas Jacqueline.


“Jelas lagi!” Okka ikut menimpali dengan senyuman lebarnya.


Gawat sudah. Yah, mau tak mau, Chloe menceritakan keraguannya tersebut pada Okka dan Jacqueline. Jadinya curhat kan.


“Kau sih, dikit-dikit sama Ethan! Udah jelas Ethan kan kawannya Midnight. Harusnya, kau lebih PEKA sikit sama Aura. Dia udah menyerahkan semua perasaan…” cibir Jacqueline yang kemudian kalimatnya diteruskan oleh Okka.


“Dan juga kepercayaannya padamu. Kau nggak boleh sia-siakan itu Chloe!” serbu Okka.


Chloe yang mendapatkan serangan lewat kata-kata itu hanya bisa merenung. Memikirkan dirinya yang gampang sekali terpengaruh oleh ajakan Ethan. Chloe bahkan tidak kesampaian curiga atau berpikir niat Ethan yang sesungguhnya padanya.


“Menurut kalian, aku keterlaluan nggak kalau aku…”


“Dah, dah! Intinya, kau jangan banyak bacot mau ini, itu, sama Black Aura. Intinya, kau jalani aja masa-masa indahmu sama dia. Toh, dia udah mau menerima dirimu apa adanya. Dia udah nggak lari lagi kayak dulu,” Jacqueline menepuk pundak Chloe seraya menyemangati gadis itu, “Percaya dirilah! Jadi dirimu sendiri dan nggak perlu ngomong sesuatu yang sebenarnya kau nggak mampu melakukan, Chloe.”


Di sampingnya, Okka juga ikut merangkul Chloe. “Kau itu beruntung, Chloe. Nggak semua orang bisa mendapatkan keajaiban bahkan sampai menjalin ikatan seperti kau dan Aura ini. Pokoknya ya, kau ikuti saja alur ceritamu. Buat dia bahagia juga oke?”


Chloe tersenyum manis sambil mengangguk pelan hingga akhirnya memeluk kedua gadis itu.


Di tengah nyaman-nyamannya berpelukan, Chloe, Okka, dan Jacqueline tidak menyadari ada tatapan dingin yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan tangan kanan yang terkepal keras.

__ADS_1


MAU SAMPAI KAPAN KALIAN PELUKAN TERUS, HA?!” seru Midnight lantang.


~


__ADS_2