
Ethan berlari terbirit-birit berusaha menghindari puluhan pisau yang Black Aura layangkan padanya. Sial sekali dia hari ini. Dia dengan mudahnya tertipu oleh kata-kata Midnight yang awalnya berniat membantunya tapi sekarang, malah berpihak pada Black Aura tanpa memberitahu alasan yang jelas.
Ethan meneguk salivanya susah payah. Dia bingung bagaimana cara dia mengatasi serangan Black Aura yang semakin brutal. Apalagi mengingat kemampuan Aura itu yang sangat berhubungan dengan rasa sakit. Membayangkan dirinya ditebas saja sudah membuat bulu kuduknya meremang. Apalagi ditebas secara langsung, otomatis nyawanya melayang.
Uh! Kenapa hidupku selalu saja begini? Dua bulan yang lalu aku dirasuki Legend Aura, kemudian berhadapan dengan manusia-manusia yang stress, dan sekarang… Ethan menjeda omongan ketika dia menoleh ke belakang mengecek apakah Black Aura masih mengejarnya atau tidak. Dan rupanya, Aura itu masih mengejarnya tapi kali ini dengan senjata serta kemampuan yang berbeda. Manik violet di mata kirinya berubah menjadi merah. Meneteskan cairan kental yang Ethan klaim sebagai darah.
“Dia ngapain lagi coba?!” pekik Ethan. Tanpa pikir panjang mempercepat langkahnya walau nafasnya terbilang tak sanggup melanjutkan aksi berlarinya lagi.
Black Aura melirik ke arah Ethan dengan manik merah di mata kirinya sementara mata kanannya tertutup. “Kena kau…” begitu sudah ditentukan bagian mana yang akan ia serang, Black Aura langsung melempar boomerang yang Midnight berikan padanya.
Boomerang itu melesat di samping leher Ethan. Beruntunglah tidak menggores kulitnya namun, berbalik arah dan menebas pundak kanannya. Otomatis, serangan itu menciptakan sebuah belahan yang pendek dengan rasa sakit jangka panjang yang merambat hingga ke seluruh tubuh pria itu.
Sontak, Ethan tersandung dengan darahnya yang bercipratan membasahi mantelnya dan juga tanah yang tempatnya terbaring. Sakitnya terasa seperti sepuluh kali lipat.
Ethan meringis menahan sakit. Dia ini kenapa sih?
Belum puas dengan tebasan, Black Aura berteleportasi dan berdiri di samping Ethan. Samar-samar, Ethan menangkap sekumpulan huruf aneh yang membentuk sebuah kalimat dan melingkar di tangan kanan Black Aura. Rasanya agak familiar dengan tangan itu. Ethan merasa seolah dirinya pernah diperlihatkan tangan Black Aura yang dipenuhi oleh mantra-mantra aneh. Dia tidak begitu ingat detail kegunaannya. Tapi yang jelas, Ethan panik. Wajahnya pucat pasi seperti kehilangan banyak darah. Hm tapi memang benar. Ethan kehilangan seperempat darahnya akibat tebasan Black Aura barusan.
“Apa maksudmu, Aura? Kau mau apa kan aku?!” Jerit Ethan ketakutan. Rasa sakitnya berubah transparan lantaran ketakutan pria itu telah mendominasi penuh pikirannya.
“Jangan bergerak,” lirih Black Aura.
Ethan tertegun menyadari nada bicara Black Aura yang mendadak melemah. “Tunggu dulu…! Maksudmu, kau tidak mengincarku?”
__ADS_1
Black Aura mengangguk datar. Perlahan-lahan, dia mendekatkan kelima jarinya ke puncak kepala Ethan. Pada awalnya, semuanya terlihat baik-baik saja. Sampai Midnight dan ketiga remaja itu menyusul dan menyaksikan Black Aura yang hendak melakukan sesuatu terhadap Ethan.
Jauh dari posisi Black Aura saat ini, Chloe yang baru saja sampai itu langsung dibuat heran oleh suara benturan dan juga kekacauan yang sempat mengejutkan jantungnya selang beberapa menit yang lalu. Rupanya Black Aura. Tapi…
“Morgan?” Chloe melirik ke arah Midnight seolah meminta penjelasan dari wanita berkacamata itu mengenai keberadaan Morgan. (Catatan: karena Chloe belum tahu kalau Morgan punya nama asli: Ethan, Chloe tetap memanggilnya dengan panggilan ‘Morgan’).
“Apa?”
“Kenapa Morgan bisa di sini?” tanya Chloe penasaran.
