Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 47


__ADS_3

Buram. Hanya bisa melihat sekilas sosok Chloe yang berdiri agak membungkuk. Kedua lengannya memeluk dirinya yang tengah menyemburkan tawaannya. Untuk pertama kalinya, kepalan tangan gadis itu ternodai oleh darah.


Malam semakin larut dan Black Aura tidak memiliki banyak waktu untuk diam meratapi wajahnya yang kesakitan. Aura itu segera membanting telapak tangannya di atas lantai. Dengan bantuan gagang pintu, ia berusaha bangun sambil menarik tubuhnya yang lemas. Padahal, sedang nikmat-nikmatnya berbincang malah datang masalah yang lain. Dasar!


Kini, Black Aura memberanikan dirinya untuk melawan Chloe. Walau sisinya yang lain sebenarnya enggan untuk


melukai gadis yang—bisa dikatakan, sangat nyaman untuk diajak berbicara.


“HIHIHIHI!HAHAHAHA!”


Tak disangka-sangka, Chloe melompat dengan kedua kaki yang berpijak sempurna di atas langit-langit lorong. Tentu saja Black Aura terbelalak mendapati tingkahnya yang tak biasa itu.


“Nggak mungkin…?!” celetuk Black Aura tak percaya.


“KEJAR AKU, AURA! HAHAHAHAHA!” seru Chloe dengan suara yang nyaris saja membuat Black Aura muak.


Tak hanya berdiri, bahkan Chloe bisa berlari kencang melintasi tiap lorong dengan kondisi terbalik. Gadis itu


berlalu begitu cepat. Sampai-sampai, sulit bagi Aura itu menebak kemana arah perginya gadis itu?


Tanpa pikir panjang, Black Aura mengejarnya. Mengorbankan langkah demi langkahnya dengan diselimuti oleh


kekhawatiran. Saat ini, dia benar-benar mengkhawatirkan Chloe. Perasaannya juga tak karuan. Membayangkan, betapa mengerikannya melihat gadis itu bernasib sama dengan beberapa manusia yang telah kehilangan nyawanya karena terbunuh Legend Aura. Jangan sampai!


Nafasnya tidak stabil angin yang menerpa halus wajahnya. Namun, untuk apa memikirkan diri sendiri saat ini?


“HAHAHAHA! KEJAR AKU! LARIMU LAMBAT SEKALI, AURA! HAHAHAHAHA!”


Samar dan jauh tapi cukup jernih terdengar. Yah, kesabarannya akhirnya habis. Black Aura memutuskan untuk


berteleportasi tepat di depan Chloe.


Kalau di dalamnya adalah Legend Aura, maka…


Black Aura menarik kakinya ke samping dan, “KUBUNUH!”


DUAK!


Black Aura langsung melayangkan tendangannya mengarah ke pinggang Chloe. Raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. Tidak sedatar dulu.


Akibat tendagan itu, Chloe terlempar ke samping dan menabrak kaca jendela kapal. Untung saja tidak sampai keluar kapal. Gadis itu mengalami luka tusukan karena beberapa serpihan kaca yang pecah di depannya. Darah yang mengalir berwarna ungu. Dari situlah, Black Aura mulai bersemangat untuk menghajar Aura yang saat ini tengah menguasai tubuh Chloe.


Black Aura menarik kerah jaket Chloe seraya mengguncang beberapa kali tubuh gadis itu. “Chloe! Sadarlah…!”


Tiba-tiba, ada sesuatu yang menjanggal. Black Aura membeku menemukan tatapan mata Chloe yang dingin


kepadanya. Iris birunya menyala dalam kegelapan. Gadis itu kembali menyeringai dan membalas serangan Black Aura.


“Kau yang harusnya kubunuh!” ucap Chloe sinis disusul dengan kepalan tangannya yang melayang kencang mengarah perut Black Aura. Tekanannya kuat sekali sanggup mendorong Black Aura agar menjauh darinya.


"Gadis itu sedang tertidur sekarang. Dilihat dari wajahnya, dia sangat kelelahan dan banyak sekali yang ia pikirkan belakangan ini." Sosok di dalam Chloe mulai berbicara.


"Ugh..." Black Aura mengalami kesulitan ketika hendak mengangkat kepalanya. Punggungnya serasa retak dibuatnya. Serangan Aura itu... Dia seperti menggabungkan kekuatan Aura dengan manusia. Pantas saja...


