Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 161: {Season 2: Aura vs Aura}


__ADS_3

Black Aura misterius atau sebut saja yang palsu itu (terserah mau bagaimana memanggilnya), dia melayang di atas Chloe dan Black Aura juga masih dengan ekspresi datar yang sama. Persis dengan wajah Black Aura satu tahun yang lalu. Bahkan saat terluka atau mendapat serangan apapun dari Black Aura yang asli, Black Aura palsu itu hanya diam. Dia tidak mengerang ataupun memindahkan rasa sakitnya seperti yang biasanya Black Aura lakukan.


Manik violetnya mengarah ke Chloe yang tersenyum ke Black Aura yang menjadi lawannya tersebut. Tidak ada komentar apapun mengenai senyuman itu. Selain itu juga, dirinya tidak bisa merasakan baik senang, sedih, ataupun marah. Perasaannya bak danau yang belum tersentuh oleh jari-jemari sang angin.


Di samping itu, dia tidak peduli dengan apa yang Chloe rencanakan dengan Black Aura asli. Prioritas utamanya adalah menjaga Carnater dari orang-orang asing, lalu membunuh mereka satu persatu dan, menjadi penguasa dunia fantasi itu. Sempat terlintas di benaknya, wajah Midnight yang selalu serius menatap siapapun. Dia ingat bahwa ada seseorang dibalik kegelapan itu memerintahkannya untuk membunuh wanita berkacamata bulat itu. Seingatnya, orang yang berada dibalik kegelapan itu bilang, Midnight adalah satu-satunya manusia yang sulit sekali dibunuh. Entah itu karena daya tahan tubuhnya kuat atau keberuntung memang selalu berpihak pada wanita itu.


Menarik. Misinya kali ini menarik ketimbang satu tahun yang lalu diam di dalam ruangan yang gelap. Untunglah, ruangan tersebut luas. Dia tidak mendengar suara apapun dari ruangannya kecuali hembusan angin dari ventilasi. Sampai Black Aura palsu itu keluar dari ruangannya dan melihat betapa luasnya dunia luar itu. Tidak disangkanya lagi, dunia itu ternyata memiliki kembaran yang justru lebih menarik untuknya mengeluarkan semua kekuatan tersembunyinya.


Matanya terbuka setelah dirinya membulatkan tekad untuk membunuh gadis remaja berambut pirang serta kembaran aslinya. Meskipun dirinya hanyalah tiruan yang sengaja di buat ‘orang itu’ untuk membunuh Midnight, tetap saja dia bersyukur karena bisa hidup dan merasakan betapa indahnya warna dari dunia yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Di sisi Black Aura dan Chloe, kedua remaja itu baru saja menyusun rencana lewat aplikasi chat mereka. Black Aura membaca pesan singkat, padat, dan jelas.


“Jadi rencana kita, kau lawan dia seperti dulu kau melawan mereka-mereka. Intinya, kau harus menggunakan sisi sadismu dan jangan pedulikan aku. Maaf, kali ini aku nggak ikut terlibat karena aku akan mengamati perbedaan kalian berdua. Jadi, berjuanglah! Aku akan memberitahumu kekuatan apa saja yang bisa kau gunakan untuk membunuh Black Aura palsu itu;)”


“Baiklah… Makasih Chloe.”


Black Aura mematikan ponselnya untuk sementara, kemudian melanjutkan pertarungannya dengan dirinya yang lain. Sesuai rencana Chloe, Black Aura menarik nafasnya bermaksud membiarkan dirinya tenang sebelum akhirnya mengerahkan semua sisi jahatnya pada Black Aura tiruan tersebut. Bingung ingin menyebut kembarannya dengan sebutan apa.


Sebenarnya, siapa dia? Mana bentuknya mirip lagi sama pacarku?! Gerutu Chloe dalam hati.


Sudah waktunya, Black Aura mengeluarkan sabitnya kemudian berteleportasi di depan kembarannya seraya menebas. Darah hitamnya persis seperti yang dia punya.


“Kau ini sebenarnya apa?” tanya Black Aura sebelum akhirnya menerima tendangan maut dari kembarannya itu.


Kaki Black Aura palsu itu mengenai tepat di kepala dirinya yang asli hingga membuatnya terjatuh menghantam tanah. Seketika, kepulan debu menguasai tempat itu. Chloe menutup mulutnya serta matanya. Untunglah, debu-debu itu tidak sampai mengganggu pernafasannya.


“Cih!” Black Aura berdecak sebali. Dia mengaktifkan kemampuan pelacaknya dan dengan cepat menemukan keberadaan dirinya yang palsu hendak menyerang Chloe dengan sabitnya.

__ADS_1


Bahaya. Black Aura tanpa pikir panjang, melesat ke tempat Chloe kemudian, menggenggam erat kepala Black Aura palsu tersebut.


“JANGAN SENTUH CHLOE!” seru Black Aura bersamaan dengan tangan kanannya yang membanting kepala kembarannya ke tanah. Belum cukup dengan membanting, Black Aura menendang perut kembarannya berulang kali, setelah itu dilanjutkan dengan kekuatan laser miliknya yang ia keluarkan dari pedangnya.


DUAR!


Chloe ternganga melihat Black Aura yang begitu sensitif jika ada orang lain yang berani menyentuh dirinya. Seperti, segitunya Aura itu tidak ingin pacarnya diambil orang lain?