Midnight tersenyum. Kebetulan sekali gadis berambut pirang itu menanyakan pertanyaan yang serupa dengan yang ingin ia tanyakan padanya. “Oh, Morgan… Dia menemaniku ke Carnater. Nah, sekarang kutanya. Kenapa kalian bisa disini dan siapa yang MEMPERBOLEHKAN KALIAN KE SINI?” Midnight langsung memberondong Chloe dan kedua sahabatnya dengan dua pertanyaan yang disertai penekanan di beberapa kalimat menuju akhir. Di balik kacamatanya, Midnight menatap tajam ke arah tiga sahabat yang tengah memasang wajah kaku usai menyadari kesalahan mereka.
Sialan kau, Aura! umpat Jacqueline dalam hati. Sementara Chloe dan Aoi malah lupa dengan kata-kata mutiara Black Aura tentang dirinya yang akan menjadi pelindung mereka dari amukan Midnight. Dan kalian bisa lihat bagaimana kenyataannya sekarang. Aura itu berurusan dengan Morgan dan lupa akan kata-kata manisnya.
Lebih cepat dari Midnight, gadis berambut pirang itu berteriak. “Black Aura! MENGHINDAR! DIA BUKAN MORGAN!” pekiknya memekakkan telinga Aoi dan Jacqueline.
“Astaga, berisik tahu!” keluh Jacqueline tapi diabaikan oleh Chloe yang sudah lebih dulu berlari. Sebelum berlari, gadis itu tanpa basa-basi merebut boomerang Midnight.
Midnight geleng-geleng menanggapi tingkah Chloe. Akan tetapi, di lain sisi dia tidak bisa melarang gadis itu. Midnight tersenyum. Dia tidak sendirian rupanya. Dunia seolah sempit baginya hanya dengan melihat Chloe yang berlari berusaha menyelamatkan Black Aura dari ancaman bahaya yang tak lama lagi akan membantai Aura itu.
“Hei, Chloe kenapa?”
Saat Aoi hendak menyusul Chloe, Midnight menahannya seraya berkata, “Biar aku yang urus.”
__ADS_1
“Eh? Ba-baiklah…” Aoi menyerah dan memutuskan untuk menunggu bersama kekasihnya, Jacqueline. Meskipun dalam hatinya yang terdalam ia tak ingin melihat Chloe terlibat dalam adegan berbahaya yang sudah menjadi bagian dari hidup Black Aura. Sayangnya, karena rasa hormat Aoi kepada orang yang lebih tua membuat pria itu terpaksa mengurungkan niatnya membawa kembali Chloe.
Jacqueline menepuk pundak Aoi. Memberi pria jepang itu tatapan meyakinkan. “Chloe pasti akan baik-baik saja. Kita kan udah tahu bagaimana sifat asli gadis itu,” katanya.
“Hahh… Baiklah…”
~
Black Aura tertegun setelah telinganya merespon suara cempreng Chloe yang sangat khas itu. Lantas, Black Aura menoleh ke arah darah yang menggenang di bawah tubuh Ethan.
“U-ungu?!” Black Aura terbelalak bukan main. Belum selangkah ke belakang saja, kaki kanannya sudah lebih dulu ditahan oleh Ethan. Sebuah senyum seringai terukir di wajah tampannya. Seringai jahat yang lengkungannya sangat khas di mata Black Aura. Begitu pula dengan Midnight dan Chloe yang pernah menjadi saksi senyuman itu.
“Di-dia… Jangan bilang…” Chloe tergagap. Langkahnya melambat beriringan dengan tenaganya yang melayang entah kemana. Ingatan dua bulan yang lalu itu berputar dalam benaknya. Samar-samar menampilkan potongan gambar kapal, gajah laut, lorong kapal yang berantakan dan lembab, serta senyuman seseorang. Chloe membeku.
Nggak mungkin! Bagaimana bisa dia…? Midnight panik. Tapi tidak dengan langkahnya. Suasana seperti ini, kejutan, darah, sudah menjadi hal biasa bagi Midnight. Sisanya terserah pada Midnight bagaimana dia mengatasi permasalahan itu. Tidak dengan negosiasi melainkan kekerasan. Karena musuhnya type yang suka menggunakan senjata dan juga kemampuan fantasi di luar nalar manusia. Tanpa Midnight sadari, dirinya memiliki skill bertarung yang bisa disandingkan dengan beberapa superhero di buku komik seperti… Yah, contohnya banyak.
“Hai! Kau masih ingat aku kan?”
~
__ADS_1