Merasa ada dorongan kuat dari tenggorokannya, Black Aura memuntahkan darahnya sekali lagi. Ia sempat menutup sebagian wajahnya dan darahnya kini menodai tangan kanannya. Betapa terkejutnya Black Aura menemukan warna darahnya yang semakin berubah. Merah! Benar-benar merah! Bukan hitam .


"Merah?" gumamnya terkejut.


"Wah! Ternyata percobaanku membuahkan hasil juga ya! Dengan begitu, kau akan mati dan perang ini akan


berakhir. Yah, mudah saja sih! Kalau Midnight mau menyerahkan dirinya pada Tuan Yuuki, semua ini nggak akan separah ini." Aura itu mulai membeberkan hal-hal seputar Midnight.


Black Aura memandangnya sinis. Ia beranjak bangun meski tertatih-tatih. "Sejak kapan kau di dalam tubuhnya?" tanya Black Aura serius.


"Hmmm... Kapan ya? Kau ingat saat pertama kali kau bertemu dengannya?"


Black Aura tertegun. Tubuhnya membeku seperti dihipnotis disuruh untuk mendengarkan perkataannya sampai


selesai. Mungkin saja, ada hal tersembunyi dan penting dibalik perkataannya itu.


Aura itu terkekeh licik. Akan tetapi, malah keterusan menjadi gelak tawa tanpa henti.

__ADS_1


"Hahahahaha! Astaga! Kau pasti nggak bakal menyangka bukan? Sumpah! Benar-benar momen yang pas! Hahahahaha! HAHAHAHAHA!" nada ketawanya menjadi terpingkal-pingkal. Black Aura jadi heran melihatnya.


"LIHAT! AKU MELIHATNYA DENGAN JELAS! WAJAHMU ITU MENJADI HERAN! HAHAHAHAHA!"


Black Aura menghela nafas, "Hentikan tawamu itu."


"HAHAHAHA! Iya... Aku hanya nggak percaya kalau aku memilih momen yang pas. Kalian berdua pasti kaget


bukan?! Oi, Black Aura! Coba tela'ah omonganku ini! Tenang. Aku nggak berniat bertarung. Aku ingin reuni sebentar denganmu." Ujarnya dengan kedua mata yang berbinar-binar.


"Coba perhatikan pintu di ujung lorong sana! Gelap dan lumayan bersihkan? Cuma pintu itu aja yang terhindar


dari bongkahan atap kapal yang hancur."


Sesuai perkataan Aura itu, Black Aura mau tak mau menurutinya. Ia memandang lorong itu. Memang benar yang dia katakan. Gelap. Saking gelapnya, ia tidak sadar bahwa itu adalah triknya untuk mengalihkan perhatian Black Aura.


"HHAHAHAHA! GITU AJA TEROS!"


DUASH!


Aura itu berteleportasi tepat di samping Black Aura dengan kaki kanannya yang sudah ia arahkan langsung tepat di


pinggang lawannya. Black Aura tersentak tapi, tidak bisa menghindari serangannya saking mendadaknnya. Karena dorongan yang luar biasa, Black Aura berakhir menghantam keras pintu yang dimaksud Aura itu dan menabrak dinding kapal.


"Cih!" Black Aura berdecak kesal. Tubuhnya benar-benar seperti hancur dibuat Aura itu. Padahal, jika


dilihat dari fisik Chloe, gadis itu terlihat lemah. Tapi, Aura itu tampaknya terlalu memaksakan kekuatan yang Chloe miliki.


Kenapa aku ini?!


Untuk pertama kalinya, Black Aura merutuki dirinya. Benaknya membayangkan banyak hal mengerikan. Hampir semuanya berkaitan erat dengan Chloe. Chloe terluka parah, Chloe sekarat. Yang lebih parah lagi jika gadis sampai bernasib sama dengan beberapa orang yang tak sempat ia selamatkan.


"Kenapa harus dia?" gumamnya. Black Aura merasakan emosi yang tak biasa. Seperti ingin meluapkan


kekesalannya melalui kekerasan. Sayangnya, dirinya bisa dikatakan sudah mencapai batasnya. Mau mengepalkan tangan kirinya saja tidak sanggup. Ditambah lagi, hanya sendirian. Mungkin saja, semua ini terjadi karena ulah Aura yang tengah menguasai tubuh Chloe itu.


'Hooh? Sudah menyerah, ya?" ujar Aura itu lantang. Ia masih berjalan melintasi lorong. Jarak kedua Aura itu


"Kaburlah! Nggak papa! Panggil Devil Mask, Midnight, Silentwave, dan Meg... Oh, ya! Ayahmu 'kan' udah mati yah! HAHAHAHAHA!"


