Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 210 {Season 3: Gedung Kantor}


__ADS_3

“Gedung kantor… Tapi, masih berfungsi,” gumam Black Aura. Ditatapinya gedung itu lekat-lekat. Tak Cuma gedung, manusia, desain gedung, luas wilayahnya juga Black Aura perhatikan. Aneh, dia tidak merasakan kejanggalan disana. Mau dibilang mengarang, Black Aura merasa yang Yira katakan ada benarnya.


“Di mimpiku, gedung itu banyak orang yang mati. Terus ada Ghost Wave…”


“Aku mengerti. Ayo, kita kesana!” Ajak Black Aura tanpa pikir panjang berlari menuju gedung yang barusan mereka bicarakan.


Black Aura tidak mengajak Yira melainkan Yira sendiri yang menyusul Black Aura.


Di tengah ramainya para pejalan kaki, Black Aura berlari dengan perasaan asing. Dia merasa berbeda,  apalagi dirinya yang baru menjadi manusia ini berlari seorang diri di tengah ribuan manusia itu. Biasanya, kepercayaan diri itu akan muncul ketika Chloe berada di sampingnya.


Aneh ya. Chloe yang bukan manusia saja bisa sesantai itu berjalan-jalan di dunia Carnater. Sementara Black Aura selalu merasa was-was ketika berada di dunia Chloe yang sangat berisik tersebut. Banyak permasalahan yang tidak begitu Black Aura mengerti di dunia manusia. Selama ini, apalagi saat bersama Chloe, Black Aura hanya cukup menjadi pendengar yang baik untuk kekasihnya.


Gedung itu lumayan jauh jaraknya dari jalan Black Aura dan Yira berlari saat ini. Merasa dadanya sesak, Black Aura berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Kondisi ini berbeda dari dirinya semasa menjadi Aura. Baru dua hari menjadi manusia saja, rasanya melelahkan.


Kurasa, aku nggak bisa memaksakan diriku bergerak terus-menerus. Pikir black Aura sedikit rasa tidak terima dengan kenyataan yang dia dapat.


“Aura?” panggil Yira sambil menyodorkan sebotol isotonic untuk Black Aura. Bahkan, botol yang basah dan dingin itu sampai dia tempelkan di pipi Black Aura.


“Apa ini?” tanya Black Aura dingin.


“Minuman. Kau haus kan?”


“Kapan kau beli?”


“Aku bawa.”


Yira tersenyum setelahnya. Dia juga tak segan-segan membuka tutup botol minuman tersebut dan kembali memberikannya pada Black Aura.


Black Aura menerimanya lalu meneguknya setengah. Haus sekali. Dulu, dia tak pernah merasa sehaus itu. Menjadi manusia ternyata beban juga bagi Black Aura. Belum lagi dengan pertarungan yang sudah pasti akan menghadangnya ditengah jalan. Belum lagi dengan beberapa musuhnya yang belum mengetahui kenyataan bahwa spesiesnya berubah.

__ADS_1


Benar-benar melelahkan.


Chloe hilang. Midnight kemungkinan besar hilang. Namun, Black Aura masih tak mau percaya kalau Midnight akan hilang secepat itu. Tidak mungkin Yuuki sadar lebih cepat. Tidak mungkin Emma yang mencuri mereka karena wanita itu sama sekali tidak tahu dimana keberadaan rumah Chloe saat itu. Legend Aura sudah semuanya tewas. Tersisa Ghost Wave yang keberadaannya saat ini masih misterius.


Meskipun tidak ada niatan mencari Ghost Wave, Black Aura tetap terpaksa harus mencari Aura itu karena, jauh sebelum insiden ini terjadi, Ghost Wave merupakan musuh mendiang suami Midnight sekaligus pangeran yang sudah mati yang sangat ditakuti seluruh warga Carnater.


Kelompok Shizukana Aoi, Ratu Asoka, bahkan Yui sendiri tak ada yang sanggup melawannya lantaran kekuatan Aura itu.


Ghost Wave, salah satu yang menjadi gambaran keinginan Yuuki ingin meraih satu keinginan meski harus mengorbankan segalanya bahkan sampai melibatkan orang lain.


Dari semua anggota Legend Aura, hanya Chost Wave yang terlupakan keberadaannya namun menimbulkan ketakutan besar begitu sosoknya muncul.