“Oh, jadi dia itu temanmu?”


Di tengah kepulan asap tebal, Black Aura palsu itu bersuara datar. Kedua kakinya bergetar menahan sakit akibat serangan beruntun dari dirinya yang asli. “Begitu ya? Kalau sudah menemukan orang yang betul-betul memahami kita, sifat posesif kita akhirnya muncul,” tambahnya masih dengan ekspresi datar.


Black Aura tidak menanggapi selain bersiap-siap dengan serangan selanjutnya. Pedangnya ia genggam seerat mungkin. Tak peduli dengan luka yang dialami kembarannya, selama pertarungan, Black Aura tak akan membiarkan kembaran palsunya itu menyentuh Chloe bahkan sehelai rambutnya sekalipun. Bagi Black Aura, apapun yang ada pada Chloe semuanya berharga.


“Kau iri?” tanya Black Aura pada akhirnya. Basa-basi sedikit mungkin tidak masalah.


“Nggak. Sejak awal, bukankah kita diciptakan untuk balas dendam? Kenapa sekarang kau malah lebih mementingkan nyawa orang lain ketimbang dendam Carmine? Kau ingin mengkhianati Carmine?” balas Black Aura palsu itu.


Black Aura palsu itu mengangguk. Kemudian, dia mengusap rambutnya sampai ke belakang seraya berkata, “Karena aku adalah dirimu. Aku ada karena darahmu. Hanya saja, perasaanku ini belum ternodai apapun. Bisa dibilang, aku ini dirimu yang dulu sebelum bertemu Chloe,” katanya.


“Eh?”


Black Aura palsu itu menyeringai. Kemudian, mengeluarkan payung sudah tidak ada payungnya lagi. Singkatnya tangkainya saja.


Tangkai payung tersebut diangkatnya ke atas dengan ujungnya mengarah ke langit. Saat itulah, langit malam berubah menjadi merah.


“Reverse.”

__ADS_1


Black Aura palsu itu berubah menjadi Reverse dan menjadi tidak terkendali karena kekuatannya.


“Bahaya!” Black Aura segera berbalik menghampiri Chloe. Aura itu menarik lengan Chloe menjauhi area berbahaya tersebut.


“Itu apa? Kau punya kemampuan itu?” tanya Chloe yang seluruh atensinya mengarah ke Black Aura Reverse di atas sana. Saat Black Aura reverse itu menebas menggunakan pedangnya, bekas tebasan itu memunculkan ribuan pisau. Dengan target terkunci Chloe dan Black Aura.


“Aku punya.”


“Kenapa nggak kau gunakan kekuatan itu aja?”


“Justru kalau pakai kekuatan itu, aku jadi nggak bisa mengenali yang mana musuh dan yang mana teman. Kemampuan itu aslinya terlarang, tapi biasanya aku menggunakannya untuk membunuh Aura-aura yang menurutku mengancam nyawaku sih,” balas Black Aura sambil sesekali  menoleh ke belakang, memastikan apakah pisau-pisau sudah mendekat ke mereka atau tidak.


Waduh, kayaknya rencana kita nggak guna deh… Batin Chloe malu. “Hah… Aku memang nggak guna,”


“Jangan ngomong gitu. Kita nggak akan tahu kalau belum mencoba,” sangkal Black Aura, melompat menghindari salah satu pisau yang berhasil tertancap di tanah tempat sebelumnya ia berlari. Black Aura menggendong Chloe sambil mempersiapkan dirinya untuk menangkis ribuan pisau itu.


Jadi, seperti inilah rasanya melawan dirinya sendiri. Black Aura jadi merasakan apa yang selama ini dirasakan lawannya saat bertarung sengit dengannya. Kemampuannya yang berhubungan erat dengan rasa sakit dan dominan langsung membalas membuat musuhnya terkadang kehabisan ide untuk membunuhnya.


“Chloe, pegangan yang kuat…” lirih Black Aura. Di saat genting seperti itu pun, Black Aura masih menyempatkan dirinya untuk tersenyum.


Chloe melongo memandang senyuman itu. Tidak terhitung berapa kali Black Aura tersenyum dan berusaha membuat dirinya tenang saat menghadapi serangan para Aura yang bervariasi dan berbeda-beda tingkatannya.


“Baik,” balas Chloe kemudian. Yah, sejak awal bertemu bahkan sampai saat ini pun, dia selalu bergantung pada Aura itu.


Chloe mengeratkan genggamannya sambil memejamkan kedua matanya. Rasa nyaman itu tak pernah berubah. Sebenarnya Chloe malu mengakui ini, akan tetapi, dirinya tidak bisa berbohong kalau dia tidak ingin sekali ditinggal pergi oleh Aura itu. Chloe ingin Aura itu terus menggendong dirinya. Chloe bisa merasakan betapa besarnya perhatian Black Aura padanya.


Padahal kalau diingat-ingat lagi, mereka yang dulu hanyalah orang asing yang secara kebetulan bertemu. Di saat bersamaan juga, Chloe sempat mengidolakan Black Aura. Tapi sekarang, rasa itu berubah menjadi suka yang berujung cinta…?

__ADS_1


“Aura… Berjanjilah padaku, jangan pernah meninggalkanku, oke?” bisik Chloe.


~


__ADS_2