"Ck! Berisik...!"


Entah kapan, tiba-tiba saja Aura itu di depan Black Aura.


"Nah... Kalau begini, kan tenang. Aku bisa bercerita dengan nyaman. Hmmm... Mulai dari mana ya?" dia berpikir.


"Ah! Namaku Aurora. Aku salah satu Legend Aura dan... Kau memang nggak pernah bertemu denganku. Aku ini suka membuat percobaan. Kurasa, percobaan paling keren adalah Aura dan manusia. Jika kekuatan Aura dipadukan dengan emosi manusia jadinya... BOOM! Halah! Bukan ini yang mau kubahas!"


Aura itu namanya Aurora. Dia mendekatkan wajahnya pada Black Aura yang merasa terpojokkan posisinya.


Aurora tersenyum licik. "Aku suka dengan ikatan kalian. Kalau kau bisa mengerti dia, hubungan kalian akan berjalan indah. Antara Aura dan manusia. Bukankah ikatan seperti itu langka? Bagiku, ikatan seperti itu memang patut dihargai."


Black Aura tidak merespon.


"Kau ingat? Pria yang kau belah seperti kue?" [Chapter 10]


"..."


"Nggak ingat ya? Dia sekarang sedang bekerja di salah satu toko roti. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. TAPI! Kau nggak sadar pasti, kan??"


Black Aura terbelalak tak percaya. Sepertinya, ia mulai menangkap maksud perkataannya Aurora.


"Aku suka raut terkejutmu. Jangan bikin aku jatuh cinta dong! Kau tahu? Saat aku hendak membunuh Chloe


dengan kapak, kau datang dan melindunginya. Lalu, kita berdua bertarung. Ah, aku masih ingat gadis kecil bernama Emily itu. Aku nggak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Ah, sudahlah! Dengar baik-baik! Saat kau membelah pria itu, aku sempat terluka di dalam sana. Aku sempat menjepret raut ketakutan Chloe. Dia


melamun dalam takutnya.


"Dan... Itu adalah momen yang pas untukku. Jadi, saat pria itu kehilangan kesadarannya, aku keluar dan masuk


ke dalam tubuh gadis kesayanganmu itu. HIHIHIHIHI!" jelasnya sambil menutup mulutnya yang menyeringai.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Aurora, Black Aura masih terdiam. Ia masih tidak percaya dengan perkataan Aura


itu. Benar-benar tak terduga. Selama ini, Aurora bersembunyi di dalam tubuh Chloe sambil mengamati diam-diam. Itu artinya, Aurora telah mengetahui banyak hal tentang Black Aura. Bisa jadi, Aurora sudah memahami kelemahan Aura yang sangat rentan akan serangan manusia.


"Yang membawa kalian kesini bukan aku, ya!" tambahnya.


"Hmmm... Kalau kulihat-lihat. Di matamu, gadis ini memang terlihat polos dan manis, bukan? Dia sangat menyukai


kentang goreng dan... Hmmm... Manusia sepertinya menyukaimu? Bukan. Lebih tepatnya, dia berusaha untuk mencintaimu."


"Mencintai...ku?"


Aurora melirik pada Black Aura yang mengeryit heran. "Kau pasti nggak paham kalimat 'mencintai', kan? Aku


yakin kali! Yah, kalau gadis ini bangun biarlah dia yang menjelaskannya. Tapi...! Jangan harap dia bisa bangun dari tidurnya! Terus terang, aku suka Chloe. Gadis ini memiliki perasaan yang bisa membuatku semakin kuat. Coba


tebak, perasaan apa itu!"


Setelah berbicara panjang lebar, Aurora membungkam mulutnya sambil menunggu jawaban dari Black Aura. Sunyinya ruang kamar itu. Hanya ada suara ombak yang terdengar bagai teriakan makhluk menyeramkan dari jauh.


"Waktu habis." Ucapnya datar. "Aku kecewa denganmu." Sambil beranjak berdiri. Aurora menghembuskan nafasnya lelah. "Aku muak terjebak terus di dalam. Rasanya bosan."


"Salah sendiri." Black Aura akhirnya membuka suaranya yang dingin.


"Oh. Salahku?"


"... Kalian yang memulainya, kan?"


"Bukannya kalian ya?!" Aurora mendadak tersulut emosi. Aura itu mengeluarkan kapaknya dan diarahkan cepat tepat di depan Black Aura.