Dibilang takut, Black Aura tidak merasakannya sama sekali. Tidak ada ketakutan untuknya tapi untuk orang lain. Untuk gadis yang saat ini menghilang tanpa meninggalkan apapun kecuali petunjuk yang tidak begitu Black Aura mengerti maksudnya.


Sejak insiden Huke kemarin, Black Aura mengira bahwa dirinya akan mendapatkan bayaran yang setimpal setelah semua kekacauan yang telah ia hadapi bersama Chloe. Namun nyatanya, insiden itu terjadi terus menerus tanpa adanya kata stop.


Karena terlalu lama larut dalam pikirannya, Black Aura sampai tidak sadar bahwa dirinya saat ini sedang diperhatikan Yira.


“Kalau kau gelisah, jangan simpan sendiri. Aku mau kok dengerin semua keluh kesahmu…”


“Terima kasih, tapi saat ini aku nggak butuh,” balas Black Aura datar.


Yira tertegun, kemudian menunduk. Tapi tak lama kemudian, dia mengangkat kepalanya lagi dan memamerkan senyuman lebarnya. “Nggak usah sok kuat deh, aku tahu kau ini sebenarnya rapuh di dalam. Aku paham kok perasaan kayak gitu. Rapuh saat kita nggak bersama orang yang kita sayangi. Tapi, terlalu sayang sama orang itu nggak baik juga lho,” ujar Yira yang langsung mendapatkan tatapan penuh tanda tanya dari Black Aura.


“Iya… Tapi, kalau kau sama Chloe udah cocok banget, aku doakan langgeng terus ya! Oh, ya! Sekarang udah nggak ada lagi kan insiden manusia yang kerasukan Aura?”


Black Aura menggeleng.


“Baguslah… Soalnya, aku punya teman. Nggak gitu dekat sih, tapi dia pernah jadi korbannya. Dan yang menyelamatkan temanku itu Midnight. Midnight itu aslinya… Bukan ibu kandungmu kan,”

__ADS_1


“Bukan.”


Sebenarnya aku heran, darimana ia bisa tahu semua informasi tentang kami? Pikir Black Aura heran sendiri. Mimpinya ajaib juga…


“Jadi, ibu aslimu siapa?”


“Carmine… Sebenarnya kurang tepat dibilang ibu. Aku ini bagian dari perasaan negative-nya,” jelas Black Aura yang perlahan-lahan mulai terbiasa dengan percakapan yang mengalir di antara dirinya dengan Yira.


“Oalah… Pantas nggak mirip,” Yira mendengus. Black Aura tak peduli sama sekali.


“Oh, ya! Nama panjang Captain itu… Sokopolimine kan? Bukannya itu singkatan dari nama obat-obatan ya?”


“Katanya sih, gitu. Yah, kau lihat saja apa yang ada di mimpimu. Semuanya jelas kan?” Black Aura yang mulai lelah menanggapi semua ocehan tak berguna dari Yira memutuskan untuk duduk di kursi taman dan meneguk kembali minuman isotonic pemberian Yira. Segar.


“Terus, Captain juga punya hewan peliharaan. Namanya Live Party kan? Live Party itu maksudnya khayalan kan? Atau angan-angan kita tentang kebahagiaan?” tanya Yira. Tampaknya tidak ada rem di mulut gadis itu.


“Kau lapar?”


Kalau tadi Yira yang bertanya, kini giliran Black Aura yang mengajukan pertanyaan. Penat rasanya telinga ini mendengar semua ocehan gadis itu. Ditambah lagi, Yira kelihatannya lebih kekanak-kanakkan ketimbang Chloe. Tidak, Chloe lebih dominan cengeng ketimbang banyak ngomong.


“Lapar? Iya, aku lapar sih. Pengen makan sesuatu yang berat gitu. Kau bawa uang?”


“Bawa. Mau makan apa?”


“Seafood?”


“Apaan tuh?” seketika, aktivitas Black Aura yang tengah menghitung jumlah nominal uang yang dibawanya berhenti.


Sementara itu, Yira yang mendengar pertanyaan tak masuk akal dari Black Aura itu membeku seketika. “Seafood kau nggak tahu?”

__ADS_1


~


~


__ADS_2