Sontak, Black Aura langsung menangkisnya dengan pedang. Aura itu sampai terpental ke belakang. Akhirnya, Black Aura mendapatkan ruang untuk berdiri dan memulai serangan balasannya.


Chloe yang di depannya bukanlah Chloe yang ia kenal. Memang fakta bahwa gadis itu suka sekali tersenyum. Akan tetapi, bukan itulah senyuman yang ia harapkan. Senyuman manis dan tulus yang selalu dia berikan pada Black Aura. Baginya, senyuman itu patut dilindungi. Jangan sampai ternodai. Apapun caranya!


“Ha? Kau membalas seranganku? Coba saja! Aku yakin. Kau yang sekarang nggak bakal mampu membunuhku. Bayangkan! Pedangmu itu tertancap mengenainya. Dia terluka. Bagaimana perasaanmu? Menyesal?”


“Cih!”


“Momen ini sangat tepat untukmu. Asal kau tahu saja, selama ini aku sangat memanfaatkan dengan baik waktuku di balik layar. Aku mengamati dan mempelajari banyak hal tentang perasaan. Aku sadar, jika Aura seperti kalian memiliki perasaan sedikit saja… Maka, itu akan menjadi kelemahan terbesar kalian! Contohnya, perasaan kasihan. Memang dulu kalian nggak punya perasaan kasihan. Main menghajar tanpa padang bulu. Itulah kalian!” Beber Aurora sambil memainkan kapaknya.  Dia tampaknya tidak berniat menyerang duluan.


“Dengarkan aku baik-baik. Kalian itu adalah gambaran perasaan negative manusia.”


“Kalau kalian?”


“Kami? Kau bertanya tentang kami? Lucu sekali! Entahlah… Aku nggak bisa menjelaskannya dengan jelas. Tapi, setelah kuamati baik-baik. Kalian ini memang berkaitan dengan perasaan negative manusia. Contohnya dirimu. Kau sangat dekat dengan rasa sakit. Dulu, saat kau terkena serangan, ditebas, ditusuk, kau sama sekali tidak mengeluh. Namun, rasa sakit jika terus menerus dipendam akan menjadi dendam. Nah, bisa dikatakan… Kau itu


adalah perasaan dendam. Hampir semua seranganmu itu memiliki damage besar bagi lawanmu.” Jelasnya layaknya guru.


Bagaimanapun juga, Black Aura tidak akan menaggapinya. Prioritas utamanya bukanlah perkataan Aurora. Melainkan, Chloe. Malam ini, ia harus menghabisi Aurora. Setelah itu, menikmati kentang goreng bersama dan… Melihat gadis itu tersenyum tulus lagi.


“Chloe…” Black Aura menunduk. Barulah dirina bisa mengepalkan tangan kirinya sekeras mungkin. Aku pastikan…


Senyumanmu aman darinya.


TAP!


Black Aura melangkah maju bersamaan dengan pedang yang ia ubah menjadi sabit. Ia melayangkan sabitnya kencang tepat di depan Aurora yang tengah menghindari serangannya.


“Memangnya, kau sanggup?!” ejeknya yang secara instan mematahkan sabitnya menggunakan kapak. “Memangnya, kau nggak bakal menyesal udah melukai gadis kesayanganmu ini? Eh? Gadis kesayangan? Kalian saling suka ya? Wah! So sweet!”


“Berisik!” Black Aura meninju pipi Chloe dengan tangannya dan gadis itu terjatuh. Saat meninju, Black Aura sempat merasa ragu. Sayangnya, sudah terlanjur.


Serangan Black Aura meninggalkan jejak memar di pipi Chloe. Melihat itu, Black Aura menjadi bingung. Tangan kirinya bergetar hebat. Aurora bangun dan mendengus melihatnya.


“Tuh, kan! Kau nggak sanggup, kan! Aku suka ini! Perasaanmu menjadi sempit jadinya. Wah! Aku ini pintar sekali!” puji Aurora terpingkal-pingkal dan beranjak bangun. “Jangan khawatir. Damage-nya nggak bakal berdampak pada Chloe."


Mau dijelaskan seperti apapun, tidak akan mengubah perasaan bersalah di dalam dirinya. Black Aura merasa terpojokkan. Perasaannya campur aduk. Black Aura merasa sulit untuk bersikap tenang. Kini, pikirannya dipenuhi akan pertimbangan. Membiarkan Aurora menguasai penuh tubuh Chloe bukan ide yang bagus. Tapi melukai Aurora, sama dengan melukai Chloe.


“Aku harus bagaimana?”


~

__ADS_1


__ADS_2